Ayah dan ibunya dibunuh didepan mata dan kepalamya. tapi justru sang pembunuhlah yang akan menjadi guru nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Kabut masih menggantung rendah. Udara pegunungan menusuk hingga ke tulang.
Di hadapannya, Jangkrik berdiri tegak dengan Gelang Baja Wulung yang membebani kedua pergelangan tangannya. Di atas tanah, berjajar rapi seratus bilah pisau lempar.
"Mulai."
Warok menunjuk sebatang bambu tipis yang ditancapkan sekitar dua puluh langkah dari mereka.
"Seribu lemparan."
Jangkrik menghela napas, lalu mengambil pisau pertama.
Wus!
Pisau melesat, tetapi hanya menancap di tanah.
"Meleset," kata Warok datar.
Pisau kedua.
Wus!
Kali ini mengenai bambu, tetapi hanya menggores permukaannya.
"Lemah."
Pisau ketiga. Keempat. Kelima. Hasilnya tidak jauh berbeda. Warok hanya menggeleng pelan.
"Kau masih melempar dengan lengan, bukan dengan seluruh tubuhmu."
Jangkrik mulai kesal. "Apa lagi maksudmu?"
Warok mengambil satu bilah pisau. Ia tidak langsung melempar, melainkan memejamkan mata dan menarik napas pelan.
Lalu...
Sret!
Pisau itu meluncur lurus. Tidak cepat, juga tidak terlihat bertenaga.
Namun...
Crak!
Bambu tipis itu terbelah rapi dari ujung hingga pangkal.
Jangkrik memperhatikan dengan saksama. "Tidak ada tenaga berlebih..." gumamnya.
Warok membuka mata. "Sebab tenaga yang terbuang adalah tenaga yang sia-sia."
Latihan berlangsung hingga matahari meninggi. Dari seratus lemparan awal, Jangkrik hanya mengenai sasaran sebelas kali.
Menjelang lemparan keempat ratus, lengannya mulai terasa mati rasa. Pada lemparan keenam ratus, telapak tangannya kembali robek.
Namun kali ini, Warok tidak menyuruhnya berhenti. "Terus."
Jangkrik mengambil pisau berikutnya dengan tangan gemetar, tetapi ia tetap melempar.
Wus!
Tak!
Pisau itu menancap tepat di tengah batang bambu.
Warok mengangguk kecil. "Lebih baik."
Menjelang sore, lemparan keseribu akhirnya dilepaskan.
Wus!
Pisau berputar sekali di udara, lalu...
Tak!
Menancap tepat di titik yang sama dengan pisau sebelumnya.
Jangkrik terengah-engah. Keringat membasahi seluruh tubuhnya.
Warok menghampiri. "Tanganmu."
Jangkrik membuka telapak tangan dengan kulit yang kembali robek. Warok hanya melirik sekilas.
"Besok dua ribu lemparan."
Jangkrik langsung mendongak. "Dua ribu?"
"Kau keberatan?"
Jangkrik menyeringai tipis. "Tidak. Aku hanya kasihan pada pisau-pisaumu."
Warok tertawa keras. "Hahaha! Mulutmu mulai tajam."
Sore itu, setelah berbulan-bulan tinggal bersama, Warok mengajak Jangkrik naik ke sebuah tebing tinggi di belakang gubuk. Dari sana, hamparan Pegunungan Sewu tampak membentang tanpa ujung. Angin bertiup kencang.
Warok berdiri di bibir tebing. "Duduk."
Jangkrik menurut.
"Kau tahu kenapa tempat ini kupilih menjadi tempat tinggal?"
Jangkrik menggeleng. "Karena sepi?"
Warok menggeleng. "Karena angin."
"Angin?"
Warok mengangguk. "Setiap tempat punya napas. Hutan, gunung, laut... Semuanya bernapas."
Jangkrik mencoba mendengarkan. Awalnya, ia hanya mendengar desir angin, kemudian suara dedaunan, burung, serta jangkrik. Entah mengapa, semuanya terasa menyatu.
Warok berbicara pelan, "Kalau suatu hari kau bisa mendengar napas gunung, kau akan tahu musuhmu datang bahkan sebelum ia melangkah."
Jangkrik menoleh. "Itu juga bagian dari ilmu Warok?"
"Itu dasar. Bahkan sebelum cambuk, sebelum golok, sebelum tenaga dalam."
Jangkrik memejamkan mata dan mencoba mendengar.
Beberapa saat berlalu. Tiba-tiba alisnya bergerak.
"Warok."
"Hm?"
"Ada... langkah kaki."
Warok tidak membuka mata. "Dari mana?"
Jangkrik berkonsentrasi. "Sebelah barat... sekitar dua orang."
Warok perlahan membuka matanya. Senyum tipis muncul di wajahnya. "Bagus. Kali ini kau benar."
Tak lama kemudian, dua sosok muncul dari balik pepohonan di lereng bawah. Mereka tidak membawa senjata terhunus, melainkan memikul tandu bambu. Di atas tandu itu terbaring seorang pemuda dengan tubuh penuh luka bacokan.
Begitu melihat Warok, salah satu dari mereka langsung berlutut.
"Warok! Kami mohon bantuan!"
Warok menatap mereka tanpa ekspresi. "Aku bukan tabib."
Pria itu menundukkan kepala lebih dalam. "Kami tahu... Tapi hanya kau yang bisa menyelamatkan kakak kami."
Warok mengerutkan dahi. "Kenapa?"
Pria itu mengangkat wajahnya. Karena kehabisan tenaga, suaranya bergetar. "Dia... sempat bertarung dengan salah seorang anggota Kelompok Gagak Hitam."
Mendengar nama itu, sorot mata Warok langsung berubah tajam. Jangkrik pun menyadari, perjalanan mereka dengan kelompok misterius itu ternyata baru saja dimulai.
Warok menatap pemuda yang terbaring di atas tandu. Pakaiannya compang-camping dengan luka bacokan mendalam di sekujur tubuh. Namun, bukan luka-luka itu yang membuat alis Warok mengerut, melainkan warna kehitaman yang menjalar dari bahu kiri hingga ke dadanya.
Warok melangkah mendekat. Ia berjongkok, lalu membuka kain yang membalut luka tersebut. Jangkrik ikut memperhatikan. Luka itu tidak lagi berdarah. Tepi dagingnya justru menghitam seperti terbakar, sementara urat-urat di sekitarnya membengkak kebiruan.
"Ini bukan luka golok biasa..." gumam Jangkrik.
Warok mengangguk pelan. "Tepat."
Ia menyentuh luka itu dengan ujung jarinya. Pemuda yang pingsan itu seketika melengkungkan punggungnya.
"Ughhh...!" Tubuhnya bergetar hebat.
Warok segera menarik tangannya. "Racun."
Salah seorang pembawa tandu buru-buru mengangguk. "Benar, Warok. Setelah terkena sabetan orang itu, tubuh kakak kami semakin lemah. Semua tabib yang kami datangi tidak mampu menghentikannya."
Warok berdiri. "Siapa yang melukainya?"
Pria itu menarik napas panjang. "Orang-orang menyebutnya... Gagak Kelima."
Mata Warok menyipit. "Gagak Kelima..."
Jangkrik menangkap perubahan kecil pada ekspresi gurunya. Sejak ia mengenal Sang Warok, baru kali ini ia melihat raut wajah gurunya tampak benar-benar serius.
"Warok," tanya Jangkrik pelan, "siapa Kelompok Gagak Hitam sebenarnya?"
Warok tidak langsung menjawab. Tatapannya masih tertuju pada luka di tubuh pemuda itu.
"Mereka bukan perampok. Bukan pula prajurit."
"Lalu?"
Warok mengembuskan napas pelan. "Mereka pembunuh bayaran yang hanya menerima pekerjaan untuk mencabut nyawa."
Jangkrik mengangkat alis. "Sehebat itu?"
Warok tersenyum tipis. "Kalau hanya hebat, aku tidak akan mengingat nama mereka."
Ia kembali memandang dua lelaki pembawa tandu. "Berapa orang yang menyerang?"
"Hanya satu."
"Hanya satu?"
"Ya."
"Dan rombongan kalian?"
"Ada dua belas orang."
Jangkrik terdiam. "Satu orang mengalahkan sebelas orang?" Batinnya
Warok mengangguk pelan. "Masuk akal."
Kedua lelaki itu saling berpandangan cemas. "Warok... kami mohon. Selamatkan kakak kami."
Warok tidak menjawab, ia justru memandang Jangkrik. "Apa yang kau lihat?"
Jangkrik paham gurunya sedang menguji kemampuannya. Ia kembali memperhatikan luka di atas tandu.
Beberapa saat kemudian, ia berkata, "Luka bacoknya tidak terlalu dalam. Kalau hanya karena kehilangan darah, dia seharusnya masih sadar."
Warok mengangguk. "Lanjut."
"Yang membuatnya sekarat bukan bacokannya, melainkan racunnya."
Warok kembali mengangguk. "Lagi."
Jangkrik berpikir lebih keras sambil memicingkan mata. "Racun itu tidak menyebar lewat darah, melainkan... lewat hawa di dalam tubuh."
Warok akhirnya tersenyum puas. "Bagus. Dalam beberapa bulan saja, matamu mulai belajar melihat."
Dua lelaki itu semakin bingung. "Warok... Bisakah disembuhkan?"
Warok memandang langit yang mulai memerah. "Bisa."
Harapan langsung menyeruak di wajah mereka.
"Tapi..." Warok menggantung kalimatnya, "...aku tidak akan melakukannya secara cuma-cuma."
Mereka buru-buru mengangguk. "Kami akan membayar."
Warok menggeleng. "Aku tidak butuh uang."
"Lalu?"
Warok menatap lurus ke mata mereka. "Aku ingin tahu. Di mana kalian bertemu anggota Gagak Hitam itu?"
Kedua pria tersebut saling melirik. Yang lebih tua akhirnya menjawab pelan, "Di sebuah desa... sekitar dua hari perjalanan dari sini."
"Nama desanya?"
Pria itu menelan ludah. "Desa Wringin Ireng."
Begitu nama itu diucapkan, Warok mendadak membeku. Sorot matanya berubah tajam. Bahkan Jangkrik dapat merasakan hawa di sekitar gurunya seolah menjadi lebih berat dan menekan.
"Warok?"
Warok tidak menjawab. Ia berbisik sangat pelan, seolah berbicara kepada dirinya sendiri. "Jadi... mereka akhirnya mulai bergerak."
Jangkrik belum memahami maksud ucapan itu. Namun, satu hal yang ia yakini: Kelompok Gagak Hitam bukan sekadar lawan biasa. Bahkan seorang pria sekuat Sang Warok pun menaruh kewaspadaan penuh terhadap nama tersebut.