NovelToon NovelToon
Memburu Langit Abadi

Memburu Langit Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: RENDY Marcelius

Dia adalah monster yang dibuang dunia. Tapi matanya menyimpan rahasia yang membuat Langit gemetar.

Liu Xuanyuan — yatim piatu, dijuluki "Monster Bermata Ganda", hidup diabaikan di gerbang Sekte Awan Langit. Tidak ada yang tahu bahwa Pupil Ganda di matanya bukan kutukan, melainkan jendela ke segala kemungkinan yang takdir sembunyikan. Hingga sebuah cincin kuno jatuh ke tangannya, dan kebenaran tentang orang tuanya, tentang langit, dan tentang dirinya mulai terungkap satu per satu.

Dia tidak lahir untuk dipimpin. Dia lahir untuk memburu takdir yang ditulis orang lain.

Perjalanan dari penjaga gerbang yang tidak diinginkan... hingga menjadi satu-satunya yang berani menatap Langit Abadi dan berkata: "Aku tidak menerima takdirmu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RENDY Marcelius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JALAN YANG TIDAK ADA DI PETA

Jalan turun dari Domain Abadi tidak teraspal dengan batu giok. Itu adalah jalan tanah yang berdebu, penuh lubang, dan ditumbuhi rumput liar jalan yang biasa dilalui pedagang keledai, pengembara, dan orang-orang yang tidak punya tempat untuk pulang. Xuanyuan menarik napas dalam-dalam, menghirup bau tanah basah dan debu yang terbang tertiup angin. Bau ini akrab. Ini bau rumah.

Lian Yue berjalan di sampingnya, kedua tangannya terselip di lengan baju sederhana yang baru saja mereka beli di pasar desa terakhir. Pakaian mereka tidak lagi berkilau emas. Mereka terlihat seperti pasangan muda biasa yang sedang bepergian.

"Kau yakin tidak ingin terbang?" tanyanya pelan, matanya menyapu langit luas di atas mereka. "Kau bisa melangkah ribuan li dalam sekejap."

Xuanyuan tersenyum pelan, menendang kerikil kecil di depannya.

"Aku terburu-buru sepanjang hidupku. Terburu-buru menjadi kuat, terburu-buru membalas dendam, terburu-buru menemukan jawaban. Sekarang... aku ingin berjalan. Dunia ini terlalu besar untuk dilewati begitu saja. Kalau kita terbang, kita hanya melihat peta. Kalau kita berjalan... kita melihat kehidupan."

Mereka berjalan berjam-jam tanpa banyak bicara. Di sisi lain jalan, petani membajak sawah, anak-anak berlari mengejar kupu-kupu, dan seorang kakek duduk di depan pintu rumahnya, mengupas buah sambil menatap langit. Tidak ada yang tahu siapa yang lewat. Tidak ada yang tahu bahwa di hadapan mereka berjalan orang yang baru saja menyelamatkan dunia. Dan itulah yang membuat Xuanyuan merasa damai.

Menjelang sore, mereka tiba di sebuah penginapan kecil di persimpangan jalan. Bangunannya terbuat dari kayu tua yang berderit, beraroma kayu bakar dan sup pedas yang mengepul dari dapur. Di ruang utama, hanya ada tiga tamu seorang pedagang rempah yang tertidur di meja, dua pendekar yang berbicara pelan sambil memeriksa pedang mereka, dan seorang lelaki tua yang duduk sendirian di sudut ruangan, meminum teh dingin dengan mata tertutup.

Xuanyuan dan Lian Yue duduk di meja dekat jendela. Pelayan yang masih remaja berlari mendekat, wajahnya ceria.

"Mau makan apa, Tuan dan Nona? Hari ini sup kacang dan daging asap. Murah dan mengenyangkan."

"Dua mangkuk sup, dua porsi nasi, dan tolong jangan terlalu pedas," kata Xuanyuan sambil tersenyum. Anak itu tersipu dan berlari kembali ke dapur.

Lelaki tua di sudut ruangan membuka matanya. Matanya keruh, namun ada kilatan tajam yang seolah melihat menembus kulit dan tulang. Ia menatap Xuanyuan lama sekali, lalu berbicara tanpa bergerak dari kursinya.

"Kau membawa cahaya yang terlalu terang untuk jalan yang gelap, anak muda. Cahaya itu bagus untuk menyalakan jalan. Tapi ia juga membuat bayangan terlihat lebih jelas."

Xuanyuan menoleh pelan. Ia tidak merasakan niat membunuh. Tidak ada tekanan Qi. Hanya suara yang berat dan lelah.

"Dan kau membawa bayangan yang terlalu gelap untuk tempat yang sederhana, Kakek. Bayangan itu menyembunyikan apa yang kau cari."

Lelaki tua itu tersenyum, memperlihatkan giginya yang sedikit tinggal sedikit. Ia berdiri, berjalan mendekat dengan langkah yang sedikit bungkuk namun mantap.

"Aku tidak mencari apa-apa. Aku hanya menunggu. Dan aku sudah menunggu sangat lama. Nama aku Mo Huai. Aku adalah penjaga Gerbang Ketiga. Dan aku dikirim untuk menunggumu."

Lian Yue menegang. Tangannya menyentuh pinggangnya, tempat sebilah pisau kecil tersembunyi di balik jubahnya.

"Siapa yang mengirimmu?" tanyanya tajam.

Mo Huai menggeleng pelan, lalu duduk di kursi kosong di meja mereka.

"Bukan musuh. Bukan kawan. Sesuatu yang lebih tua dari Tian Jue. Sesuatu yang melihat sebelum langit terbentuk. Ia berkata: ketika anak yang membawa dua mata terbang turun dari menara emas dan berjalan di jalan tanah... berikan ini padanya."

Ia mengulurkan tangan. Di telapak tangannya tergeletak sebuah benda kecil sebuah batu hitam polos, berbentuk seperti tetesan air mata. Saat jatuh ke tangan Xuanyuan, batu itu terasa hangat, dan di dalamnya terdengar detak jantung yang lambat, dalam, dan kuno.

"Ini bukan hadiah," lanjut Mo Huai pelan, suaranya perlahan memudar seperti lilin yang habis. "Ini peringatan. Tian Jue hanyalah bayangan. Bayangan tidak bisa membunuh. Bayangan hanya menunjuk ke arah cahaya yang menciptakannya. Dan cahaya yang menciptakan bayangan itu... belum pernah kau lihat. Bahkan orang tuamu hanya melihat ujung jubahnya."

Tubuh Mo Huai perlahan menjadi transparan. Ia tidak mati. Ia hanya menyelesaikan tugasnya.

"Mereka menyebutnya Sang Pengawas. Yang menenun takdir sebelum benih kehidupan ditabur. Dan dia tidak senang kau mengubah skenarionya."

Wujudnya lenyap sepenuhnya, seakan tidak pernah ada. Hanya batu tetesan air mata yang masih hangat di telapak tangan Xuanyuan, dan satu kalimat terakhir yang bergema di udara, lembut namun tak terbantahkan:

"Kau menyelamatkan dunia dari neraka, anakku. Tapi sekarang kau berdiri di hadapan surga yang tidak mengenal belas kasihan."

Keheningan menyelimuti ruangan. Pedagang rempah masih mendengkur. Dua pendekar masih berbicara soal harga besi. Tidak ada yang melihat apa yang baru saja terjadi. Hanya mereka bertiga Xuanyuan, Lian Yue, dan batu yang berdetak seperti jantung yang tahu bahwa pertempuran yang sebenarnya baru saja dimulai.

Xuanyuan menutup tangannya, memeluk batu itu erat-erat di telapak tangan.

"Jadi Tian Jue bukan yang tertinggi," katanya pelan, lebih kepada dirinya sendiri. "Dia hanya... pekerja."

Lian Yue meletakkan tangannya di atas tangan Xuanyuan.

"Siapa pun yang ada di atas sana... dia tidak tahu satu hal."

Xuanyuan menoleh, menatap matanya.

"Apa itu?"

"Dia tidak tahu bahwa dia tidak lagi menunggumu sendirian. Dia menunggu kita."

Di luar jendela, matahari terbenam sepenuhnya. Langit berubah menjadi ungu tua, dan di kejauhan, bintang pertama muncul terang, jauh, dan menatap lurus ke arah mereka. Seperti mata yang sedang mengawasi.

Xuanyuan meletakkan batu itu di saku dadanya, tepat di atas tempat Benih Primordial berdenyut.

"Makan dulu," katanya pelan, namun matanya sudah berubah lebih dalam, lebih tenang, dan lebih siap. "Perjalanan kita masih panjang. Dan kita tidak akan pergi dengan perut kosong."

Pelayan datang membawa dua mangkuk sup yang mengepul. Mereka makan dalam diam, menikmati rasa panas yang menyebar di perut, sementara di luar, malam perlahan turun dan sesuatu yang jauh lebih besar dari apa pun yang pernah mereka hadapi, mulai bergerak di tempat yang tidak terlihat siapa pun.

1
Eka P
h
Predi Siswanto
kapan kuat nya kalau kayak gini ini bukan pemburu langit tapi pemburu sampah bos
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!