Demi membiayai operasi ayahnya, Natalie nekat menjual keperawanannya pada seorang pria yang tidak ia kenal. Namun pria yang datang ternyata seorang dokter berhati baik yang justru ingin menyelamatkannya dari jalan buntu itu.
Setelah melewati malam yang penuh gairah, Drake malah kecanduan dengan tubuh Natalie, padahal dia tahu kalau wanita itu hanya mengejar uang.
Saat rahasia tergelap mereka terbongkar, mampukah hubungan rapuh dan terlarang ini tetap bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
Dyah berhasil membaringkan Hadi di kasur tipis yang masih berantakan. Pria tua itu mengaduh kesakitan setiap kali bergerak, kepalanya dibalut handuk yang sudah berubah warna menjadi merah kecokelatan. Dyah mondar-mandir di ruangan sempit itu, ponsel di tangannya bergetar karena panggilan dari tetangga yang penasaran mendengar keributan tadi.
“Aku bilang dia jatuh saja,” gumam Dyah pada dirinya sendiri. “Anakku kabur, Hadi mencoba mengejarnya, begitu.”
Hadi membuka mata sedikit, suaranya parau dan penuh dendam. “Cari anakmu!! Aku mau dia. Uangku tidak boleh sia-sia.”
Dyah mengangguk, matanya penuh amarah yang membara. “Iya, Tuan. Besok pagi saya akan cari tahu ke mana dia pergi. Dia pasti nggak jauh. Anak itu nggak punya siapa-siapa selain saya.”
Di sudut ruang tamu, ayah Nathalie yang lumpuh di kursi roda hanya bisa menangis tanpa suara. Air matanya jatuh ke pangkuannya, tak berdaya menyaksikan kehancuran keluarganya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Drake keluar dari kamar dengan kotak P3K kecil di tangan. Langkahnya tenang, tapi tatapannya tajam saat melihat memar merah keunguan di pipi kiri Nathalie. Tanpa banyak bicara, ia duduk di samping perempuan itu, begitu dekat hingga Nathalie bisa mencium aroma parfum mahal dari tubuhnya.
“Diam, jangan banyak bergerak,” perintah Drake dengan suara rendah.
Ia membasahi kain bersih dengan air dingin, lalu memerasnya pelan sebelum menempelkannya ke pipi Nathalie dengan telaten. Gerakannya sangat hati-hati, takut menyakiti perempuan itu.
Nathalie tersentak kecil saat kain dingin itu menyentuh kulitnya yang panas dan perih. Rasa perih itu menyebar, tapi ia menggigit bibir bawahnya mencoba menahan diri. Matanya terpaku pada wajah Drake yang berada sangat dekat. Rahang tegas pria itu, alis tebal yang sedikit berkerut konsentrasi, dan bibir tipis yang biasanya selalu menyeringai sinis. Nathalie merasa bersyukur bertemu Drake di jalan.
Drake mengganti kain kompres beberapa kali, memastikan suhu dinginnya tetap stabil agar memar tidak semakin bengkak. Ia juga mengoleskan salep anti memar dengan ujung jarinya yang panjang dan bersih, gerakannya pelan penuh perasaan.
“Kamu beruntung tidak ada luka robek,” gumam Drake sambil memeriksa pergelangan tangan Nathalie yang memar bekas cengkeraman Hadi. “Kalau besok masih bengkak, aku akan memeriksamu"
Nathalie diam saja. Hanya air matanya yang kembali menggenang di pelupuk mata, tapi ia cepat-cepat mengedipkannya agar tidak jatuh.
Setelah semua luka diobati, ia menunduk sebentar, lalu mengangkat wajahnya dan berbisik dengan suara lirih yang nyaris hilang ditelan udara apartemen.“Terima kasih...”
Drake yang sedang membereskan kotak P3K berhenti sejenak. Ia menoleh, mata hitamnya bertemu dengan mata Nathalie yang sembab. Senyum tipis muncul di sudut bibirnya, tapi senyum itu tidak mencapai matanya. Ada kilatan nafsu dan kepuasan yang tersembunyi di baliknya.
“Nanti saja, aku ingin ucapan terima kasih yang lain. Yang lebih panas dari kemarin” jawab Drake dengan suara serak penuh maksud. Ia mendekatkan wajahnya hingga napas hangatnya menyapu pipi Nathalie yang masih dingin karena kompres.
Nathalie merasa tubuhnya meremang. Kata-kata Drake seperti listrik yang menyengat kulitnya. Ia tahu persis apa yang dimaksud pria itu. Dulu, saat ia menjual tubuhnya pada Drake, semuanya murni transaksi. Tapi sekarang, setelah semua yang terjadi malam ini, kehadiran Drake terasa seperti satu-satunya pelabuhan di tengah badai.
Ia tidak menjawab langsung. Hanya menatap pria itu dengan pandangan yang semakin rumit, ada rasa malu, ada rasa trauma yang masih menggantung, tapi juga ada kehangatan aneh yang mulai merayap di dada. Drake tidak memaksa. Ia bangkit, meletakkan kotak P3K di meja, lalu berjalan ke dapur untuk mengambil segelas air putih.
“Minum dulu. Kamu kehilangan banyak cairan karena menangis dan berlari,” katanya sambil menyodorkan gelas itu.
Nathalie menerimanya dengan tangan gemetar. Saat ia menyesap air itu, Drake berdiri di depannya, bersandar di dinding dengan tangan disilangkan di dada.
“Aku tahu kamu trauma,” ujar Drake pelan. “Aku bukan monster yang akan memaksa malam ini. Tapi besok atau lusa kamu harus bayar apa yang aku berikan hari ini"
Nathalie meletakkan gelas di meja. Suaranya hampir bergetar saat bertanya, “Apa bedanya dengan ibuku? Kamu juga sama brengseknya dengan dia.”
Drake tertawa kecil, suaranya dalam dan rendah. Ia mendekat lagi, tangannya menyentuh dagu Nathalie dengan lembut, mengangkat wajah perempuan itu agar menatapnya langsung.
“Bedanya? Aku lebih muda, lebih kaya, dan aku tahu cara memperlakukan barang berharga. Aku tidak tahu bagaimana ibuku, jadi aku tidak peduli tentang dia"
Nathalie termenung, mengingat kejadian yang menimpanya. Ia secara refleks merapatkan kedua kakinya dan memeluk dirinya sendiri.
Drake melihat itu semua. Ia duduk kembali di samping Nathalie, kali ini menarik tubuh perempuan itu ke dalam pelukannya. Bukan pelukan penuh nafsu, tapi pelukan yang kuat dan menenangkan. Tangan besarnya mengusap punggung Nathalie naik turun.
“Tidur saja, aku sudah menyiapkan kamar tamu untukmu" ucap Drake, dia tidak mau menempatkan Nathalie di kamar pribadinya.
Nathalie mengangguk lemah di dada Drake. Bau tubuh pria itu membuatnya merasa aman.
Keesokan paginya, sinar matahari menyusup melalui tirai tipis apartemen Drake. Nathalie terbangun dengan tubuh pegal, tapi luka di pipinya terasa lebih ringan berkat kompres semalam. Ia mencium aroma kopi dan roti panggang dari dapur.
Drake sudah rapi dengan kemeja putih dan celana formal, berdiri di depan jendela besar sambil menikmati kopi hitamnya.
“Bangun juga,” katanya tanpa menoleh. “Makan dulu. Setelah itu kita bicara soal ucapan terima kasih yang kamu janjikan.”
Suasana pagi itu penuh ketegangan yang manis sekaligus mencekam. Nathalie tahu, dia seperti keluar dari kandang harimau dan masuk ke mulut buaya.