NovelToon NovelToon
Jenderal, Rotiku Bukan Untukmu

Jenderal, Rotiku Bukan Untukmu

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Transmigrasi / Fantasi / Tamat
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ketoprak Encok

Shania, seorang gadis modern, terjebak dalam tubuh Aurelia Valerius—istri dari Damian Valerius, jenderal tiran yang kejam dan membencinya. Mengetahui takdir aslinya akan berujung pada kehancuran dan penyiksaan, Shania memilih kabur diam-diam dan merintis hidup baru sebagai pembuat roti di sebuah kota kecil.

Sementara itu, Damian yang awalnya merasa lega mendadak tersiksa oleh kehampaan di rumahnya. Ketika ia berhasil menemukan sang istri yang kini hidup mandiri namun diliputi ketakutan mendalam, sang jenderal harus membayar mahal semua dosa masa lalunya untuk mendapatkan kembali hati wanita yang dulu ia abaikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 11

Udara di lembah perbatasan utara terasa padat, berbau tajam oleh belerang, darah segar, dan debu mesiu yang beterbangan ditiup angin malam. Di bawah naungan langit kelam yang hanya diterangi oleh pantulan lidah api dari sisa-sisa kamp yang terbakar, medan pertempuran itu menyerupai kawah neraka yang hidup. Suara benturan baja berderik nyaring, berpadu dengan ringkikan kuda perang yang kesakitan dan teriakan para prajurit yang kehilangan nyawa dalam kepekatan malam.

Di tengah kekacauan brutal itu, sosok Damian Valerius berdiri tegak di atas punggung kuda hitam berzirahnya.

Zirah baja militer yang dikenakannya kini telah ternoda oleh bercak-bercak darah musuh, namun postur tubuhnya tetap kokoh bagaikan pilar besi yang tidak tergoyahkan. Pedang panjang di tangan kanannya meneteskan cairan merah pekat, memantulkan cahaya api yang menyala liar di sekelilingnya. Dengan gerakan dingin, terarah, dan tanpa keraguan sedikit pun, Damian menepis tebasan tombak musuh dari arah samping, lalu dalam satu ayunan kilat, ia membalasnya dengan tebasan telak yang melumpuhkan lawan dalam sekejap.

Pikiran sang Jenderal tidak terbagi; ia adalah mesin perang yang sempurna. Namun, di balik ketenangan taktis yang ia tunjukkan dalam memimpin lini depan pasukan kekaisaran, ada sebuah sensasi ganjil—sebuah denyut ketidaknyamanan yang terus berputar di dalam benaknya sejak gulungan surat darurat dari ibu kota diterima beberapa jam lalu. Surat itu tidak hanya membawa kabar tentang kekacauan politik di Senat, melainkan juga menyisipkan sebuah laporan samar dari pos terdepan wilayah selatan tentang hilangnya seorang wanita bangsawan dalam senyap.

Damian menepis bayangan itu dengan hempasan napas berat yang mengepulkan uap putih di udara dingin pegunungan. Ia mengalihkan fokusnya kembali ke medan laga, mengangkat pedangnya tinggi-tinggi ke udara, memberikan komando mutlak kepada sisa pasukan infanteri berat untuk melancarkan serangan pemungkas ke arah benteng utama pemberontak di balik bukit batu.

Jauh dari hiruk-pikuk pertumpahan darah di utara, ribuan mil ke selatan di sebuah kota pelabuhan kecil yang tenang, matahari pagi baru saja merayap naik, memantulkan cahaya keemasan di atas jalanan berbatu yang basah oleh embun.

Di salah satu sudut jalan kecil yang sunyi namun padat oleh aktivitas warga lokal, sebuah plang kayu sederhana berayun pelan ditiup angin pagi. Di atas kayu itu tertulis sebuah nama yang ditulis tangan dengan tinta hitam yang rapi: Roti Hangat Auris.

Di dalam ruangan toko yang berukuran tidak lebih dari sebuah kamar kecil, Aurelia ia menarik napas dalam-dalam. Aroma mentega segar, ragi fermentasi, dan manisnya vanila murni menguar memenuhi setiap jengkal ruangan, mengusir jauh-jauh bau debu dan lembap yang sempat melekat di masa lalu.

Shania mengangkat tangannya yang kini bersih dari noda darah maupun debu istana, meskipun jemarinya masih menyisakan sedikit bekas kapalan tipis akibat kerja keras selama beberapa minggu terakhir. Dengan modal beberapa butir permata kecil yang berhasil ia lepas secara diam-diam dari hiasan gaun lamanya dan dijual pada pedagang barang antik di kota pelabuhan ini lewat bantuan Lily, ia berhasil menyewa bangunan tua ini dan merenovasinya menjadi sebuah toko roti kecil.

Bagi Aurelia, tempat ini bukan sekadar tempat mencari penghidupan; ini adalah benteng kebebasannya. Setiap adonan yang ia uleni dengan kedua tangannya sendiri adalah wujud dari otonomi tubuh dan jiwanya yang sempat dirampas selama ia terjebak di dalam sangkar emas Kediaman Valerius.

Namun, kebebasan itu tidak datang tanpa bayaran. Luka psikologis dari teror yang diberikan oleh sang Jenderal tidak serta-merta menguap begitu saja hanya karena ia berganti tempat tinggal. Setiap kali suara derap kuda berlalu di luar jendela tokonya, atau setiap kali pintu kayu berderit karena angin, tubuh Aurelia masih sering mendadak menegang kaku, dan bayangan sepasang mata abu-abu badai yang menatap tajam akan berkelebat mengerikan di dalam kepalanya. Ketakutan itu telah mendarah daging, bersembunyi di balik lapisan kesadaran sebagai sisa-sisa trauma yang sewaktu-waktu bisa kambuh.

"Nona Aurelia," suara lembut Lily memecah keheningan dapur kecil di balik etalase. Gadis pelayan setia itu muncul dari balik tirai linen sambil membawa nampan berisi deretan roti tawar berukuran keemasan yang baru saja matang dari oven batu. "Pelanggan pertama sudah mulai berdatangan di depan pintu."

Aurelia mengerjap, menarik kembali kesadarannya dari lamunan panjang, lalu tersenyum tipis pada gadis di hadapannya. Senyuman itu jauh lebih tulus daripada apa pun yang pernah ia tunjukkan di ibu kota.

"Terima kasih, Lily. Letakkan di dekat etalase kaca, biarkan aromanya keluar menyapa pagi," jawab Aurelia dengan suara lembut, menata celemek kain katun sederhana yang melekat di pinggangnya.

Ia melangkah ke balik etalase kayu, merapikan beberapa potong roti manis di atas rak pameran kecil yang menghadap langsung ke jalan raya. Ketika pintu toko didorong terbuka dan bunyi lonceng kecil berdering riang menyambut kedatangan seorang ibu tua bersama cucunya, Aurelia merasakan secercah kehangatan menyelimuti dadanya. Ini adalah hidup yang ia inginkan—sederhana, damai, dan mandiri.

Namun, kedamaian itu diuji ketika matahari mulai bergeser ke tengah hari, dan keramaian kota kecil mendadak berubah menjadi riuh oleh derap suara puluhan kuda asing yang melintasi jalanan berbatu di luar toko.

Aurelia, yang sedang membungkus pesanan untuk seorang pelanggan, menghentikan gerakannya seketika. Suara derap sepatu kuda itu terdengar sangat teratur, berat, dan terlatih—bukan suara kuda pedagang lokal atau warga sipil. Itu adalah ritme derap kavaleri militer kekaisaran.

Jantung Aurelia berdegup kencang secara tidak wajar. Darahnya mendadak mendingin, dan napasnya tertahan di kerongkongan.

Di luar jendela kaca tokonya, bayangan beberapa orang pria berzirah baja dan mengenakan jubah patroli militer melintas dengan lambat, berhenti tepat di depan plang nama Roti Hangat Auris. Salah seorang di antaranya, seorang perwira berwajah tegas dengan bekas luka di pelipisnya, turun dari pelana dan melangkah mendekati pintu toko, lalu mendorong daun pintu kayu itu hingga terbuka lebar—

1
Murni Dewita
finish
Dian Utami
shania petakut thor harus nya pemberani
Ketoprak Encok: huhuhu.... makasih koreksinya kak
total 1 replies
Renjana
👣
mampir diceritaku juga ya😊
Murni Dewita
lanjut dan tetap semangat
Murni Dewita
gantung thor
Murni Dewita
gantung thor double up donk
Ketoprak Encok: sip kak
total 1 replies
Murni Dewita
👣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!