NovelToon NovelToon
Falling In Love With My Ex Wife

Falling In Love With My Ex Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Teen
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: neng_86

kisah sepasang suami istri yang menyerah di tahun kedua pernikahan karena terlalu banyaknya pertengkaran diantara mereka.

pernikahan yang diawali dengan sebuah perjodohan antara Seraphina Anastasya dengan seorang pria dingin bernama Dikta Rey Ibrahim membuat keduanya mengalami konflik berkepanjangan dan yang diperparah oleh Dikta yang dengan sengaja tetap menjalin hubungan dengan kekasih pria itu yakni Delara Sasmita yang berujung pengkhianatan oleh Delara dengan berselingkuh dibelakang Dikta.

setelah 5 tahun, Dikta dan Sera dipertemukan kembali karena sebuah kecelakaan yang tidak disengaja oleh Sera sehingga dirinya diharuskan bertanggungjawab atas Dikta.

yuk simak kisahnya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kabar yang menusuk

Minggu-minggu berlalu bagai daun yang jatuh kering, tak berwarna, tak bermakna.

Dikta Rey Ibrahim kini bukan sekadar bekerja berlebihan, ia menghancurkan dirinya secara perlahan dan sengaja.

Kantor menjadi rumahnya, kursi kulit menjadi tempat beristirahatnya, kopi hitam pekat tanpa gula adalah makanan utamanya.

Wajahnya yang dulu selalu rapi dan bersih kini tampak tirus, matanya cekung dikelilingi lingkaran gelap yang tak pudar walau sesaat ia terlelap, dan langkahnya berat seolah memikul beban batu di pundak.

Pagi itu, Gavin masuk ke ruangan Dikta lebih awal dari biasanya.

Langkahnya berat, tangannya memegang laporan penjualan dari tim pemasaran.

Ia berdiri sejenak menatap sahabatnya yang masih terbaring di sofa kantor, kepala tertumpu tumpukan berkas, tangan kiri masih mencengkeram pena, napasnya dangkal dan tak tenang.

"Dikta..." Gavin memanggil pelan sambil mengetuk bahu pria itu.

Dikta tersentak bangun, matanya terbuka lebar seolah terkejut menemukan dirinya masih di dunia ini.

Ia mengusap wajah kasar, bangkit berdiri dengan keseimbangan yang sempat goyah. "Ada meeting pagi ini? Berapa lama aku tertidur?" suaranya serak, pecah di tengah kalimat.

"Kau tidak tidur, kau hanya pingsan karena kelelahan," jawab Gavin tegas, meletakkan berkas di meja. "Kau harus berhenti seperti ini, Dikta. Klien mulai bertanya apa yang salah denganmu. Karyawan takut mendekat. Kau hampir membatalkan tiga kesepakatan penting minggu ini karena pikiranmu melayang entah ke mana."

"Aku baik-baik saja. Berikan laporannya," potong Dikta dingin, mencoba meraih dokumen namun tangannya gemetar halus.

Gavin menahan tangannya, lalu menyodorkan tablet yang dibawanya. membuka portal berita pendidikan, "Sebelum kau kembali menyiksa dirimu, ada sesuatu yang mungkin... akan menyakitimu lebih dari segala kelelahanmu. Tapi kau berhak tahu."

Dikta mengernyit, namun perlahan mengambil tablet itu. Matanya menyapu halaman itu, dan detak jantungnya seolah berhenti.

Sebuah foto yang menampilkan wajah yang tak pernah lepas dari pikirannya sedetik pun. Seraphina.

Ia berdiri di halaman depan kampus, mengenakan kemeja sederhana, tersenyum, senyum yang Dikta kira sudah mati selamanya saat mereka berpisah. Di sampingnya berdiri seorang pria, tangan mereka saling menyentuh lengan dengan akrab, dan tatapan pria itu pada Seraphina... penuh kekaguman yang tulus.

Keterangan foto tertulis: Mahasiswa berprestasi Seraphina Anastasya bersama pembimbing skripsinya, Arga Dirgantara, dalam acara penerimaan penghargaan mahasiswa berprestasi.

Dunia Dikta berputar. Tablet di tangannya tergenggam semakin erat hingga bergetar.

"Dia... dia pindah ke kota itu?" suaranya bergetar, nyaris tak terdengar. "Dia... dia terlihat bahagia."

"Ya, Dikta. Dia dan ayahnya pindah dua ratus kilometer dari sini. Dia melanjutkan kuliahnya, hidup tenang. Dan... sepertinya dia mulai membuka hatinya untuk orang lain." Gavin berusaha lembut, tahu betapa tajamnya kata-kata itu.

Dikta mundur selangkah, punggungnya membentur tepi meja.

Rasa sakit yang melilit dadanya kali ini bukan penyesalan biasa, melainkan kesadaran yang menghancurkan. Seraphina tidak hancur tanpa dirinya. Justru sebaliknya. Dia mekar, bersinar, hidup kembali, tepat di saat Dikta perlahan mati.

"Lihatlah dia, Gavin..." bisiknya, matanya tak lepas dari foto itu, air mata menetes tanpa izin, jatuh membasahi wajahnya yang sudah lama tak menangis. "Dia tersenyum. Sangat indah. Dan bukan aku alasannya."

"Dikta, dengarkan!"

"Aku membuang permata terindah yang pernah kumiliki, dan dia membiarkan dirinya diambil orang lain. Dan... dan aku tidak berhak marah. Aku tidak berhak cemburu. Karena akulah yang melepaskannya! Akulah yang menceraikannya tanpa memberi kesempatan bicara! Akulah yang mencintai ular berbisa ketimbang istrinya sendiri!" Dikta berteriak di penghujung kalimat, lalu meninju meja sekuat tenaga. Tangannya memerah, namun rasa sakit fisik itu tak sebanding dengan luka yang mengoyak hatinya.

Gavin membiarkannya meledak. Itu yang Dikta butuhkan, 'meledak', bukan menahan semuanya hingga meledak dari dalam.

Setelah hening panjang, napas Dikta tersengal. Ia kembali menatap foto Seraphina, senyumnya yang begitu lepas dan bebas.

"Dia benar-benar melupakanku, bukan?" tanyanya lemah, penuh kepahitan.

"Bukan melupakan, Dikta. Tapi... melangkah maju. Seperti yang seharusnya dilakukan semua orang setelah terluka," jawab Gavin jujur namun lembut. "Dia tidak menunggu di tempat kau meninggalkannya. Dia berjalan. Dan semakin jauh, semakin cerah jalannya."

Dikta menutup matanya, membayangkan jalan yang diambil Seraphina, jauh dari Jakarta, jauh dari nama Ibrahim, jauh dari Dikta Rey. Dan untuk pertama kalinya, ia tidak marah. Ia justru bersyukur.

"Syukurlah..." bisiknya di antara tarikan napas yang berat. "Syukurlah dia pergi. Syukurlah dia menemukan tempat di mana dia dihargai. Di mana tidak ada yang menyakitinya. Di mana dia bisa menjadi dirinya sendiri, bukan sekadar istriku yang terlupakan."

Ia meletakkan tablet itu dengan hati-hati, seolah takut melukai wajah di foto itu.

"Kau boleh pergi, Gavin. Aku akan menyelesaikan sisa pekerjaan hari ini."

"Dikta, kau yakin? Kau tidak terlihat baik-baik saja."

"Aku tidak akan pernah baik-baik saja, Gavin. Tapi aku akan bertahan. Karena melihat Seraphina bahagia... itu memberi aku alasan untuk tidak menyerah sepenuhnya. Mungkin suatu hari nanti, aku juga bisa menjadi orang yang lebih baik. Bukan untuknya, dia sudah punya kebahagiaannya sendiri, tapi untuk menebus semua kesalahanku."

Gavin mengangguk perlahan, lalu melangkah keluar meninggalkan ruangan.

Dikta memandang langit cerah dari balik kaca besar kantornya.

Meski hatinya sakit melihat Sera-nya tersenyum pada laki-laki lain, namun jauh di lubuk hatinya, dia juga berbesar hati.

Sera berhak bahagia meski bahagia itu bukan darinya.

Dan sejak hari itu, Dikta juga berjanji akan berusaha bangkit dan menyudahi rasa penyesalan dirinya agar kelak jika dia dipertemukan kembali dengan Sera, dia bisa berkata, aku baik-baik saja dan senang melihat mu bahagia.

bersambung....

1
Dewi Andayani
Aku mampir lagi di karyamu, ya Thor😍...
Ditunggu crazy up nya💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!