Zhang Lin dikenal sebagai "Dewa Pedang" dari Dinasti Yin; ketika dia sedang menjalankan sebuah misi, dia tiba-tiba dihadapkan dengan sebuah pengkhianatan dari negerinya sendiri hingga membuatnya meregang nyawa.
Namun, bukannya langsung meninggal dan pindah ke alam baka—Zhang Lin justru mendapatkan kesempatan kedua untuk kembali hidup di dunia modern yang di mana semua orang hidup dengan cara yang cepat.
Di dunia modern, Zhang Lin bertemu dengan Li Na—seorang asisten editor di salah satu penerbit besar.
Kehidupan kerja Li Na begitu berat, dan sejak kecil dia telah terkenal karena nasib buruknya; namun, ketika bersama dengan Zhang Lin, nasib buruk itu berganti dengan keberuntungan—namun, keberuntungan itu datang bersamaan dengan bayangan kematian yang mengintainya dan Zhang Lin dari kejauhan.
...
Untuk mendapatkan update ilustrasi karakter, bisa follow akun sosmed author, ya!
FB : Refinawriters
IG : Refinawriters_
TT :refinawriters
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R. Seftia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memanjakan Zhang Lin
Tidak tahu kenapa tetapi bayangan tentang penglihatan masa depan itu benar-benar sangat membebani pikiran Zhang Lin; sebenarnya ia tidak ingin mempercayai hal tersebut, tetapi setelah dipikir-pikir lagi tampaknya hal itu mungkin benar-benar akan terjadi, karena sejak zaman Dinasti Yin pun, ada beberapa tokoh yang bisa mendapatkan penglihatan masa depan.
"Siapa wanita itu?"
Ketika Zhang Lin sedang berusaha untuk berpikir sendiri, tiba-tiba...
"Wanita yang mana?" tanya Li Na yang tiba-tiba saja datang entah dari mana, tetapi sudah duduk di samping Zhang Lin untuk menonton film di tengah malam.
Saat itu, Zhang Lin tidak mungkin memberitahu kepada Li Na tentang kekhawatiran yang ia rasakan, karena biar bagaimana pun, Li Na tidak akan bisa membantu dirinya. Dan takutnya, hal itu hanya akan membahayakannya saja. Dan Zhang Lin tidak ingin jika sampai hal itu terjadi.
"Bukan apa-apa. Dan kenapa kamu belum tidur?" tanya Zhang Lin kepada Li Na.
"Aku tidak bisa tidur karena aku terlalu pusing memikirkan tentang pekerjaan. Dan kamu sendiri? Kenapa kamu tidak tidur dan duduk di sini?" Li Na balik bertanya.
"Aku tidak bisa tidur karena Lin Yi terus saja mendengkur. Itu benar-benar mengganggu. Dan tampaknya malam ini aku akan tidur di sini saja," jawab Zhang Lin.
Mendengar keluhan Zhang Lin, saat itu juga Li Na langsung ingin menghampiri Lin Yi dan melakban mulut Lin Yi agar tidak mengacau tidur Zhang Lin. Karena biar bagaimana pun juga, Li Na benar-benar berterima kasih kepada Zhang Lin karena telah memberikan banyak uang kepada Li Na.
"Tidak, Li Na. Kamu tidak perlu melakukan itu. Aku baik-baik saja. Dan tolong jangan siksa Lin Yi seperti itu. Aku tidak papa jika harus tidur di sini," ujar Zhang Lin.
"Kamu yakin?"
"Iya, yakin."
"Kalau begitu, baiklah. Dan ngomong-ngomong, sebaiknya aku tidur sekarang. Besok aku harus ikut meeting penting, dan mungkin juga aku tidak bisa mengantar kamu pergi bekerja. Kamu tidak papa kan pergi sendiri?"
Zhang Lin menganggukkan kepalanya. Walaupun sebenarnya saat itu ia bingung harus pergi ke tempat kerja bagaimana karena Li Na tidak bisa mengantarnya... tetap saja Zhang Lin tidak ingin menyusahkan Li Na, terlebih lagi saat wanita itu mengatakan jika dia harus pergi rapat pagi-pagi sekali.
...
Pagi berikutnya, Zhang Lin memakai pakaian rapi dan kemudian langsung pergi bekerja tanpa merepotkan Li Na. Dengan berbekalkan bantuan dari ponsel pintarnya, Zhang Lin berangkat dengan menggunakan bis, lalu kemudian baru menggunakan taksi dan akhirnya ia sampai tepat waktu.
Walaupun ia sampai tepat waktu, tetapi Bai Feng sudah datang jauh lebih cepat dibandingkan dengan dirinya.
"Cepat sekali kamu sampai. Dari jam berapa kamu di sini?" tanya Zhang Lin, berusaha untuk akrab dengan pria itu, karena biar bagaimana pun juga, Zhang Lin harus bekerja dengannya untuk beberapa waktu ke depan.
"Aku tidak terbiasa datang terlambat. Dan sejak kecil, aku selalu diajarkan untuk tepat waktu," jawabnya layaknya seorang robot.
Saat mendengar jawaban dari Bai Feng, Zhang Lin bisa langsung menyadari jika ia tidak akan bisa menyukai Bai Feng untuk ke depannya. Pria itu benar-benar bukan tipe pria yang mudah untuk diajak berteman!
Karena merasa jika pria itu bukan pria yang mudah untuk diajak berteman, Zhang Lin langsung menjaga jarak darinya. Tidak ingin berada terlalu dekat dengannya.
Suasana tiba-tiba saja sunyi di antara Zhang Lin dan Bai Feng. Dan kesunyian itu bertahan cukup lama hingga tiba-tiba suara pintu terbuka langsung mencairkan suasana.
Ah Yin muncul. Namun, ada yang berbeda pagi ini. Separuh wajahnya tertutup masker kain berwarna putih, menyisakan sepasang matanya yang indah.
Dia berjalan mendekat ke arah Zhang Lin dengan langkah yang sengaja ia percepat, melewati Bai Feng begitu saja tanpa melirik sedikit pun.
"Selamat pagi, Zhang Lin," sapanya lembut.
Zhang Lin tertegun. Ia sadar betul mengapa Ah Yin memakai masker. "Nona... Anda tidak perlu melakukan ini. Anda tidak perlu menyembunyikan wajah Anda hanya karena saya."
Ah Yin tersenyum di balik maskernya, matanya menyipit membentuk bulan sabit. "Tidak apa-apa. Aku ingat apa yang kamu katakan kemarin. Jika wajah ini membuatmu tidak nyaman, aku akan menutupinya sampai kamu terbiasa.
Zhang Lin hanya bisa terdiam. Ia tidak menyangka wanita bangsawan ini begitu perhatian. Di sisi lain, Bai Feng yang berdiri tegak seperti patung di dekat mereka tampak jelas menahan kesal. Ia merasa diabaikan total.
"Nona, hari ini jadwal Anda adalah kunjungan ke mal pusat kota untuk menghadiri acara amal dan belanja bulanan. Mobil sudah siap," ucap Bai Feng dengan nada kaku, berusaha merebut kembali perhatian sang majikan.
Ah Yin melirik Bai Feng sekilas dengan tatapan datar, lalu kembali menatap Zhang Lin dengan antusias. "Zhang Lin, nanti kamu temani aku memilih baju, ya. Kamu yang harus memberikan pendapat. Bai Feng, kamu cukup pastikan area di sekitar kita steril."
"Baik, Nona," jawab Bai Feng singkat.
...
Di mall mewah itu, Zhang Lin berjalan di samping Ah Yin.
Ah Yin sangat santai, mengabaikan tatapan orang-orang di sekitar yang heran melihat putri keluarga bangsawan berjalan dengan pengawal yang terlihat sangat... "tidak biasa."
Mereka masuk ke sebuah butik pakaian pria berkelas internasional. Ah Yin langsung menarik lengan baju Zhang Lin, membawanya ke rak setelan jas mahal.
"Ini," Ah Yin menunjuk sebuah setelan jas hitam dengan potongan yang sangat elegan. "Coba ini."
"Nona, ini terlalu berlebihan."
"Tolong, Zhang Lin. Anggap saja ini seragam resmi dariku. Kamu harus terlihat pantas," desak Ah Yin.
Sementara Zhang Lin terpaksa masuk ke ruang ganti, Bai Feng berdiri di depan pintu butik, kedua tangannya sudah dipenuhi oleh dua belas kantong belanjaan besar berisi barang-barang Ah Yin. Ia terengah-engah, keringat mulai membasahi dahinya.
Tak lama, Zhang Lin keluar dengan setelan jas tersebut. Penampilannya berubah drastis. Jika sebelumnya ia tampak seperti pengangguran yang nyasar, sekarang ia terlihat seperti bangsawan dari era modern. Bahunya yang lebar dan tubuhnya yang tegap membuat setelan itu tampak sempurna.
Ah Yin menepuk tangan dengan gembira. "Lihat! Kamu sangat tampan. Kita ambil yang ini, dan beberapa pasang lagi!"
"Apa?! Bukankah itu terlalu berlebihan nona? Saya rasa, satu ini saja sudah cukup. Lagi pula, sepertinya ini sangat mahal. Dan tidak baik juga saya terus mendapatkan uang dari nona. Dan kata Li Na kemarin malam... tampaknya uang nona berikan itu sangat banyak. Bahkan ketika saya beli ayam dua ekor, uang itu masih tersisa banyak," ucap Zhang Lin, tanpa sadar mengungkap bahwa ia tinggal satu rumah dengan Li Na dan memberikan uang dari Ah Yin untuk Li Na.
...
-Bersambung-