Namanya Anya Dia baru pindah ke rumah kontrakan lama di riau. Murah banget sewanya. Cuma ada 1 yang aneh: cermin gede di kamar.
Malam pertama, Anya iseng selfie depan cermin jam 12 malam. Pas diliat hasilnya... di foto dia senyum. Tapi di pantulan cermin, dia nunduk.
Dia kira cuma efek cahaya. Besoknya dia dandan buat kerja. Ngaca biasa.
Tiba-tiba lampu kedip. Pas nyala lagi, di cermin dia udah nunduk duluan. Padahal Sari masih natap cermin....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon glaze dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 3
Setelah Pak Arif pulang, keduanya memutuskan untuk istirahat sejenak dan menyantap makanan tersebut. Di sela-sela suapan, Anya menyempatkan diri mengecek ponselnya. Ada sebuah pesan singkat dari kakaknya, Aryan.
“Dek, Ibu nanyain kok belum telepon jam segini? Kamu lembur ya? Jangan lupa makan, awas kalau pulang-pulang jadi kurus, nanti Ibu nyalahin bapak sama aku lagi.”
Anya tertawa kecil membaca pesan itu. Ia langsung mengetik balasan: “Iya Kak, lagi lembur dikit nih. Ini lagi makan dibelikan bos. Bilang Ibu, Anya aman dan sehat walafiat!”
Melihat Anya tersenyum menatap ponselnya, Serra bertanya, "Dari pacar ya, Nya?"
"Bukan," jawab Anya sambil menggeleng."ne dari Kak Aryan, kakak laki-lakiku. Dia sama Ibu suka heboh kalau aku telat ngasih kabar."
"Seru ya punya saudara kandung," ucap Serra, senyumnya sedikit meredup. "Aku anak tunggal, jadi kalau di rumah ya sepi banget. Makanya aku senang pas kau pindah ke sini, berasa punya adik."
Anya menyentuh lengan Serra lembut. "Sekarang kan ada aku, Ser. Di kantor atau di luar kantor, anggap aja aku adikmu sendiri."
Serra kembali tersenyum cerah. "Siap, Adikku! Yuk, habisin makannya, biar kita bisa babat habis sisa laporan ini!"
Hari Penyerahan. Hari yang ditentukan pun tiba. Tepat pukul dua siang, Anya dan Serra berdiri di dalam ruang rapat bersama Pak Arif untuk melakukan video conference dengan jajaran direksi kantor pusat. Anya ditugaskan untuk mempresentasikan bagian analisis data logistik yang ia kerjakan.
Meski jantungnya berdegup kencang saat giliran bicaranya tiba, Anya mengingat pesan bapaknya: "Kerja yang baik, jangan maksakan diri, tapi lakukan dengan bangga."
Anya menarik napas dalam-dalam, lalu memaparkan data dengan suara yang tenang, jelas, dan terstruktur. Semua pertanyaan dari kantor pusat berhasil ia dan Serra jawab dengan baik berkat persiapan matang mereka.
Ketika layar monitor mati tanda rapat telah selesai, Pak Arif langsung berdiri dan bertepuk tangan.
"Kerja bagus, kalian berdua! Kantor pusat sangat puas dengan detail laporan kita. Proyek pertama kita sukses besar!" puji Pak Arif dengan senyum lebar.
Serra langsung memeluk Anya erat. "Kita berhasil, Nya! Kamu keren banget tadi pas presentasi!"
"Kamu yang lebih keren, Ser. Tanpa bimbinganmu, aku enggak bakal bisa," balas Anya, matanya berkaca-kaca karena lega dan bahagia.
Sore itu, Anya pulang ke kosan dengan langkah yang jauh lebih ringan. Rasa lelah selama tiga hari berturut-turut seolah menguap begitu saja. Sesampainya di kos, ia melihat Bu Mimi sedang duduk di beranda.
"Berita baik?" tanya Bu Mimi.
"Iya, Bu. Tugas besar pertama Anya di kantor baru saja selesai dengan lancar," jawab Anya dengan senyum paling manis yang ia miliki.
"Alhamdulillah. Nah, karena tugasmu selesai, kebetulan besok kan hari Sabtu, besok malam ada pasar malam di dekat alun-alun kota. Kamu harus pergi menyegarkan pikiran. Ajak Anak kos yang lain juga bisa," usul Bu Mimi.
Anya berpikir sejenak. Menjelajahi kota baru di akhir pekan sepertinya bukan ide yang buruk. Ia sudah tidak sabar untuk menceritakan keberhasilannya hari ini kepada ayah, ibu, dan kakak-kakaknya nanti malam, sekaligus merencanakan akhir pekan pertamanya di kota ini.
Malam itu, setelah menceritakan keberhasilan presentasinya lewat video call yang penuh tawa bersama bapak, ibu, Aryan, dan Revi, Anya tidur dengan sangat nyenyak. Keesokan harinya adalah hari Sabtu. Untuk pertama kalinya sejak pindah, Anya bisa menikmati bangun pagi tanpa terburu-buru menyetrika baju kerja.
Sesuai saran Bu Mimi, Anya berniat mengunjungi pasar malam di alun-alun kota nanti malam. Ia sudah mengirim pesan kepada Serra, namun Serra ternyata harus menghadiri acara keluarga yang tidak bisa ditinggalkan.
"Maaf banget ya, Nya! Padahal aku pengen banget nemenin kamu berburu jajanan. Tapi aku ada urusan lain. coba ajak anak-anak kos. mana tau mereka mau!" tulis Serra di pesan WhatsApp-nya.
Awalnya Anya ragu. Ia adalah tipe orang yang sungkan untuk memulai percakapan dengan orang baru. Namun, sore harinya saat ia turun ke lantai bawah untuk mengambil air minum, ia melihat dua perempuan seumurannya sedang duduk di ruang tengah sambil menonton televisi.
Bu Mimi yang kebetulan lewat langsung menyapa, "Eh, Anya. Sini bergabung. Nah, kebetulan kalian berkumpul, ini Anya, anak baru di kantor cabang yang kemarin ibu ceritakan." Bu Mimi kemudian beralih ke Anya, "Anya, ini Wulan, yang kuliah di jurusan komunikasi, dan yang ini Tari, dia kerja di bank dekat sini. Nah yang ne Tio, keponakan ibu yang lagi kuliah juga."
Dinda yang berambut pendek langsung melambaikan tangan dengan ceria. "Hai Anya! Wah, akhirnya ketemu. Kemarin-kemarin kita cuma lihat kamu berangkat pagi pulang malam terus."
Tari ikut tersenyum ramah. "Iya, kelihatan sibuk banget. Salam kenal ya."
Rasa canggung Anya langsung mencair melihat sambutan hangat mereka. "Salam kenal Dinda, Tari, Tio. Iya kemarin sempat kejar deadline proyek kantor."
Oh ya, Anya," sela Bu Mimi sambil tersenyum penuh arti. "Kemarin kan ibu bilang ada pasar malam di alun-alun. Dinda sama Tari juga rencananya mau ke sana nanti malam. Kalian berangkat bareng aja. gimana?"
Wulan langsung semangat. "Wah, serius? Kebetulan banget! Kau mau bareng kita, Nya? Kita mau berburu telur gulung sama naik bianglala!"
Anya tertegun, namun senyum tulus dari Dinda dan Tari membuatnya langsung mengangguk. "Boleh, aku mau ikut. Kebetulan belum pernah keliling kota ini juga."
Suasana sore di ruang tengah kosan Bu Mimi langsung berubah heboh setelah rencana ke pasar malam disepakati. Tari yang berambut pendek, Wulan yang ekspresif tampak bersemangat memikirkan jajanan apa saja yang akan mereka buru. Sementara itu, Tio hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan teman-teman kosnya, walau ia akhirnya bersedia ikut menjadi "pengawal" sekalian sopir dadakan.
atau Anya kerja sambil kuliah thor?