Serafina Olivia mencintai Ravin Haryaka Arthadipa sejak ia berusia 17 tahun. Pria yang setahun lebih tua darinya itu, merupakan anak dari rekan bisnis sang papa. Tumbuh dan besar di lingkungan yang sama, membuat Sera semakin menyukai Ravin. Hingga suatu hari, rencana perjodohan dua keluarga pun terdengar. Tanpa berpikir dua kali, Sera pun menerima perjodohan itu demi bisa hidup bersama pria pujaan hatinya. Bahagia hanya terasa di awal cerita. Semuanya berubah, saat rahasia hati Ravin terungkap. Pria itu tidak pernah mencintai Sera. Hatinya hanya untuk wanita lain. Di tengah lelah menanti cinta Ravin yang tak kunjung berlabuh padanya. Sera pun di hadapkan pada dua pilihan. Bertahan dalam ketidakpastian dan sakit hati. Atau pergi untuk membebaskan hati dengan cinta yang baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Hampir Ketahuan.
Mama Safina benar - benar merasa penasaran dengan keberadaan sang menantu. Apalagi Sera mengatakan jika Ravin masih belum kembali.
Keesokan harinya, mama Safina pun kembali mengunjungi rumah sakit, dimana ia melihat Ravin bersama mantan kekasihnya.
Dengan memakai pakaian tertutup. Masker dan kacamata hitam, mama Safina melangkah menuju kamar rawat Rania.
“Kita lihat, apa dia masih disini?” Wanita paruh baya itu melangkah pelan.
Di depan kamar itu sepi. Karena merupakan area VIP.
Mama Safina sampai di depan kamar. Ia pun mengintip dari celah kaca.
“Sepertinya gadis itu akan pulang.” Gumamnya ketika melihat Ravin membereskan sebuah tas pakaian.
Suara langkah kaki terdengar, mama Safina pun dengan cepat menjauh dari depan ruangan itu.
Seorang perawat wanita masuk ke dalam ruang rawat itu dengan membawa sebuah kursi roda.
Tak berselang lama, perawat itu kembali keluar mendorong kursi roda, dengan Rania duduk di atasnya.
Setelah perawat dan Rania masuk ke dalam lift khusus pasien, Ravin pun keluar dari dalam ruang rawat VIP itu, dengan sebuah tas berukuran sedang di tangannya.
“Takut ada yang melihat rupanya.” Mama Safina tersenyum remeh.
Ia pun memotret Ravin secara diam - diam. Kemudian turun ke tempat parkir, melalui jalan lain.
Mama Safina harus tau, kemana Ravin membawa mantan kekasihnya itu.
“Kita lihat, dimana kamu menyembunyikan selingkuhan kamu itu, Ravin?” Monolog mama Safina.
Saat tiba di halaman parkir, ia melihat Ravin telah masuk ke dalam mobil bersama Rania.
Mama Safina merogoh tasnya untuk mengambil kunci mobil, karena ia datang sendiri tanpa sopir.
Namun sayang, belum juga ketemu dengan kunci mobilnya, tas wanita paruh baya itu diambil paksa oleh seorang pria tak di kenal. Kemudian membawanya pergi.
“Eh, jambret.” Teriak mama Safina mengejar pria itu.
Mobil Ravin telah melaju meninggalkan halaman rumah sakit. Sementara mama Safina berusaha mengejar pencuri tasnya.
“Bu, ada apa?” Tanya seorang pria muda yang sedang duduk di atas trotoar.
“Jambret. Tas saya di jambret orang itu.” Mama Safina menunjuk ke arah pria yang berlari cukup jauh darinya.
Lawan bicaranya membuang puntung rokok ditangannya. “Ibu tunggu disini.” Ia kemudian berlari mengejar pencuri itu.
Mama Safina menurut. Ia berharap tas miliknya kembali. Ada ponsel di dalam tas itu. Potret Ravin tidak boleh hilang.
Dari kejauhan, mama Safina melihat dua pria itu saling berebut.
Tak lama kemudian, pria muda penolong itu pun kembali. Ia menyerahkan tas milik mama Safina.
“Coba di cek dulu, Bu. Siapa tau ada yang hilang?” Ucap pria itu.
Mama Safina justru memperhatikan wajah pria muda itu.
“Kamu tidak apa - apa? Jambret nya mana?” Tanya mama Safina. Ia pun memeriksa isi tasnya.
“Sudah di amankan pihak berwajib. Apa ada yang hilang, Bu?” Tanya pria itu lagi.
Mama Safina menggeleng pelan. Syukur, tidak ada barang yang hilang. Ponselnya juga masih aman.
Ia pun membuka dompetnya. Mengambil beberapa lembar uang berwarna merah.
“Ini sebagai —
“Tidak perlu, Bu. Saya iklhas menolong ibu.” Tolak pria itu.
Kening mama Safina berkerut halus. Ia kembali menatap wajah pria itu.
Meski menggunakan baju preman, namun wajahnya tidak terlihat seperti seorang berandalan.
Ada ketampanan yang tersembunyi di balik penampilan berantankan pria muda itu.
“Ada apa, Bu?” Tanya pria itu saat mama Safina terdiam menatapnya.
“Wajah kamu sepertinya tidak asing.” Ucap mama Safina.
Pria muda itu pun menyunggingkan sudut bibirnya.
“Mungkin wajah saya pasaran, Bu.” Tukasnya dengan senyum mengejek.
Namun mama Safina tak begitu saja mendengar ucapan pria itu.
“Boleh kita bicara sebentar?” Tanya wanita paruh baya itu.
Si pria penyelemat itu pun menganggukkan kepalanya.
.
.
.
Di dalam mobil, Ravin berulang kali menatap ke arah sepion bagian luar kereta besi itu.
Sepertinya ia tidak salah melihat. Mama Safina berada di parkir rumah sakit tadi.
Dalam hati Ravin bertanya - tanya, apa mungkin sang mama mertua melihat keberadaan dirinya?
“Vin, kamu kenapa?” Tanya Rania yang duduk di samping kiri pria itu.
Ravin menghela nafas pelan. “Ada mama mertua aku di halaman parkir rumah sakit tadi.”
Mata Rania membulat sempurna. “Kamu serius?”
Ravin mengangguk pelan.
“Apa dia melihat kita? Bagaimana kalau iya? Vin, kamu harus segera pulang ke rumah istri kamu. Aku masih mau hidup dengan tenang.” Ucap Rania panik.
Jika mama mertua Ravin melihat dirinya, bagaimana kalau wanita itu mengatakannya pada orang tua Ravin?
Rania masih ingin hidup. Jangan sampai dirinya di asingkan lagi oleh mama Irene. Atau bahkan sampai di musnahkan dari muka bumi ini.
“Semoga saja mama Safina tidak melihat kita, Ran.” Ucap Ravin kemudian.
Rania menggelengkan kepalanya. “Pokoknya kamu harus segera kembali sama istri kamu. Jangan sampai mereka curiga. Kamu beralasan pergi ke proyek Bogor. Bagaimana kalau Sera mulai mencari tau keradaan kamu?”
Ravin terdiam.
Ia telah melupakan satu hal. Proyek Bogor juga melibatkan papa Bayu — papa mertuanya.
Apa mungkin Sera menanyakan tentang proyek itu pada sang papa? Bagaimana jika papa Bayu mengatakan kalau tidak ada masalah di Bogor?
“Setelah aku memastikan kamu baik - baik saja apartemen, aku akan pulang.” Ucap Ravin kemudian.
Mobil mereka pun tiba di depan gedung apartemen berlantai 20 itu. Ravin menurunkan Rania di lobby, sementara dirinya pergi ke parkir bawah tanah.
Mereka kemudian bertemu di dalam unit apartemen.
“Mau makan apa siang ini?” Tanya Ravin sembari meletakkan tas berisi baju kotor Rania di atas lantai.
Sementara gadis itu tengah duduk di atas sofa.
“Pesan saja, Vin. Persediaan bahan makanan sedang kosong.” Ucap Rania.
Ravin mengangguk pelan. Ia pun memesan makan siang dari aplikasi pesan antar.
“Biar aku periksa isi kulkas.” Ucap Ravin beranjak ke dapur.
Rania pun merebahkan dirinya di atas sofa. Ia tidak boleh melakukan pekerjaan yang begitu berat. Karena bisa memicu sakit yang menyiksa pada tulang ekornya.
“Kapan kamu akan pulang?” Tanya Rania saat Ravin kembali dari dapur.
Pria itu duduk pada sofa yang lainnya.
“Nanti setelah makan siang dan menunggu orang yang membawakan bahan makanan kemari.” Ucap Ravin.
Rania mengangguk. “Kamu harus memikirkan alasan yang masuk akal saat tiba di rumah nanti. Jangan sampai Sera curiga. Aku masih mau hidup tenang.” Gadis itu mengulang kalimatnya saat di mobil tadi.
“Kamu tenang saja. Aku pastikan kamu akan tetap aman, Ran.” Ucap Ravin meyakinkan.
Meski pria itu sendiri merasa tidak yakin saat ini.
Tidak yakin, apa mama Safina melihat dirinya di rumah sakit?
Dan juga, tidak yakin apa Sera percaya alasan yang ia berikan kemarin?
“Apa Sera tidak ada menghubungi kamu? Kenapa aku tidak mendengar suara ponsel kamu?” Tanya Rania kemudian.
“Ponsel aku mati.” Ucap Ravin.
“Biarkan saja. Katakan kalau kamu tidak sempat mengisi daya.” Ucap Rania.
Ravin pun menganggukkan kepalanya.