Dua tahun Anala Paramitha menjadi sekretaris pribadi—sekaligus "simpanan"—Damar Hadiwijaya, pewaris paling berbahaya di Jakarta. Semua orang mengira Nala mencintainya. Padahal setiap ciuman di mata pria itu adalah bagian dari dendam.
Dibius dan dilelang di Batam, Nala menikam penculiknya, lalu pulang membawa barang curian Damar dan menyebut harganya: sepuluh miliar. Damar membayar, menghancurkan musuhnya demi dia, lalu menjadikannya miliknya—tanpa nama, tanpa status.
Makin gila Damar mencintainya, makin dekat Nala pada bukti untuk menjatuhkannya. Tapi bagaimana kalau pria yang ingin dia hancurkan bukan pembunuh yang dia cari… dan ternyata yang selama ini jadi pengganti bukan dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Bab 5: Jam Tangan di Tas Siapa
Kebaya itu berwarna hijau zamrud, dan Nala tahu persis berapa pasang mata yang akan menoleh begitu dia turun dari mobil.
Dia memilihnya justru karena itu.
Rumah Menteng berdiri di balik pagar tinggi bercat putih, lampu-lampu taman menyala di sepanjang jalan masuk. Mobil-mobil hitam berderet sampai ke ujung jalan. Dari dalam terdengar gamelan, pelan dan rapi, dimainkan oleh sekelompok penabuh berbaju lurik di sudut pendapa.
Damar berjalan di depannya. Dia tidak menunggu, tidak menawarkan lengan. Nala berjalan dua langkah di belakang, persis jarak seorang sekretaris.
Begitu mereka melewati pintu utama, dia merasakannya. Bisik-bisik yang naik seperti uap.
"Itu, kan?"
"Iya, yang itu. Sekretaris yang itu."
"Berani juga, ya, dibawa ke sini."
Tiga perempuan setengah baya berkebaya brokat berdiri di dekat meja kue. Para tante dari keluarga besar Hadiwijaya. Salah satu dari mereka menatap Nala dari ujung sanggul sampai ujung selop, lalu tersenyum dengan cara yang membuat senyum itu tidak lagi terlihat seperti senyum.
Nala membalas senyumnya, sedikit menunduk, dan terus berjalan.
***
Dia melihatnya di menit kelima.
Seorang perempuan muda berbaju hitam, asisten Bianca, berdiri terlalu dekat dengan meja tempat para tamu menitipkan tas. Tasnya sendiri ditaruh Nala di sana bersama tas-tas lain, sebuah tas tangan kecil berwarna krem. Asisten itu melirik ke kiri, ke kanan, lalu menyelipkan sesuatu yang berkilau ke dalam tas krem itu. Gerakannya cepat. Terlatih.
Jam tangan. Nala melihat sekilas kilau rantai logamnya sebelum benda itu hilang ke dalam tas.
Dia tidak bereaksi. Dia mengambil segelas jus jeruk dari nampan pelayan dan mengobrol dengan istri seorang direktur tentang macetnya Jalan Sudirman.
Sepuluh menit kemudian, dia mengambil tasnya dan berjalan ke toilet wanita.
Bianca sudah ada di sana, berdiri di depan cermin besar sambil memperbaiki lipstik. Gaun merah marunnya berkilau di bawah lampu. Tas tangan peraknya terbuka di atas wastafel.
Mata mereka bertemu di cermin.
"Kamu tahu nggak, ini acara keluarga." Bianca menutup lipstiknya dengan bunyi klik. "Keluarga. Bukan acara kantor."
"Saya diundang Eyang, Mbak."
"Eyang cuma penasaran. Jangan GR." Bianca berbalik dan menatapnya langsung. "Aku kasih tahu sekali aja, ya. Tahu diri. Orang kayak kamu itu banyak. Hari ini dipakai, besok diganti. Jangan sampai kamu malu sendiri di depan semua orang."
"Terima kasih nasihatnya, Mbak."
Bianca mendengus dan masuk ke salah satu bilik.
Nala menunggu sampai pintu bilik itu terkunci. Lalu dia membuka tas kremnya, mengambil jam tangan itu dengan tisu, dan memasukkannya ke tas perak Bianca yang masih terbuka di atas wastafel. Di antara bedak padat dan ponsel.
Dia mencuci tangannya, mengeringkannya, dan keluar.
***
Teriakan itu datang setengah jam kemudian, tepat ketika pembawa acara selesai membacakan riwayat hidup Eyang Bas.
"Jam tanganku! Jam tanganku hilang!"
Gamelan berhenti. Seratus lima puluh kepala menoleh.
Bianca berdiri di tengah ruangan, tangannya memegang pergelangan kirinya yang kosong. Wajahnya pucat, matanya berkaca-kaca. Kalau Nala tidak tahu, dia pasti akan percaya.
"Itu hadiah dari Eyang Darmo. Harganya ratusan juta." Suaranya bergetar sempurna. "Tadi aku lepas sebentar waktu cuci tangan, terus..."
Dia berhenti. Lalu matanya berpindah, perlahan, ke arah Nala.
"Tadi cuma sekretaris itu yang dekat tasku."
Ruangan itu berdengung. Para tante di dekat meja kue saling berpandangan dengan wajah yang tidak terkejut sama sekali. Seseorang berbisik cukup keras, sudah kuduga. Teman-teman Bianca dari kalangan artis sudah mengangkat ponsel.
Nala bisa merasakan Damar di sisi kanannya, beberapa meter jauhnya. Dia tidak menoleh ke sana.
Dia berjalan ke tengah ruangan. Langkahnya pelan dan pasti. Ketika dia berdiri di depan Bianca, dia membuka tas kremnya dan membaliknya.
Semua isinya jatuh ke lantai marmer. Ponsel. Dompet kecil. Lipstik. Sebungkus tisu. Kunci. Tidak ada yang lain.
Dia menatap Bianca.
"Silakan diperiksa, Mbak," katanya. "Kalau masih kurang yakin, saya bisa diperiksa oleh petugas keamanan."
Bianca membuka mulut. Ada sesuatu di matanya yang retak. Dia melirik asistennya, yang berdiri di belakang kerumunan dengan wajah kebingungan.
"Mungkin... mungkin kamu sudah sembunyikan di tempat lain."
"Mungkin." Nala tersenyum. "Tapi biar adil, Mbak, tasnya Mbak juga dibuka. Siapa tahu jatuh ke situ waktu Mbak cuci tangan."
"Apa maksudmu?"
"Cuma memastikan, Mbak. Supaya tidak ada yang salah paham."
Seseorang di kerumunan tertawa kecil. Bianca menggenggam tas peraknya erat-erat.
"Bianca." Suara itu datang dari belakang. Pelan, nyaris lembut. Eyang Bas berdiri dari kursinya di ujung pendapa, ditopang tongkat kayu jati. "Buka saja, Nak. Biar jelas."
Bianca menatap Eyang, lalu menatap tasnya. Pelan-pelan dia membuka penutupnya.
Seorang tante yang berdiri paling dekat mencondongkan badan. Lalu matanya membulat.
"Lho. Itu apa?"
Bianca menarik keluar benda berkilau itu dari antara bedak padat dan ponselnya. Jam tangan berantai logam, dengan jarum yang masih berdetak.
Ruangan itu meledak.
Bukan tawa. Lebih buruk dari tawa. Bisikan-bisikan yang bergulung seperti ombak, satu menabrak yang lain. Kamera-kamera ponsel bergerak dari wajah Nala ke wajah Bianca. Asisten Bianca menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"Aku... aku nggak..." Bianca menatap jam itu seperti menatap ular.
"Sudah, sudah." Eyang mengangkat tangannya sedikit. Ruangan langsung tenang. "Salah paham. Malam ini malam bahagia. Kita tidak usah ribut karena hal kecil."
Dia menoleh ke Nala. Untuk pertama kalinya, laki-laki tua itu benar-benar menatapnya.
"Maafkan Bianca, ya, Nak. Dia sudah Eyang anggap cucu sendiri."
Sudah dianggap cucu sendiri. Nala mencatat kalimat itu.
"Tidak apa-apa, Eyang," katanya sambil berjongkok memungut barang-barangnya dari lantai.
Sepasang sepatu pantofel hitam berhenti di depannya. Damar membungkuk, mengambil lipstik yang menggelinding paling jauh, dan meletakkannya di telapak tangan Nala. Jarinya tidak menyentuh kulitnya. Dia tidak mengatakan apa-apa.
Tapi ketika Nala mendongak, laki-laki itu sedang menatap Bianca. Dan Bianca, untuk pertama kalinya malam itu, menunduk lebih dulu.
Di sudut ruangan, salah satu teman Bianca menatap layar ponselnya dengan wajah panik. Nala sempat melihat lingkaran merah muda di pojok layar itu, tanda sebuah story Instagram yang baru diunggah. Perempuan itu menekan-nekan layarnya dengan cepat. Beberapa detik kemudian, lingkaran itu hilang.
Terlambat, pikir Nala. Di ruangan dengan seratus lima puluh orang, selalu ada yang sudah sempat merekam layar.
***
Ketika acara pemberian hadiah dimulai, Bianca sudah menguasai dirinya lagi. Dia berdiri di samping kursi Eyang dengan senyum yang dipasang rapat, seolah setengah jam lalu tidak terjadi apa-apa.
Hadiah demi hadiah dibuka. Lukisan. Keris tua. Arloji emas. Seorang pengusaha dari Surabaya membawakan sebuah guci keramik dari Dinasti Ming.
Lalu giliran Nala. Dia maju dan menyerahkan sebuah gulungan kertas yang diikat pita cokelat.
Bianca tertawa pelan, cukup keras untuk didengar orang di sekitarnya. "Kertas? Ya ampun. Gaji sekretaris memang segitu, ya."
Beberapa orang ikut tertawa.
Eyang tidak tertawa. Dia membuka pita itu dengan jari-jarinya yang keriput dan membentangkan kertasnya pelan-pelan.
Aksara Jawa. Baris demi baris, ditulis dengan tinta hitam di atas kertas daluang, rapi dan rapat. Nala menghabiskan tiga malam untuk menulisnya.
Eyang membaca dalam diam. Lalu bibirnya bergerak.
"Mingkar mingkuring angkara, akarana karenan mardi siwi..." Suaranya pelan dan dalam. Dia berhenti, menatap Nala dari atas kertas itu. "Serat Wedhatama. Pupuh Pangkur."
"Bait pertama sampai ketujuh, Eyang."
"Siapa yang mengajarimu menulis aksara ini?"
"Almarhumah nenek saya, Eyang. Di Solo."
Eyang menatapnya lama. Lalu dia mengangkat kertas itu sedikit, menunjukkannya ke seluruh ruangan.
"Ini," katanya, "baru namanya hadiah."
Tepuk tangan pecah. Bukan tepuk tangan sopan seperti untuk hadiah-hadiah sebelumnya. Tante yang tadi tersenyum sinis di dekat meja kue ikut bertepuk tangan, meskipun bibirnya masih mengerut. Bianca tidak bertepuk tangan.
Nala menunduk sopan. Ketika dia mengangkat wajahnya lagi, mata Eyang tidak lagi tertuju pada kertas itu.
Mata itu tertuju ke lehernya.
Ke liontin teratai merah yang jatuh di atas kebaya hijau zamrud.
Hanya sedetik. Tatapan laki-laki tua itu membeku di sana, lalu bergeser, dan senyumnya kembali seperti semula. Dia menggulung kertas itu dan memberikannya kepada seorang pelayan.
"Simpan di ruang kerja Eyang."
***
Pukul sembilan lewat seperempat, Eyang berdiri dengan gelas sirup di tangannya. Ruangan langsung hening.
"Terima kasih sudah datang di hari tua Eyang." Suaranya tidak keras, tapi sampai ke setiap sudut. "Tujuh puluh delapan tahun. Eyang sudah lihat banyak hal. Tapi ada satu hal yang belum Eyang lihat."
Dia menoleh ke kiri, ke arah Damar.
Nala ikut menoleh. Damar berdiri di dekat pilar, kemeja batik cokelatnya rapi, wajahnya tidak terbaca.
"Hadiwijaya dan Wibisono sudah berteman sejak zaman Eyang masih muda. Malam ini, Eyang mau pertemanan itu jadi keluarga." Eyang mengangkat gelasnya lebih tinggi. "Damar dan Bianca akan segera bertunangan."
Ruangan itu bergemuruh. Tepuk tangan, sorakan, bunyi gelas yang beradu. Bianca menutup mulutnya dengan tangan, matanya berbinar, seolah dia benar-benar terkejut.
Nala bertepuk tangan bersama semua orang.
Dia tidak menatap Bianca. Dia menatap Damar.
Rahang laki-laki itu mengeras. Sesuatu lewat di wajahnya, cepat sekali, seperti bayangan yang melintas di permukaan air. Lalu hilang.
Ini, pikir Nala sambil terus bertepuk tangan. Ini bisa kupakai.
Di tengah sorakan itu, Damar meletakkan gelasnya di atas meja.
Dia tidak bertepuk tangan.