NovelToon NovelToon
PENYIHIR TANPA SIHIR

PENYIHIR TANPA SIHIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:797
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

Lahir tanpa sihir (Nirmala) di dunia yang memuja kekuatan membuat Askara dibenci oleh ayahnya sendiri. Namun, sebuah rahasia besar terungkap: Askara tidak kosong, ia adalah "pemangsa sihir" yang mampu menyerap, menggabungkan, dan memantulkan kembali setiap serangan musuh. Berbekal kemampuan unik ini dan stamina fisik yang terlatih, Askara memulai perjalanan jauh demi membuktikan bahwa seorang tanpa sihir pun mampu mengguncang dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: Desa di Batas Jalan dan Tangisan yang Terabaikan

Matahari baru saja tenggelam ketika Askara memutuskan untuk menghentikan langkah kakinya. Perjalanan dari Kota Gada menuju Hutan Sihir Kegelapan ternyata jauh lebih menguras tenaga daripada yang ia perkirakan. Jalur perdagangan yang biasa dilalui kereta kuda kini telah berganti menjadi jalanan tanah berbatu yang sepi, dikelilingi oleh padang rumput ilalang yang luas. Jubah hitam misterius yang baru dibelinya terbukti sangat berguna; kain magisnya mampu menghalau terpaan angin malam yang mulai menusuk tulang, menjaga suhu tubuh fisiknya tetap stabil.

Di ufuk barat yang mulai menggelap, Askara melihat kepulan asap tipis dari rumah-rumah penduduk. Sebuah desa kecil yang tampak terpencil berdiri di batas jalan setapak. Desa itu bernama Desa Boaw, sebuah permukiman sederhana yang sebagian besar rumahnya terbuat dari kayu dan beratap rumbia. Kehadiran Askara yang mengenakan jubah hitam pekat dengan tudung yang menutup sebagian wajahnya sempat menarik perhatian beberapa ronda malam, namun mereka memilih untuk menjaga jarak, enggan berurusan dengan pengelana misterius. Setelah menyewa sebuah kamar kecil di penginapan kumuh pinggir desa, Askara segera merebahkan diri untuk memulihkan staminanya yang terkuras sepanjang hari.

Keesokan paginya, suasana desa kecil itu mulai hidup. Kicauan burung liar bersahutan dengan suara ayam jantan yang berkokok membelah kabut tipis. Askara terbangun dengan kondisi fisik yang jauh lebih segar. Stamina murninya telah kembali penuh, siap untuk menempuh sisa perjalanan panjang menuju hutan sihir. Sebelum benar-benar angkat kaki dari tempat itu, ia memutuskan untuk berjalan-jalan sejenak di area pasar tengah desa, sekadar mencari tambahan perbekalan kering dan air bersih.

Namun, ketenangan pagi itu terusik ketika Askara melangkah ke alun-alun kecil di pusat desa. Suara isak tangis yang sarat akan keputusasaan terdengar memecah keriuhan pasar.

Di depan sebuah bangunan batu yang tampaknya merupakan markas penjaga lokal, seorang wanita paruh baya dengan pakaian lusuh tampak berlutut di atas tanah yang dingin. Air matanya mengalir deras, membasahi wajahnya yang dipenuhi guratan kecemasan. Di hadapan wanita itu, berdiri seorang pria berbadan tegap yang mengenakan zirah besi berkarat dengan lambang kesatria lokal desa di dadanya. Pria itu memegang sebilah pedang panjang di pinggangnya, menatap sang wanita dengan pandangan dingin yang dipenuhi kebosanan.

"Tolong, Tuan Kesatria... Saya memohon dengan sangat!" ratap wanita itu sembari mencoba menggapai ujung sepatu besi sang kesatria. Suaranya gemetar hebat, menahan rasa sesak di dadanya. "Putri saya... Elena... dia dibawa pergi oleh para bandit bertopeng dari kaki bukit kemarin malam! Mereka mengancam akan membunuhnya jika kami tidak menyerahkan seluruh hasil panen desa ini dalam waktu dua hari! Saya tidak punya siapa-siapa lagi, Tuan!"

Kesatria lokal itu menghela napas panjang, lalu dengan kasar menarik kakinya mundur agar tidak disentuh oleh tangan kotor wanita tersebut. Ia mendengus, menyilangkan kedua tangannya di depan dada zirah besinya yang berderit.

"Sudah kukatakan berkali-kali sejak kemarin, Ibu tua," jawab kesatria itu dengan nada ketus dan malas. "Pasukan penjaga lokal di desa ini jumlahnya sangat terbatas. Tugas utama kami adalah menjaga keamanan di dalam lingkar pagar desa, bukan memburu bandit ke sarangnya di kaki bukit. Lagipula, menghadapi kelompok bandit itu membutuhkan biaya logistik dan risiko sihir yang besar. Siapa yang akan membayar ganti rugi jika ada anggotaku yang terluka, hah? Kau punya koin emas untuk itu?"

"Tapi Tuan... kami tidak punya apa-apa lagi! Seluruh simpanan kami sudah habis!" tangis wanita itu semakin menjadi-jadi, kepalanya tertunduk hingga menyentuh tanah.

Di sekeliling mereka, para penduduk desa dan pedagang pasar hanya berdiri menonton. Beberapa dari mereka menatap dengan pandangan kasihan, namun sebagian besar langsung membuang muka dan melanjutkan aktivitas mereka. Tidak ada satu pun orang yang berani melangkah maju untuk membantu.

Di dunia yang keras ini, tanpa adanya kekuatan sihir yang kuat atau tumpukan uang emas, nyawa orang miskin seringkali dianggap tidak lebih berharga daripada debu di jalanan. Mereka terlalu takut untuk ikut campur dalam masalah yang bisa merenggut nyawa mereka sendiri.

Melihat adegan yang begitu akrab di matanya, dada Askara mendadak bergolak. Pemandangan di mana orang lemah ditindas dan diabaikan oleh mereka yang memiliki otoritas seketika mengingatkannya pada masa kecilnya di rumah keluarga Barata. Saat ia dihina dan disiksa oleh ayahnya sendiri, tidak ada satu pun orang di desanya yang peduli atau mengulurkan tangan bantuan, kecuali Rose. Meskipun kini ia menyembunyikan identitasnya di balik jubah hitam misterius dan fokus pada tujuannya ke hutan sihir, hati nurani Askara tidak bisa membiarkan ketidakadilan ini berlalu begitu saja di depan matanya.

Askara memperbaiki posisi tas kain di balik jubahnya. Langkah kakinya bergerak mantap membelah kerumunan penduduk yang sedang menonton. Jubah hitamnya berkibar pelan, menciptakan hawa dingin yang misterius yang membuat orang-orang di sekitarnya secara refleks mundur memberikan jalan.

Ia berjalan lurus menuju wanita yang masih menangis tersedu-sedu di atas tanah, lalu membungkukkan tubuh tegapnya perlahan. Askara mengulurkan tangannya yang kasar penuh kapalan, menyentuh pundak wanita itu dengan lembut.

"Berdirilah, Ibu," ucap Askara dengan suara yang rendah namun berwibawa, memecah ketegangan di area tersebut.

"Menangis di depan orang yang tidak memiliki hati nurani hanya akan membuang air matamu dengan sia-sia."

Wanita paruh baya itu mendongak terkejut. Dari balik kerudung jubah hitam yang gelap, ia hanya bisa melihat sepasang mata tajam Askara yang berkilat dingin namun memancarkan ketulusan yang menenangkan. Isak tangisnya mendadak terhenti, tergantikan oleh rasa bingung melihat kehadiran pengelana misterius ini.

Kesatria lokal yang mendengar ucapan Askara seketika meradang. Wajahnya memerah karena merasa otoritas dan harga dirinya diinjak-injak di depan publik oleh seorang asing yang mukanya saja tidak kelihatan. Tangannya langsung berpindah ke gagang pedang di pinggangnya, siap menarik bilah besi tersebut.

"Hei! Siapa kau, Pengelana Keparat?!" bentak kesatria lokal itu dengan nada mengancam, melangkah maju untuk mengintimidasi Askara. "Berani sekali kau mencampuri urusan penjaga keamanan desa ini! Jika kau hanya seorang pengembara yang numpang lewat, sebaiknya tutup mulutmu sebelum pedangku ini membuat lubang di lehermu!"

Askara bangkit berdiri secara perlahan, membalikkan badannya untuk menghadap langsung ke arah kesatria lokal tersebut. Meskipun pria berzirah di depannya bertubuh lebih besar, Askara sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda ketakutan. Di bawah tudung hitamnya, ia hanya menatap dingin ke arah lambang kesatria berkarat itu dengan senyuman meremehkan yang tersembunyi. Kekuatan spiritual dari sisa sihir hitam monster penjaga dungeon yang masih tersimpan di dalam jiwanya samar-samar memancarkan tekanan tipis, membuat sang kesatria mendadak merinding tanpa alasan yang jelas.

"Aku hanya seorang pengelana yang sedang melintas," jawab Askara dengan nada suara yang teramat tenang, namun sanggup membuat seluruh alun-alun desa mendengarnya dengan jelas. "Tetapi setidaknya, aku tahu apa artinya memegang senjata untuk melindungi orang lain, bukan sekadar menjadikannya pajangan untuk menakut-nakuti orang lemah demi koin emas."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!