Karina, gadis yatim piatu berusia tujuh belas tahun, kehilangan nyawanya setelah menyelamatkan seluruh penumpang bus yang terjun ke jurang. Namun, kematiannya bukan akhir. Sebuah sistem misterius memberinya kesempatan hidup kembali dengan satu syarat: mengumpulkan 100.000 Poin Kehidupan dengan menyelamatkan para antagonis pria dari takdir tragis mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kirana_euforia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dunia Pertama — 10
Senin paginya, dua hari setelah classmeeting berakhir, Bu Retno mengumumkan sesuatu yang membuat jantung Karina berdegup lebih cepat dari biasanya.
"Anak-anak, kita kedatangan murid pindahan lagi." Ucapnya membuka pintu kelas untuk seseorang yang berdiri di ambangnya. "Silakan masuk."
Seorang siswa laki-laki tinggi dengan rambut disisir rapi melangkah masuk, tersenyum percaya diri ke seluruh kelas, sampai matanya berhenti tepat di bangku Karina dan senyum itu berubah menjadi ekspresi terkejut yang jelas terlihat.
"Alya?" Katanya, hampir tidak percaya. "Lo di sini juga?"
Seluruh kelas menoleh ke arah Karina, yang justru merasa dadanya mencelos karena tidak mengenali sedikit pun sosok di depannya.
Ya wajar saja karna ingatan Alya yang "dipinjamkan" Sistem hanya sepotong sepotong dan jelas tidak mencakup detail tentang siapa pun bernama... apa pun namanya ini.
"Eh... iya." Jawab Karina mencoba terdengar setenang mungkin meski dalam hati ia panik luar biasa.
"Ini Rangga." Celetuk Tika yang tampaknya sudah tau sesuatu. "Katanya sih dulu—"
"Rangga, silakan duduk dulu, nanti istirahat bisa mengobrol lagi dengan Alya." Potong Bu Retno cepat sambil menunjuk bangku kosong di baris ketiga.
Rangga mengangguk, tapi sepanjang pelajaran berikutnya, Karina bisa merasakan tatapannya sesekali mengarah padanya. Tatapan penuh tanya yang membuatnya semakin gelisah.
...----------------...
Saat jam istirahat tiba, Rangga langsung mendekati bangku Karina tanpa bassa basi, mengabaikan Bram yang duduk di sampingnya dengan ekspresi yang mulai mengeras.
"Al, gimana kabar lo?" Tanya Rangga sambl duduk di bangku kosong di depan mereka, menghadap ke belakang.
"Gye pindah sekolah ke sini soalnya bokap dipindahtugaskan. Nggak nyangka banget bisa ketemu lo lagi."
"Baik." Jawab Karina hato hati mencoba mencari petunjuk dari raut wajah Rangga tentang seberapa dekat hubungan mereka sebelumnya. "Kamu... apa kabar juga?"
Rangga tertawa kecil. "Kok kayak formal banget sih nanyanya. Lo masih marah ya sama gue soal yang waktu itu?"
Karina membeku sejenak. "Marah soal apa? Aku nggak tau apa apa soal ini."
"Nggak kok." Jawabnya asal, berharap jawaban itu cukup aman.
"Beneran?" Rangga tampak lega. "Soalnya terakhir kali kita ketemu, lo kayak ngambek banget, terus pas gue telepon udah nggak diangkat lagi. Gue kira lo masih marah garaa gara gue nggak dateng ke ulang tahun lo waktu itu."
Karina hanya bisa mengangguk kikuk, sementara di sampingnya, Bram sudah mengepalkan tangan di bawah meja, rahangnya mengeras menahan sesuatu yang jelas terlihat seperti kecemburuan yang berusaha ia tekan.
"Kalian... pacaran?" Tanya Bram tiba tiba, suaranya datar tapi ada nada tajam yang tersembunyi di baliknya.
Rangga menoleh, seperti baru sadar ada orang lain di sana. "Eh iya, dulu. Sekitar setahun sebelum Alya pindah ke sini. Emang kenapa?"
"Nggak." Jawab Bram singkat, memalingkan wajah ke arah jendela.
Karina merasakan suasana canggung yang tiba tiba menyelimuti mereka bertiga, dan ia tahu ia harus segera mengambil kendali sebelum situasi menjadi lebih rumit.
"Rangga, aku ada urusan sebentar." Ucapnya dan berdiri cepat. "Nanti kita ngobrol lagi ya."
Ia menarik lengan Bram, mengajaknya keluar kelas sebelum Rangga sempat bertanya lebih jauh.
...----------------...
Di taman belakang gedung olahraga, tempat yang sudah menjadi rang aman mereka, Bram duduk dengan wajah tertekuk, menghindari tatapan Karina.
"Bram…" Karina memulai. "aku nggak inget apa apa soal Rangga. Beneran."
"Kok bisa nggak inget." Bram membalas dengan suaranya yang masih dingin. "Kalian pacaran setahun katanya."
Karina menghela napas panjang, menyadari betapa rumitnya situasi ini karena ia tidak bisa memberikan penjelasan yang sepenuhnya jujur.
"Bram, ada banyak hal tentang aku yang... rumit buat dijelasin. Tapi yang jelas, perasaan aku ke Rangga, kalaupun pernah ada, itu bukan aku yang sekarang kamu kenal."
"Terus siapa 'aku yang sekarang' itu?" tanya Bram, menatapnya lekt lekat, matanya penuh kebingungan yang bercampur rasa sakit.
"Al, akhir akhir ini gue ngerasa lo kayak... nggak sepenuhnya jujur sama gue. Ada bagian dari diri lo yang selalu lo sembunyiin."
Kalimat itu menghantam Karina lebih keras dari yang ia duga. Bram meski tidak tau kebenaran sesungguhnya, ternyata cukup peka untuk merasakan ada sesuatu yang janggal dalam dirinya selama ini.
"Kamu bener." Kata Karina akhirnya, memilih kejujuran sejauh yang bisa ia berikan. "Ada bagian dari diri aku yang nggak bisa aku ceritain sekarang. Tapi itu bukan berarti perasaan aku ke kamu nggak nyata Bram. Semua yang aku rasain, semua yang aku lakuin buat kamu selama ini, itu semua nyata."
"Gimana gue bisa percaya itu." Bram bertanya dengan suara bergetar. "Kalo lo bahkan nggak inget mantan pacar lo sendiri, tapi lo inget banget detail detail kecil tentang gue? Itu nggak masuk akal Al."
Karina terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Setiap kemungkinan jawaban yang jujur akan mengarah pada kebenaran yang tidak bisa ia ungkapkan bahwa ia bukan sepenuhnya Alya, bahwa ia adalah Karina, seseorang dari dunia lain yang menumpang di tubuh ini untuk sementara waktu.
"Aku tau ini nggak masuk akal," katanya akhirnya, suaranya pelan. "Tapi aku minta kamu percaya, Bram. Percaya kalau apa yang ada di antara kita ini nyata, apa pun yang nggak bisa aku jelasin tentang diri aku."
Bram menatapnya lama, matanya penuh pergolakan batin yang jelas terlihat ingin percaya, tapi juga takut dikhianati lagi seperti yang selalu terjadi sepanjang hidupnya.
"Gue butuh waktu." Lalu berdiri dan berjalan pergi tanpa menoleh lagi, meninggalkan Karina yang berdiri sendirian di taman itu dengan perasaan campur aduk antara rasa bersalah, sedih dan takut kehilangan kepercayaan yang selama ini susah payah ia bangun.
...----------------...
Sore itu Rangga menghampiri Karina lagi saat ia sedang berjalan menuju gerbang sekolah sendirian.
"Al lo beneran nggak papa?" Tanyanya, tampak khawatir. "Dari tadi lo kayak beda banget."
Karina menghela napas, memutuskan untuk sedikit lebih terbuka meski tetap berhati-hati. "Rangga, boleh aku tanya sesuatu? Kenap kita putus waktu itu?"
Rangga tampak bingung dengan pertanyaan itu. "Lo... beneran nggak inget?"
"Aku cuma pengen denger dari sudut pandang kamu." jawab Karina, mencoba mencari alasan yang masuk akal.
Rangga terdiam sejenak, lalu menjawab pelan. "Waktu itu lo bilang, gue terlalu sering mentingin diri sendiri, nggak pernah bener bener dengerin apa yang lo butuhin.”
“Lo bilang, lo capek trus terusan jadi orang kedua di hidup gue setelah band, setelah temen temen gue dan setelah semuanya."
Karina mendengarkan dengan saksama, dan meski ini bukan ingatannya sendiri, ia bisa merasakan kebenaran di balik kata kata itu bahwa Alya yang asli, sebelum jiwanya digantikan oleh Karina, pernah menjadi seseorang yang menginginkan lebih dari sekadar hubungan yang tidak seimbang.
"Aku ngerti kenapa dulu aku mutusin itu." Ucapnya lebih pada dirinya sendiri. "Dan aku rasa, aku nggak nyesel soal itu."
"Jadi... kita beneran enggak mungkin balikan?" Tanya Rangga, terdengar kecewa.
"Nggak Rangga." Jawab Karina lembut tapi tegas. "Aku udah jadi orang yang beda sekarang. Dan aku rasa itu bagus buat kita berdua."
Rangga terdim lalu mengangguk menerima jawaban itu meski jelas terlihat kecewa. "Oke. Tapi kita masih bisa temenan kan?"
"Tentu." Karina tersenyum kecil.
...----------------...
Malam itu Karina duduk sendirian di kamar kosnya, pikirannya penuh dengan kekhawatiran tentang Bram yang masih membutuhkan waktu, tentang kepercayaan yang mulai retak karena rahasia yang tidak bisa ia ungkapkan sepenuhnya.
Layar tembus pandqng muncul di sudut penglihatannya.
[Pembaruan status.]
[Poin Kehidupan: 2.900 / 100.000.]
[Catatan: kepercayaan subjek terhadap pengguna mengalami sedikit penurunan akibat ketidaktahuan atas identitas pengguna yang sesungguhnya.]
[Ini adalah risiko yang melekat pada setiap misi kedekatan yang dibangun berdasarkan kepercayaan penuh, namun tidak bisa disertai kejujuran penuh.]
[Sistem tidak dapat memberikan saran mengenai bagaimana mengatasi dilema ini, karena keputusan tersebut sepenuhnya berada di tangan pengguna.]
Karina menghela napas panjang membaca catatan itu, merasakan beban yang belum pernah ia rasakan sejak awal perjalanannya di dunia ini.
Bagaimana caranya membangun kepercayaan sejati dengan seseorang, jika ada bagian besar dari dirinya yang harus terus disembunyikan?
“Aku harus cari cara buat ngebuktiin ke Bram kalau apa yang aku rasain ini nyata.” Pikirnya menatap langt langit kamar yang mulai terasa semakin berat. “Nggak peduli seberapa banyak yang enggak bisa aku ceritain.”
buang aja,karina mati lagi aja