Mia menikah muda di usia dua puluh satu tahun dengan Edo, pria yang tiga tahun lebih muda darinya. Awalnya, perbedaan usia bukanlah masalah. Satu tahun pertama pernikahan mereka dipenuhi cinta, tawa, dan mimpi sederhana sebagai pasangan muda.
Namun, setelah tiga tahun, semuanya berubah.
Edo yang pemalas mulai menggantungkan seluruh kebutuhan hidup kepada Mia. Sementara Edo menghabiskan uangnya untuk bersenang-senang.
Yang lebih menyakitkan, Edo merasa dirinya lebih berharga hanya karena lebih muda. Ia tak segan menghina Mia, menyebutnya tua, membandingkannya dengan perempuan lain, bahkan berkali-kali melakukan kekerasan. Keluarga Edo juga selalu membela Edo, menyebut Mia beruntung bersuamikan lelaki yang jauh lebih muda.
Mia terpuruk.
Hingga akhirnya ia sadar dan tak lagi menjadi wanita lemah.
"Aku pernah mencintaimu sampai lupa mencintai diriku sendiri. Tapi sekarang, aku memilih mencintai diriku sendiri!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
"Ah, gawat! Edo pulang!" Mia gegas bangkit. Ia mengambil tas kerja yang berisi dompet, lalu menyelipkannya di belakang lemari plastik empat pintu dekat kasur. Setelah itu, ia kembali merebahkan tubuh dan pura-pura memejamkan mata.
Tak lama kemudian, pintu depan berderit. Disusul suara langkah kaki dan tirai kamar yang disibakkan. "Mia?" Edo masuk ke dalam kamar.
Mia pura-pura mengucek mata dan menyipitkan pandangan. "Syukurlah Do... akhirnya kamu pulang juga setelah hampir empat hari nggak pulang-pulang." Ia bangkit dari posisi rebahan. Duduk tegak.
Edo tidak menjawab. Ia melepas jaket, meletakkannya sembarangan, kemudian duduk di sebelah Mia. Sesaat setelah itu, lengannya melingkar memeluk tubuh sang istri. "Mia..." panggilnya dengan nada manja. Mia menegang dalam pelukan itu. Hidungnya sengaja dienduskan ke leher Mia. "Kamu udah gajian, kan?"
Mia sudah menduga pertanyaan itu akan keluar. Ia menghela napas pelan. "Sudah, Do."
"Alhamdulillah!" sorak Edo bahagia. "kalau gitu..." Wajah Edo terbelah oleh tawa. "Aku minta uang dong," pintanya tanpa rasa malu sedikitpun.
Mia menarik napas panjang. Ia tahu percakapan ini tidak akan mudah. Tapi ia sudah siap dengan segala kemungkinan. "Uangnya sudah aku bagi-bagi, Do. Sudah aku gunakan untuk bayar kontrakan, listrik, sama kebutuhan selama sebulan. Aku juga sudah bayar cicilan motor kamu. Sisanya aku simpan buat bekal sampai gajian berikutnya."
Edo melepaskan pelukannya. Ia kemudian meraih kedua tangan Mia. "Ya bagus kalau udah dibagi-bagi. Tapi aku lagi butuh uang, Mia. Bagi aku satu juta ya?"
"Satu juta?!" Mia spontan memekik kecil. "Buat apa uang sebanyak itu, Do?"
Edo memasang wajah memelas. "Buat kursus mengemudi," jawabnya meyakinkan.
"Kursus mengemudi?" Kening Mia berkerut.
"Iya, Mia." Edo mengangguk mantap. "Aku bosan kerja jadi penjahit terus. Aku ingin cari pengalaman baru. Siapa tahu nanti bisa jadi sopir. Kata temanku, gaji jadi sopir tuh jauh lebih besar daripada jadi tukang jahit. Makanya aku mau ikut kursus mengemudi. Ini juga demi masa depan kita, Sayang." Ia membujuk lembut, "Demi impian kita punya rumah dan tabungan yang banyak. "Boleh 'kan aku kursus mengemudi?" kukuhnya melobi.
Mia menatap suaminya beberapa detik. Panggilan sayang, sikap manis serta ucapan lembut itu hanya hadir saat Edo ada maunya. Mia sudah sangat hafal dan kali ini, ia tak akan luluh. "Ya, silakan kalau memang kamu mau kursus mengemudi. Tapi aku nggak bisa kasih uang sebanyak itu."
"Kenapa?" Suara Edo masih lembut. Tapi sorot matanya jelas menyimpan kekesalan.
"Karena uangku tinggal buat bekal selama sebulan, Edo. Dan itu harus cukup. Buat ongkos dan jaga-jaga kalau ada kebutuhan mendadak," jelas Mia lantang.
"Bohong!" Edo langsung melepaskan genggaman tangannya. Raut wajahnya berubah kelam. "Bulan ini kamu sering lembur, kan? Masa gaji kamu cuma tersisa sedikit? Aku nggak percaya!" Suaranya meninggi, sampai membuat Mia meringis.
"Aku nggak bohong. Uangku hanya tinggal sejuta, dan itu untuk bekal!" Mia mengulangi penjelasannya untuk ke sekian kalinya.
"Aku nggak percaya!" Edo menggeleng cepat. Tetap kukuh tak percaya pada ucapan istrinya. "Mana dompet kamu? Aku mau lihat dan ambil sendiri!" pintanya menggelegar. Pandangannya mengedar ke seluruh penjuru kamar, mencari tas kerja Mia. Namun, tas itu tidak terlihat.
"Nggak ada, Do." Mia mulai merasa takut, tetapi kali ini ia berusaha mempertahankan sikapnya. "Uangku memang tinggal buat bekal. Kamu pakai uang gajimu saja. Kenapa harus selalu minta ke aku?" Untuk pertama kalinya, ia berani mengatakan kalimat seperti itu.
Mata Edo seketika berkilat tajam. "Kamu bilang apa tadi?" Napas Edo memburu. Lubang hidungnya kembang kempis.
Mia bangkit sambil berkata, "Pakai saja gajimu untuk bayar kursus mengemudinya! Jangan selalu minta uang ke aku!" Walau takut, Mia tetap berusaha kuat.
"Ohhh...!" Edo meninju kasur. "Jadi kamu sekarang sudah berani melawanku, ya?" Suara Edo mengaum geram, bak singa yang siap menerkam mangsa.
"Aku nggak melawan. Aku cuma mengusulkan," kelit Mia dengan suara sedikit bergetar.
"Kurang ajar kamu, Mia!" Edo berdiri. Dalam hitungan detik, tangannya melayang dan mendarat di pipi kanan Mia. Wanita berambut panjang lurus itu terhuyung. Tangannya refleks memegang pipinya yang terasa panas. Belum sempat ia berbuat apa-apa, Edo kembali menarik rambutnya. "Di mana uangnya?!" bentaknya. "Di mana kamu sembunyikan dompetmu, sialan?!"
"Nggak ada! Uangnya sudah aku simpan di tempat yang aman!" balas Mia meninggi. Tangannya berusaha melepaskan cengkeraman tangan Edo di rambutnya.
"Anjing!" Edo melepaskan jambakannya, lalu mulai mengobrak-abrik isi kamar. Pakaian-pakaian Mia yang tersusun rapi dilempar begitu saja. Laci dibuka paksa. Barang-barang di atas meja kecil di samping kasur disingkirkan satu per satu.
"Do, hentikan!" Mia mencoba mencegah. "Jangan acak-acak barang-barangku!" teriaknya kencang.
Namun Edo tidak menggubris. Ia terus mencari, tetapi dompet Mia tidak juga ditemukan. "Di mana kamu sembunyikan uangnya, hah?! Di mana, Mia?!"
"Nggak ada!" Mia membalas dengan teriakan juga.
Edo semakin emosi. Ia membanting salah satu barang yang ada di dekatnya, lalu berbalik menghadap Mia. Matanya berkilat tajam, penuh amarah membara.
Sang istri berdiri tak jauh dari tirai kamar. Tanpa banyak bicara, Edo menghampiri Mia dan mengangkat kakinya, menendang tubuh Mia dengan sekuat tenaga. "Mampus kau wanita pelit! Anjing! Goblok! Sialan!" makinya membabi buta.
Tubuh Mia terlempar hingga terjerembap ke ruang depan. Ia menjerit kesakitan. "Aaakh! Tolooong!" Teriakan itu terdengar jelas hingga ke luar kontrakan.
Beberapa tetangga yang sedang berada di sekitar halaman langsung menoleh. Salah satunya adalah Tarmi dan suaminya, Tarjo.
"Mas, itu suara Mia?!" pekik Tarmi.
"Iya, Dek." Tarjo mengangguk. Keduanya saling berpandangan sebelum bergegas mendekati pintu kontrakan Mia.
"Itu Teh Mia kenapa?!" Jamal ikut mendekat ke pintu kontrakan Mia.
"Nggak tahu, A Jamal." Tarmi menggeleng. "Tapi kayaknya Mia dan Edo sedang bertengkar," lanjutnya.
"Waduh!" Jamal membelalakan mata. "Coba digedor pintunya, Mbak Tarmi!"
Tarmi mengangguk. "Mia!" Ia menggedor pintu dengan panik. "Mia! Kamu kenapa?!" teriaknya memecah heningnya suasana menjelang isya itu.
Tarjo ikut mengetuk lebih keras. "Mia! Buka pintunya!"
Di dalam, Mia masih tergeletak sambil menahan sakit. Napasnya tersengal. Sementara Edo berdiri tak jauh darinya dengan dada naik turun karena emosi. "Anjing! Di luar banyak orang lagi. Setan!" geram Edo melirik ke arah pintu keluar. "Sialan! Pasti semua orang bakal menyalahkan gue!" Edo buru-buru berjongkok, mencengkeram rahang Mia. "Awas kalau lo berani bilang ke orang-orang tentang apa yang terjadi barusan! Gue nggak akan segan-segan buat mengakhiri pernikahan kita!" ancamnya dan berhasil membuat Mia membelalakan mata. Mulutnya yang tadi merintih, kini sontak menganga.
Gedoran dari luar kembali terdengar. "Mia! Buka pintunya!" Tarmi berteriak lagi. "Kamu baik-baik saja, kan?!"
"Awas kalau lo sampai buka mulut!" tekan Edo mengulangi ancamannya untuk kedua kali.
digsntung pula
😁😁🤭
si setan edo kenapa g di bikin nyungsep aja sih thor ..laju laju membawa kendraan trus nyungsep luka luka hilang lah ketampanan yg di banggakanya👍👍💪