Ketika kebocoran fasilitas riset menyebarkan mutasi jamur pembawa wabah kematian, dunia runtuh dalam hitungan hari dan mengubah manusia menjadi mayat hidup yang dikendalikan spora ganas. Di tengah kekacauan Kota Mati, Luna harus memimpin empat penyintas lain, Steve si petarung, Nancy sang peretas, Endru si tenaga medis, dan Onad sang mekanik humoris. untuk bertahan hidup dari kejaran monster cordyceps dan ancaman kejam kelompok penyintas manusia lainnya. Di antara semak sisa peradaban, adegan penjarahan yang menegangkan, serta benih-benih cinta yang hangat di tengah malam kelam, mereka harus memperebutkan satu-satunya wilayah safe zone yang tersisa. Mampukah naluri survival dan ikatan manusiawi membawa kelimanya selamat, ataukah mereka justru hancur oleh kejamnya sesama penyintas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 - KOTA YANG LUMPUH
Pintu belakang kafe berderit pelan saat Luna mendorongnya sedikit dengan ujung siku. Bau sangit karet terbakar bercampur udara lembap beraroma tanah langsung menyengat indra penciumannya. Di belakangnya, barista muda—yang baru saja memperkenalkan namanya sebagai Rian—memeluk erat tas ransel hitam yang tampak sarat beban. Tangan kanannya menggenggam pisau dapur stainless steel dengan gemetar tak terkontrol.
"Jangan pegang pisau begitu. Kalau kamu jatuh, pisau itu malah bisa menusuk perutmu sendiri." Luna menunjuk lengan Rian yang kaku.
"Maaf, aku cuma gemetaran." Rian menurunkan pisaunya pelan-pelan.
"Turunkan mata pisaunya ke bawah, simpan di dalam sarung kanvas atau selipkan di pinggang." Luna memberi arahan tanpa menghentikan pandangannya dari lorong gang.
Gang sempit di balik kompleks pertokoan itu biasanya hanya diisi oleh tumpukan kardus bekas dan tempat sampah roda besar. Namun siang ini, tempat itu berubah menjadi lorong pelarian yang sangat ricuh. Beberapa karyawan kantor bertelanjang kaki berlarian tanpa arah, saling senggol tanpa memedulikan tas atau barang berharga mereka yang berceceran di atas semen basah. Dari arah jalan raya di luar mulut gang, deru mesin mobil yang meraung tinggi terputus oleh suara hantaman logam beruntun yang memekakkan telinga.
Luna mengintip dari balik dinding bata di ujung gang. Pemandangan di jalan protokol kota kini benar-benar menyerupai neraka buatan manusia. Ribuan kendaraan terjebak dalam kemacetan total yang mengunci setiap jengkal aspal. Bus trans antarkota yang biasanya menjadi tulang punggung transportasi warga melintang melintasi tiga lajur utama, menghantam pembatas jalan beton hingga bagian depannya remuk tak berbentuk. Puluhan pengemudi meninggalkan mobil mereka begitu saja dalam keadaan mesin masih menyala, membuat suara raungan mesin beradu dengan klakson yang berbunyi tanpa henti karena tertindih tubuh pemiliknya yang sudah tak bernyawa.
"Astaga! Jalanan utama benar-benar mati total!" Rian menutup mulutnya tegang.
"Sistem transportasi kota ini sudah ambruk dalam hitungan menit." Luna bergumam seraya mengamati kekacauan dari kejauhan.
Di atas jembatan layang yang melintasi persimpangan utama, sebuah kereta komuter listrik mendadak berhenti keras. Suara decitan besi beradu besi melengking memecahkan udara siang, disusul percikan api raksasa dari kabel daya atas yang terputus hebat. Kereta itu tersentak keras, membuat beberapa gerbong belakangnya tergelincir dari rel dan miring berbahaya di atas pinggiran benteng beton jembatan. Penumpang di dalamnya memukul-mukul jendela kaca yang gelap, terperangkap di antara himpitan sesama manusia dan bahaya kebocoran spora yang mulai membumbung pekat dari dasar jalanan.
Orang-orang di jalan raya tidak lagi bertindak menggunakan akal sehat. Kepanikan massal mengikis seluruh peradaban yang dibangun bertahun-tahun hanya dalam hitungan detik. Ketika beberapa orang terinfeksi dengan benjolan jamur kehitaman di leher mereka mulai melompat brutal dari atas kap mobil, kerumunan warga justru saling dorong dan menginjak siapa saja yang jatuh demi bisa melangkah selangkah lebih jauh dari kejaran maut.
"Kita harus ke mana sekarang? Ke stasiun atau terminal terdekat?" Rian bertanya penuh kepanikan.
"Tidak ada stasiun atau terminal yang aman lagi. Tempat-tempat berkumpulnya orang banyak sekarang berubah jadi perangkap pembantaian massal." Luna menggeleng tegas.
"Tapi mobilku ada di area parkir bawah tanah gedung sebelah!" Rian menunjuk bangunan tinggi di seberang jalan.
"Lupakan mobilmu. Seluruh rute darat sudah mati. Kalau kamu naik mobil sekarang, kamu cuma bakal terjebak di dalam kaleng besi tanpa bisa lari saat makhluk-makhluk itu mengepungmu." Luna menatap mata Rian tajam.
Rian terdiam kaku. Air mata ketakutan mulai menetes di pipinya yang bernoda debu dan peluh. Ia memandangi hamparan kendaraan melintang dan kerumunan manusia yang saling bantai di kejauhan. Kenyataan bahwa seluruh infrastruktur megapolitan yang megah ini lumpuh hanya dalam tempo hitungan jam terasa seperti mimpi buruk yang tidak masuk akal baginya.
"Terus kita harus jalan kaki?" Rian berbisik dengan nada pasrah.
"Cuma itu satu-satunya cara bertahan hidup. Bergerak cepat, memanfaatkan celah sempit, dan tidak menarik perhatian." Luna membetulkan ikatan tali busurnya di dada.
Mereka mulai menyusuri pinggiran jalan utama, memanfaatkan bayang-bayang pertokoan yang terkunci rapat. Luna melangkah dengan ritme yang sangat teratur, seperti yang pernah dipelajarinya semasa pendidikan akademi militer—setiap langkah diperhitungakn, mata selalu memindai titik buta di atas jembatan layang dan celah di antara kendaraan mogok. Rian mengekor tepat dua langkah di belakangnya, berusaha keras menyesuaikan ritme langkah kakinya agar tidak menimbulkan suara gaduh di atas pecahan kaca.
Di persimpangan jalan berikutnya, sebuah helikopter evakuasi medis melintas rendah di udara kota. Suara baling-balingnya yang menggema sempat memberikan titik harapan kecil bagi ribuan warga yang terjebak di tengah jalan raya. Orang-orang melambaikan tangan, berteriak histeris meminta pertolongan dari atas atap-atap mobil yang terperangkap macet.
Namun, harapan itu hancur seketika tanpa sisa. Dari arah pusaran asap pekat yang membumbung tinggi di gedung pusat riset, segerombolan burung yang terinfeksi dan kebingungan terbang tidak tentu arah. Beberapa di antaranya menghantam baling-baling belakang helikopter tersebut. Asap kehitaman mendadak menyembur keluar dari mesin helikopter, membuatnya hilang kendali dan berputar menukik tajam sebelum menghantam lantai teratas gedung pusat perbelanjaan di ujung persimpangan.
LEDAKAN RAKSASA TERCIPTA.
Gelombang kejut ledakan itu menggetarkan tanah yang dipijak Luna dan Rian, merontokkan sisa-sisa kaca jendela pertokoan di sekitar mereka.
"Tunduk sekarang!" Luna menarik kuat pundak Rian ke balik barikade tempat sampah besi.
Pecahan kaca dan puing-puing bangunan berjatuhan bagaikan hujan meteor mini. Rian meringkuk ketakutan, menutup kepalanya rapat-rapat dengan kedua tangan. Ketika getaran gempa buatan itu mereda, suasana di jalan raya justru menjadi sepuluh kali lipat lebih mencekam. Ledakan helikopter tadi menjadi magnet suara raksasa yang memanggil ribuan zombie terinfeksi dari segala penjuru kota.
Suara derap langkah kaki yang kacau bersahut-sahutan dari dalam lorong-lorong pemukiman dan gang gelap. Makhluk-makhluk itu berlarian dengan kecepatan ekstrem di luar nalar manusia biasa, dipicu oleh suara ledakan dan aroma darah segar yang menyebar mengikuti embusan angin hangat. Mereka menerjang kerumunan warga yang terperangkap dalam kemacetan tanpa ampun sedikit pun.
"Lihat... mereka berlari makin cepat!" Rian mengintip dengan mata terbelalak ketakutan.
"Spora jamur itu memicu lonjakan adrenalin ekstrem pada sistem saraf inangnya. Mereka tidak merasa lelah atau sakit lagi." Luna mengamati pola serangan monster-monster itu dengan cermat.
"Kita tidak akan selamat kalau terus berjalan di dekat jalan utama ini." Rian berbisik gemetar.
"Pikiranmu mulai bekerja dengan jernih. Kita tinggalkan area komersial ini sekarang." Luna mengangguk pelan.
Luna menyadari sepenuhnya bahwa kota ini bukan lagi tempat yang layak huni bagi manusia. Jalur transportasi darat, udara, dan rel kereta api telah lumpuh total secara bersamaan. Tidak ada bala bantuan militer yang akan datang, tidak ada prosedur evakuasi massal yang teratur. Kota metropolis ini resmi berubah menjadi labirin kematian bertembok beton tinggi tempat hukum rimba berlaku sepenuhnya.
Luna membalikkan badan, mengarahkan pandangannya ke pemukiman padat penduduk yang berada di balik jalur rel kereta api tua. Lorong-lorong sempit di sana memang berisiko tinggi, tetapi menawarkan jauh lebih banyak celah untuk bersembunyi dibandingkan jalan protokol yang kini menjadi kuburan massal bagi ribuan kendaraan.
"Pegang ranselmu rapat-rapat. Begitu kita melompat menyeberang rel, jangan pernah menoleh ke belakang apa pun yang kamu dengar." Luna menginstruksikan dengan suara berbisik namun tegas.
"Aku paham. Aku bakal ikuti pergerakanmu dari belakang." Rian menyapu keringat dingin di dahinya.
Dengan satu gestur tangan yang mantap, Luna melompat melintasi pembatas jalan, memimpin pelarian mereka menembus lumpuhnya kota mati yang kian tenggelam dalam cengkeraman wabah Cordyceps.