NovelToon NovelToon
Begin Again

Begin Again

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mantan / Cintapertama
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Lunes_

📍Update 🚥 16 : 16 WIB


Duabelas tahun lalu, Elfiana Putri (Elle) dikhianati oleh taruhan konyol cinta pertamanya, William Adinata (Liam). Kini, takdir membawa mereka kembali dalam sebuah pernikahan pura-pura demi sang Papa.
Di antara luka masa lalu yang belum sembuh dan kebenaran yang perlahan terkuak, bisakah Elle menjaga hatinya agar tidak hancur untuk kedua kalinya?


❣️ I write what I want to write. ❣️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11 - Late Regret

Langit cerah sore tadi telah berganti menjadi langit malam yang gelap.

Kini aku sedang duduk santai di sofa sambil menonton televisi. Namun, pikiranku masih terjebak pada kejadian sore tadi. Pada kencan butaku yang gagal, Liam yang tiba-tiba datang, dan Liam yang pergi karena ucapan Mona.

Sebenarnya, dalam hati kecilku ada rasa ingin menghubungi Liam dan menanyakan keadaannya. Namun, setelah kupikir-pikir lagi, kami sudah tidak punya hubungan apa-apa selain hubungan sebagai rekan bisnis. Jadi, sepertinya aku tidak perlu mempedulikannya.

Tiba-tiba ponselku berbunyi.

Kulihat layar ponselku.

Deg!

Ibu menelepon.

Bukan panggilan biasa.

Video call.

Sepertinya ibu sudah tahu kejadian tadi sore.

Dengan sedikit takut, aku menggeser tombol hijau di layar.

“Halo, Ibu, Ayah,” ucapku sambil tersenyum canggung.

“Elle... kamu sudah punya pacar?” tanya Ibu begitu saja.

Deg!

Sepertinya Beni sudah bercerita kepada tantenya tentang kejadian tadi sore.

“Ehm... itu...” ucapku panik. Aku bingung harus mengatakan apa.

“Itu apa?” tanya Ibu.

“Elle, jujur sama kami. Kamu sudah punya pacar?” tanya Ayah.

Bagaimana ini?

Aku mengatakan iya atau tidak, pasti Ayah dan Ibu akan bertanya tentang Liam.

Tapi jika aku mengatakan tidak, Ibu pasti akan menyuruhku menjelaskan semuanya kepada Beni. Atau mungkin malah mengenalkanku dengan laki-laki lain lagi.

Sepertinya aku harus mengatakan iya agar Ayah dan Ibu tidak perlu mengenalkanku kepada laki-laki mana pun.

“Iya,” ucapku lirih.

“Kenapa kamu nggak pernah bilang ke kami?” tanya Ibu.

“Maaf, Bu... soalnya... soalnya...” Aku kembali bingung mencari alasan.

“Soalnya apa?” tanya Ibu.

“Soalnya kami belum lama pacarannya,” jawabku.

“Dia siapa? Apa satu kantor sama kamu?” tanya Ayah.

“Eh, bukan, Yah. Bukan.”

“Terus siapa?”

Aku tidak mungkin mengatakan bahwa dia adalah mantan yang bertemu kembali denganku.

“Siapa, Elle?” tanya Ibu.

“Kami beda kantor. Dia kerja di perusahaan lain,” jawabku.

“Seharusnya kamu bilang kalau kamu sudah punya pacar. Jadi Ibu nggak perlu kenalin kamu ke Beni,” ucap Ibu.

“Maaf, Bu...” Aku menghela napas kecil. “Oh iya, Beni cerita gimana, Bu?”

“Katanya kamu sudah punya pacar.”

“Udah gitu doang?” tanyaku.

Ibu mengangguk.

Kenapa Beni hanya mengatakan itu?

Padahal tadi sore Beni terlihat kecewa.

Tapi ya sudahlah...

Setidaknya saat aku kembali ke Semarang nanti, aku tidak akan dicap sebagai wanita jahat.

Tiba-tiba muncul notifikasi panggilan masuk di layar ponselku.

Davin menelepon.

Aku mengernyitkan dahi.

Ada apa Davin menelepon?

“Ayah, Ibu... udah dulu, ya. Ada yang telepon nih,” ucapku.

“Siapa? Pacar kamu?” tanya Ibu.

“Bukan. Atasanku yang telepon. Kayaknya mau bahas kerjaan,” jawabku berbohong.

“Kok atasan kamu nggak tahu waktu banget, sih? Masa malam-malam begini bahas pekerjaan?” tanya Ibu.

“Soalnya pekerjaannya harus cepat selesai, Bu. Udah, ya, Bu.”

“Iya. Oh iya, kapan-kapan kenalin pacar kamu ke Ayah dan Ibu, ya."

Hah?

Mengenalkan pacar?

Oh, tidak!

“I... iya, Bu,” jawabku pasrah.

“Ya sudah, Ibu tutup, ya. Jangan lupa makan dan jangan begadang.”

Aku mengangguk.

Panggilan pun berakhir.

Aku langsung mengangkat telepon Davin.

“Halo, Kak Davin?” ucapku.

—Halo, Elle.

“Ada apa telepon, Kak? Tumben.”

—Elle, tolong kamu ke sini.

“Ke situ? Ke rumah Kakak?”

—Bukan. Ke The Bellamy.

“The Bellamy? Tempat apa itu?” tanyaku.

—Bar.

“Bar? Kakak nyuruh aku ke bar? Ngapain? Jangan macem-macem, lho. Nanti aku bilangin ke Mona.”

—Pak William, Elle.

Nada suara Davin terdengar panik.

Aku yang tadinya santai langsung ikut panik.

“Dia kenapa?”

—Dia mabuk dan manggil-manggil nama kamu terus.

“Hah? Dia mabuk?” tanyaku terkejut.

Liam mabuk?

Kenapa?

Apa yang terjadi padanya?

—Iya, Elle. Tolong kamu ke sini.

“Nggak mau. Ngapain aku ke situ? Kami udah nggak punya hubungan apa-apa, Kak. Selain urusan pekerjaan, aku nggak mau ketemu dia.”

—Ayolah, Elle. Aku mohon.

Aku terdiam.

Aku benar-benar tidak ingin pergi.

Aku bahkan baru saja mengatakan kepada Ayah dan Ibu bahwa aku sudah punya pacar hanya supaya mereka tidak lagi mengenalkanku kepada laki-laki lain.

Sekarang aku malah diminta datang menemui Liam.

Laki-laki yang sejak sore tadi sudah membuat hidupku berantakan.

—Elle...

Aku menghela napas panjang.

“Ya udah, iya. Aku ke situ,” ucapku akhirnya.

—Makasih, Elle. Aku tunggu.

Panggilan berakhir.

Aku menatap layar ponselku.

Kenapa Liam mabuk?

Apa dia kepikiran ucapan Mona?

Tapi...

Kenapa harus memanggil-manggil namaku?

Aku pun berdiri lalu menuju kamar.

Aku mengambil jaket dan tas kecil hanya untuk membawa ponsel dan dompet.

Sepertinya aku tidak perlu berganti pakaian. Aku hanya akan melihat Liam sebentar, lalu pulang.

Setelah memakai jaket dan mematikan televisi, aku keluar dari unitku.

Begitu keluar, aku langsung masuk ke lift. Di dalam lift, aku memesan taksi online untuk mengantarkanku ke The Bellamy.

Jujur, selama tinggal di ibu kota, aku belum pernah pergi ke bar.

Untuk apa?

Tidak ada satu alasan pun bagiku untuk pergi ke sana.

Aku juga tidak begitu suka minum.

Ting!

Pintu lift terbuka di lantai satu.

Aku langsung keluar dari gedung dan menunggu taksi di pinggir jalan.

Tak lama kemudian, taksi yang kupesan datang.

Aku langsung masuk.

Taksi pun melaju dengan kecepatan sedang.

Malam itu jalanan cukup ramai, tapi untungnya tidak macet.

Beberapa saat kemudian, aku sampai di The Bellamy.

Dari dalam taksi, kulihat The Bellamy merupakan bar yang terdiri dari dua lantai.

Setelah membayar taksi, aku langsung keluar dan berjalan menuju bar itu.

Aku tersenyum tipis kepada satpam yang berdiri di depan pintu. Namun, tatapan satpam itu terlihat aneh.

Tapi aku tidak memedulikannya.

Aku langsung masuk ke dalam.

Begitu masuk, aku langsung sadar bahwa keputusanku untuk hanya memakai pakaian rumahan dan jaket adalah kesalahan besar.

Orang-orang di dalam memakai pakaian yang rapi. Mereka berdandan dengan cantik dan tampan.

Beberapa orang bahkan menoleh ke arahku.

Tatapan mereka sama persis seperti tatapan satpam tadi.

Aku mencoba tidak memedulikannya.

Aku terus berjalan sambil melihat ke sekeliling bar, tetapi aku tidak menemukan Davin ataupun Liam.

Aku langsung menelepon Davin.

“Halo, Kak Davin. Aku udah di barnya nih,” ucapku.

—Kamu di mana?

“Aku di lantai satu.”

—Kamu ke lantai dua. Aku ada di meja bartender.

“Oke,” jawabku.

Telepon kututup.

Aku menarik napas kecil.

Lantai dua.

Aku pun mencari tangga untuk menuju lantai dua.

Lalu dengan langkah cepat, aku berjalan menuju tangga dan naik ke lantai dua.

Begitu sampai, aku melihat sekeliling.

“Elle!”

Aku langsung menoleh ke arah sumber suara.

Davin berdiri di dekat meja bartender sambil mengangkat tangannya.

Aku pun menghampirinya.

Dan di sana aku melihat Liam.

Dia duduk di kursi bartender dengan tubuhnya hampir rebah di atas meja.

“Elle... maafin aku,” ucap Liam dengan mata setengah terbuka.

“Dari tadi beliau kayak gitu. Kayaknya beliau merasa bersalah banget sama kamu,” ucap Davin.

Aku menghela napas.

“Kenapa bisa kayak gini? Tadi sore setelah dari apartemenku kalian langsung ke sini?”

“Kalau aku, setelah dari apartemen kamu, langsung pulang. Pak William bilang mau pulang, makanya aku pulang. Eh, tadi Pak Wilson menelepon aku dan tanya di mana Pak William,” jawab Davin.

“Terus kok Kakak tahu dia ada di sini?”

“Waktu aku telepon Pak William, malah bartender yang angkat. Jadinya aku ke sini.”

Aku terdiam.

“Elle... aku nggak tahu gimana hubungan kalian di masa lalu. Aku juga nggak tahu alasan Pak William jadiin kamu bahan taruhan. Tapi aku bisa ngerasain kalau sekarang dia benar-benar merasa bersalah, Elle.” Davin berhenti sejenak. “Pak William bukan tipe orang yang suka minum-minum kayak gini.”

Aku menghela napas.

Lalu aku mendekati Liam.

Matanya sudah tertutup.

Apa dia tidur?

“Liam...” panggilku sambil mengguncang tubuhnya pelan.

Liam tetap tidak bergerak.

“Liam!” seruku sambil mengguncang tubuhnya lebih keras.

Liam langsung terbangun.

Dia menegakkan tubuhnya lalu menatapku dengan mata yang masih terlihat berat.

“Elle?" gumamnya.

“Iya. Ini aku,” jawabku.

Tiba-tiba Liam mengangkat tangannya lalu memegang wajahku.

Aku terkejut.

“Elle... maafin aku,” ucapnya.

Aku hanya terdiam menatapnya.

Untuk pertama kalinya malam ini, aku melihat Liam bukan sebagai laki-laki menyebalkan yang terus membuatku kesal.

Aku melihat seorang laki-laki yang sedang mabuk, dengan wajah penuh penyesalan, sambil terus memanggil namaku.

Dan entah kenapa, melihatnya seperti itu membuat hatiku terasa tidak tenang.

1
Srie Wahyuni
nezt thor , like this 👍
사기타
Tidak akan? 😄 lihat aja nanti gimana. 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!