Ning terbangun di ranjang rumah sakit dengan tubuh yang bukan miliknya.
Perutnya rata. Bayinya hilang. Dan tahun di kalender menunjukkan angka yang mustahil — enam belas tahun telah berlalu sejak malam kecelakaan yang merenggut nyawanya.
Tapi anaknya masih hidup.
Kian Nie, 16 tahun. Pewaris tunggal Semesta Group. Remaja berambut perak dengan tatapan sedingin es — yang langsung mengusirnya begitu mendengar namanya.
Karena nama Ning... adalah nama mendiang ibunya.
Ning tahu ia tidak bisa mengaku. Tidak kepada Kian yang masih memendam luka ditinggal ibunya. Tidak kepada Kevin Nie — suami lamanya yang kini menjadi CEO paling berkuasa di Jakarta, yang masih memakai cincin pernikahan mereka setelah enam belas tahun, yang masih menonton video terakhirnya setiap malam sebelum tidur.
Yang tidak Ning tahu: Kevin sudah mengenalinya. Matanya, caranya tertawa, kebiasaannya yang tak mungkin dipelajari orang lain.
Dan ia akan melakukan apapun untuk tidak kehilangan Ning — untuk kedua kalinya.
Pernikahan kilat. Identitas yang tersembunyi. Seorang anak yang diam-diam memanggil "Mama" saat mengira ia tidur. Dan satu keluarga yang bersekongkol menjaga rahasia terbesar mereka — bahwa ibu tiri baru Kian... bukan ibu tiri biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Bab 3: Nama yang Terlarang
Pintu besar itu terasa terlalu tinggi untuk diketuk.
Ning berdiri di depannya, menatap panel kayu gelap yang dipoles sampai memantulkan bayangan samar wajahnya. Di belakangnya, jalan Menteng Enclave sunyi. Tidak ada suara tetangga bertengkar, tidak ada motor lewat terlalu dekat, tidak ada bau selokan seperti di gang kontrakannya. Hanya aroma rumput basah, bunga putih di taman, dan udara dingin dari rumah besar yang bahkan belum ia masuki.
Di dalam sana ada Kian.
Anaknya.
Ning mengangkat tangan, tetapi jarinya berhenti di udara.
Bagaimana kalau ia tidak mirip bayi yang dulu ia bayangkan? Bagaimana kalau ia sakit? Bagaimana kalau ia bahagia tanpa dirinya? Bagaimana kalau ia membencinya karena meninggal terlalu cepat?
Belum sempat ia menemukan keberanian, pintu itu terbuka dari dalam.
Seorang remaja laki-laki muncul dengan hoodie abu-abu dan rambut hitam acak-acakan. Wajahnya cerah, matanya hidup, dan mulutnya sudah terbuka sebelum Ning sempat bicara.
"Oh! Tutor baru?" katanya cepat. "Akhirnya datang juga. Aku kira kabur duluan setelah baca alamat rumah ini. Masuk, Ci, masuk. Jangan berdiri di luar, nanti security mikir aku nyulik orang."
Ning terdiam setengah detik.
Ini bukan Kian.
Kekecewaan kecil menusuknya, lalu langsung ia tekan. Anak ini terlalu ekspresif, terlalu hangat, terlalu berbeda dari garis wajah Kevin yang ia cari mati-matian sejak turun dari ojol.
"Saya Ning," ucapnya pelan. "Tutor yang dihubungi Mbak Rina."
"Felix." Remaja itu menunjuk dirinya sendiri dengan ibu jari. "Teman korban utama malam ini."
"Korban?"
"Kian." Felix menoleh ke dalam rumah sambil menaikkan suara. "Bro! Tutornya datang! Jangan pura-pura mati di kamar!"
Nama itu membuat darah Ning mengalir lebih cepat.
Ia melangkah masuk.
Ruang depan rumah itu luas dan dingin. Lantai marmernya begitu bersih sampai suara sepatu murah Ning terdengar terlalu jelas. Di sisi kiri ada ruang tamu dengan sofa besar warna abu-abu, di sisi kanan tangga melengkung menuju lantai dua. Lampu gantung memantulkan cahaya ke dinding putih, terlalu indah, terlalu mahal, terlalu jauh dari kamar kontrakan enam meter persegi yang baru ia tinggalkan.
Felix berjalan di depannya tanpa beban. "Santai aja, Ci. Kian memang mukanya galak, tapi biasanya dia cuma galak lima menit pertama. Setelah itu tetap galak sih, cuma kita sudah kebal."
Ning hampir tidak mendengar.
Matanya terpaku pada tangga.
Ada langkah kaki dari atas.
Satu per satu.
Lambat.
Kemudian seorang remaja laki-laki muncul di puncak tangga.
Dunia Ning berhenti.
Rambutnya perak pucat, jatuh berantakan di atas dahi. Tubuhnya tinggi, jauh lebih tinggi dari yang bisa Ning bayangkan untuk seorang bayi yang pernah ia lindungi dalam rahim. Bahunya sudah lebar. Wajahnya tajam, garis rahang, batang hidung, cara ia menatap turun dari tangga, semuanya seperti Kevin.
Tapi matanya...
Ning mencengkeram tali tas selempangnya.
Di sudut mata itu ada dirinya.
Ada bayangan kecil Ning yang dulu, sebelum kecelakaan, sebelum darah dan lampu operasi, sebelum enam belas tahun mencuri seluruh masa kecil anaknya.
Kian menuruni tangga tanpa tergesa. Ia memakai kaus hitam dan celana jogger, satu tangan masuk ke saku. Tatapannya menyapu Ning dari kepala sampai kaki. Dingin. Tidak tertarik. Sedikit terganggu.
"Ini?" tanyanya pada Felix.
"Iya. Tutor baru. Katanya bisa bantu tugas bahasa sama seni. Siapa tahu aura intelektualnya bisa menyelamatkan nilai lo yang bentuknya sudah kayak crypto jatuh."
"Berisik."
"Aku jujur, bro."
Kian berhenti beberapa langkah di depan Ning. Jarak mereka hanya dua meter, tetapi bagi Ning rasanya seperti dipisahkan enam belas tahun yang tidak bisa ia lewati.
Ia ingin menyentuh wajah itu.
Ingin memeluknya.
Ingin berkata, Mama pulang.
Tapi yang keluar dari mulutnya hanya napas yang terlalu pelan.
Felix menyikut udara di sampingnya. "Ci, silakan perkenalan. Kalau dia diam saja, anggap itu bentuk keramahan versi Kian."
Ning memaksa dirinya tersenyum.
"Halo." Suaranya bergetar sedikit. Ia cepat menahannya. "Saya Ning. Ning Tju. Mulai malam ini saya akan menjadi tutor privat kamu."
Perubahan itu terjadi begitu cepat.
Wajah Kian yang tadi hanya dingin mendadak membeku. Matanya naik, menatap Ning tepat di wajah. Seluruh udara di ruang depan seperti ikut berhenti.
Felix yang tadinya hendak bercanda ikut diam.
"Nama kamu apa?" tanya Kian.
Ning merasakan sesuatu yang buruk mendekat. "Ning."
"Nama lengkap."
"Ning Tju."
Kian tertawa pendek.
Tidak ada humor di dalamnya.
"Lucu."
Ning menelan ludah. "Apa ada masalah?"
Kian melangkah turun satu anak tangga terakhir. Tubuhnya yang tinggi membuat Ning harus sedikit mendongak. Di wajahnya, kemarahan bergerak pelan, seperti api yang baru menemukan udara.
"Siapa yang suruh kamu pakai nama itu?"
Pertanyaan itu menghantam lebih keras daripada bentakan.
Ning menatapnya. "Itu nama saya."
"Jangan bohong."
"Saya tidak bohong."
"Semua orang bisa bikin cerita." Suara Kian turun rendah. "Tutor sebelumnya datang bawa sertifikat palsu. Yang sebelum itu sok paham hidup gue. Sekarang ada orang datang pakai nama orang mati?"
Jantung Ning seperti diremas.
Orang mati.
Ia tahu Kian membicarakan dirinya. Dirinya yang dulu. Ibu yang tidak pernah sempat menggendongnya. Ibu yang hanya hidup dalam foto, cerita orang lain, dan mungkin luka yang tidak pernah sembuh.
"Kian," Felix berkata hati-hati. "Bro, mungkin cuma kebetulan."
"Diam, Felix."
Felix langsung menutup mulut, tetapi wajahnya tidak nyaman.
Ning menarik napas pelan. "Saya mengerti kalau nama ini membuat kamu tidak nyaman. Tapi saya benar-benar dikirim oleh Mbak Rina. Kalau malam ini kamu belum siap belajar, saya bisa datang lagi besok."
"Tidak perlu."
Kian menatapnya tanpa berkedip.
"Keluar."
Satu kata.
Namun kata itu membuat lutut Ning hampir kehilangan tenaga.
Felix mengusap tengkuk. "Kian, gila, dia baru datang. Minimal kasih minum dulu kek."
"Aku bilang keluar."
"Bro..."
"Felix."
Nada Kian membuat Felix berhenti. Untuk pertama kalinya sejak membuka pintu, remaja itu tampak benar-benar bingung harus berpihak ke mana.
Ning berdiri diam. Di depan matanya, anaknya sudah setinggi itu. Sudah bisa marah dengan suara yang mirip Kevin. Sudah punya luka yang bahkan Ning tidak tahu cara menyentuhnya.
"Boleh saya tahu kenapa?" tanya Ning pelan.
Kian menegang. "Tidak."
"Kalau saya melakukan kesalahan..."
"Kesalahan kamu datang ke sini."
Ning menggigit bibir.
Ia seharusnya pergi. Ia hanya tutor asing. Ia tidak punya hak memaksa. Ia tidak punya bukti yang bisa dibuka malam ini tanpa menghancurkan akal sehat siapa pun.
Tapi kakinya tidak mau bergerak.
Kian mengalihkan wajah, seolah melihatnya lebih lama akan membuatnya semakin marah. "Felix, urus."
"Hah? Aku?"
"Bayar dia. Suruh pulang."
Felix membuka mulut, menutupnya lagi, lalu mengeluarkan ponsel. Ia menatap Ning dengan wajah serba salah.
"Ci Ning, maaf banget ya. Kian kalau lagi mode begini memang susah. Bukan personal. Maksudku, mungkin personal juga, tapi bukan salah Ci."
Ning tidak tahu harus tersenyum atau menangis.
"Tidak apa-apa."
"Boleh nomor rekening? Atau e-wallet? Aku transfer uang datangnya."
"Tidak perlu."
"Perlu." Kian bicara dari samping, suaranya dingin. "Aku tidak mau punya utang."
Ning menoleh padanya. "Saya datang bukan untuk uang."
Kian balas menatapnya. Untuk sepersekian detik, ada sesuatu yang pecah di balik matanya. Bukan hanya marah. Ada takut. Ada sakit. Ada anak kecil yang tiba-tiba kehilangan pegangan karena sebuah nama.
Lalu semua itu tertutup lagi.
"Semua orang bilang begitu sebelum menyebut harga."
Felix menghela napas. "Ci, kasih aja. Kalau enggak, drama season dua mulai."
Dengan tangan gemetar, Ning menyebut nomor rekening yang muncul dari ingatan tubuh ini. Felix mengetik cepat. Tidak sampai sepuluh detik, ponsel Ning bergetar.
Transfer masuk: Rp 7.500.000.
Jumlah itu membuat Ning mematung.
Di kontrakan, uang sebanyak itu bisa membayar sewa beberapa bulan, makan, obat, dan cicilan kecil yang menjerat tubuh ini. Di rumah ini, angka itu dipakai untuk mengusir seorang tutor sebelum sempat duduk.
Kian melihat notifikasi itu sekilas. "Sudah. Keluar."
Ning menatapnya.
Ia ingin berkata banyak.
Kamu dulu menendang perut Mama setiap malam.
Kamu selamat.
Mama mencarimu begitu membuka mata.
Tapi yang ia lakukan hanya menunduk sedikit.
"Baik," ucapnya.
Felix mengantar Ning sampai pintu dengan langkah tidak tenang.
"Ci Ning, maaf. Serius. Dia..." Felix menoleh ke belakang, memastikan Kian tidak mendengar, lalu mengecilkan suara. "Nama itu sensitif banget. Mamanya Kian namanya Ning. Beliau meninggal waktu melahirkan Kian. Jadi kalau dia kasar, bukan karena Ci jelek atau gimana. Dia cuma..."
Felix berhenti, tampak menyesal sudah bicara terlalu banyak.
Ning merasakan pandangannya buram.
"Dia cuma merindukan ibunya," lanjut Felix akhirnya, lebih pelan.
Kalimat itu hampir membuat Ning roboh.
Ia menggenggam bingkai pintu.
"Terima kasih sudah memberitahu saya."
Felix mengangguk canggung. "Aku doain bisa ketemu lagi di kondisi yang lebih normal. Walau jujur, normal dan Kian agak jarang satu paket."
Ning memaksakan senyum kecil. "Jaga dia baik-baik, ya."
Felix berkedip, mungkin heran pada kalimat itu.
Pintu tertutup.
Ning berdiri di teras beberapa detik, lalu turun ke taman kecil di samping rumah. Udara malam dingin menempel di kulitnya. Dari balik jendela kaca besar, ia bisa melihat ruang depan yang terang.
Kian masih berdiri di sana.
Felix bicara sesuatu, tangannya bergerak cepat, mungkin mencoba bercanda. Kian tidak menanggapi. Ia hanya membalikkan badan, menjauh dari pintu, lalu berhenti di dekat tangga.
Bahu anak itu bergetar sangat pelan.
Ning menutup mulut dengan tangan.
Anaknya menangis tanpa suara.
Selama enam belas tahun, siapa yang memeluknya saat ia seperti ini? Siapa yang menghapus air matanya saat ia pura-pura tidak butuh siapa pun? Siapa yang memberitahunya bahwa ia tidak lahir dengan membawa kematian ibunya sebagai dosa?
Ning tidak bisa masuk kembali.
Ia tidak punya hak.
Belum.
Ia mencari sesuatu di tasnya. Hanya ada struk rumah sakit, tisu, dan pulpen murah dari meja administrasi. Ia merobek bagian belakang struk yang masih kosong, lalu menulis nomor ponselnya dengan tangan bergetar.
Di bawah nomor itu, ia menulis satu kalimat pendek.
Kalau suatu hari kamu butuh seseorang untuk mendengar, saya akan datang.
Ning menatap tulisan itu lama. Lalu ia melipat kertas kecil itu, kembali ke pintu, dan menyelipkannya ke celah bawah pintu dengan hati-hati.
"Mama tidak akan memaksa," bisiknya sangat pelan. "Tapi Mama tidak akan pergi lagi."
Ia berbalik sebelum air matanya jatuh lebih banyak.
Jalan keluar Menteng Enclave terasa lebih panjang daripada saat ia masuk. Uang tujuh juta lima ratus ribu rupiah ada di rekeningnya, tetapi ia merasa lebih miskin daripada sebelumnya. Karena malam ini ia akhirnya melihat anaknya, menyentuh jarak dua meter darinya, lalu diusir oleh luka yang ia tinggalkan tanpa sengaja.
Di dekat gerbang, Ning menghapus pipinya dengan punggung tangan.
Sebuah mobil hitam melambat dari arah luar.
Alphard.
Lampu depannya menyapu jalan basah. Kaca jendela belakang turun setengah, mungkin karena pengemudi sedang bicara dengan petugas keamanan. Dari celah itu, Ning melihat sisi wajah seorang pria.
Rahang tegas.
Hidung tinggi.
Mata dingin yang pernah melembut setiap kali menatapnya.
Ning berhenti bernapas.
Mobil itu bergerak pelan melewatinya menuju rumah nomor satu.
Sebelum kaca kembali naik, cahaya lampu jalan jatuh tepat di wajah pria itu.
Kevin.
dan sekarang kata-kata itu dipakai si Abang kalau antar aku ketemu bestieku... buah jatoh sepohon-pohonnya