Anindya (22 tahun) terpaksa menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Adrian Vane (28 tahun), CEO kejam dari Vane Group, demi membayar biaya pengobatan adiknya. Adrian hanya memanfaatkan pernikahan ini untuk membalas dendam pada keluarga Anindya yang ia tuduh memfitnah keluarganya di masa lalu.
Adrian bersikap dingin, arogan, dan menetapkan batasan ketat: tidak boleh ada rasa cinta. Namun, saat rahasia masa lalu yang sebenarnya perlahan terkuak dan musuh bisnis Adrian mulai menargetkan Anindya, Adrian sadar bahwa wanita yang ia benci telah menjadi pelindung jiwa dan takdir hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gastor Gaming, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembayaran Terakhir
"Kalian... tidak akan pernah meninggalkan tempat ini hidup-hidup..." desis Pemimpin Tertinggi seraya mengarahkan jarinya ke tombol detonator.
Langkah Adrian, Anindya, dan Raymond terhenti seketika di ambang pintu gerbang besi dermaga bawah tanah. Udara di sekeliling mereka terasa panas membara, diselingi deru sirene yang makin liar melengking menembus ketebalan dinding beton yang retak.
"Menjauh dari tombol itu, Pemimpin Tertinggi!" bentak Adrian seraya mempererat dekapannya pada bayi kembar kedua. Telapak tangannya yang robek terus meneteskan darah segar ke lantai beton.
"Menjauh?" Pria bertopeng emas itu tertawa parau, suara pembusukan jaringan tubuhnya terdengar sangat mengerikan dari balik topeng. "Tubuhku sudah hancur akibat kegagalan transfer genetikmu, Adrian. Aku tidak punya alasan lagi untuk tetap hidup di dunia ini!"
"Tapi anak-anak ini punya hak untuk hidup!" jerit Anindya dengan mata bersimbah air mata, mendekap erat bayi kembar pertama di dadanya. "Cukup semua kegilaan ini! Kau sudah kalah!"
"Kalah?!" jerit Pemimpin Tertinggi histeris, bahunya naik turun menahan guncangan rasa sakit yang hebat. "Konsorsium tidak pernah kalah! Jika aku tidak bisa memiliki wadah murni ini, maka seluruh darah Vane akan terkubur bersamaku di dasar laut!"
Jemarinya yang membusuk mulai menekan sakelar detonator secara perlahan!
"Tidak akan!" teriak Raymond seraya menerjang maju tanpa memedulikan keselamatan dirinya!
DOR! DOR!
Raymond melepaskan dua tembakan presisi dari pistol suar di tangannya tepat ke arah dada dan pergelangan tangan Pemimpin Tertinggi!
"AAAGHHH!" Pria bertopeng emas itu meraung saat api suar meledak membakar dadanya, melempar detonator manual itu terlepas dari genggamannya dan melayang jatuh ke celah dermaga bawah air.
"Adrian, bawa Anindya dan anak-anak ke perahu cepat sekarang!" teriak Raymond seraya menahan tubuh Pemimpin Tertinggi yang mengamuk dalam kobaran api.
"Raymond, ikut dengan kami!" seru Adrian seraya menahan napasnya di tengah kepulan uap kimia.
"Tidak ada waktu lagi, Tuan Muda!" bentak Raymond seraya mengunci leher Pemimpin Tertinggi dengan sisa tenaganya. "Pintu sekat otomatis ini akan tertutup dalam sepuluh detik! Lari!"
"Terima kasih untuk segalanya, Raymond..." desis Adrian penuh duka mendalam.
Adrian merenggut lengan Anindya, melempar tubuh istrinya masuk ke dalam perahu cepat berlapis baja yang tertambat di dermaga bawah tanah. Adrian melompat masuk seketika itu juga dan menghantamkan tangannya ke tombol starter mesin!
VROOOOMMM!
Mesin pendorong jet perahu cepat meletup kencang, membelah permukaan air menuju lorong keluar bawah tanah!
BRRRRRKKK! BOOOOMMM!
Di belakang mereka, pintu gerbang besi tertutup rapat, disusul ledakan dahsyat yang meruntuhkan seluruh kompleks kuil bawah tanah Pulau Tengkorak. Sosok Raymond dan Pemimpin Tertinggi lenyap sepenuhnya ditelan kobaran api dan reruntuhan batu raksasa.
"Raymond..." tangis Anindya pecah seraya terduduk lemas di lantai perahu, memeluk erat bayi pertama yang mulai tertidur lelah akibat dekapan hangat ibunya.
Adrian mengemudikan perahu cepat itu menembus lorong bawah air dengan kecepatan penuh, memotong sapuan ombak liar yang masuk dari mulut goa. Di dadanya, bayi kembar kedua menatap wajah Adrian dengan mata merah menyala yang redup perlahan, berganti menjadi warna hitam jernih.
BYUUURRR!
Perahu cepat meluncur keluar dari mulut goa bawah tanah, membubung menembus gelombang samudra di luar Pulau Tengkorak.
Di belakang mereka, seluruh struktur Pulau Tengkorak meledak hebat! Kobaran api membumbung tinggi ribuan meter menembus langit malam, meruntuhkan menara-menara baja dan tenggelam perlahan ke dasar laut.
"Pulau itu... hancur..." bisik Anindya seraya menatap kobaran api di kejauhan dengan tatapan hampa. "Apakah... apakah semua ini sudah berakhir, Adrian?"
Adrian menurunkan kecepatannya, membiarkan perahu mengapung tenang di tengah samudra yang mulai mereda. Ia duduk di samping Anindya, memeluk bahu istrinya rapat-rapat seraya memandangi kedua bayi kembar mereka yang kini terbaring aman di pelukan masing-masing.
"Ya, Anindya... Sophia, Konsorsium, dan Proyek Genesis... semuanya sudah hancur," desis Adrian seraya mencium kening Anindya dan kedua buah hati mereka. "Kita berhasil menyelamatkan mereka..."
Anindya menyandarkan kepalanya di dada Adrian, menghembuskan napas lega yang telah tertahan selama berbulan-bulan. "Kita harus beri mereka nama, Adrian..."
Adrian tersenyum tipis, rasa hangat menyeruak di dalam dadanya di tengah udara malam yang dingin. "Bayi pertama... kita beri nama Leo. Dia adalah keberanianmu yang bertahan di tengah kegelapan."
"Dan bayi kembarannya?" tanya Anindya seraya menatap bayi di dekapan Adrian.
"Reza..." jawab Adrian lembut. "Nama yang mengingatkan kita pada pengorbanan Julian dan Baskara untuk memberi kita harapan baru."
"Leo dan Reza..." bisik Anindya haru, menitiskan air mata kebahagiaan saat melihat kedua bayinya saling bersentuhan jemari kecil di dalam perahu.
Perahu cepat itu mengapung perlahan mengikuti arus laut menuju ufuk timur yang mulai memancarkan warna keemasan fajar. Suasana laut yang tenang memberikan kedamaian yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Cahaya mentari pagi menyinari wajah-wajah lelah yang penuh kelelahan fisik dan emosional itu.
"Aku merindukan rumah, Adrian," gumam Anindya pelan. "Rumah di mana tidak ada rahasia, tidak ada laboratorium, dan tidak ada pembunuh yang mengincar kita."
"Kita akan membangun rumah baru, Anindya," janji Adrian seraya membelai rambut istrinya. "Jauh dari jangkauan siapa pun."
Namun, di dalam ruangan kontrol kabin perahu cepat yang gelap, layar radio navigasi otomatis mendadak menyala sendiri secara liar.
Bzzzt... static...
Suara ketikan keyboard komputer berkecepatan tinggi berkumandang dari balik speaker radio yang rusak.
"Pemindaian sistem biologis selesai," suara kecerdasan artifisial buatan bergema dingin namun amat jernih. "Subjek Leo Vane dan Reza Vane terdeteksi di koordinat laut lepas sektor tujuh."
Adrian membeku seketika. Senyum hangat di wajahnya lenyap, berganti dengan ketegangan yang mendadak menusuk dada. Ia berdiri tegak, menyambar pistolnya seraya melangkah cepat mendekati konsol radio perahu!
"Siapa ini?! Siapa yang meretas frekuensi kapal ini?!" bentak Adrian seraya mengarahkan moncong pistolnya ke konsol radio.
Layar monitor radio memancarkan simbol naga perak bercabang dua yang amat asing—bukan lambang Konsorsium, bukan pula lambang Vane Foundation yang pernah mereka ketahui.
"Proyek Genesis Bab Pertama telah selesai dilaksanakan sesuai skenario," lanjut suara otomatis di radio tersebut tanpa memedulikan gertakan Adrian. "Selamat kepada subjek induk Adrian dan Anindya. Kalian telah lolos kualifikasi tahap eliminasi awal."
"Tahap... eliminasi awal?!" jerit Anindya seraya membelalakkan matanya dengan rasa horor yang kembali mencengkeram jiwanya. "Apa maksudmu?!Sophia sudah mati! Konsorsium sudah hancur!"
"Konsorsium hanyalah laboratorium eksperimen skala kecil di wilayah timur," sahut suara di balik layar radio. "Uji coba sebenarnya... baru akan dimulai saat kedua bayi itu menginjak usia tujuh tahun."
"Tutup mulutmu!" teriak Adrian seraya menghantamkan gagang pistolnya ke layar monitor radio hingga hancur berkeping-keping!
PYAAR!
Layar radio pecah, mematikan suara otomatis tersebut secara mendadak. Keheningan kembali melingkupi perahu cepat itu, namun rasa damai yang sempat hadir beberapa menit lalu telah sirna sepenuhnya.
"Adrian... apa maksud perkataan radio tadi?" bisik Anindya seraya gemetar hebat, memeluk kedua bayinya erat-erat ke dadanya. "Apakah kita belum benar-benar bebas?!"
Adrian menatap pecahan kaca radio dengan napas berat dan mata yang kembali memancarkan amarah tak terhingga. "Aku tidak peduli siapa yang ada di balik radio itu, Anindya. Jika ada yang mencoba menyentuh anak-anak kita lagi... aku akan menghancurkan mereka."
Tiba-tiba, angin di laut lepas bertiup amat kencang secara mendadak. Air laut di sekeliling perahu mereka bergolak hebat membentuk lingkaran pusaran arus yang besar.
"Adrian! Lihat ke atas!" jerit Anindya menunjuk ke arah langit pagi.
Langit pagi yang cerah di atas kepala mereka mendadak digelapkan oleh bayangan tiga buah kapal induk terbang raksasa berukuran sepuluh kali lebih besar dari Leviathan, yang muncul secara perlahan membelah awan dari balik benteng kurungan sihir penyamar visual!
Tiga lambang naga perak bercabang dua memancar terang dari perut kapal-kapal terbang tersebut, dan puluhan drone tempur berbentuk silinder mulai meluncur turun mengurung posisi perahu Adrian di permukaan laut.
"Adrian..." panggil Anindya dengan suara gemetar tanpa sisa harapan.
Adrian mencabut dua magasin terakhir dari saku taktisnya, mengokang pistolnya seraya berdiri tegap di ujung perahu, menatap ke arah armada kapal terbang raksasa yang memenuhi angkasa.
"Tetap di belakangku, Anindya," desis Adrian dengan mata memerah dan giginya yang berkerotakan keras. "Perang ini... baru saja dimulai."
Dari kapal induk terbang paling besar di tengah, sebuah pancaran sinar laser berwarna biru pekat ditembakkan lurus menembus awan, mengunci posisi perahu tempat Adrian, Anindya, dan kedua bayi kembar mereka berdiri...