NovelToon NovelToon
Jejak Kelima : Gerbang Rimba

Jejak Kelima : Gerbang Rimba

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Petualangan
Popularitas:298
Nilai: 5
Nama Author: Narishea

Lima sahabat Pramuka Penegak — Bima, Arga, Gilang, Maira, dan Elina— masuk ke Rimba Larangan hanya untuk mencari jejak yang hilang.

Satu langkah salah, mereka terperosok ke dimensi lain yang tak terlihat.

Saat Elina tiba-tiba hilang tanpa jejak, Maira panik dan berteriak memanggil namanya sekeras-kerasnya.

Itulah kesalahan fatal mereka.

Teriakan itu membangunkannya.
BHAYAVEDIN — makhluk buta Sang Perasa Takut yang memburu setiap suara. Semakin keras mereka berteriak, semakin dekat ia datang.

Kini mereka terjebak dalam aturan mengerikan: dilarang bersuara.

Dengan satu teman hilang di dalam kabut dan makhluk itu yang terus memburu, satu-satunya cara pulang adalah memecahkan kode rumit di Gerbang Kelima.

Tapi bagaimana memecahkan kode saat kau bahkan dilarang untuk berteriak meminta tolong?

Berhasilkah mereka keluar??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Narishea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 7 : Pondok Berdenyut

Jam 18:45.

Malam sudah hitam pekat di Pos 4. Kabut tebal sudah masuk sampai ke dalam pondok kayu lapuk itu. Api unggun kecil yang dibuat Arga di tengah pondok jadi satu-satunya cahaya, tapi cahayanya tidak bisa menembus kabut yang sudah di dalam pondok.

Pondoknya dingin sekali. Kayu-kayunya lembab.

Mereka berempat duduk melingkar dekat api, tidak ada yang ngomong. Bima, Maira, Arga, Gilang. Carrier mereka di sudut pondok.

Hening.

Hanya suara kayu bakar kretak... kretak...

Sampai Gilang yang duduk di pojok, yang bekas hitam lima jari di keningnya panas berdenyut, berbisik pelan.

"Mai, pondoknya kok miring."

Mereka bertiga menatap Gilang bingung, lalu menatap sekeliling pondok.

Pondok kayu itu... memang miring.

Awalnya mereka pikir karena tanahnya tidak rata. Tapi sekarang, kalau diperhatikan, papan lantai kayu tempat mereka duduk, perlahan-lahan melengkung ke bawah di bagian tengah. Seperti kasur yang diduduki orang yang berat di tengahnya.

Kriieeet...

Suara kayu tua melengkung.

Maira yang duduk di lantai langsung berdiri, karena dia ngerasa lantai di bawah pantatnya bergerak. Lantai papan itu naik turun pelan. Seperti bernapas.

Dug... dug... dug...

Lantai pondok berdenyut. Pelan, tapi berdenyut. Sama persis seperti tanah lunak di dalam perut hutan tadi.

"Ini... ini pondoknya hidup?!" Arga berbisik panik, mundur sampai punggungnya mentok dinding pondok.

Dinding pondok yang terbuat dari papan kayu lapuk itu juga ikut berdenyut. Dan dari sela-sela papan yang lapuk dan bolong, bukan angin yang masuk. Tapi akar-akar cacing putih kecil. Banyak. Puluhan. Merayap masuk ke dalam pondok dari dinding, dari lantai, dari atap seng berkarat.

Pondok Pos 4 ini bukan pondok.

Ini adalah mulut kedua. Pos 4 ini adalah tempat Induk Bhayavedin menyimpan umpannya agar tetap di satu tempat. Kalau di dalam perut tadi mereka dikurung, di sini mereka digiring untuk tetap diam di dalam pondok ini sampai malam, sampai Induknya lapar lagi.

Api unggun kecil mereka tiba-tiba berkedip keras, hampir mati, karena angin dari bawah lantai.

Dari luar pondok, dari balik kabut tebal yang di luar lingkaran api, terdengar suara langkah kaki.

Kresek... kresek... kresek...

Bukan satu. Tapi banyak. Mengelilingi pondok.

Maira yang panik mau teriak, "KAK TOLONGIN KITA KAK! ADA YANG MAU MASUK PONDOK!"

Bima langsung membekap mulut Maira sekuat tenaga.

" Sstt!! Diam Mai."

Karena Bima melihat sesuatu yang membuat darahnya berhenti mengalir.

Di sela-sela papan dinding pondok yang bolong, di luar, ada mata. Bukan mata. Cekungan hitam sebesar baskom. Wajah sebesar mobil truk itu ada di luar pondok. Menempel di dinding pondok. Mengintip dari sela-sela papan. Ribuan lubang kecil di wajahnya membuka-tutup -pup... pup... pup...- mengendus suara.

Induknya sudah di luar pondok. Menunggu mereka bersuara.

Dan suara yang paling dipancingnya adalah suara Elina.

Tepat di luar pintu pondok yang terbuka sedikit, terdengar suara Elina nangis pelan.

"Raaaa... tolongin aku Raaaa... dingin Raaaa... aku di bawah lantai Raaaa..."

Suara itu jelas sekali dari bawah lantai papan yang berdenyut itu.

Maira yang dibekap Bima memberontak hebat. Itu suara Elina! Di bawah lantai! Maira mau dobrak lantai itu!

Tapi Arga menahan kaki Maira, dan menunjuk ke akar-akar putih yang merayap.

Akar-akar putih itu bergerak mengikuti suara. Saat suara Elina palsu itu nangis, akar-akar itu bergerak cepat menuju sumber suara, menuju pintu pondok. Saat Maira hampir teriak, akar-akar itu langsung bergerak cepat menuju Maira.

Gilang yang bekas hitam di keningnya panas berdenyut keras, tiba-tiba sadar dan berbisik tanpa suara, hanya gerakan bibir, air matanya keluar karena nahan takut.

"DIA BUTA... DIA CUMA DENGER SUARA."

Arga langsung paham dan ikut berbisik tanpa suara.

"SEMAKIN KITA TAKUT DAN TERIAK, DIA SEMAKIN KUAT, AKARNYA SEMAKIN CEPET..."

Bima yang membekap Maira, berbisik pelan sekali di telinga Maira, hampir tidak ada suaranya.

"Ra,itu bukan Elina.Elina asli ada di dalam perut di bawah tanah, yang di luar itu induknya pakai suara Elina buat mancing kita teriak. Kalau kita teriak kita ketahuan posisinya dan pondok ini bakal ketelen lagi."

Maira yang mendengar itu, langsung menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangannya. Dia menahan isakan keras-keras sampai bahunya gemetar hebat, tapi tidak ada suara yang keluar.

Mereka berempat langsung melakukan hal yang sama. Menutup mulut mereka rapat-rapat. Menahan napas. Tidak ada suara. Tidak ada isakan. Tidak ada teriakan. Diam total.

Dan saat mereka diam total...

Akar-akar putih yang sudah memenuhi lantai pondok itu berhenti bergerak. Bingung. Lalu perlahan-lahan layu, kering, dan masuk kembali ke sela-sela papan lantai.

Lantai papan yang melengkung dan berdenyut tadi, perlahan kembali rata dan berhenti berdenyut.

Wajah sebesar mobil truk yang mengintip dari sela papan dinding di luar, perlahan mundur. Karena tidak ada suara yang bisa didengar, dia tidak bisa melihat mereka.

Langkah kaki - kresek.. kresek..- di luar pondok yang mengelilingi mereka, perlahan menjauh dan hilang ditelan kabut.

Suara Elina palsu di luar pintu juga hilang.

Hening total. Hanya suara api unggun -kretak - yang kecil.

Pondok itu kembali menjadi pondok kayu lapuk biasa.

Mereka berempat masih menutup mulut mereka rapat-rapat selama 5 menit, tidak berani bersuara sama sekali, keringat dingin bercucuran.

Baru setelah 5 menit, Bima pelan-pelan menurunkan tangannya dari mulutnya dan menulis sesuatu di debu lantai papan dengan jari, tanpa bersuara.

Tulisannya:

ATURANNYA: JANGAN BERSUARA. DIA BUTA. DIA DENGER TAKUT KITA. SEMAKIN KITA TAKUT DAN TERIAK, SEMAKIN KUAT DIA.

Maira, Arga, Gilang membaca tulisan itu. Mata mereka membelalak. Baru paham.

Kenapa dari awal kompas muter nggak jelas,mereka tetap jalan sambil ngobrol keras.

Kenapa Gilang noleh pas dipanggil, karena dia jawab panggilan.

Kenapa Elina ketarik lagi pas hampir keluar, karena mereka teriak-teriak tarik-tarikan.

Mereka sendirilah yang memberi makan induk itu dengan suara takut mereka.

Malam itu di pondok Pos 4 yang hampir menelan mereka hidup-hidup, mereka akhirnya paham cara bertahan hidup di Rimba Larangan.

Bukan dengan lari. Bukan dengan teriak minta tolong.

Tapi dengan diam. Sediam mayat. Sampai pagi.

Di bawah lantai pondok, di dimensi lain di bawah tanah itu, Elina yang asli masih menangis pelan sendirian di dalam gelap. Dan setiap tangisannya, membuat akar hitam yang melilit pinggangnya semakin kencang, karena tangisannya adalah suara.

***

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!