NovelToon NovelToon
TOLONG SELESAIKAN URUSANKU

TOLONG SELESAIKAN URUSANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Misteri / Mata Batin
Popularitas:265
Nilai: 5
Nama Author: diana mainur

Rhea adalah seorang pengacara muda idealis yang harus menelan pahitnya kehidupan setelah di-PHK secara sepihak dari firma hukum ternama. Musibah Rhea tak berhenti di situ, sore setelah pemecatannya, dia mengalami kecelakaan lalu lintas parah yang membuatnya koma selama hampir sebulan. Tak ingin menyerah pada nasib, Rhea bangkit dari keterpurukannya. Menggunakan sisa uang pesangon yang pas-pasan, dia nekat mendirikan biro bantuan hukum mandiri di sebuah ruko kecil daerah Tebet bersama Zora, sahabat karibnya yang selalu setia mendampingi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diana mainur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11. Kebenaran yang Terkubur

Di dalam alam bawah sadar  yang kelam dan mencekam, Rhea merasa jiwanya terpasung. 

Dia berdiri hanya beberapa senti dari tubuh almarhum Pak Bambang yang terkulai lemas di lantai ruang kerjanya. Bau amis darah yang kental mendadak memenuhi indra penciuman Rhea, begitu nyata dan meremangkan bulu kuduk. 

Di depannya, Rudi terus menghentakan tubuh pria tua itu secara brutal ke sudut meja, sementara Fadel dan Rika menyaksikan dari balik kepulan asap rokok dengan senyum miring tanpa rasa iba. 

"Stop. Berhenti," teriak Rhea sekuat tenaga. 

Rhea memajukan langkahnya, mencoba menggapai lengan Rudi untuk menghentikan penganiayaan biadab itu. Namun, jemari Rhea hanya menembus angin hampa. 

Tubuhnya transparan tak berdaya. Dia menjerit, mencoba menepis tangan Fadel. 

"Tolong... jangan disiksa lagi! Tolong," tangis Rhea pecah. 

Dadanya sesak luar biasa, rasa tidak berdaya menjadi saksi bisu atas sebuah pembunuhan berencana membuat matanya memerah dan jiwanya tercabik-cabik. Pak Bambang memuntahkan darah segar dari mulutnya tepat ke arah kaki Rhea, sebelum akhirnya mata itu melirik pasrah dan meredup selamanya. 

Namun, kejahatan di dalam ruangan itu belum berakhir. Rika melangkah maju, melangkahi jemari Pak Bambang yang sudah dingin dengan sepatu hak tingginya. Wanita itu berlutut pelan menempelkan dua jarinya ke leher Pak Bambang untuk memastikan denyut nadinya. 

"Udah mati," ujar Rika dingin. 

Fadel menghembuskan napas panjang yang terdengar sangat lega. Pria muda itu mengusap keringat di dahinya sambil tersenyum miring, menatap lembaran draf surat wasiat yang kini sudah teriak tanda tangan paksaan Pak Bambang. 

"Baguslah kalau udah mati. Jadi gak perlu capek-capek kita bayar biaya rumah sakit tiap bulan buat tua bangka ini. Sekarang seluruh restoran dan hartanya resmi milik kita," cetus Fadel sinis. 

"Tapi Bu Rika, Mas Fadel... ini jasadnya gimana? Baju kokinya robek parah, dadanya juga memar berdarah begini. Kalau polisi atau dokter periksa  pasti ketahuan kalau ini pembunuhan," tanya Rudi. 

Rika menatap Rudi dengan pandangan ya tajam dan penuh perhitungan. "Makanya otak itu dipakai, Rudi. Kita bikin ini kelihatan seperti serangan jantung murni. " 

Rika merogoh tasnya, mengambil botol obat jantung milik Pak Bambang yang tadi dia sembunyikan. Wanita itu membuka tutup botolnya, lalu sengaja menumpahkan beberapa butir pil ke atas lantai dekat tangan Pak Bambang, seolah-olah pria tua itu sempat berusaha menggapai obatnya saat serangan jantung menyerang. 

"Fadel, cepat kamu ganti pakaian koki tua ini. Buka celemek berdarah dan baju koki yang robek ini, ganti sama kemeja biasa yang ada di lemari bajunya. Bersihkan sisa darah dan mulutnya pakai alkohol sampai gak berjejak. Rudi, kamu bakar celemek ini di tungku dapur belakang sampai jadi abu," perintah Rika cepat dan sigap. 

"Siap, Bu!" sahut Rudi

"Nanti setelah bajunya diganti rapi dan bekas darahnya bersih, kita tunggu satu jam," tutur Rika dengan senyum licik yang mengerikan. "Setelah itu kita pura-pura histeris. Kita teriak minta tolong ke karyawan luar kalau Papi kamu mendadak jatuh pingsan di kursi kerja gara-gara serangan jantung."

Fadel tertawa pelan kagum pada kelicikan ibunya. "Mami emang jenius. Si Bima pasti langsung percaya kalau bapaknya mati wajar,"

"Jelas. Mulai malam ini restoran Restu Ibu milik kita. Dan Bima cuma bakal jadi sampah di rumahnya sendiri," serat suara Rika dingin.

Rhea yang menyaksikan seluruh percakapan dan persengkokolan iblis itu dari sudut ruangan merasa perutnya mual hebat. Dadanya bergemuruh oleh rasa murka dan amarah yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. 

"Kalian iblis. Kalian manusia biadab," teriak Rhea histeris, meski suaranya tak memantul di alam memori tersebut. 

Sementara itu, di dalam realita dunia nyata... 

Jarum jam dinding di lantai dasar Biro menunjuk tepat ke angka 17.50 sore. Cahaya mentari senja yang jingga kemerahan meredup perlahan. Suasana di dalam ruko mendadak terasa dingin menusuk tulang. 

Zora, yang baru saja selesai membereskan cangkir-cangkir kopi dari pantry dan berniat mengajak Rhea tutup kantor, seketika menghentikan langkahnya. Cangkir di tangannya hampir saja merosot dari tangannya. 

"Rhe? Rhea," panggil Zora dengan suara gemetaran. 

Di atas sofa tamu Rhea terbaring kaku. Namun, dia tidak sedang tidur nyenyak. Tubuh Rhea bergetar dan kejang-kejang secara tidak wajar. Kedua tangannya mencengkram erat pinggiran busa sofa. Kelopak matanya terpejam rapat, tetapi matanya di dalam bergerak-gerak liar. Peluh dingin mengucur deras dari dahi dan pelipis Rhea membasahi kerah kemeja putihnya. 

Gigi Rhea gemeretak kencang, dan dari tenggorokannya keluar erangan parau yang dipenuhi rasa sakit amat sangat. Tubuhnya menggigil hebat bagaikan seseorang yang dilempar ke dalam sungai es. 

"Astaga, Rhe lu kenapa?" panik Zora setengah mati. Dia meletakkan cangkir di meja terdekat lalu berlari menghampiri sofa. Zora membangun bahu Rhea, mencoba menggoncang tubuh sahabatnya itu. "Rhe. Bangun Rhea jangan bikin gue takut."

Saat telapak tangan Zora menyentuh kulit bahu Rhea, hawa es ghaib menyengat jarinya hingga Zora merinding hebat. 

Wajah Rhea terlihat sangat menderita, matanya meneteskan air mata nyata meski dia masih dalam keadaan tidak sadarkan diri. 

"Tolong... jangan..." rintih Rhea dengan suara tercekat di balik lelapnya yang menyiksa. 

"Rhea. Rhe, bangun," teriak Zora histeris menepuk-nepuk pipi Rhea yang terasa dingin bagai es. 

Tepat saat Zora mencoba mengangkat tubuh Rhea. 

"AAARGGGHH!"

Rhea meloncat terduduk di atas sofa dengan jeritan histeris yang memecah keheningan. 

Napas Rhea memburu hebat bagai orang yang baru tersedak air. Keringat dingin mengucur deras membasahi seluruh wajah dan kemeja putihnya. Matanya membelalak lebar, memancarkan ngeri yang begitu murni. 

"Rhea. Rhe lu kenapa? Astaga, lu mimpi buruk," tanya Zora dengan cemas. 

Rhea memegang dadanya yang berdegup liar bagai mau meledak. Bibirnya gemetaran hebat, matanya berair. "Ra... Pak Bambang. Beliau dibunuh, Ra. Pak Bambang gak meninggal gara-gara sakit."

Zora membelalak panik, mendekati Rhea dan memegang bahunya. "Maksud lu apa sih Rhe? Lu ngomong apaan?"

"Baju koki yang robek-robek... celemek darah itu. Ibu tirinya... saudara tirinya. Mereka yang membantai Pak Bambang demi memalsukan wasiat. Itu ulah mereka Ra," tangis Rhea pecah. 

Suaranya bergetar ngeri saat memori ghaib itu masih membakar otaknya. 

Zora membeku ditempatnya, menatap Rhea dengan tatapan tak percaya campur merinding. 

Namun, belum sempat Zora merespons. 

Bzzzt! Seluruh sistem kelistrikan di ruko mendadak padam total. Kegelapan pekat menyergap ruangan. 

BRAKKKKK!! CKIEEKKK!! 

Dan tepat di saat yang bersamaan, sebuah benturan yang teramat dahsyat memecah keheningan senja dari arah luar ruko. Suara dentuman besi bertabrakan dengan barang kayu tebal menggelegar nyaring, diselingi decitan ban yang membakar aspal dan pecahan kaca yang berserakan di trotoar. 

1
Dwi rohma irjani
laannjuutt..👍
Eka P
n
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!