Aurelia Calista seorang remaja anak satu-satunya dari keluarga sederhana Bayu dan Lila. Walaupun mereka hidup sederhana tapi Aurelia tidak kurang kasih sayang dari kedua orang tuanya.
Berbeda dengan pria bernama Grayson Balindra seorang anak broken home yang ditinggal bercerai oleh orang tuanya sehingga pemuda itu tidak mendapatkan peran apapun baru saja pindah ke sekolah aurelia. Pertemuan pertamanya dengan gadis itu membuat Grayson tertarik dan terobsesi. Dari situlah hidup Aurelia yang biasa tenang seketika berubah.
Bagaimana kisah selanjutnya, yuk baca. Obsesi gila Grayson.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumarlin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Suara monitor electrocardiogram (ECG) yang berdengkit pelan di dalam ruang ICU khusus itu terdengar begitu nyaring, memecah kesunyian yang mencekam. Garis hijau di atas layar monitor naik turun dengan ritme stabil, namun itu tidak mampu menghapus ketakutan yang merayap di dada Aurelia.
Tiga hari telah berlalu sejak malam kecelakaan maut itu. Operasi besar di kepala Bayu memang berhasil diselesaikan oleh tim dokter spesialis bedah saraf berkat intervensi kilat dari Grayson. Akan tetapi, benturan keras yang diterima pria paruh baya itu meninggalkan dampak yang teramat berat. Hingga detik ini, Bayu masih terbaring kian tak sadarkan diri dalam status medis: koma.
Aurelia duduk di kursi sebelah ranjang rumah sakit, jemarinya yang gemetar menggenggam erat tangan sang ayah yang terasa dingin. Matanya bengkak, menyisakan lingkar hitam yang pekat akibat berhari-hari tidak tidur dengan layak. Di luar ruang ICU, melalui dinding kaca transparan, sosok Lila tampak duduk bersandar di kursi tunggu dengan tatapan kosong, dikuasai oleh duka mendalam dan beban pikiran yang menghimpit dada.
Pintu ruangan ICU terbuka pelan. Langkah kaki tegap yang begitu khas membuat bulu kuduk Aurelia meremang seketika tanpa perlu menoleh.
Grayson Balindra masuk ke dalam ruangan steril itu mengenakan jubah medis tipis di luar kemeja gelapnya. Pemuda itu tidak terlihat seperti remaja seusianya; ia tampak bagaikan seorang penguasa mutlak yang datang untuk menagih upeti dari kerajaan yang telah ia taklukkan. Manik mata amber-nya menatap lurus ke arah Aurelia yang terduduk lemah, lalu beralih sejenak memandangi tubuh Bayu yang tak berdaya di atas ranjang.
"Waktu berpikirmu sudah habis, Sweetheart," bisik Grayson tenang dengan suara baritonnya yang berat, memecah keheningan ruangan. "Tiga hari penuh aku memberi ruang untukmu merenung di samping ayahmu. Sekarang, katakan padaku... apa keputusanmu?"
Aurelia perlahan melepaskan genggaman tangannya dari tangan sang ayah. Ia bangkit berdiri, menghadapi pemuda di hadapannya dengan tatapan nanar yang dipenuhi oleh sisa-sisa air mata dan keputusasaan yang teramat dalam. Selama tiga hari terakhir, ia telah menimbang segala kemungkinan. Ia tahu siapa Grayson sebenarnya—seorang monster bermuka dua yang tega meremukkan hidup keluarganya demi memaksanya tunduk. Namun di sisi lain, biaya perawatan intensif harian di rumah sakit elit ini, obat-obatan khusus, dan jaminan keselamatan nyawa ayahnya sepenuhnya berada di dalam genggaman tangan pemuda itu.
Jika ia menolak, Grayson bisa saja menghentikan segalanya dalam hitungan detik, dan nyawa ayahnya akan melayang begitu saja.
"Aku akan menuruti semua kemauanmu, Grayson..." ucap Aurelia parau, suaranya bergetar hebat menahan isak tangis yang mendesak keluar. "Aku akan menyerahkan hidupku padamu... tapi aku punya syarat."
Alis Grayson sedikit terangkat, manik mata amber-nya menyipit tajam, menunjukkan ketertarikan yang mendalam. "Syarat? Kamu berada di posisi terbawah, Aurelia, dan kamu masih berani mengajukan syarat padaku? Let's hear it."
"Pertama," Aurelia menegakkan dagunya, mencoba menunjukkan sisa-sisa harga diri terakhir yang ia miliki di hadapan sang predator. "Kamu harus menjamin perawatan ayahku sampai benar-benar sembuh total tanpa ada kekurangan sedikit pun. Kedua... aku mau pernikahan ini dilakukan secara sah di agama, kamu harus menikahiku."
Mendengar kata 'menikahi', sorot mata Grayson mendadak memancarkan kilatan kepuasan yang luar biasa terang. Senyuman tipis seketika terukir di sudut bibirnya. Bagi Grayson, kata-kata itu bukanlah sebuah tuntutan, melainkan pengesahan mutlak bahwa mangsanya bersedia dikurung dalam sangkar emas miliknya selamanya.
"Dan syarat terakhir..." lanjut Aurelia dengan suara bergetar semakin hebat, air matanya menetes membasahi pipi. "...pernikahan ini tidak boleh ada satu orang pun yang tahu. Rahasia. Hanya kita berdua, Tuhan, dan saksi yang kamu tentukan. Tidak boleh ada sekolah yang tahu, teman-teman kita, tidak ada seorang pun."
Grayson terdiam sejenak, meresapi setiap poin syarat yang diajukan oleh gadis di depannya. Tidak ada yang tahu? Itu justru jauh lebih sempurna dari apa yang ia bayangkan. Dengan merahasiakan pernikahan ini, Aurelia akan sepenuhnya terisolasi, tanpa perlindungan dari siapa pun, tanpa sandaran sosial, dan dunia luar tidak akan pernah mencampuri urusan rumah tangga mereka yang gelap.
"Baiklah. Aku kabulkan semuanya," jawab Grayson mutlak, tanpa keraguan sedikit pun. "Mulai hari ini, ayahmu akan mendapatkan perawatan medis terbaik di dunia, dan kita... akan segera diikat dalam ikatan suci yang tidak akan pernah bisa diputus oleh siapapun."
Malam harinya, di ruang istirahat keluarga di lantai tiga rumah sakit, pertarungan batin yang jauh lebih mengerikan harus dihadapi Aurelia saat ia mencoba menyampaikan keputusan gila itu kepada ibunya.
Lila duduk di sofa usang, memegang secangkir air hangat yang sudah mendingin. Ketika Aurelia menceritakan semuanya—tentang kesepakatan itu, tentang Grayson yang menanggung seluruh biaya rumah sakit, dan puncaknya: keputusan mereka untuk menikah secara diam-diam—cangkir di tangan Lila terlepas begitu saja, membentur lantai dan pecah berkeping-keping.
"Kamu sudah gila, Aurelia?!" teriak Lila histeris, air matanya tumpah menderu seketika. Wanita paruh baya itu mencengkeram kedua lengan putrinya dengan erat, seolah ingin menyadarkan Aurelia dari mimpi buruk yang mengerikan. "Menikah dengan anak itu?! Secara sembunyi-sembunyi pula?! Kamu baru berusia tujuh belas tahun, Nak! Masa depanmu masih panjang! Kenapa kamu menyerahkan diri pada monster yang bahkan baru kita kenal beberapa minggu lalu?!"
"Ma, please... dengar dulu penjelasan Aurelia..." tangis Aurelia pecah, ia berlutut di hadapan ibunya, memeluk pinggang Lila erat-erat sambil terisak pilu.
"Apa lagi yang harus didengar, Aurelia?!" seru Lila penuh keputusasaan, menyeka air matanya yang tiada henti mengalir. "Ibu tahu kita butuh uang untuk biaya operasi dan perawatan Papa... tapi bukan dengan cara menjual diri dan masa depanmu! Kalau Papa sadar, Papa lebih baik mati daripada melihat putrinya mengorbankan kebahagiaan demi menyelamatkannya!"
"Tapi Aurelia nggak punya pilihan lain, Ma!" teriak Aurelia di sela-sela tangisannya, suara parau itu memecah kesunyian malam di rumah sakit. Ia mengangkat wajahnya, menatap manik mata ibunya dengan sorot penuh luka dan ketakutan yang mendalam. "Ibu nggak tahu apa yang anak itu mampu lakukan... Dia bukan anak sekolah biasa, Ma. Dia ancam bukan cuma nyawa Papa di atas meja operasi, tapi dia juga bisa hancurkan siapa saja di sekitar kita dalam sekejap mata kalau aku berani membangkang!"
Lila terpaku seketika. Tubuhnya melemah, cengkeramannya di lengan Aurelia mengendur. "A-apa maksudmu, Nak...?"
"Dia... dia sangat terobsesi sama aku, Ma," bisik Aurelia putus asa, suaranya bergetar hebat. "Satu-satunya cara supaya Papa selamat dan keluarga kita tetap utuh di dunia ini adalah dengan menuruti permainannya. Pernikahan ini... ini satu-satunya jalan keluar. Tolong... restui Aurelia, Ma. Biarkan aku berkorban untuk Papa..."
Lila menatap putrinya dengan tatapan nanar yang dipenuhi kehancuran batin yang teramat berat. Sebagai seorang ibu, tidak ada siksaan yang lebih kejam selain melihat anak gadisnya berjalan sendiri menuju sarang singa demi menyelamatkan suaminya. Dengan tangan yang gemetar hebat, Lila merengkuh kepala putrinya ke dalam pelukannya, menangis bersama meratapi takdir kejam yang merenggut kebebasan keluarga kecil mereka malam itu.
Dua hari kemudian, di sebuah tempat terpencil di pinggiran kota—sebuah vila mewah berarsitektur klasik modern yang dikelilingi oleh pagar tinggi dan rimbunnya pepohonan tropis—sebuah prosesi sakral yang sangat kontras dengan makna sucinya sedang dilangsungkan.
Tidak ada dekorasi bunga yang meriah. Tidak ada alunan musik pernikahan yang romantis. Tidak ada tamu undangan, keluarga, ataupun sahabat yang hadir menyaksikan.
Di dalam ruang utama vila yang megah dan sunyi itu, hanya ada empat orang yang berada di dalam ruangan: seorang penghulu paruh baya yang didatangkan khusus secara rahasia oleh orang kepercayaan Grayson, dua orang saksi berbadan tegap yang merupakan anak buah tepercaya Grayson (Satya dan Rian), Grayson sendiri, dan Aurelia.
Aurelia duduk di kursi kayu jati berukir dengan balutan dress putih sederhana selutut yang dipilihkan khusus oleh Grayson. Wajah cantiknya tampak pucat pasi, tanpa pulasan makeup yang berlebihan, menyisakan kecantikan alami yang kini terlihat begitu rapuh dan kosong. Manik matanya menatap kosong ke lantai marmer yang mengkilap, sementara kedua tangannya saling meremas erat di atas pangkuannya untuk menahan gemetar sekujur tubuhnya.
Di hadapannya, Grayson duduk tegap mengenakan jas hitam formal berpotongan sempurna. Tidak ada seringai arogan di wajah pemuda itu hari ini; yang ada hanyalah ekspresi tenang, dingin, dan tatapan mata amber yang memancarkan kepuasan absolut. Pria itu tampak sangat sabar menunggu detik-detik di mana nama Aurelia Calista resmi disahkan menjadi miliknya di hadapan hukum agama.
"Bagaimana, saksi? Apakah sah?" tanya sang penghulu setelah membacakan seluruh rangkaian ijab kabul rahasia tersebut dalam satu tarikan napas yang lancar.
Satya dan Rian mengangguk pelan dengan ekspresi kaku. "Sah, Pak."
"Alhamdulillah..." ucap penghulu itu lirih, lalu memimpin doa singkat yang terdengar begitu asing dan hambar di telinga Aurelia.
Setelah prosesi administratif penandatanganan buku nikah rahasia selesai, sang penghulu dan kedua saksi segera meninggalkan ruangan, membiarkan pintu utama vila tertutup rapat kembali, meninggalkan sepasang pengantin baru itu dalam keheningan yang teramat pekat.
Grayson bangkit dari tempat duduknya. Langkah kakinya yang tenang mendekati kursi tempat Aurelia duduk membeku bagaikan patung es.
Pemuda itu membungkuk sedikit, lalu mengulurkan tangan kanannya untuk menyentuh dagu Aurelia, memaksa gadis itu mendongak agar manik mata mereka saling bertumpu.
"Lihat aku, Wife," bisik Grayson lembut, namun kata 'istri' yang baru saja diucapkan itu terdengar bagaikan rantai besi panas yang melilit leher Aurelia. "Mulai detik ini, di hadapan Tuhan dan takdir... kamu adalah istri sahku. Tidak ada lagi jalan untuk lari."
Aurelia menatap lurus ke dalam bola mata amber suaminya—pria yang baru saja merenggut seluruh kebebasannya, pria yang menjadi malaikat penyelamat sekaligus iblis pencabut nyawa bagi keluarganya. Air mata hangat akhirnya tumpah menetes perlahan melewati pipinya, jatuh tanpa suara.
Grayson tersenyum tipis. Dengan penuh kelembutan yang mengerikan, ia menyeka air mata di pipi Aurelia menggunakan ibu jarinya, lalu mendaratkan sebuah ciuman posesif dan dingin tepat di atas kening gadis itu.
Di luar vila, hujan gerimis mulai turun membasahi bumi, menyamarkan tirai malam yang gelap gulita—menjadi saksi bisu atas dimulainya sebuah ikatan pernikahan terlarang di dalam sangkar emas kegelapan.