Arthur Summers, mantan Jenderal pasukan elit rahasia, memutuskan pensiun dari dunia pertumpahan darah untuk hidup tenang bersama istrinya, Elena. Ia kembali ke kota metropolis dan mengambil pekerjaan rendah hati sebagai dosen di Universitas St. Jude, tempat Elena bekerja sebagai Dekan.
Namun, kepulangan Arthur disambut dengan kenyataan pahit. Ia memergoki Elena berselingkuh dengan Julian Thorne, putra donatur utama kampus yang arogan. Pengkhianatan ini menghancurkan hati Arthur, apalagi istrinya ternyata lebih memilih bersenang-senang dengan pria lain—sebuah drama pengkhianatan yang mengingatkan pada kekecewaan saat mendengar pasangan bersenang-senang dengan pria bejat di tempat hiburan.
Namun yang lebih buruk, Arthur menyadari bahwa perselingkuhan itu hanyalah puncak gunung es. Julian Thorne ternyata menggunakan universitas tersebut sebagai kedok untuk sindikat kriminal internasional yang berencana mengancam keamanan kota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Realita Sang Raja
Rintik hujan yang mengguyur aspal kota metropolis malam itu terasa seperti jarum es yang menusuk kulit. Di sudut jalan raya yang remang-remang, Elena duduk meringkuk di bawah kanopi sebuah halte bus yang sepi. Gaun sutra mahalnya yang beberapa jam lalu menjadi simbol kebanggaan, kini basah kuyup, kotor oleh cipratan lumpur, dan menempel pada tubuhnya yang menggigil hebat.
Tidak ada lagi Elena sang Dekan Fakultas Seni yang elegan. Tidak ada lagi Elena sang kekasih pewaris takhta kampus. Yang tersisa hanyalah seorang wanita malang yang baru saja disadarkan bahwa kesombongannya telah menghancurkan hidupnya sendiri.
Tiba-tiba, sorot lampu depan dari sebuah mobil membelah tirai hujan. Sebuah sedan Rolls-Royce Phantom berwarna hitam pekat menepi perlahan, berhenti tepat di depan halte bus tempat Elena meringkuk. Mesin V12 mobil itu mendengkur halus, memancarkan aura kemewahan kuat yang bahkan melampaui mobil-mobil sport milik Julian Thorne.
Pintu penumpang belakang terbuka. Sebuah payung hitam besar terkembang, menaungi sosok pria berpostur tegap yang melangkah turun ke atas aspal basah. Sepatu kulitnya yang dipoles sempurna melangkah tanpa tergesa-gesa.
Elena mengangkat wajahnya yang pucat dan dipenuhi sisa air mata. Ketika matanya menangkap siluet wajah pria di balik payung tersebut, jantungnya seolah berhenti berdetak.
Itu Arthur Summers.
Namun, ini bukanlah sosok Arthur yang ia kenal bukan pemuda sederhana yang dulu menikahinya, dan bukan pula dosen sejarah yang ia remehkan. Pria yang berdiri di hadapannya saat ini mengenakan setelan jas hitam bespoke tiga potong yang memancarkan kekuasaan, dengan tatapan mata yang sedingin gletser. Posturnya tegak, menatap Elena dari atas seolah menatap seekor serangga yang terluka.
"A-Arthur...?" suara Elena keluar menyerupai rintihan putus asa. Ia berusaha berdiri, namun kakinya terlalu lemas sehingga ia harus berpegangan pada tiang halte bus. "Kau... kau datang untukku? Kau memaafkanku?"
Arthur tidak menjawab. Ia hanya berdiri diam, membiarkan keheningan malam dan suara derai hujan menjawab pertanyaan naif itu. Wajah Arthur saat ini tampak begitu tenang, namun di balik ketenangan itu, tersembunyi aura mengerikan. Wajahnya perlahan menjadi sangat gelap seperti seekor binatang buas yang marah, siap untuk menerkam kapan saja.
Melihat tatapan itu, sisa-sisa harapan di dada Elena hancur lebur. Ia menjatuhkan dirinya ke lututnya, bersujud di genangan air tepat di bawah ujung sepatu Arthur. Harga dirinya telah sepenuhnya menguap.
"Arthur, maafkan aku! Kumohon, ampuni aku!" tangis Elena meledak, tangannya mencoba menggapai ujung celana Arthur, namun pria itu melangkah mundur, menolak sentuhannya. "Aku bodoh! Aku telah dibutakan oleh uang dan janji-janji palsu Julian! Dia mengusirku... dia membuangku ke jalanan seperti sampah. Aku sadar sekarang, hanya kau yang benar-benar peduli padaku. Mari kita perbaiki semuanya, Arthur. Aku istrimu!"
Sang Jenderal menatap wanita yang menangis tersedu-sedu di kakinya itu. Bukannya merasa kasihan, hati Arthur justru dipenuhi oleh rasa muak yang teramat sangat.
"Kau bukan lagi istriku, Elena," ucap Arthur dengan suara bariton yang berat dan sedingin es, mengalahkan suara rintik hujan. "Kau adalah masa lalu yang baru saja kubakar menjadi abu."
Elena mendongak, matanya membelalak penuh penderitaan. "Kenapa, Arthur? Kau mencintaiku! Kau dulu berjanji akan memberikan seluruh dunia untukku! Kenapa kau menyembunyikan dirimu dariku? Kenapa kau kembali hanya untuk menghancurkanku?!"
Mendengar tuduhan itu, senyum sinis dan getir mengembang di bibir Arthur.
"Aku kembali untuk menghancurkanmu?" ulang Arthur pelan, menundukkan pandangannya. "Enam tahun lalu, aku meninggalkan kota ini dan berjuang di antara hidup dan mati. Aku membangun organisasiku sendiri dari nol, Aku bermandi darah setiap hari, menatap kematian setiap malam, hanya agar aku bisa kembali dan memberimu dunia yang kau impikan."
Mata Elena melebar. Napasnya tercekat mendengar skala kekuasaan yang baru saja diucapkan suaminya. Raja? Jenderal? Organisasi asing terbesar?
"Saat ini, aku telah memiliki otoritas tertinggi di dunia ini, bersama dengan kekayaan dan status sosialku yang tak terbatas," lanjut Arthur, suaranya kini dipenuhi dengan tekanan yang membuat udara di sekitar mereka terasa hampa. "Dan tahukah kau apa alasanku kembali? Aku kembali karena aku telah berjanji padamu bahwa aku akan bertanggung jawab dan aku akan kembali untuk menikahimu secara layak, hidup damai bersamamu."
Air mata Elena mengalir semakin deras. Keputusasaan mencekik lehernya saat ia menyadari seberapa besar pengorbanan suaminya selama ini.
"Namun, apa yang kulihat saat aku tiba?" Suara Arthur mulai bergetar oleh amarah yang tertahan, mengingatkan pada kepedihan mendalam yang pernah ia rasakan. Perasaan pria itu sangat hancur ketika melihat kenyataan yang menunggunya. "Aku mengira kau menungguku. Tapi kenyataannya, kau hanya mementingkan dirimu sendiri, meninggalkan janji suci kita dan bersenang-senang dengan pria bejat yang kau anggap lebih berkuasa dariku."
Arthur mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap lurus ke dalam jiwa Elena yang rapuh. "Saat aku melihatmu di dalam pelukan Julian, aku mulai bertanya-tanya pada diriku sendiri. Mungkinkah selama ini aku telah salah menilai wanita sepertimu?"
"T-tidak, Arthur... tolong..." Elena memohon, menggelengkan kepalanya dengan histeris. Fakta bahwa ia telah membuang seorang pria yang memiliki otoritas tertinggi di dunia demi seorang pewaris kampus yang kini telah bangkrut, membuat kewarasannya berada di ambang kehancuran.
"Kau meremehkanku, Elena. Kau menganggapku sebagai pecundang yang tidak bisa memberimu masa depan. Kau memilih Julian Thorne karena kau pikir dia adalah raja di kota ini," bisik Arthur dengan sangat tajam. "Lalu, di mana rajamu sekarang? Di mana kekayaannya? Aku menghancurkan kekaisaran yang kau banggakan itu hanya dalam waktu setengah hari. Aku melenyapkan semua yang dimilikinya tanpa harus menyebutkan namaku."
Elena menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Tangisannya merobek kesunyian malam. Penyesalan yang ia rasakan tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Ia telah menukar sebuah mahkota permaisuri dunia dengan lumpur kotor yang kini menodai gaunnya. Jika saja ia bersabar sedikit lagi, jika saja ia memegang kesetiaannya pada Arthur, malam ini ia akan duduk di dalam mansion termewah, dilindungi oleh jenderal terkuat di dunia.
Namun semua itu hanyalah 'jika'.
"Aku sengaja menyuruh orang-orangku mencari keberadaanmu malam ini dan mendatangimu," ucap Arthur perlahan, berdiri tegak kembali dan merapikan kerah jasnya. "Bukan untuk membantumu berdiri. Tapi untuk memastikan kau melihat dengan mata kepalamu sendiri, siapa pria yang telah kau buang. Aku ingin kau menjalani sisa hidupmu dengan mengingat malam ini, mengingat bahwa kau pernah menggenggam seluruh dunia di tanganmu, dan kau sendiri yang menghancurkannya."
"Arthur, kumohon! Beri aku satu kesempatan lagi! Aku akan melakukan apa saja! Aku akan menjadi budakmu!" teriak Elena, merangkak maju mencoba memeluk kaki Arthur.
Namun, Silas Mercer, yang sejak tadi berdiri diam di sisi mobil dengan memegang payung, melangkah maju. Dengan gerakan cepat namun terkendali, Silas menendang pergelangan tangan Elena dengan ujung sepatunya, menyingkirkannya sebelum tangan kotor wanita itu menyentuh setelan komandannya.
"Jangan berani-berani menyentuh Jenderal, Nona," desis Silas dingin.
Arthur membalikkan badannya, memunggungi Elena untuk yang terakhir kalinya.
"Kau benar-benar membuatku jijik, Elena," ucap Arthur sebelum melangkah masuk ke dalam Rolls-Royce yang hangat dan mewah.
Pintu ditutup rapat. Silas masuk ke kursi pengemudi, dan mobil raksasa itu melaju perlahan menembus tirai hujan, meninggalkan halte bus yang gelap gulita.
Elena tertinggal sendirian, berlutut di tengah genangan air mata dan lumpur. Raungannya yang menyayat hati bergema di sepanjang jalanan sepi itu, diiringi suara guruh yang menggelegar dari langit. Hukuman yang Arthur berikan padanya malam ini jauh lebih mengerikan daripada siksaan fisik apa pun.
Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.
Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.
TERIMA KASIH.... ✌️
kira2 kultivasi arthur sudah kaisar bumi minimal...