NovelToon NovelToon
CINTAKU DI PRAMBANAN

CINTAKU DI PRAMBANAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Kutukan
Popularitas:839
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

NOVEL INI ADALAH FIKSI (Alternate Universe) DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT

Haruma dan Harumi, dua kakak beradik yang kini sudah kuliah semester 5 di salah satu universitas yang cukup ternama di Indonesia, tak lama lagi akan mengikuti sebuah lomba seni drama yang bertempat di Candi Prambanan.

Lomba itu mengangkat tema tentang kisah cinta Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang.

Akan tetapi, momen perlombaan yang diikuti oleh Haruma-Harumi justru akan menjadi sebuah pertunjukan yang MENUMPAHKAN DARAH MANUSIA ATAS NAMA DENDAM.

Seolah, kutukan Bandung Bondowoso kepada Roro Jonggrang, menimbulkan kutukan mengerikan.

Apa yang akan terjadi dengan Harumi saat tampil di atas panggung sakral di depan Candi Prambanan itu?

Dan apa yang akan dilakukan oleh Haruma?
.
.
.
DISCLAIMER‼️

Jika ada unsur sejarah, latar tempat, seni, budaya, nama tokoh, ritual, kepercayaan, dan mitos yang sama dengan kehidupan nyata, itu semua murni hanya untuk dijadikan bagian dalam cerita saja.

SELAMAT MEMBACA... ☺

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11 INVESTIGASI

☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️

Sinar matahari pagi yang menembus kaca jendela kedai kopi di seberang kampus sama sekali tidak mampu menghangatkan tubuh Yuda.

Pemuda itu duduk termenung di sudut ruangan, memandangi cangkir kopi hitamnya yang sudah mendingin sejak satu jam yang lalu.

Kantung matanya mulai sedikit menghitam, pertanda bahwa ia tidak tidur sedetik pun semalaman. Kemejanya sudah berganti dengan kaus polos dan jaket tebal, setelah ia terpaksa pulang ke kosnya pada subuh tadi hanya untuk mandi dan membakar pakaiannya yang berlumuran darah Haruma.

Memori tentang bau anyir darah itu, dan suara gema kutukan sosok bergaun merah di area parkir rumah sakit, terus menghantui setiap tarikan napasnya sekarang.

Meskipun Zaki, ayah angkat kekasihnya itu, telah memberikan ultimatum yang begitu keras dan menyakitkan dengan mengusirnya dari kehidupan keluarga mereka, Yuda menolak untuk menyerah.

Cintanya kepada Harumi jauh lebih besar daripada rasa sakit akibat penolakan tersebut. Ia tahu, Harumi sedang sendirian, ketakutan, dan membutuhkan pertolongan lebih dari siapa pun di dunia ini. Dan Yuda telah berjanji pada dirinya sendiri, ia akan menjadi tameng bagi Harumi, meskipun itu berarti ia harus melawan hukum dunia dan entitas kegelapan sekaligus.

Langkah pertama yang Yuda ambil pagi itu adalah mencari bantuan hukum.

Dengan sisa tabungan hasil kerja sambilannya sebagai desainer grafis lepas, dan tambahan pinjaman darurat dari beberapa teman dekatnya di kampus, Yuda berhasil menghubungi seorang pengacara bernama Bramantyo—atau yang biasa disapa Bang Bram.

Bram adalah seorang pengacara muda yang cukup idealis dan memiliki rekam jejak yang baik dalam menangani kasus-kasus pidana yang melibatkan mahasiswa.

Pertemuan mereka satu jam yang lalu di firma hukum kecil milik Bram masih terngiang jelas di telinga Yuda.

Saat itu, Yuda menceritakan kronologi kejadian dari sudut pandang hukum dan logis, sengaja menahan bagian tentang kerasukan dan sosok bergaun merah agar ia tidak dianggap gila.

Ia menceritakan tentang pisau yang tiba-tiba saja ada di tangan Harumi dengan menganalisis segala kemungkinan yang membuat pisau itu ada di tangan kekasihnya itu, tidak adanya motif permusuhan antara kakak beradik itu, dan kejanggalan tentang hanya adanya satu sidik jari tunggal di benda yang seharusnya sudah disentuh banyak orang jika itu adalah properti curian.

"Kasus ini sangat berat, Yud," kata Bram saat itu sambil membolak-balik catatannya, wajahnya menampakkan keseriusan yang mendalam.

"Polisi memegang bukti fisik utama, yaitu senjata tajam dengan sidik jari kekasihmu. Di mata hukum pidana, pasal 351 ayat 2 tentang penganiayaan berat atau bahkan pasal 340 tentang percobaan pembunuhan berencana bisa disangkakan kepadanya. Logika hukum tidak akan mencari tahu 'bagaimana pisau itu bisa muncul dari udara kosong'. Mereka hanya melihat siapa yang memegangnya dan siapa yang tertusuk." jelas Bang Bram.

Namun, Bram tidak menolak kasus tersebut. Ia justru merasa ada lubang besar dalam narasi kepolisian.

"Tidak adanya motif niat jahat adalah celah kita. Saudari Harumi dan korban memiliki hubungan yang sangat baik. Saksi mata di panggung juga menyebutkan bahwa Harumi tampak sangat linglung dan tidak sadar setelah kejadian. Saya akan mengurus administrasinya ke kepolisian hari ini juga. Kita akan mencoba mengajukan penangguhan penahanan dengan alasan kondisi psikologis tersangka yang terguncang berat, serta jaminan dari pihak keluarga. Tapi ingat, Yuda, saya hanya bisa melawan manusianya. Kalau kamu merasa ada 'hal lain' di balik kasus ini, kamulah yang harus mencari buktinya."

Kalimat terakhir Bram itulah yang membawa Yuda duduk di kedai kopi ini, menunggu kedatangan Dion.

.....

.....

Lonceng pintu kedai berbunyi nyaring. Dion melangkah masuk dengan wajah yang sama kusutnya dengan Yuda. Ia mengenakan topi baseball yang ditarik rendah, berusaha menyembunyikan wajah lelahnya.

Begitu melihat Yuda, Dion segera menghampiri dan duduk di depannya, menghembuskan napas panjang yang sarat akan beban berat.

"Gimana Haruma?" tanya Yuda langsung, suaranya parau.

"Masih koma, Yud. Tadi malam sempat henti jantung lagi. Sempat kritis banget, tapi syukurlah dokter berhasil mengembalikan detak jantungnya. Pak Zaki dan Bu Nisa benar-benar terpukul. Gue nggak berani lama-lama di sana, hawa di ruang tunggu ICU bener-bener suram," jawab Dion sambil mengusap wajahnya kasar.

"Lalu gimana dengan pengacara buat Harumi?" tanya Dion, dengan tatapan kedua matanya yang cukup lelah karena dirinya juga tak tidur semalaman seperti Yuda.

"Bang Bram udah bergerak ke kantor polisi sekarang. Dia bakal coba ajukan penangguhan penahanan. Tapi kita nggak bisa cuma diam dan nunggu, Yon. Kita harus cari tahu asal usul pisau kuno itu, dan sejarah kelam teater kita tahun 1992 yang lo ceritain semalam. Kalau polisi nggak mau nyari bukti lain, kita yang harus nyari," tegas Yuda.

Dion mengangguk setuju. "Gue udah hubungin Fahri, penanggung jawab gudang properti teater kita. Dia lagi nunggu kita di kampus sekarang. Ayo kita ke sana."

Kedua pemuda itu segera beranjak dari kedai kopi dan berjalan cepat melintasi jalanan menuju area kampus.

Matahari semakin tinggi, namun hawa dingin seolah terus menempel di tengkuk Yuda dan Dion.

Sesampainya di gedung pusat kegiatan mahasiswa, mereka langsung menuju ke ruang bawah tanah tempat gudang teater Arya Sena berada.

Fahri, seorang mahasiswa yang baru semester empat dengan tubuh kurus, sudah berdiri di depan pintu gudang dengan wajah pucat dan ketakutan. Ia memegang sekotak properti yang masih tersegel dengan lakban.

"Bang Dion, Bang Yuda... sumpah, Bang, gue nggak tahu apa-apa soal pisau asli itu," cerocos Fahri begitu melihat mereka datang. Suaranya bergetar.

"Waktu malam di mana sebelum kargo properti dinaikin ke mobil pick-up buat dibawa ke Prambanan, gue sendiri yang ngecek kotak itu. Isinya cuma ada kostum para pemeran, aksesoris rias, sama barang-barang make up aja. Nggak ada barang logam kuno apa pun di sana!"

Yuda menatap tajam ke arah rak-rak besi di dalam gudang yang dipenuhi debu. "Lo yakin nggak ada orang luar yang masuk ke gudang ini selama beberapa hari terakhir? Nggak ada kunci yang diduplikat?"

"Gudang ini kuncinya cuma ada dua, Bang. Satu di gue, satu di Bang Dion. Dan lo bisa lihat sendiri gemboknya nggak ada bekas congkelan sama sekali," Fahri menunjuk ke arah gembok kuningan besar di pintu.

"Lagian, buat apa ada orang yang sengaja nyelundupin pisau pusaka karatan ke kotak properti kita? Itu nggak masuk akal!" tambah Fahri.

Dion menghela napas panjang, menepuk bahu Fahri. "Gue percaya sama lo, Ri. Ini bukan salah lo. Makasih udah mau nemuin kita. Lo boleh balik istirahat."

Setelah Fahri pergi, Yuda dan Dion saling berpandangan. Hasil investigasi pertama mereka menemui jalan buntu (nihil).

Tidak ada jejak pembobolan, tidak ada tersangka manusia yang masuk akal yang bisa menukar properti tersebut. Pisau kuno itu benar-benar seperti bermanifestasi dengan sendirinya, seolah diantarkan langsung oleh tangan-tangan gaib dari dimensi lain ke tangan Harumi. Ini semakin menguatkan fakta bahwa mereka sedang berhadapan dengan sesuatu yang jauh di luar nalar.

"Satu jalan buntu. Berarti pisau itu emang murni urusan gaib," gumam Yuda, mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih.

"Sekarang kita coba jalur kedua, Yon. Arsip tahun 1992." tambah Yuda.

Dion mengangguk mantap. "Kita ke perpustakaan pusat sekarang. Arsip koran dan buletin kampus tahun 90-an harusnya masih disimpen di rak referensi lantai tiga."

Perpustakaan pusat kampus adalah bangunan tua bekas peninggalan zaman kolonial yang besar dan megah. Lantai tiga dikhususkan untuk menyimpan arsip-arsip tua, skripsi berdebu, dan bundel koran lokal dari puluhan tahun yang lalu. Tidak banyak mahasiswa yang naik ke lantai ini, membuat suasananya sangat sunyi, lembap, dan berbau khas kertas tua yang mulai melapuk.

Hanya diterangi oleh beberapa lampu neon yang cahayanya mulai meredup, Yuda dan Dion menyusuri lorong-lorong rak besi yang menjulang tinggi hingga ke langit-langit. Mereka membagi tugas.

Dion mencari di bagian buletin kampus, sementara Yuda membongkar tumpukan bundel koran lokal cetakan tahun 1992.

Debu-debu berterbangan setiap kali Yuda membalik halaman koran yang sudah menguning dan rapuh. Ia meneliti setiap berita utama, kolom kriminal, hingga berita-berita kecil di halaman belakang pada bulan-bulan di mana kegiatan seni kampus biasanya diadakan.

Yuda mencari kata kunci 'Teater Arya Sena', 'Prambanan', 'Pembunuhan', atau 'Kerasukan'.

Satu jam berlalu dalam keheningan yang menyesakkan. Keringat dingin mulai menetes di pelipis Yuda. Ia sudah memeriksa bundel dari bulan Januari hingga Juni 1992, namun hasilnya nihil.

Tidak ada satu pun berita yang menyinggung tentang tragedi berdarah di Candi Prambanan.

"Dapat sesuatu, Yon?" seru Yuda dari balik rak.

Dion muncul dengan wajah frustrasi, menepuk-nepuk tangannya yang berdebu. "Kosong, Yud. Buletin kampus tahun 1992 dari bulan Agustus sampai Desember... hilang. Bundelnya dipotong, seolah-olah ada yang sengaja merobek dan menyingkirkan arsip di bulan-bulan itu. Arsipnya lompat dari bulan Juli langsung ke Januari 1993."

Yuda mengerutkan kening, merasa ada yang sangat tidak beres. Ia segera kembali memeriksa bundel koran lokal miliknya untuk bulan Agustus hingga Desember.

Dan benar saja...

Halaman-halaman koran lokal yang terbit di pertengahan bulan Oktober—bulan yang biasanya digunakan untuk pementasan besar kampus—juga lenyap. Bukan sobek secara tidak sengaja, melainkan dipotong rapi menggunakan cutter.

Sejarah kelam itu sengaja dihapus. Entah oleh pihak rektorat masa lalu untuk menutupi skandal, atau oleh entitas tak kasatmata yang tidak ingin rahasianya terungkap.

Tiba-tiba, saat Yuda sedang menunduk menatap sisa potongan kertas di bundel tersebut, hawa dingin yang sangat familiar menyapu tengkuknya.

Suhu di antara lorong rak buku itu merosot drastis.

Aroma kertas tua yang berdebu seketika tergantikan oleh bau kemenyan yang sangat pekat, bercampur dengan bau anyir darah.

Sring... Sring... Sring...

Suara gemerincing gelang kaki perunggu terdengar menggema samar dari lorong rak di belakang Yuda.

Suara itu berirama lambat, menyeret, dan terdengar sangat dekat.

Napas Yuda tercekat. Ia membeku di tempatnya berdiri. Jantungnya berpacu liar.

Ia perlahan memutar tubuhnya, menatap ke ujung lorong yang gelap.

Di sana, di antara celah tumpukan buku-buku tebal, ia melihat sekelebat kain merah darah yang melayang menembus rak besi, diiringi oleh suara tawa wanita yang sangat pelan, lirih, dan mengiris sanubari.

"Yon..." bisik Yuda, suaranya bergetar. "Dia ada di sini."

Dion yang berada di lorong sebelah segera berlari menghampiri Yuda. "Siapa? Lo lihat apa?!"

Yuda menunjuk ke arah lorong yang kosong. Aura dingin itu sudah menghilang secepat ia datang, membawa pergi bau kemenyan bersamanya.

"Perempuan itu. Dia tahu kita lagi nyari kelemahannya, Yon. Dia sengaja datang ke sini untuk ngingetin kalau kita nggak akan nemuin apa-apa." jawab Yuda.

Dion menelan ludah, matanya membelalak ketakutan. Hasil investigasi hari ini benar-benar nihil, bahkan diakhiri dengan teror.

Asal-usul pisau tak terlacak, dan sejarah kelam tahun 1992 sengaja dibungkam.

Mereka menemui jalan buntu yang sangat tebal, sementara waktu terus berjalan dan kutukan itu semakin kuat mencengkeram jiwa orang-orang yang mereka sayangi.

Yuda meninju rak besi di depannya dengan keras, mengabaikan rasa sakit di tangannya. "Sialan! Kita nggak boleh kalah, Yon! Kalau catatan tertulis nggak ada, kita harus cari saksi hidup. Pasti masih ada alumni angkatan 92 atau pegawai tua kampus yang tahu tentang kejadian itu. Kita akan cari mereka sampai dapat!"

Di tengah keputusasaan dan jalan buntu yang membentang di hadapan mereka, Yuda menolak untuk menyerah.

Ia tahu, perburuan ini baru saja dimulai, dan nyawa Harumi serta Haruma adalah taruhannya.

1
My.mitsubishi.triton Adventure X
Kenapa nama tokoh pemerannya sama dengan tirakat tp cerita nya berbeza bahkan tidak ada perewangan milik nisa dn haruma
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Karena novel "CINTAKU DI PRAMBANAN" ini adalah versi Alternate Universe (AU) dari Universe novel "TIRAKAT", Kak...

Jadi cerita utamanya berbeda, namun sebagian besar tokohnya sama.

Semoga Kakak juga suka ya... Dan, terima kasih banyak Kak, sudah komentar... 😍😍😍
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
di babb 20 keatas baru menangkap alur nya wkwkwk
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Iyakah??? Hehehe... 🤭🤭🤭
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Bagus, rekomendasi juga buat yang suka bacaan horror.
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: TERIMA KASIH, KAK ASMARA... 😍😍😍
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
iyalah nisa sebagai ibu nggak bakalan diam sama iblis itu, jadi percaya saja harumi biar sulit pasti bisa dilawan
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Hehehe...

"SAYA AKAN LAWAN!!!"
#KataSalahSatuLelakiDariSolo
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
yang ini serem ya apalagi baca nya malem
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ: iyaa serem
total 2 replies
Ilham
lanjut kak
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Berat berat baca cerita haruma harumi sii baling wangi. bener ini mah ujian nya lbh berat dari Nisa. dikejar kejar entintas kna baling wangi gimana nggak harus kerja keras bwt melawan nya.

kira kira ntar ada plot Twitter nya nggak ya, kek pov lain bwt bantu mereka. selain yuda
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ: typo itu plot twist mksdnya ya
total 2 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Apa zaky masih bisa merasakan sesuatu yg ghoib setelah putus hubungan sama sekar mayang? 🤔 kek nya nggak. sekarang keknya Zaky lebih mengedepankan logika nya
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ: awas aja klo anak anak nya dalam bahaya Zaky nggak bisa apa apa
total 4 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Masij menyimak kak.... blom bisa meraba wkwkwk penasaran juga sama yg sblom nya yg kejadian di gunung lawu itu, apakah ntar ada alur mundur nya?
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Terima kasih, Kak Asmara... 😍😍😍
total 3 replies
Ilham
aku pengen Arumi sama Arum selamat mereka berdua kak
Ilham
lanjut bg...jadi kemana Perawang Arumi sama Arum kakak..masa ngk menolong mereka kak
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Terima kasih banyak, Kak Ilham... 🥰🥰🥰

Perewangan Haruma dan Harumi akan muncul, Kak...

Oh iya, karena novel ini adalah AU (Alternate Universe) dari seri TIRAKAT, jadi nggak terlalu banyak kemunculan para perewangannya... 💪💪💪😍😍😍😍🥰
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Waduh ini lbh serem, perawangan harumi jenis yang berbeda kah
Author Melda
salam support kak👍
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Okeee... 😍😍😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!