Dibuang oleh keluarga, dikhianati oleh orang yang dicintai, dan merasa tidak memiliki siapa-siapa.
Laura mengira hidupnya telah berakhir.
Sampai seorang pria asing datang dan berkata.“Kamu adalah mempelai ku.”
Laura tidak tahu siapa pria itu.
Yang dia tahu, sejak pertemuan malam itu, hidupnya tak akan pernah sama lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 : SISI LAIN HERO
saat itu di kantor pusat Valdren International terlihat jauh lebih sibuk dari biasanya. Para karyawan berjalan melewati lorong dengan langkah cepat sambil membawa dokumen dan tablet kerja masing-masing, Suara sepatu terdengar bersahutan di atas lantai marmer, sementara beberapa orang berhenti sejenak untuk memberi salam ketika Hero Valdren melewati mereka.
Seperti biasa, Hero berjalan dengan wajah tenang dan dingin. Tatapannya tajam, langkahnya tegas, dan tidak ada seorang pun yang berani mengajaknya berbicara tanpa alasan penting. Namun suasana di dalam ruang kerja Hero terasa sangat berbeda.
Laura duduk di sofa dekat jendela sambil memeriksa beberapa dokumen yang baru saja diberikan kepadanya. dia masih belum terbiasa berada di kantor sebesar itu, apalagi sekarang dirinya dianggap sebagai seseorang yang penting bagi Hero.
Sesekali Laura melirik ke arah meja kerja Hero. Hero sedang membaca beberapa berkas dengan serius, Kemeja hitam yang dikenakannya membuat penampilannya terlihat semakin berwibawa, sejak tadi Hero hampir tidak berbicara, hanya sesekali menatap Laura untuk memastikan wanita itu baik-baik saja.
Laura tersenyum kecil ketika menyadarinya dan di bertanya ke Hero “Kenapa kamu terus melihatku?”
Hero mengangkat wajah dari dokumen yang sedang dibacanya. “Aku hanya memastikan kamu tidak lelah.”
Laura menggeleng pelan. “Aku baik-baik saja Lagi pula, aku hanya membaca beberapa berkas.”
“Kalau lelah, berhenti Kamu tidak perlu memaksakan diri.” jawab hero santai dan tidak ingin Laura kelihatan lelah sedikitpun.
Laura menatapnya beberapa saat sebelum tersenyum. “Kamu selalu seperti ini?”
“Seperti apa?” tanya Hero dengan lembut sambut menatap ke arah Laura.
“Perhatian.” jawab Laura malu malu.
Hero justru terlihat bingung dengan pertanyaan itu dia meletakkan berkasnya di atas meja, lalu bersandar di kursi.“Bukankah itu hal yang biasa dilakukan oleh seseorang terhadap orang yang dicintainya?”
Pipi Laura langsung memanas dan dia memalingkan wajahnya sebelum berkata.“Kamu jangan bicara seperti itu dengan mudah,”
Hero tersenyum tipis melihat reaksinya. “Aku hanya mengatakan yang sebenarnya.”
Laura menghela napas kecil semakin lama bersama Hero, semakin sulit baginya memahami pria itu, Di depan orang lain Hero begitu dingin sampai membuat suasana di sekitarnya terasa menegang. Tetapi ketika hanya berdua dengannya, pria itu berubah menjadi seseorang yang begitu lembut, perhatian, bahkan terkadang manja.
Laura masih belum sepenuhnya percaya bahwa dirinya bisa mendapatkan perlakuan seperti itu, tak lama kemudian pintu ruangan diketuk dari luar.
“Masuk,” ujar Hero.
Pintu terbuka dan Valen masuk sambil membawa sebuah map tebal, Wajahnya tetap tenang seperti biasa, tetapi langkahnya terlihat sedikit lebih cepat karena dia baru saja menyelesaikan tugas yang diberikan Hero sebelumnya.
“Tuan Hero,” panggil Valen sambil mendekat ke meja.
Hero mengangguk. “Bagaimana?”
“Semua berkas milik Nona Laura sudah selesai saya urus, Data kampus, administrasi, kebutuhan pekerjaan, rekening yang diperlukan, serta beberapa dokumen lainnya sudah saya pastikan aman dan tersusun,” jelas Valen sambil menyerahkan map tersebut.
Laura yang mendengar perkataan Valen langsung berdiri dari sofa.“Sudah selesai?”
Valen mengangguk. “Sudah, Nona, Mulai sekarang beberapa urusan administrasi yang sebelumnya menyulitkan Nona tidak perlu lagi Nona khawatirkan.”
Laura berjalan ke arah Hero dan Laura mengambil map tersebut dan membukanya perlahan dia melihat berbagai dokumen yang sebelumnya terasa begitu rumit kini sudah tersusun rapi.
“Terima kasih Valen, kamu benar-benar membantu banyak hal,” ucap Laura tulus.
Valen hanya tersenyum kecil. “Itu memang pekerjaan saya, Nona.”
Laura kembali duduk sambil membaca beberapa lembar dokumen, sementara itu Valen berdiri tidak jauh dari sofa dan tanpa sengaja memperhatikan interaksi antara Laura dan Hero.
Beberapa detik kemudian, Valen menggeleng pelan ada sesuatu yang masih terasa aneh baginya.
Selama bertahun-tahun bekerja bersama Hero, Valen sudah terbiasa melihat tuannya bersikap dingin. Hero hampir tidak pernah menunjukkan perhatian kepada orang lain. Bahkan dalam urusan pekerjaan, satu kesalahan kecil saja bisa membuat seluruh ruangan menjadi sunyi karena semua orang takut menghadapi tatapannya.
Namun sekarang, pria yang sama justru beberapa kali menghentikan pekerjaannya hanya untuk memastikan Laura sudah makan, tidak lelah, dan merasa nyaman.
Valen akhirnya tidak tahan untuk tidak mengatakannya.“Nona Laura.”
Laura mengangkat wajah. “Ya?”
Valen melirik sebentar ke arah Hero yang masih memeriksa dokumen, kemudian kembali menatap Laura. “Sebenarnya ada sesuatu yang ingin saya sampaikan.”
Laura terlihat penasaran. “Apa itu?”
Valen tersenyum tipis. “Tuan Hero selalu serius dengan pekerjaannya, beliau juga terkenal sangat dingin terhadap orang lain. Bahkan kami yang sudah lama bekerja dengannya pun harus berhati-hati ketika berbicara.”
Hero yang mendengar percakapan itu masih diam, seolah tidak tertarik.
Namun Laura justru semakin penasaran tanyanya sambil melirik Hero.“Benarkah?”
Valen mengangguk. “Benar, tetapi sejak bertemu dengan Nona, beliau berubah.”
Hero akhirnya mengangkat wajah.“Valen.”
Nada suaranya terdengar datar, tetapi cukup untuk membuat Valen tahu bahwa atasannya mulai tidak nyaman dengan pembicaraan tersebut.
Namun Valen hanya tersenyum kecil sebelum melanjutkan.“Dulu saya jarang melihat Tuan Hero tersenyum seperti sekarang, beliau juga tidak pernah memikirkan apakah seseorang sudah makan atau belum. apalagi membawa seseorang ke rumah dan memperlakukannya seperti orang yang sangat berharga.”
Laura menahan senyum dengan sebuah perkataan tentang Hero yang di kasih tahu oleh Valen.
Hero menghela napas. “Kamu terlalu banyak bicara.”
“Saya hanya mengatakan kenyataan, Tuan,” jawab Valen santai.
Laura tertawa kecil. “Jadi selama ini Hero memang sedingin itu?”
Valen mengangguk lagi. “Bisa dibilang begitu, Nona, tapi sejak bertemu dengan Nona, sepertinya Tuan Hero menjadi dirinya sendiri lagi.”
Kalimat itu membuat Laura terdiam.“Menjadi dirinya sendiri?”
Valen mengangguk. “Ya. Saya sudah mengenal beliau cukup lama, ada sisi Tuan Hero yang hampir tidak pernah diperlihatkan kepada siapa pun. Dan sekarang sisi itu justru sering muncul ketika bersama Nona.”
Laura menatap Hero,Pria itu terlihat sedikit kesal, tetapi tidak membantah.
“Jangan dengarkan Valen,” ujar Hero akhirnya.
“Kenapa? Bukankah dia mengatakan yang sebenarnya?” tanya Laura sambil tersenyum.
Hero menatap Laura beberapa saat, kemudian sudut bibirnya terangkat tipis.“Kalau memang benar, memangnya kenapa?”
Laura kembali tersipu.
Valen yang melihat keduanya hanya bisa tersenyum dalam hati. Sekarang dia benar-benar mengerti bahwa Laura bukan sekadar seseorang yang kebetulan hadir dalam kehidupan Hero. Wanita itu memiliki tempat yang berbeda di hati tuannya.
Namun suasana hangat tersebut tidak berlangsung lama Hero kembali melihat beberapa dokumen di mejanya. Ketika matanya menangkap salah satu nama yang tercantum dalam berkas pekerjaan Laura, ekspresinya berubah sedikit lebih serius.
Adrian Varell.
Nama itu bukan sesuatu yang asing baginya. Hero tahu Adrian adalah seorang pengusaha muda yang cukup dikenal dan memiliki hubungan bisnis dengan beberapa perusahaan besar termasuk dengan perusahaan miliknya. Namun ada sesuatu yang membuat Hero ingin mengetahui lebih banyak tentang pria tersebut.
Apalagi Adrian memiliki hubungan dengan keluarga Prayoga. Hero menutup dokumen di depannya lalu menatap Valen.
“Valen.” panggil Hero.
Valen langsung berdiri lebih tegak. “Ya, Tuan?”
“Cari tahu tentang perusahaan Adrian Varell.”
Laura yang sedang membaca dokumen langsung berhenti dan menatap Hero.
Hero melanjutkan dengan nada tenang, “Sekaligus cari tahu lebih dalam tentang Varell Corporation. Struktur perusahaan, bisnis yang sedang mereka jalankan, hubungan kerja sama mereka, dan siapa saja yang memiliki kepentingan di dalamnya termasuk hubungan mereka dengan perusahaan kita.”
Valen mengangguk serius. “Baik, Tuan.”
“Jangan hanya melihat informasi yang ada di permukaan,aku ingin semuanya.” lanjut Hero Tatapannya menjadi tajam.
“Saya mengerti,” jawab Valen.
Laura mengerutkan kening dia tahu nama Adrian bukan nama asing dalam hidup keluarganya. Adrian adalah kekasih Dinda, bahkan keluarganya sedang mempersiapkan pertunangan mereka.
Namun Laura belum tahu kenapa Hero tiba-tiba tertarik dengan perusahaan pria itu dan Laura akhirnya bertanya.“Kenapa kamu ingin mencari tahu tentang Adrian?”
Hero menoleh kepadanya wajah dinginnya kembali terlihat, tetapi ketika melihat Laura, tatapannya sedikit melunak.
“Aku hanya ingin memastikan orang-orang yang berada di sekitar keluargamu tidak membawa masalah kepadamu.”
Hero kemudian berdiri dari kursinya dan berjalan mendekati Laura dia mengambil dokumen yang sejak tadi dipegang Laura, lalu meletakkannya di meja kecil di samping sofa.
“Kamu tidak perlu memikirkan hal itu,” ujar Hero sambil duduk di sampingnya. “Biarkan aku yang mengurusnya.”
Laura menatap Hero dengan perasaan yang sulit dijelaskan, dulu tidak ada seorang pun yang peduli ketika dirinya menghadapi masalah. Sekarang, ada seseorang yang bahkan ingin mengetahui setiap hal yang mungkin membahayakan dirinya.
“Aku masih belum terbiasa diperlakukan seperti ini,” kata Laura jujur.
Hero menatapnya cukup lama sebelum menggenggam tangannya.“Kalau begitu, biasakan.”
Laura tertawa kecil mendengar jawabannya. “Kamu benar-benar percaya diri.”
“Karena aku serius denganmu,” jawab Hero tanpa ragu.
Di sisi lain ruangan, Valen hanya diam memperhatikan keduanya dia kemudian berbalik dan berjalan menuju pintu.“Saya akan segera mengurus penyelidikan tentang Varell Corporation,” katanya sebelum keluar.
Hero mengangguk. “Lakukan dengan hati-hati.”
“Baik, Tuan.” jawab Valen.
Pintu kembali tertutup.
Tanpa Laura sadari, sejak saat itu sebuah penyelidikan baru telah dimulai. Hero tidak tahu apa yang akan ditemukan Valen tentang Adrian Varell dan Varell Corporation.
Namun satu hal yang pasti, Hero tidak akan membiarkan siapa pun yang memiliki hubungan dengan masa lalu Laura kembali menyakiti wanita yang kini sudah dia anggap sebagai mempelainya.
sedih kan ya...
kaki emak melyang terbang menghantam kepala richard.
DUAK
"emm.. puas emak, RASAIN! set ... an!" 🤯🤯🤯