Tidak semua bidak catur bermimpi menjadi Raja. Yudi hanya ingin satu hal: bertahan hidup dan membangun wilayah kecilnya sendiri untuk kaum yang terbuang. Menjadi Pawn rendahan bagi Sona Sitri adalah langkah pertamanya. Dengan [Imperial Tiger Mantle] yang terikat di jiwanya, ia menahan auman sang harimau dan mengubahnya menjadi keheningan yang mencekik lawan.
update Harian 1 bab per harinya sambil menunggu keputusan kontrak., semoga berhasil ya, kalau udah fix dapet kontrak akan kembali normal. Kalau kelewat mungkin akan tambah satu bab di besoknya. semoga gak pernah terjadi dan kalian semua bisa terus membaca kisah ini dengan tenang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyudi0596, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9
Pintu kayu ganda berwarna cokelat gelap yang membatasi ruang klub OSIS dari lorong sayap barat terbuka dengan decitan pelan. Hembusan angin dingin berhembus dari pendingin ruangan di dalam, menyapu wajah Yudi dan Tsubaki saat mereka melangkah masuk.
Ruangan itu tampak luas, diterangi oleh cahaya matahari siang yang menembus jendela kaca berlapis tirai tipis. Aroma teh hitam yang diseduh dengan elegan menguar memenuhi sudut-sudut ruangan, menciptakan atmosfer yang sangat beradab, berbanding terbalik dengan kekacauan di kelas 2-B.
Begitu ujung sepatu Yudi melewati ambang pintu, pandangannya langsung disambut oleh sosok seorang gadis yang berdiri tepat di samping rak buku. Gadis itu memiliki postur tubuh yang atletis, dibalut seragam Akademi Kuoh yang rapi.
Ciri khas yang paling mencolok dari penampilannya adalah rambut biru mudanya yang dipotong pendek, dengan sebuah helaian kuning terang melintang asimetris di bagian poni kirinya. Ia memutar tubuhnya, menatap Tsubaki dan Yudi bergantian.
"Wah, Fukukaichou, akhirnya kau kembali," sapa gadis berambut biru itu dengan nada kasual namun tetap mempertahankan postur tegapnya. Ia melipat tangannya di dada.
Matanya menyipit, mengamati sosok pemuda yang berdiri canggung di belakang sang Wakil Ketua dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Oh, jadi... ini keluarga baru yang dimaksud oleh Sona Kaichou pagi tadi."
Tsubaki melangkah lebih jauh ke dalam ruangan, sepatu pantofelnya berketuk pelan di atas lantai kayu yang dipoles mengkilap. "Apa semuanya sudah berkumpul sesuai jadwal, Yura-san?" tanyanya datar.
Yura menurunkan tangannya dari dada. Tubuhnya sedikit membungkuk dalam sebuah gestur penghormatan ringan yang dilakukan secara refleks oleh bawahan terlatih. "Semuanya sudah berkumpul di area tengah bersama Kaichou. Rapat kecil sedang berlangsung," balas Yura dengan nada yang jauh lebih sopan.
Melihat interaksi tersebut, tubuh Yudi merespons secara otomatis. Ia merundukkan tubuhnya hingga membentuk sudut empat puluh lima derajat, memberikan penghormatan formal atas sambutan dari kakak kelas yang namanya baru saja ia dengar itu.
Setelah menahan posisi tersebut selama dua detik, Yudi kembali menegakkan tubuhnya, melirik Yura sekilas, lalu mengekor di belakang Tsubaki yang telah melangkah masuk lebih dalam.
Di bagian tengah ruangan yang luas, sebuah meja bundar besar dari kayu mahoni menjadi pusat aktivitas. Di sekeliling meja tersebut, duduk lima orang siswi cantik dengan berbagai warna rambut dan ukuran tubuh, serta seorang siswa laki-laki berambut pirang terang.
Lembaran-lembaran kertas yang memuat jadwal dan rencana acara sekolah tersebar rapi di atas meja. Di kursi ujung yang menguasai seluruh pandangan ruangan, duduk Sona Sitri, mengawasi tumpukan dokumen tersebut melalui kacamata berbingkai tipisnya.
"Oh, kau sudah sampai," suara Sona memecah fokus diskusi. Ia mengangkat wajahnya perlahan, melirik tajam ke arah pintu masuk, menangkap kedatangan Yudi dan Tsubaki. "Lama sekali proses penjemputanmu."
Mendengar suara Sona, seluruh anggota OSIS yang ada di meja tersebut menghentikan aktivitas mereka. Mata mereka secara serentak beralih menatap pemuda berpakaian berantakan yang berdiri di dekat pintu. Di antara semua tatapan tersebut, sepasang mata dari satu-satunya laki-laki di meja itu berkilat tajam.
Saji Genshirou, remaja berambut pirang dengan anting kecil di telinga kirinya, perlahan bangkit berdiri dari kursinya. Ia mendorong kursinya ke belakang hingga terdengar suara decitan kayu bergesekan dengan lantai. Senyum lebar seketika terkembang di wajahnya, memamerkan deretan giginya yang putih.
"Wah, senang sekali rasanya akhirnya aku punya sesama anggota laki-laki baru di kelompok ini!" seru Saji dengan nada yang terdengar sangat bersahabat dan antusias. Ia melangkah cepat menghampiri Yudi. Tanpa permisi, Saji mengangkat lengan kanannya dan merangkul leher Yudi dari samping, menarik pemuda itu sedikit merunduk agar bahu mereka sejajar.
Yudi membeku. Ia sama sekali tidak tahu bagaimana harus merespons rangkulan yang terlampau bersahabat dari orang asing ini. Kedua tangannya hanya menggantung kaku di sisi tubuhnya. Namun, keramahan itu ternyata hanyalah sebuah fasad tipis.
Begitu jarak bibir Saji berada sangat dekat dengan telinga Yudi, senyuman Saji tidak memudar, namun tekanan udara di sekitar mereka berdua berubah drastis.
"Dalam kelompok ini akulah bintangnya jadi jangan coba-coba menjadi terlalu bersinar mengerti. Jangan sok menjadi pusat perhatian di sini," bisik Saji. Suaranya terdengar sangat parau, berat, dan dipenuhi oleh aura pembunuh murni yang suhunya sedingin es beku. Nada suaranya berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat dengan senyum cerianya.
Seluruh pori-pori kulit Yudi seketika mengecil. Bulu roma di tengkuknya berdiri tegak. Sebuah hawa dingin menjalari tulang punggungnya, membuat otot-otot di bahunya menegang hingga urat lehernya menonjol. Matanya membelalak tak percaya menatap lantai, berusaha mencerna ancaman kematian yang baru saja dilontarkan dalam jarak setengah inci dari gendang telinganya.
Tanpa menunjukkan rasa dosa dan bersalah sedikit pun, Saji tiba-tiba melepaskan rangkulannya dan melompat mundur satu langkah, menjaga jarak dari Yudi. Ia menepuk-nepuk bahu Yudi dengan santai.
"Jadi, kuharap ke depannya kita berdua bisa akur, saling membantu, dan bekerja sama dengan baik ya, adik kelasku!" Saji berseru dengan suara lantang dan senyum riang yang menyilaukan mata, benar-benar berakting seperti senior yang sempurna di hadapan para gadis.
Yudi menelan ludahnya yang terasa seperti pasir. Rahangnya berkedut keras. Ia bergumam sangat pelan, nyaris tanpa suara, dengan kepala tertunduk, "Astaga... aku juga mana mau jadi pusat perhatian tahu, lebih menyenangkan menjadi figuran yang bisa hidup santai dan makan enak."
Sona yang mengamati interaksi singkat itu dari kursinya, mengetukkan ujung pena di atas meja. Bunyi ketukan itu seketika menarik kembali perhatian semua orang ke arah sang Ketua.
"Baiklah, semuanya, hentikan aktivitas kalian sejenak. Pria di sana itu adalah anggota peerage sekaligus rekan baru kalian yang baru saja bergabung semalam," Sona memberikan perintah dengan nada otoriter, menatap wajah bawahannya satu per satu. "Perkenalkan diri kalian masing-masing dengan singkat."
Saji kembali merapatkan tubuhnya, berdiri tegak di depan meja bundar. Ia membusungkan dadanya dengan penuh rasa bangga. "Namaku Genshirou Saji, siswa kelas 3-A," ucapnya dengan suara lantang dan keyakinan mutlak. Tangan kanannya menepuk dada kirinya dengan kuat.
"Dan aku adalah bidak Pawn dari keluarga Sona Sitri. Salam kenal, Kouhai-ku!" Saji mengakhiri kalimatnya dengan senyuman lebar. Namun, bagi Yudi yang bertatapan langsung dengannya, sorot mata Saji yang memicing menyiratkan sebilah pedang kebencian yang siap diayunkan kapan saja karena fakta tak terbantahkan bahwa ada pria lain yang kini memasuki wilayah kekuasaannya.
Dari kursi di seberang Saji, seorang gadis dengan rambut cokelat muda keputihan (cream) yang tergerai panjang melambai dengan anggun. Sebuah pita biru tersemat rapi di atas pucuk kepalanya. Matanya berbinar cerah menyambut Yudi.
"Namaku Reya Kusaka," ucap gadis itu dengan nada merdu. Ia berdiri dari kursinya dan sedikit membungkuk. "Aku berasal dari kelas 3-D. Dan posisiku di kelompok keluarga ini adalah sebagai seorang Bishop. Salam kenal ya, Kouhai-ku. Semoga betah."
Gadis di sebelah Reya mengangkat tangannya perlahan. Ia memiliki rambut seputih salju yang sangat kontras dengan seragam hitamnya. Postur tubuhnya sangat menarik perhatian, di mana bagian kancing kemejanya terlihat tertarik hingga batas maksimal akibat ukuran aset ganda di dadanya yang sangat memikat untuk diperhatikan lebih lama.
"Nama saya Momo Hanakai. Kebetulan saya satu kelas dengan Kusaka-san, kelas 3-D," ucap Momo dengan nada bicara yang sopan dan sedikit malu-malu. Ia menggunakan tangan kanannya menunjuk lurus ke arah Reya Kusaka. "Dan saya juga menempati posisi yang sama sepertinya, seorang Bishop. Salam kenal ya, Kouhai-ku."
"Lalu giliranku!" sahut gadis berambut cokelat pendek di sebelah Momo, melompat dari kursinya dengan gerakan yang sangat lincah. Tangannya seketika membentuk pose peace dengan huruf V menggunakan telunjuk dan jari tengah, lalu menempelkannya di sisi pelipis matanya. Ia mengerjapkan matanya satu kali, memamerkan senyum sumringah yang memperlihatkan deretan giginya. "Namaku Tomoe Meguri, hyawn!"
"...Hyawn?" beo Yudi secara refleks, alisnya terangkat sebelah, mengulangi suku kata aneh yang baru saja meluncur dari bibir kakak kelasnya tersebut.
Tomoe segera menurunkan tangannya. Rona merah tipis menjalar di kedua pipinya. Ia tertawa kikuk, menggaruk belakang telinganya. "Ah... maaf, maaf. Itu murni kebiasaanku. Aku bekerja paruh waktu di sebuah [Maid Cafe] setiap hari Selasa sampai Kamis. Frasa itu sebenarnya semacam fan-service rutin untuk menyambut para pelanggan yang datang, dan ternyata malah terbawa sampai ke kehidupan asliku sekarang," Tomoe terkikik geli membayangkan kesalahannya. "Hihi. Oh, ngomong-ngomong, aku berada di kelas 3-C. Salam kenal dan semoga ke depannya kita bisa menjadi akrab ya, Kouhai-ku! Posisiku di kelompok ini adalah sebagai seorang Knight."
Tiba-tiba, dari sela-sela tumpukan dokumen di seberang meja, sesosok gadis bertubuh mungil melangkah maju. Tubuhnya lebih pendek dari Yudi, rambut cokelatnya diikat dengan gaya twintail yang melambai-lambai saat ia bergerak.
Begitu ia menengadahkan wajahnya, mata beriris green emerald miliknya yang lebar memancarkan cahaya berbinar-binar. Sorot kepolosannya terasa begitu kuat hingga mampu meluluhkan ketegangan siapa pun yang menatapnya.
"Namaku Nimura Ruruko!" ucap gadis itu dengan suara melengking namun sangat jernih. Ia membungkuk dalam-dalam. "Salam kenal dan mohon kerja samanya ke depan, Senpai! Aku bertugas sebagai bidak Pawn di kelompok ini, sama seperti Saji-senpai."
Kelopak mata Yudi seketika melebar. Napasnya terhenti selama dua detik. Otaknya memproses visual dari gadis mungil berekspresi kelewat imut di depannya. Pertahanannya hancur seketika.
"Ruruko... jadilah adik angkatku sekarang juga," ucap Yudi secara spontan dan terang-terangan. Wajahnya dimajukan sedikit, kedua matanya membulat takjub seolah baru saja menemukan harta karun, sama sekali tidak mempedulikan fakta bahwa ia masih diawasi dengan ketat oleh Sona dan Tsubaki.