NovelToon NovelToon
Satpam Penjaga CEO

Satpam Penjaga CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Romansa Fantasi / Nikah Kontrak
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Bimo, seorang pemuda kaya yang enggan dijodohkan, menyusun rencana konyol dengan meminta sahabatnya semasa SMA, Arga, seorang anak panti asuhan bertubuh tegap yang akrab dipanggil Dewa, untuk menyamar menjadi dirinya. Tugas Dewa sederhana: bersikap norak dan menyebalkan di depan Nadia Nugroho, CEO wanita dingin pemimpin imperium bisnis Nugroho Group, agar kencan perjodohan itu batal total.

Namun, rencana konyol itu berantakan. Nadia yang tak mudah terkecoh justru melayangkan ancaman pembalasan yang sanggup membangkrutkan perusahaan keluarga Bimo seketika. Terdesak, Dewa terpaksa menandatangani Surat Kesepakatan Pernikahan Kontrak atas nama Bimo.

Di tengah situasi yang kian kacau dan pernikahan resmi yang dihitung hari, Dewa berusaha menyambung hidup dengan melamar kerja sebagai petugas keamanan. Tanpa ia sadari, hari pertama tugasnya sebagai Satpam justru menempatkannya di lobby utama Menara Utama Nugroho Group, gedung megah milik keluarga sang CEO dingi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34. Firasat di Jalur Sepi

Deru halus mesin Mercedes-Maybach hitam milik Nadia yang perlahan bergerak keluar dari slot parkir VVIP memecah keheningan lantai dasar basement Menara Utama Nugroho Group. Cahaya lampu belakangnya memantul redup di dinding-dinding beton. Di sudut lorong yang agak temaram dekat pintu pos keamanan, Arga berdiri tegap dengan posisi bersedekap. Dari balik masker kain hitam yang menutupi wajahnya, matanya memicing tajam, memperhatikan setiap inci pergerakan kendaraan mewah tersebut dengan tingkat kewaspadaan yang tidak biasa.

Langkah kaki Irwan yang baru saja kembali dari arah toilet lantai dasar terdengar mendekat. Suara sol sepatu boots dinasnya memantul berirama di atas lantai epoksi, memecah perhatian Arga dari mobil tersebut.

"Ga, kok lu masih berdiri di situ aja dari tadi?" tanya Irwan seraya merapikan sabuk dinas yang melingkari pinggangnya. "Bukannya jatah patroli Blok B sama Blok C kita udah beres dari sepuluh menit yang lalu? Yuk, mampir ke pos lobi depan. Anak-anak shift malam dari lantai dua lagi pada kumpul tuh di sana, ada yang bawa kopi hitam panas sama gorengan hangat."

Arga tidak langsung menjawab ajakan rekannya. Ia mengangkat tangannya pelan, menunjuk ke arah mobil Mercedes-Maybach yang baru saja melewati gerbang penghalang otomatis menuju jalanan luar gedung.

"Wan, lu liat gak siapa yang nyetir mobil mewah itu?" bisik Arga, nada suaranya terdengar sangat dalam dan penuh kecurigaan.

Irwan ikut menoleh, menyipitkan matanya untuk mengamati siluet di dalam kabin depan mobil yang diterangi lampu indikator dasbor. "Lah? Itu Bu Nadia kan yang ada di balik kemudi? Terus Pak Ade malah duduk manis di kursi penumpang sebelah kirinya."

"Nah, itu dia hal utama yang bikin gue makin ngerasa aneh dari tadi," kata Arga, keningnya berkerut rapat di balik topi pet Satpamnya. "Pak Ade itu sopir pribadi berpengalaman yang sangat disiplin. Selama gue kerja di sini, mana pernah beliau ngebiarin bos besarnya nyetir sendiri malam-malam begini dalam kondisi capek habis lembur? Ditambah hawa janggal yang sempat gue rasain pas kita meriksa di sekitar mobil itu tadi... firasat buruk gue makin gak enak, Wan."

Irwan menepuk pundak Arga seraya tertawa terkekeh-kekeh, mencoba mencairkan ketegangan yang ia anggap berlebihan. "Duh, Arga, Arga... lu ini terlalu berlebihan dan paranoid mikirnya. Ya mungkin aja Bu Nadia lagi pengen nyetir sendiri malam ini biar gak ngantuk di jalan. Wajar kali, orang kaya mah bebas mau ngapain aja. Pak Ade juga pasti sungkan kalau Bu Nadia sendiri yang minta."

"Gak, Wan. Ini bukan cuma soal wajar atau gak wajar," tegas Arga memotong ucapan Irwan. Matanya menatap lurus ke arah jalan raya di luar gerbang gedung yang mulai tampak lengang dan sunyi. "Gue harus pastiin mobil itu selamat sampai ke tujuannya. Perasaan gue bener-bener gak tenang kalau cuma diam di sini."

Irwan menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sikap Arga yang mendadak sangat tegang. "Terus kalau lu gak tenang, lu mau gimana, Ga? Mau ngejar mobil Maybach kencang begitu pakai lari maraton? Ya jelas gak bakal ke kejar lah!"

Arga memutar badannya menghadap Irwan secara penuh, menatap mata rekannya itu dengan raut wajah yang sangat serius. "Wan, gue mau pinjam motor lu sebentar. Boleh?"

Irwan melotot kaget, matanya membelalak lebar. "Bicara apa lu, Ga?! Ini kan masih jam dinas lembur kita! Kalau Komandan Bambang tahu lu kabur keluar dari area gedung saat bertugas, bisa langsung kena Surat Peringatan lu!"

"Gue gak kabur dari tugas, Wan," potong Arga cepat, memutar otak dengan sigap untuk mencari alasan yang paling masuk akal agar tidak membongkar rahasia hubungannya dengan Nadia. "Gue cuma mau keluar sebentar cari cemilan sama mi instan cup buat ganjal perut kita pas midnight nanti. Lu sendiri yang bilang anak-anak di pos lobi lagi pada kumpul, kan? Sekalian gue beliin gorengan tambahan di warung kelontong depan lorong utama. Paling cuma makan waktu sepuluh sampai lima belas menit."

"Gaya lu sok mau beliin cemilan segala," cibir Irwan, meski raut wajah kerasnya mulai melunak mendengar tawaran makanan. "Tapi kan motor lu sendiri ada di area parkiran belakang, Ga. Kenapa gak pakai motor tua lu itu aja?"

"Motor tua gue karburatornya lagi bermasalah berat, Wan. Jalannya tersedat-sedat dan sering mogok kayak siput," dalih Arga memberikan alasan yang masuk akal.

"Mobil Bu Nadia itu larinya kencang banget di jalan sepi." Gumam Arga dalam hati.

"Kalau gue bolak-balik biar cepat agar gak ketahuan sama Komandan Bambang, gue butuh motor keluaran baru milik lu yang tarikan mesinnya masih responsif. Boleh ya, Wan? Kunci motor lu ada di mana sekarang?" Alasan Arga lagi.

Irwan meraba saku celana dinasnya, lalu menarik keluar sebuah gantungan kunci motor matic 150cc keluaran terbaru miliknya yang masih mengilap.

"Yaudah nih, pakai aja," ujar Irwan menyerahkan kunci tersebut. "Tapi awas ya, Ga! Jangan sampai lecet sedikit pun! Ini motor baru banget gue ambil cicilannya dua bulan lalu, bisa ngamuk istri gue di rumah kalau kenapa-napa."

Arga menyambar kunci motor itu dengan cepat, ada rasa lega yang menyelimuti dadanya. "Siap, Wan! Gue jamin motor lu pulang dalam kondisi mulus seratus persen. Makasih banyak ya!"

"Awas jangan lama-lama, Ga! Nanti kalau Komandan Bambang mendadak sidak dan nanya keberadaan lu, gue terpaksa bilang lu lagi buang air besar di toilet!" seru Irwan dari belakang.

"Sip! Beres, Wan!" sahut Arga seraya berlari kencang menyusuri lorong samping menuju area parkir khusus sepeda motor karyawan.

Tanpa membuang waktu satu detik pun, Arga menaiki motor matic milik Irwan. Ia menyambar helm standar pengaman yang tergantung di stang, menguncinya dengan rapat, menyalakan mesin yang menderu halus, lalu langsung menarik tuas gas dengan kuat. Motor matic itu melesat cepat keluar dari gerbang Menara Utama Nugroho Group, membelah kegelapan jalan arteri ibu kota yang mulai sepi dari lalu lalang kendaraan umum.

Arga menajamkan pandangannya menerobos keremangan malam. Di jarak sekitar tiga ratus meter di hadapannya, lampu belakang berwarna merah khas dari sedan Mercedes-Maybach milik Nadia tampak melaju cukup kencang menyusuri jalur utama kota. Arga sengaja menjaga jarak yang aman di belakangnya, tidak terlalu dekat agar tidak memicu kecurigaan Nadia atau Pak Ade melalui spion tengah, namun cukup dekat untuk mengawasi setiap gerak-gerik kendaraan tersebut.

Jalanan malam yang kian lengang membuat kecepatan mobil Nadia bertambah melaju deras. Namun, ketika kendaraan mewah itu memasuki lintasan jalan bergelombang yang sedikit menurun di dekat area jembatan layang, mata tajam Arga menangkap adanya ketidakberesan yang sangat mencolok dan mengerikan pada pergerakan mobil tersebut.

Lampu rem berwarna merah menyala di bagian belakang Mercedes-Maybach itu tampak menyala terang berulang kali, pertanda kuat bahwa pengemudi di dalam sedang menekan pedal rem secara terus-menerus. Namun, laju kendaraan sama sekali tidak berkurang kecepatannya. Mobil berbobot berat itu justru meluncur makin deras menuruni turunan jalan, terlihat sangat goyang dan tidak stabil tiap kali Nadia berusaha membelokkan roda kemudi untuk menghindari separator jalan semen di tengah.

"Astaga..." bisik Arga di balik helmnya, matanya membelalak lebar diselimuti kepanikan luar biasa.

Arga langsung menarik tuas gas motornya lebih dalam, meraungkan mesin untuk menambah kecepatan demi mendekati posisi mobil tersebut. Dari jarak yang makin dekat, Arga bisa melihat mobil itu mulai oleng ke kiri dan ke kanan secara tidak wajar. Suara gesekan ban mobil mencicit sangat keras menghantam permukaan aspal tiap kali Nadia mencoba melakukan pengereman darurat yang sia-sia.

Dada Arga berdetak kencang bagai dihantam palu, rasa panik dan kecurigaannya kini berubah menjadi kenyataan pahit. Mobil itu tidak melambat sama sekali padahal lampu remnya udah nyala terang! batin Arga menjerit.

"Gak salah lagi... rem mobil Bu Nadia benar-benar blong! Firasat buruk gue di basement tadi beneran terjadi!"

Tanpa memedulikan keselamatan dirinya sendiri di atas sepeda motor, Arga terus menekan tuas gas hingga batas maksimal, melaju kencang menembus angin malam demi mengejar mobil tanpa rem yang sedang meluncur liar menuju potensi bahaya besar di depan sana.

1
Dian Paramita Dewi
Salam kenal, bantu like ya Kak 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!