NovelToon NovelToon
Setelah Taksi Itu Berlalu

Setelah Taksi Itu Berlalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Perjodohan / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:12.2k
Nilai: 5
Nama Author: Selie Noris

Diabaikan oleh Arka—suaminya yang dingin—Kirana terbiasa menelan rasa sakit sendirian. Namun, sebuah kecelakaan tragis yang merenggut janinnya mengubah segalanya. Kirana yang manja dan cengeng mati di hari itu, berganti menjadi sosok wanita dingin dan mandiri yang membangun usahanya sendiri dari nol.

Saat Kirana mengembalikan fasilitas rumah tangga dan mengajukan perceraian, Arka baru tersadar dari kesalahannya. Pria yang dulu acuh kini harus meruntuhkan egonya dan mempertaruhkan segalanya demi mendapatkan kembali maaf serta cinta dari sang istri.




#NikahPaksa
#Penyesalansuami
#WanitaMandiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 : Terbangun dalam Kekosongan

Bau khas antiseptik dan cairan infus menyambut indra penciuman Kirana saat kesadarannya perlahan merayap kembali dari dasar kegelapan yang panjang. Kelopak matanya terasa sangat berat, seolah direkatkan oleh timah panas. Dengan sisa-sisa tenaga yang tersisa di tubuhnya yang remuk, ia mencoba menggerakkan jemarinya.

*Ceklek.*

Suara pintu ruang perawatan intensif terbuka pelan, disusul oleh langkah kaki tergesa-gesa yang mendekati ranjang tempatnya berbaring.

Kirana mengerjap perlahan, menyesuaikan retinanya dengan cahaya lampu putih silau yang menggantung di langit-langit ruangan. Pandangannya yang awalnya kabur lambat laun menemukan fokus. Di samping brankar, sesosok pria berdiri dengan postur hancur lebur. Jas kerjanya sudah lenyap, menyisakan kemeja putih kusut dengan lengan digulung acak-acakan. Wajah Arka pucat pasi, matanya bengkak dan merah menyala, menyisakan jejak air mata kering yang mengeras di pipinya. Pria yang selama ini dikenal paling dingin, angkuh, dan tak tersentuh itu kini tampak bagaikan sisa-sisa reruntuhan manusia.

"Kirana..." suara Arka tercekat hebat, parau, nyaris seperti bisikan putus asa dari dasar neraka.

Tanpa membuang detik, Arka langsung menjatuhkan lututnya di sisi ranjang rumah sakit. Dengan tangan yang gemetar hebat, ia meraih jemari Kirana yang terkulai lemas di atas selimut putih, lalu mendekatkannya ke wajahnya yang basah oleh air mata.

"Kamu sudah sadar... Terima kasih Tuhan... Terima kasih, Kirana..." isak Arka pecah, bahunya bergetar hebat saat ia mencium punggung tangan istrinya berulang kali dengan penuh keputusasaan. "Maafkan aku... Demi Tuhan, maafkan aku, Kirana! Aku bajingan... Aku suami paling bejat di dunia ini..."

Arka terisak tersedu-sedu, menumpahkan segala rasa bersalah, penyesalan, dan teror yang telah memangsa jiwanya selama berjam-jam di luar ruangan itu.

"Semua salahku... Kalau saja aku tidak mengabaikan panggilanmu... Kalau saja aku tidak membiarkanmu pergi di tengah badai... Kalau saja aku mendengarkanmu saat kamu datang ke lobi... Kita tidak akan kehilangan segalanya..." Arka meratap, kepalanya bersandar lemas di tepi kasur, memohon belas kasihan dari seorang wanita yang dunianya baru saja ia hancurkan berkeping-keping.

Di bawah genggaman erat dan basah oleh air mata suaminya, tangan Kirana terasa begitu kaku dan dingin.

Tidak ada teriakan histeris. Tidak ada lemparan barang, tidak ada amarah yang meledak-ledak, dan yang paling mengerikan—tidak ada sebutir pun air mata yang jatuh dari pelupuk mata Kirana.

Ia hanya berbaring kaku, menatap lurus ke arah langit-langit kamar rumah sakit dengan pandangan yang kosong, hampa, dan datar. Di dalam dada Kirana, tempat di mana dulunya terdapat kehangatan, harapan rapuh, debar cinta seorang istri, dan debaran lembut kehidupan janji sepuluh minggu yang dikandungnya, kini telah berubah menjadi padang tandus yang membeku. Sesuatu yang sangat fundamental di dalam jiwa Kirana telah mati secara permanen di malam kecelakaan maut itu.

Arka, yang merasakan keheningan mutlak dari wanita di hadapannya, perlahan mengangkat wajahnya. Ia mendongak, menatap mata Kirana dengan penuh permohonan, mencari secercah ampunan atau bahkan kemarahan yang bisa membakar habis harga dirinya.

"Kirana... bicaralah padaku... Marahlah padaku, pukul aku, caci maki aku sepuasmu... Asalkan jangan diam seperti ini..." suara Arka memohon, suaranya bergetar menahan sakit yang teramat sangat saat melihat tatapan kosong di mata istrinya.

Perlahan-lahan, dengan gerakan yang begitu tenang, tanpa emosi, dan tanpa keraguan sedikit pun, Kirana menarik kembali tangannya dari genggaman Arka.

Jemari itu meluncur lepas dari telapak tangan suaminya yang hangat, kembali terkulai lurus di atas selimut putih dengan jarak mutlak yang diciptakan oleh dinding es tak kasat mata.

Arka tertegun. Napasnya seketika tersengat rasa sakit yang jauh lebih tajam daripada hantaman pisau bedah. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang kini kosong, merasakan penolakan paling telak yang pernah ia terima seumur hidupnya—bukan penolakan berupa kata-kata kasar, melainkan ketidakpedulian mutlak yang membunuh keberadaannya.

Kirana menolehkan kepalanya secara perlahan. Pandangan matanya yang dingin, datar, dan tak berjiwa itu akhirnya jatuh menatap Arka yang masih berlutut di lantai. Bibirnya yang pucat bergerak tipis, mengeluarkan suara yang begitu pelan, datar, namun tajam menghujam jantung Arka hingga berkeping-keping:

"Semua sudah selesai, Arka."

Kalimat itu diucapkan tanpa getaran, tanpa isak tangis, dan tanpa sisa rasa sakit. Itu adalah suara seorang wanita yang telah sepenuhnya meninggalkan raga dan jiwanya dari tempat di mana ia pernah mati-matian mencoba bertahan.

Arka terdiam bagai disambar petir di siang bolong. Ia tahu, saat Kirana menarik tangannya dan menatapnya tanpa secercah nyawa di matanya, istri yang dulu sangat mencintainya telah benar-benar hilang untuk selamanya—dan di hadapannya kini hanyalah sosok asing yang terlahir kembali dari abu kepedihan yang paling sempurna.

1
putmelyana
semangat thor 💪
Selie Noris: Kak, terima kasih ya.... ♥️
total 1 replies
Selie Noris
♥️♥️♥️
Sulicungliieee
ડɑ𝗍υ ƙɑ𝗍ɑ υ𐓣𝗍υƙოυ ɑ𝗋ƙɑ.......ડυ𝗈𝗈ƙ𝗈𝗋𝗋𝗋𝗋𝗋.....
Selie Noris: Kak, makasih sudah mampir....
total 1 replies
Yusria Mumba
seorang wanita kalau sudah sakit hatiny, susah d, obati,
Selie Noris: Kak, terima kasih sudah mampir. ♥️
total 1 replies
Yusria Mumba
nyesalkan sudah terlambat,
Selie Noris: Kak, terima kasih sudah mampir. ♥️
total 1 replies
Yusria Mumba
ti galon ajasumi kaya gitu,
Selie Noris: Kak, terima kasih sudah mampir. ♥️
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!