Apakah tidak ada pilihan lain?
kenapa sakalinya bertransmigrasi malah ke tubuh Antagonis,lucu sekali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon okolele, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11
Gelombang siswa memenuhi halaman sekolah, menciptakan keramaian yang perlahan menghilang seiring satu per satu kendaraan meninggalkan area parkir.
Malika, Aira, dan Ruka berjalan berdampingan hingga tiba di gerbang sekolah.
"Besok jangan telat lagi, ya," ucap Aira sembari mengenakan helmnya.
"Iya, Bu Guru."Sahut malika dengan jenaka.
"Najis. Masih sempatnya becanda," celetuk Ruka yang langsung mendapat jitakan pelan dari Malika.
"Tuh, kan. Main tangan."
"Mulut lo yang minta ditampar."
"Sok galak lu Li, Eh Ra lo bilang tadi apa, besok jangan telat lu udah pikun apa gimana. Besok mah weekend anj. "
"Lah iya Ra besok wekeend. " Lanjut Malika melimpali lagi.
Aira terlihat menggaruk kepalanya, "Gue lupa. " ujarnya dengan tampang yang ingin sekali Malika tabok
Ketiganya saling melempar lirikan.
Tak lama kemudia Ketiganya tertawa bersamaan.
Tak lama kemudian, mereka berpamitan dan berjalan ke arah masing-masing.
Malika melangkah menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh dari gerbang. Begitu membuka pintu, ia meletakkan tas di kursi penumpang sebelum menjatuhkan tubuhnya ke balik kemudi.
Keheningan langsung menyambutnya.
Berbeda dengan hiruk-pikuk sekolah beberapa menit yang lalu.
Ia menyandarkan kepala pada sandaran kursi, mengembuskan napas panjang.
"Hari ini... gue bener-bener stress."
Pikirannya kembali melayang pada pertemuannya dengan Banson.
Tanpa disadari, sudut bibirnya terangkat tipis mengingat percakapan mereka di kantin.
Namun, senyum itu perlahan memudar.
"Kenapa semuanya beda sama adegan novel aslinya,harusnya yang ngomong sama banson sedekat itu, tuh Rara...?"
Dalam novel yang pernah ia baca, Banson bahkan tidak seharusnya berbicara dengannya.
Apalagi tertawa bersamanya.
Seharusnya mereka tetap menjadi orang asing.
Lalu mengapa sekarang semuanya berubah?
Malika menggeleng pelan.
"No... gue gak boleh terlena."
Ia menyalakan mesin mobil.
Raungan halus mesin memenuhi kabin yang sunyi.
Beberapa menit kemudian, mobilnya melaju meninggalkan lingkungan sekolah.
Sementara itu...
Di atas rooftop sekolah, seorang laki-laki berdiri dengan angkuh, satu tangnya memegang nikotin sementara satu tanganya yang lain ia masukan ke dalam saku.
Tatapannya mengikuti mobil Malika yang perlahan keluar dari gerbang hingga menghilang di tikungan jalan.
Ia tetap diam.
Tak lama kemudian, sebuah ponsel di saku celananya bergetar.
Laki-laki itu mengangkat panggilan tersebut.
"Ya."
Suara dari seberang terdengar samar.
"Sudah bertemu dengannya?"
Laki-laki itu tidak langsung menjawab.
Sorot matanya masih tertuju ke arah gerbang sekolah yang kini kosong.
"...Belum."
Jawabannya seadanya.
Sambungan telepon terputus.
Laki-laki itu memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.
"Malika..."
Ia menggumamkan nama itu nyaris tak terdengar.
Lalu berbalik meninggalkan ruangan.
_________
Saat ini Malika tengah selonjoran mamainkan Handphonenya sembari mengemil
Jemarinya asik menggulir media sosial.
Hingga akhirnya...
Ponselnya bergetar.
Sebuah notifikasi masuk.
Nomor tidak dikenal.
Kening Malika berkerut.
Perlahan ia membuka pesan itu.
Pesan itu berisi,"Kamu semakin cantik Sayang,apakah secepat itu kamu melupakanku?. "
Pengirim pesan itu tanpa nama.
foto profilnya kosong.
Jantung Malika berdetak lebih cepat.
Refleks ia menekan nomor tersebut.
"Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi."
Suara operator terdengar datar sebelum sambungan terputus.
Malika menatap layar ponselnya cukup lama.
Perasaannya mendadak tidak nyaman.
Terlalu kebetulan jika dikaitkan dengan apa yang sedang ia alami.
"Gue yakin ini cuman nomor iseng...?"gumamnya pelan.
tok... tok... tok
" Siapa?. "
"Saya non, bi Inah. "
"Oh bibi, masuk aja bi. "
Bi inah memasuki kamar malika, dengan kotak kecil berwarna hitam di tanganya.Di sertai secarik kertas yang diselipkan di bawahnya.
"Ini non ada yang ngirim pakat, katanya buat non Malika. " Tutur bi Inah.
Malika menatap nyalang Kotak itu, jangan bilang.....
"Kurirnya bilang dari siapa bi?"
Bi inah menggeleng kepanya"Enggak tau non.Bibi juga sempat tanya, tapi dia cuma bilang disuruh nganter."
Malika kembali menatap kotak itu.
Perasaannya mulai was-was.
Ia tidak pernah membeli apa pun secara daring dalam beberapa hari terakhir. Teman-temannya juga bukan tipe yang gemar memberi hadiah tanpa alasan.
Setelah memberi Malika kotak itu sang bibi pergi keluar melanjutkan pekerjaanya.
Malika menarik napas panjang.
Dengan hati-hati, ia membuka tutup kotak tersebut.
Di dalamnya terhampar bantalan beludru hitam.Tepat di tengahnya, cincin berlian tersemat rapi di atas bantalan.
Berlian itu tidak berukuran mencolok, tetapi potongannya begitu sempurna sehingga kilaunya tampak elegan.
Malika membeku.
Dengan hati-hati Malika mengangkat cincin tersebut.
Rasanya sedikit lebih berat daripada yang ia bayangkan.
Saat membalik bagian dalam lingkarannya, napasnya seketika tertahan.
Di sana terukir sangat rapi sebuah nama.
Malika.
"..."
Jantungnya berdetak semakin cepat.
"Kenapa... ada nama gue?"
Ini bukan cincin yang dibeli sembarangan.
Ukiran itu membuktikan bahwa seseorang sengaja memesannya khusus untuknya.
Seseorang yang mengenal namanya.
Namun...
Siapa?
"Jangan-jangan..."
"Ini ulahnya Secret admirernya Malika?. "
Perlahan ia menyelipkan cincin itu ke jari manis tangan kanannya.
Aneh.
Ukurannya pas.
Terlalu pas.
Seolah cincin itu memang dibuat khusus untuknya.
Malika sontak melepaskannya kembali.
"Tolong yakini gue kalau ini bukan kebetulan semata."
Ia menutup kotak itu rapat-rapat, lalu menyimpannya di laci meja belajar yang dapat dikunci.
"Kayanya mulai sekarang gue harus exstra hati-hati. "
_______
Fir you🌺
See u.