Diabaikan oleh Arka—suaminya yang dingin—Kirana terbiasa menelan rasa sakit sendirian. Namun, sebuah kecelakaan tragis yang merenggut janinnya mengubah segalanya. Kirana yang manja dan cengeng mati di hari itu, berganti menjadi sosok wanita dingin dan mandiri yang membangun usahanya sendiri dari nol.
Saat Kirana mengembalikan fasilitas rumah tangga dan mengajukan perceraian, Arka baru tersadar dari kesalahannya. Pria yang dulu acuh kini harus meruntuhkan egonya dan mempertaruhkan segalanya demi mendapatkan kembali maaf serta cinta dari sang istri.
#NikahPaksa
#Penyesalansuami
#WanitaMandiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 : Terbangun dalam Kekosongan
Bau khas antiseptik dan cairan infus menyambut indra penciuman Kirana saat kesadarannya perlahan merayap kembali dari dasar kegelapan yang panjang. Kelopak matanya terasa sangat berat, seolah direkatkan oleh timah panas. Dengan sisa-sisa tenaga yang tersisa di tubuhnya yang remuk, ia mencoba menggerakkan jemarinya.
Ceklek.
Suara pintu ruang perawatan intensif terbuka pelan, disusul oleh langkah kaki tergesa-gesa yang mendekati ranjang tempatnya berbaring.
Kirana mengerjap perlahan, menyesuaikan retinanya dengan cahaya lampu putih silau yang menggantung di langit-langit ruangan. Pandangannya yang awalnya kabur lambat laun menemukan fokus. Di samping brankar, sesosok pria berdiri dengan postur hancur lebur. Jas kerjanya sudah lenyap, menyisakan kemeja putih kusut dengan lengan digulung acak-acakan. Wajah Arka pucat pasi, matanya bengkak dan merah menyala, menyisakan jejak air mata kering yang mengeras di pipinya. Pria yang selama ini dikenal paling dingin, angkuh, dan tak tersentuh itu kini tampak bagaikan sisa-sisa reruntuhan manusia.
"Kirana..." suara Arka tercekat hebat, parau, nyaris seperti bisikan putus asa dari dasar neraka.
Tanpa membuang detik, Arka langsung menjatuhkan lututnya di sisi ranjang rumah sakit. Dengan tangan yang gemetar hebat, ia meraih jemari Kirana yang terkulai lemas di atas selimut putih, lalu mendekatkannya ke wajahnya yang basah oleh air mata.
"Kamu sudah sadar... Terima kasih Tuhan... Terima kasih, Kirana..." isak Arka pecah, bahunya bergetar hebat saat ia mencium punggung tangan istrinya berulang kali dengan penuh keputusasaan. "Maafkan aku... Demi Tuhan, maafkan aku, Kirana! Aku bajingan... Aku suami paling bejat di dunia ini..."
Arka terisak tersedu-sedu, menumpahkan segala rasa bersalah, penyesalan, dan teror yang telah memangsa jiwanya selama berjam-jam di luar ruangan itu.
"Semua salahku... Kalau saja aku tidak mengabaikan panggilanmu... Kalau saja aku tidak membiarkanmu pergi di tengah badai... Kalau saja aku mendengarkanmu saat kamu datang ke lobi... Kita tidak akan kehilangan segalanya..." Arka meratap, kepalanya bersandar lemas di tepi kasur, memohon belas kasihan dari seorang wanita yang dunianya baru saja ia hancurkan berkeping-keping.
Di bawah genggaman erat dan basah oleh air mata suaminya, tangan Kirana terasa begitu kaku dan dingin.
Tidak ada teriakan histeris. Tidak ada lemparan barang, tidak ada amarah yang meledak-ledak, dan yang paling mengerikan—tidak ada sebutir pun air mata yang jatuh dari pelupuk mata Kirana.
Ia hanya berbaring kaku, menatap lurus ke arah langit-langit kamar rumah sakit dengan pandangan yang kosong, hampa, dan datar. Di dalam dada Kirana, tempat di mana dulunya terdapat kehangatan, harapan rapuh, debar cinta seorang istri, dan debaran lembut kehidupan janji sepuluh minggu yang dikandungnya, kini telah berubah menjadi padang tandus yang membeku. Sesuatu yang sangat fundamental di dalam jiwa Kirana telah mati secara permanen di malam kecelakaan maut itu.
Arka, yang merasakan keheningan mutlak dari wanita di hadapannya, perlahan mengangkat wajahnya. Ia mendongak, menatap mata Kirana dengan penuh permohonan, mencari secercah ampunan atau bahkan kemarahan yang bisa membakar habis harga dirinya.
"Kirana... bicaralah padaku... Marahlah padaku, pukul aku, caci maki aku sepuasmu... Asalkan jangan diam seperti ini..." suara Arka memohon, suaranya bergetar menahan sakit yang teramat sangat saat melihat tatapan kosong di mata istrinya.
Perlahan-lahan, dengan gerakan yang begitu tenang, tanpa emosi, dan tanpa keraguan sedikit pun, Kirana menarik kembali tangannya dari genggaman Arka.
Jemari itu meluncur lepas dari telapak tangan suaminya yang hangat, kembali terkulai lurus di atas selimut putih dengan jarak mutlak yang diciptakan oleh dinding es tak kasat mata.
Arka tertegun. Napasnya seketika tersengat rasa sakit yang jauh lebih tajam daripada hantaman pisau bedah. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang kini kosong, merasakan penolakan paling telak yang pernah ia terima seumur hidupnya—bukan penolakan berupa kata-kata kasar, melainkan ketidakpedulian mutlak yang membunuh keberadaannya.
Kirana menolehkan kepalanya secara perlahan. Pandangan matanya yang dingin, datar, dan tak berjiwa itu akhirnya jatuh menatap Arka yang masih berlutut di lantai. Bibirnya yang pucat bergerak tipis, mengeluarkan suara yang begitu pelan, datar, namun tajam menghujam jantung Arka hingga berkeping-keping:
"Semua sudah selesai, Arka."
Kalimat itu diucapkan tanpa getaran, tanpa isak tangis, dan tanpa sisa rasa sakit. Itu adalah suara seorang wanita yang telah sepenuhnya meninggalkan raga dan jiwanya dari tempat di mana ia pernah mati-matian mencoba bertahan.
Arka terdiam bagai disambar petir di siang bolong. Ia tahu, saat Kirana menarik tangannya dan menatapnya tanpa secercah nyawa di matanya, istri yang dulu sangat mencintainya telah benar-benar hilang untuk selamanya—dan di hadapannya kini hanyalah sosok asing yang terlahir kembali dari abu kepedihan yang paling sempurna.
Hari demi hari berlalu di balik dinding kamar perawatan V.I.P nomor 402 yang kedap suara, mengubah dinamika hancur lebur di antara keduanya menjadi sebuah penyiksaan psikologis yang jauh lebih senyap namun mematikan. Kirana tidak pernah lagi meninggikan suaranya, tidak pernah lagi melayangkan protes, dan tidak pernah lagi menuntut penjelasan apa pun dari Arka. Setiap kali pria itu datang membawakan buket bunga segar, makanan kesukaan, atau sekadar duduk berjam-jam di sisi ranjang dengan mata memerah menahan rindu dan penyesalan, Kirana hanya akan membuang muka ke arah jendela kaca. Ia membiarkan tatapannya tersesat pada lalu-lalang kendaraan di bawah sana, memperlakukan kehadiran suaminya seolah-olah Arka hanyalah sehelai angin lalu yang tidak memiliki bentuk, wujud, maupun arti.
Bagi Arka, sikap dingin dan kebisuan total yang ditunjukkan oleh istrinya adalah bentuk hukuman mati yang berjalan. Setiap detik yang ia habiskan di dalam ruangan itu terasa bagaikan berada di dalam ruang eksekusi tanpa ujung. Ia mencoba segala cara untuk mencairkan kebekuan tersebut; ia memanggil para psikiater terbaik di ibu kota, mendatangkan konsultan pernikahan ternama, hingga merelakan seluruh jadwal rapat direksi perusahaannya demi menemani Kirana menjalani sesi pemulihan fisik dan mental. Namun, setiap usaha yang ia lakukan selalu membentur tembok pertahanan yang dibangun Kirana setinggi langit. Bagi Kirana, dinding es itu adalah satu-satunya pelindung yang tersisa agar ia tidak lagi harus merasakan hantaman kepedihan yang sama dari pria yang sama.
Di luar dinding rumah sakit, dunia korporasi terus berputar tanpa kenal lelah, namun Pratama Corporation di bawah kendali seorang Arka Pratama mendadak kehilangan ketegasannya yang arogan. Para direktur dan pemegang saham kerap melihat CEO muda itu melamun di ruang kerjanya, menatap kosong pada lembaran laporan keuangan sambil mencengkeram erat bingkai foto kecil yang disembunyikan di dalam laci mejanya—sebuah foto lama tatapan Kirana sebelum badai malam itu merenggut segalanya. Arka menyadari bahwa kekayaan miliaran dan menara perkantoran megah yang ia bangun tidak bernilai satu sen pun jika pada akhirnya ia harus pulang ke rumah yang hampa, menemui ranjang dingin tanpa kehangatan, dan hidup berdampingan dengan seorang wanita yang raganya ada di sisinya namun jiwanya telah lama mati terkubur di bawah puing-puing kecelakaan.
Suatu sore, ketika cahaya keemasan matahari mulai meredup di ufuk barat, memantulkan bias jingga di atas lantai marmer kamar rumah sakit, Arka kembali duduk di kursi kecil di sisi ranjang Kirana. Ia membawa sebuah mangkuk kecil berisi bubur hangat yang disiapkan khusus oleh perawat, namun makanan itu dibiarkan utuh di atas nakas, sama sekali tak tersentuh oleh wanita yang berbaring di atas ranjang.
"Kirana..." panggil Arka pelan, memecah kesunyian yang terasa begitu pekat di antara mereka. Suaranya serak, mencerminkan kelelahan fisik dan mental yang telah menggerogoti tubuhnya selama berminggu-minggu. "Dokter bilang, jika kondisimu terus menunjukkan kemajuan stabil, minggu depan kamu sudah diizinkan pulang ke rumah. Aku... aku sudah menyiapkan semuanya. Kamar utama telah direnovasi, perawat pribadi siap sedia dua puluh empat jam, dan... aku berjanji tidak akan pernah mengganggumu jika itu yang kamu mau."
Kirana perlahan menolehkan kepalanya. Untuk pertama kalinya setelah sekian minggu terkurung dalam kebisuan total, sepasang mata jernih itu menatap lurus ke dalam manik mata Arka. Tidak ada amarah di sana, tidak ada dendam yang membara, yang ada hanyalah kehampaan yang begitu luas, bagaikan lautan es yang tidak bertepi.
"Rumah yang mana yang kamu maksud, Arka?" tanya Kirana dengan suara yang sangat pelan, datar, namun langsung menghujam ulu hati suaminya.
Arka tertegun, lidahnya mendadak kelu mendengarkan pertanyaan sederhana namun mematikan itu.
"Tempat di mana aku dulu selalu menunggumu pulang dengan rantang makanan hangat, tempat di mana aku memohon sedikit saja perhatianmu sementara kamu mengabaikanku bagaikan sebuah pajangan tak berguna... tempat itu sudah hancur sejak lama, jauh sebelum taksi itu menghantam kami di tengah badai," lanjut Kirana tanpa sedikit pun emosi, kata-katanya meluncur tenang namun meremukkan sisa-sisa harga diri Arka. "Jangan membuang tenagamu untuk menyiapkan kamar atau perawat, Arka. Begitu aku keluar dari rumah sakit ini, aku tidak akan pernah kembali ke tempat itu lagi."
Kalimat itu bukan sebuah ancaman kosong, melainkan sebuah kepastian mutlak yang diucapkan oleh seseorang yang telah menyelesaikan seluruh lembar penderitaannya. Arka merasakan dunianya kembali runtuh untuk kesekian kalinya. Pria itu menundukkan kepalanya, membiarkan air matanya menetes jatuh di atas permukaan selimut putih, sementara Kirana kembali membuang pandangannya ke luar jendela, membiarkan angin senja meresap ke dalam keheningan kamar yang menjadi saksi bisu runtuhnya sebuah pernikahan yang dibangun di atas kesombongan dan kebisuan.
.. mending pretty cure