NovelToon NovelToon
PAMAN! JANGAN GODA AKU

PAMAN! JANGAN GODA AKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:9.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nita

Aku menikahi dia, tapi justru pamannya yang membuatku kehilangan akal. Setiap kali pria itu menatapku, ada bara yang tak bisa kupadamkan. Di mata keluarga, pria itu hanyalah paman dari suamiku. Di hatiku, dia adalah pria yang tak pernah boleh kusentuh. Namun, semakin aku menghindar, semakin dekat dia datang, membawa bisikan-bisikan yang memecah pertahananku. Bagaimana jika cinta ini terbongkar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SI BISU

Dengan napas tersengal Simon berkata, “Wah, sekarang sudah punya waktu senggang ya?”

Xander memicingkan matanya, “Ke ruanganmu!”

“Oh iya tentu saja bos, ayo aku antar!” kata Simon terlihat seperti sedang menghambakan diri kepada Tuan Muda Xander.

Bahkan ketika sampai di dalam ruangan, Simon sedikit menepuk-tepuk sofa yang akan di duduki oleh kawan baiknya itu. Xander duduk dengan tenang tapi auranya tetap saja bersinar terlihat seperti penguasa para bangsawan.

“Jadi apa sudah ditemukan, pihak siapa yang mengedarkan obat itu?? tanya Xander sambil duduk menyilangkan kakinya.

“Eum… soal itu!” jawab Simon terbata.

“Kau melakukan penyelidikan ini, apa karena wanita yang baru saja kau kenal itu?” tanya Simon penasaran.

Xander menaikan satu alisnya, menatap Simon dengan tatapan seperti ingin menerkamnya. Melihat itu dia langsung saja mengangkat kedua tangannya. “Ok.. ok! Kau tidak perlu menjawabnya?”

“Nah, kembali kepada obat di malam itu!” Simon melanjutkan percakapan yang sebelumnya. “Obat itu tidak memiliki nama yang tercantum dalam daftar obat biasa”

“Di kalangan tertentu, obat tersebut hanya dikenal dengan sebutan Vaporis”

“Bentuknya berupa cairan bening yang disimpan dalam tabung kecil khusus. Ketika diaktifkan, cairan itu berubah menjadi uap tipis yang nyaris tidak terlihat. Uap tersebut kemudian seandainya dihirup akan bekerja jauh lebih cepat dibandingkan obat yang diberikan melalui mulut!”

“Karena kemampuannya itulah, Vaporis tidak pernah diproduksi untuk pasar umum, Bahkan uang dalam jumlah besar belum tentu cukup untuk mendapatkannya!”

“Jumlahnya terbatas. Produksinya hanya dilakukan oleh satu pusat penelitian yang keberadaannya bahkan tidak diketahui oleh interpol kita!”

“Ada desas-desus bahwa beberapa keluarga konglomerat memiliki persediaan Vaporis sendiri di rumah pribadi mereka. Bukan karena obat itu dijual secara bebas, melainkan karena keluarga-keluarga tersebut memiliki hubungan langsung dengan orang-orang yang berada di balik penelitian dan produksinya!”

“Yang jadi pertanyaan siapa yang memberikannya kepada mereka?”

Simon tertegun sesaat. Dia merasa pertanyaan Xander ada benarnya. Sebab mendapatkan Vaporis berarti bukan sekadar memiliki obat langka. Itu berarti seseorang telah membuka pintu menuju sebuah jaringan yang seharusnya tidak mudah dimasuki oleh orang biasa.

Di tenga-tengah diskusi serius mereka, ponsel Simon berdering. Melihat nama Seline yang muncul di layar ponsel. Dia pun segera menjawabnya. “Apa kalian sudah sampai di sana?”

Mendengar suara Seline di sambungan telepon, membuat hati Simon merasa lega. “Ingat dilarang jadi Pahlawan!” katanya mengingatkan.

“Eum… lihat bagaimana nanti!” kata Seline sambil mengedarkan pandangannya.

Baru saja ingin memarahi Seline, sambungan telepn sudah teputus. “Hei, kenapa kau menutup teleponnya!”

Xander berdehem karena merasa diabaikan. Simon langsung mengalihkan perhatiannya lagi kepada Bos-nya itu. “Biasa, bawahan sedang melaporkan!”

“Rumah Sakit Sayap Suci baru saja mengirimkan relawan terbaiknya!” kata Simon menjelaskan.

“Apakah untuk bencana di Desa Qinghe?” tanya Xander dengan nada serius.

“Ya betul sekali!” jawab Simon.

“Berapa banyak yang kau kirimkan?” tanya Xander lagi-lagi dengan nada yang terdengar lebih serius.

Simon langsung menjawab. “8 ambulans, 5 dokter senior, termasuk 1 dokter kandungan. 20 perawat!”

Xander berdiri lalu berkata, “Terlalu sedikit!”

“Hah!” kata Simon dengan sedikit memiringkan kepalanya.

“Tambah!” kata Xander sembari melangkah pergi.

Baru saja beberapa langkah, tapi malah sudah berhenti. Xander membalikan badannya lalu berkata, “Oh! Dan juga cari siapa pengedar obatnya!”

Simon membasahi bibir bawahnya. Dalam hati berkata, “Apa dia ini menganggpku adalah seorang intel” namun yang keluar dari mulutnya malah, “Ok!”

Xander melanjutkan langkahnya. Simon langsung mengintruksikan kepada bawahannya agar segera menambah bala bantuan, baik dari segi logistik ataupun personil. Bos besar sudah berkata, meski ada badai besar menerpa bantuan itu harus sampai ke desa Qinghe.

Pada saat ini di kamar Rawat inap, Riana dan Eric terlihat sedang bersiap untuk pulang. Baru saja keluar dari kamar, Gerakan Eric yang ingin merangkul Riana terhenti seketika.

Eric memicingkan kedua matanya, sosok tinggi tegap berdiri di ujung koridor kamar-kamar rawat inap. Dalam hati merasa heran, ada sosok pria asing yang menatapnya, bukan sekedar tatapan biasa. Tapi lebih ke seperti tatapan permusuhan.

“Apa aku mengenalnya!” kata Eric dalam hati.

Riana juga merasa heran, dia merangkul lengan Eric. “Apa kau mengenalnya?”

Eric menggelengkan kepala sementara Xander menaikan satu alisnya. Ketika melihat tangan Riana melingkar di lengan Eric.

Puas melempar tatapan, Xander membalikan badannya dan melangkah pergi. Riana menoleh kepada Eric seraya berkata, “Orang yang aneh!”

Riana berjalan sambil menarik Eric lebih ketat. Sementara itu, di Desa Qinghe. Seline terlihat sibuk memeriksa pasien di tenda-tenda darurat yang sudah berhasil di dirikan. Syukurlah petugas penyelamat sudah menyalakan genset. Untuk sementara waktu, tim medis tidak perlu khawatir soal pasokan listrik.

Tenda-tenda dapur umum dari pemerintah juga sudah berdiri tegap. Tim medis sibuk mengobati, tim dapur umum sibuk memasak, meski bukan makanan mewah. Namun. Sudah cukup untuk menangguli rasa lapar para pengungsi.

Seharian penuh, Seline hampir tidak sempat duduk. Sejak tiba di Desa Qinghe, para pengungsi terus berdatangan ke posko kesehatan. Ada yang mengalami luka karena tertimpa material longsor, ada yang terjatuh saat menyelamatkan diri, ada pula yang hanya mengalami luka ringan tetapi datang karena membutuhkan pemeriksaan.

“Tekanan darahnya turun.”

“Pasien berikutnya.”

“Dok, yang ini lukanya cukup dalam.”

“Bersihkan dulu. Setelah itu jahit.” Jawab Seline

Suara dokter, perawat, dan para relawan terus bersahutan di dalam Tenda yang sementara dijadikan klinik darurat.

Seline berpindah dari satu pasien ke pasien lainnya. Tangannya terus bekerja, memeriksa luka, mengganti perban, memasang infus, memberikan obat, dan memastikan kondisi para korban tetap stabil.

Waktu seakan tidak terasa. Ketika hari mulai sore, jumlah pasien perlahan berkurang. Beberapa pengungsi sudah mendapatkan penanganan dan kembali ke tempat mereka beristirahat.

Seline akhirnya melepaskan sarung tangan medis yang sudah dipakainya sejak beberapa jam lalu. Dia mengusap wajahnya dengan punggung tangan. Merasa lelah, sangat lelah.

Kakinya terasa pegal, bahunya kaku, bahkan suaranya mulai serak karena terlalu banyak berbicara sejak pagi. Namun, ketika dia hendak mengambil sebotol air, pandangannya tanpa sengaja jatuh ke arah samping tenda dapur umum

Di sana berdiri seorang anak kecil. Seorang bocah laki-laki yang mungkin berusia sekitar lima tahun. Tubuhnya kecil. Pakaiannya masih terlihat kotor terkena lumpur. Rambutnya sedikit berantakan dan wajahnya pucat.

Anak itu berdiri sendirian. Tidak menangis. Tidak bermain seperti anak-anak lain. Dia hanya berdiri sambil menatap Seline.

Tatapan mereka bertemu. Seline terdiam. Ada sesuatu dalam binar mata bocah itu. Binar matanya seperti menyimpan begitu banyak hal yang ingin disampaikan. Seolah-olah anak itu sedang mencoba mengatakan sesuatu kepadanya, tetapi tidak tahu bagaimana caranya.

Seline berjalan mendekatinya, perlahan membungkukan badannya agar sejajar dengan tinggi si bocak laki-laki itu.

“Hai!” sapa Seline

Bocah itu tidak menjawab. Seline bertanya lagi, “Kamu terluka?”

Tidak ada jawaban. Seline memperhatikan wajah bocah itu, lalu dia berkata lagi. “Mau minum?”

Anak itu masih diam, dia hanya menatap.Seline tersenyum kecil, lalu menunjuk dirinya sendiri. “Aku dokter.”

Bocah itu berkedip. Kemudian matanya kembali tertuju pada wajah Seline. Seketika saja Sleine mulai merasa ada yang aneh. “Namamu siapa?”

Bocah laki-laki itu membuka mulut. Namun, tidak ada suara yang keluar.

Bocah itu mencoba lagi. Tetap tidak ada suara. Seline perlahan mengubah ekspresinya. “Tidak bisa bicara?”

Bocah laki-laki itu hanya menundukkan kepala. Saat itulah Seline menyadarinya. Anak itu bukan tidak mau menjawab. Tapi, memang tidak bisa bicara.

Seline terdiam beberapa saat. Dia tidak tahu apa yang telah dialami bocah itu sebelum sampai ke tempat pengungsian. Dia juga tidak tahu apakah anak itu kehilangan keluarganya atau memang sejak awal tidak ada keluarganya. Yang dia tahu, sejak tadi anak itu berdiri sendirian dan menatapnya.

Seolah-olah hanya itu satu-satunya cara yang dia miliki untuk meminta pertolongan. Seline akhirnya mengulurkan tangannya. “Ayo.”

Bocah laki-laki itu tidak langsung bergerak. Dia masih menatap tangan yang terulur di hadapannya. Beberapa detik kemudian, tangannya yang kecil perlahan terangkat dan menggenggam satu jari tangan Seline.

“Kalau begitu, sekarang ikut aku. Kita periksa kamu.”

Bocah itu tidak menjawab. Namun genggamannya pada tangan Seline justru semakin erat.

1
Tuti Tyastuti
𝘴𝘺𝘶𝘬𝘶𝘳𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘭𝘪𝘯𝘦 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵
Tuti Tyastuti
𝘈𝘭𝘩𝘢𝘮𝘥𝘶𝘭𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘯𝘥𝘦𝘳 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘰𝘤𝘢𝘩
Tuti Tyastuti
𝘴𝘦𝘮𝘰𝘨𝘢 𝘣𝘢𝘯𝘵𝘶𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘴𝘦𝘨𝘦𝘳𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘭𝘪𝘯𝘦
Tuti Tyastuti
𝘢𝘴𝘵𝘢𝘨𝘢𝘢𝘩 𝘹𝘢𝘯𝘥𝘦𝘳😂😂
Tuti Tyastuti
𝘢𝘴𝘵𝘢𝘨𝘢𝘢𝘩 𝘴𝘪𝘮𝘰𝘯😂😂😂
Tuti Tyastuti
𝘮𝘢𝘶 𝘤𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘦𝘭𝘪𝘯𝘦 𝘺𝘢 𝘯𝘥𝘦𝘳😂
Tuti Tyastuti
𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘴𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘬𝘢 𝘯𝘪𝘵𝘢💪
Tuti Tyastuti
𝘴𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘭💪
Tuti Tyastuti
𝘳𝘢𝘯𝘪𝘢 𝘱𝘶𝘳𝘢" 𝘵𝘶𝘩
Tuti Tyastuti
𝘹𝘢𝘯𝘥𝘦𝘳 𝘱𝘢𝘮𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭 𝘵𝘪𝘩 𝘴𝘦𝘭𝘪𝘯𝘦
Tuti Tyastuti
𝘪𝘵𝘶 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘶𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘭𝘢𝘬𝘰𝘳 𝘴𝘦𝘭
Tuti Tyastuti
𝘸𝘢𝘩 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘨 𝘫𝘦𝘣𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘭𝘪𝘯𝘦🤔
Tuti Tyastuti
𝘦𝘳𝘪𝘤 𝘮𝘰 𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘯𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘦𝘵𝘩𝘢𝘯 𝘮𝘰 𝘬𝘢🤔
Tuti Tyastuti
𝘩𝘢𝘥𝘪𝘳 𝘬𝘢 𝘕𝘪𝘵𝘢☝
Endah Sea
suka dengan semua cerita2 author.. terimakasih
Ellaa Nurell
karya yg sangat bagus banget dibaca....
dengan alur yg bagus...ditambah ada banyak bgt ilmu yg tersaji didalemnya ....
pokoknya recommended novel author ini gak pernah gagal 🫶🏻
Shee_👚
ulah keluarga rania atau rania sendiri yang melaporkan kejadian itu🤔
dasar nya pelekor buat drama murahan aja terus. orang juga pasti mikir masa baru mau di pasang infus dah ada kontraksi yang membuat keguguran. kan aneh belum ada semenit juga.
Shee_👚
ngamuk aja situ gak bakalan ada yang peduli.
eric PeDe gila mau balikan lagi sama seline, orang seline ja dah muak sama kamu😏
Shee_👚
luntang Lantung tapi ATM terus berjalan🤭
Shee_👚
ternyata hanya karena status sosial😏
inget bu harta yang kamu miliki bisa lenyap hanya dengan hitungan menit, tapi menantu baik dan tulus tak bisa di ganti dengan apa pun
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!