NovelToon NovelToon
Mama yang Terlupakan

Mama yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Anak Genius
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Lumisse

Genki Harto, pewaris tunggal konglomerat terkaya se-Asia, baru berusia tiga tahun. Tapi setiap malam, dia mengemas baju-baju kecilnya ke dalam buntalan kain usang dan berjalan keluar gerbang mansion.
"Genki mau cari Mama."
Tidak ada yang bisa menghentikannya — bukan pengawal, bukan pengasuh, bukan ayahnya sendiri, Rayhan Harto, CEO yang membuat seluruh dunia bisnis tunduk. Satu-satunya hal yang bisa membuat Genki berhenti menangis... adalah seorang perempuan biasa bernama Keira.
Keira Yanto. Anak angkat yang selalu dianggap rendah oleh keluarganya sendiri. Desainer muda yang terbiasa menelan kepahitan dalam diam. Perempuan yang tidak ingat apa yang terjadi padanya empat tahun lalu — satu tahun penuh yang lenyap dari ingatannya.
Tapi Genki tahu. Entah bagaimana, anak kecil itu tahu.
Dia menolak semua orang, kecuali Keira. Dia memeluk Keira seperti sudah mengenalnya seumur hidup. Dan saat Rayhan mulai menyelidiki masa lalu Keira yang hilang, kebenaran yang muncul jauh lebih mengerikan dari yang ia bayangkan:
Keira bukan siapa yang ia kira.
Genki bukan anak siapa yang semua orang sangka.
Dan orang-orang yang selama ini tersenyum di hadapan Keira... adalah dalang di balik segalanya.
"Kamu bilang aku cuma anak angkat? Lihat baik-baik siapa yang sebenarnya berdiri di depanmu."
Saat identitas asli Keira terungkap, dunia mereka semua akan terbalik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Bab 031

"Hari Minggu kamu kosong?"

Keira sedang memotong apel untuk Genki ketika Rayhan bertanya. Pisau kecil berhenti di atas talenan. Genki, yang duduk di kursi makan sambil menggambar kaki dinosaurus terlalu panjang, langsung mengangkat kepala.

"Ada apa hari Minggu?"

Rayhan duduk di seberangnya. "Mama dan Papa ingin bertemu kamu."

Potongan apel jatuh dari jari Keira.

Genki lebih cepat bereaksi daripada siapa pun. "Oma mau ketemu Kak Kei? Opa juga?"

"Iya."

"Genki ikut?"

"Tentu ikut."

Anak itu langsung menepuk meja. "Kalau Kak Kei takut, Genki pegang tangan."

Keira tertawa kecil, tetapi tawanya terlalu tipis. Ia mengambil lagi potongan apel dan menaruhnya di piring Genki. "Kak Kei tidak takut."

Rayhan menatapnya.

Keira bertahan dua detik, lalu menyerah. "Sedikit."

"Mereka bukan keluarga Yanto," kata Rayhan pelan.

Kalimat itu sederhana, tetapi membuat dada Keira seperti disentuh tepat di tempat yang lebam. Beberapa hari terakhir, Rayhan tidak banyak bercerita, namun ia tahu pria itu sedang menemukan sesuatu. Bukan hanya dari mata yang sering lelah. Dari cara Rayhan melihatnya, seperti setiap gerak kecil Keira punya sejarah yang ingin ia peluk diam-diam.

"Aku tahu," jawab Keira. "Tapi tubuhku belum tentu tahu."

Rayhan mengulurkan tangan melewati meja. Keira menatapnya, lalu meletakkan ujung jarinya di telapak Rayhan.

"Kalau kamu tidak siap, kita tunda."

Genki langsung protes. "Jangan tunda. Oma bikin kue."

"Genki," tegur Rayhan.

"Tapi Oma bikin kue enak."

Keira akhirnya tertawa lebih sungguh-sungguh. "Jadi alasan utama aku harus datang adalah kue?"

Genki berpikir sejenak. "Dan Oma baik. Opa juga baik, cuma mukanya suka serius seperti Papa kalau belum minum kopi."

"Deskripsi yang tajam," kata Rayhan datar.

Keira menutup mulut, menahan tawa.

Hari Minggu datang lebih cepat daripada keberanian Keira.

Mobil Rayhan memasuki halaman rumah lama keluarga Harto di Menteng menjelang pukul sepuluh pagi. Rumah itu tidak semegah vila modern dalam bayangan orang tentang konglomerat. Bangunannya luas, teduh, dengan jendela tinggi dan pohon mangga besar di sisi halaman. Ada wangi bunga melati dari pot dekat teras, bercampur aroma kue panggang yang keluar dari dalam rumah.

Keira duduk tegak di kursi belakang. Tangannya berkeringat dingin.

Genki duduk di sampingnya dengan kemeja kecil warna biru muda. Ia sudah membawa misi pribadi: memperkenalkan Kak Kei sebagai orang yang bisa membuat pancake bintang, bisa membaca buku sebelum tidur, dan tidak marah kalau lutut rusak.

"Kak Kei," bisik Genki serius, "kalau Oma tanya, bilang Genki anak baik."

"Memangnya Genki bukan anak baik?"

"Anak baik. Tapi perlu dikasih tahu."

Rayhan menahan senyum dari kursi depan. "Oma sudah tahu."

"Tetap perlu."

Mobil berhenti. Sebelum sopir sempat membuka pintu, seorang perempuan bergaun putih tulang sudah muncul di teras. Rambutnya disanggul rendah, wajahnya cerah, matanya langsung mencari Genki.

"Genki!"

"Oma!" Genki berteriak, lupa semua rencana dewasa, lalu hampir melompat keluar.

Rayhan turun lebih dulu, membantu Genki, lalu membuka pintu untuk Keira. Keira menjejakkan kaki di lantai teras dengan hati-hati. Ia merasakan tatapan perempuan itu beralih kepadanya.

Ini bagian yang selalu membuatnya kaku.

Di Rumah Yanto, tatapan orang tua selalu seperti pemeriksaan. Apakah ia cukup rapi. Apakah ia terlalu menonjol. Apakah ia membuat Kiara tidak nyaman. Apakah ia tahu diri.

Tetapi Mama Harto tidak melihatnya seperti itu.

Perempuan itu memandang Keira dengan rasa ingin tahu hangat yang tidak menusuk. Seperti seseorang yang melihat anak tamu datang pertama kali dan ingin memastikan ia tidak canggung.

"Keira, ya?" katanya.

Keira menunduk sopan. "Iya, Tante."

Mama Harto langsung menggeleng lembut. "Kalau masih canggung, panggil Tante dulu tidak apa-apa. Tapi di rumah ini, tidak perlu berdiri seperti mau sidang. Masuk, Nak. Kamu pasti belum sarapan benar."

Kata Nak membuat tenggorokan Keira tercekat.

Ia tidak tahu apakah Mama Harto mengatakannya kepada semua orang muda. Mungkin iya. Tetapi di telinganya, kata itu jatuh seperti selimut yang tidak ia minta namun sangat ia butuhkan.

Rayhan melihat perubahan kecil di wajahnya. Tangannya menyentuh punggung Keira sebentar, hanya cukup untuk mengingatkan bahwa ia ada.

Dari dalam rumah, suara laki-laki berat terdengar. "Yulia, jangan langsung membuat tamu bingung."

Papa Harto muncul dengan kemeja batik lengan pendek, kacamata tipis, dan koran yang masih terlipat di tangan. Wajahnya memang serius seperti kata Genki, tetapi ketika anak itu berlari memeluk kakinya, garis keras di wajahnya langsung patah.

"Opa, Genki bawa Kak Kei."

"Opa lihat."

Papa Harto menatap Keira. "Selamat datang, Keira."

"Terima kasih, Om."

"Di meja makan saja. Kalau berdiri di teras, nanti Yulia mengira saya menakuti kamu."

Mama Harto mendecak. "Kamu memang menakuti kalau diam begitu."

Genki mengangguk kuat. "Opa serius."

"Opa sedang menjaga wibawa."

"Wibawa bisa makan kue?"

Keira tidak bisa menahan tawa. Suara kecil itu keluar sebelum ia sempat menyembunyikannya. Semua orang menoleh kepadanya. Keira langsung kaku lagi, tetapi Mama Harto malah tersenyum lebar.

"Nah, begitu. Tertawa saja. Rumah ini terlalu sering diisi laki-laki sok penting."

"Mama," Rayhan menegur pelan.

"Apa? Benar, kan?"

Aiden muncul dari koridor dengan kaus santai dan rambut masih sedikit basah. "Saya datang sebagai saksi. Ko Ray paling sok penting nomor satu."

Rayhan menatapnya datar. "Kamu diundang?"

"Saya mencium aroma kue. Itu undangan universal."

Keira menunduk, tetapi senyumnya tetap ada.

Aiden langsung mengangkat dua tangan seperti menyerah. "Tenang, Keira. Di rumah ini aturan paling penting cuma satu. Kalau Mama Harto menyuruh tambah makan, jangan melawan di putaran pertama. Lawan di putaran ketiga."

"Aiden," Mama Harto menegur, tetapi matanya tertawa.

"Saya membantu tamu baru beradaptasi."

Papa Harto melipat korannya. "Kamu sendiri belum pernah berhasil beradaptasi."

Genki tertawa paling keras, lalu menggandeng tangan Keira lagi seolah ingin menunjukkan bahwa suara tawa di rumah ini aman. Keira merasakan bahunya turun sedikit demi sedikit.

Untuk pertama kali dalam waktu lama, perkenalan dengan keluarga tidak terasa seperti ujian yang harus ia luluskan agar tidak dibuang. Rasanya lebih seperti pintu yang dibuka dari dalam, lalu seseorang berkata masuklah sebelum makanannya dingin.

Namun ketika ia melangkah melewati ambang rumah, ponsel Rayhan bergetar.

Gio: Tim menemukan nama pengantar donasi panti. Bukan Yanto langsung. Rekening perantara terhubung ke orang lama di Bogor.

Rayhan membaca pesan itu sekilas, lalu mengunci layar.

Hari ini milik Keira.

Ia tidak akan membiarkan bayangan Yanto masuk lebih dulu daripada sambutan Mama Harto.

"Kei," panggilnya.

Keira menoleh.

Rayhan tersenyum tipis dan menawarkan tangan. "Masuk?"

Keira melihat tangan itu, lalu rumah yang harum kue, lalu Genki yang sudah menarik ujung bajunya.

"Ayo, Kak Kei. Oma sudah tunggu."

Keira menggenggam tangan Rayhan.

Di rumah yang bukan miliknya, untuk pertama kalinya ia tidak merasa sedang menumpang.

1
Diana Silaen
👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!