Arga Pratama adalah suami yang selama ini dikenal dingin, pekerja keras, dan mencintai istrinya sepenuh hati. Demi memenuhi semua keinginan sang istri, Nabila, ia rela bekerja siang malam hingga menjadi pengusaha sukses.
Namun, di balik kesibukannya, Nabila justru menjalin hubungan terlarang dengan Reza, sahabat terbaik Arga sendiri.
Pengkhianatan itu terbongkar pada hari ulang tahun pernikahan mereka.
Alih-alih langsung menceraikan, Arga memilih diam.
Ia mulai menyusun pembalasan yang begitu rapi, membuat semua orang yang telah mengkhianatinya kehilangan kehormatan, harta, dan kepercayaan satu per satu.
Tetapi di tengah balas dendam itu, muncul seorang wanita sederhana bernama Aisyah yang perlahan mengubah hati Arga.
Akankah Arga tetap menjadi suami yang kejam, atau memilih memaafkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mabuok Hape, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perangkap Pertama Terpasang
Gerimis tipis mengguyur kaca jendela setinggi plafon di ruang kerja presiden direktur Pratama Group. Suasana di dalam ruangan berlantai kayu mahoni itu hening, hanya didominasi oleh denting halus jarum jam dinding dan hembusan napas Arga yang teratur.
Di balik meja kerjanya yang luas, Arga memegang sebuah pena berujung emas.
Di hadapannya, Bimo berdiri dengan tegap namun memancarkan raut wajah yang diliputi keraguan. Di atas meja terhampar tiga berkas perjanjian kerja sama bernilai fantastis—dokumen pengucuran dana tahap kedua senilai 100 miliar untuk PT Nusantara Karya milik Reza.
"Pak Arga..." Bimo akhirnya memecah keheningan, suaranya pelan namun sarat akan kekhawatiran. "Jika Pak Arga menandatangani berkas ini dengan skema corporate guarantee yang diubah menjadi personal guarantee atas nama Bu Nabila, maka secara hukum... begitu dana ini dicairkan dan dialihkan oleh Pak Reza, tidak ada jalan kembali bagi Bu Nabila."
Arga menghentikan pergerakan penanya di atas kertas. Ia tidak langsung menjawab. Matanya menatap lurus ke arah Bimo, lalu beralih menatap pemandangan gedung-gedung tinggi di luar jendela yang samar tertutup kabut hujan.
Di dalam dada Arga, sebuah pergulatan batin kecil sempat berdesir. Bagaimanapun, Nabila adalah wanita yang pernah bernaung di dalam doa-doanya. Wanita yang dulu pernah menangis haru di pelukannya saat Arga berhasil membeli mobil bekas pertama mereka. Ada bagian dari jiwa Arga yang rasanya ingin berteriak dan bertanya: Mengapa harus sejauh ini, Nabila? Mengapa kamu tidak cukup dengan cintaku?
Namun, ingatan akan bisikan Nabila dan tawa renyah Reza di balik pintu kamar utamanya malam itu langsung memadamkan sisa-sisa kemanusiaannya. Pengkhianatan mereka bukan sekadar kekhilafan; itu adalah pengrusakan yang terencana atas harga dirinya sebagai seorang suami dan pria.
"Bimo," suara Arga mengalun dingin, begitu datar tanpa ada sedikit pun tremor di dalamnya. "Apakah kamu pernah melihat seorang pemburu merasa kasihan pada umpan yang ia pasang di tengah hutan?"
Bimo menelan ludah, menggeleng pelan. "Tidak, Pak."
"Nabila yang memilih untuk menjadi umpan itu sendiri," lanjut Arga seraya menekan mata penanya ke atas kertas. Garis hitam tanda tangannya terukir dengan sangat tegas dan presisi di atas kolom persetujuan. "Dia berpikir sedang membantu kekasih gelapnya merampok hartaku. Dia merasa sangat cerdik karena berpikir akulah pihak yang sedang dibodohi."
Sret.
Suara gesekan kertas itu terdengar seperti vonis eksekusi di dalam ruangan yang sunyi. Arga menutup dokumen pertama, lalu beralih ke dokumen kedua.
Logika strategi Arga sangat rapi dan tanpa celah. Dalam dokumen tersebut, Arga memasukkan klausa khusus : dana 100 miliar tersebut akan ditransfer ke rekening penampungan atas nama proyek bersama, namun dengan hak akses pencairan penuh berada di tangan Reza dan Nabila sebagai penjamin tunggal. Jika dana itu digunakan di luar peruntukan proyek—yang mana Arga tahu pasti Reza akan mengalirkannya ke rekening luar negeri—maka secara otomatis status pinjaman tersebut berubah menjadi tindak pidana penipuan dan penggelapan dana korporasi.
Dan karena Nabila bertindak sebagai personal guarantor (penjamin pribadi) tanpa jaminan aset terpisah dari Arga, maka seluruh aset atas nama Nabila—perhiasan, mobil mewah, hingga rekening pribadinya—akan langsung disita oleh pengadilan. Tidak hanya itu, Nabila akan menjadi tersangka utama persekongkolan kriminal.
Arga meletakkan penanya kembali ke tatakan emas. "Kapan Reza menjadwalkan penandatanganan berkas dari pihaknya?"
"Sore ini, Pak. Pak Reza meminta pertemuan di restoran lantai dua kantor kita," jawab Bimo seraya mengambil berkas yang sudah ditandatangani Arga.
"Bagus," Arga menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyuman dingin yang tak pernah menyentuh matanya. "Pastikan Nabila juga hadir. Minta sekretaris untuk menelponnya dan mengatakan bahwa aku menyiapkannya sebagai 'kejutan' apresiasi untuknya."
Sore harinya, hujan deras mengguyur kota. Di sudut restoran eksklusif yang tenang, Reza duduk dengan dada membusung. Ia mengenakan kemeja sutra mahal dan terus-menerus memeriksa jam tangannya dengan binar mata yang penuh ketidaksabaran. Di sampingnya, Nabila duduk anggun mengenakan gaun berwarna merah maroon, memoles lipstik tipis di bibirnya.
Chemistry di antara mereka saat Arga belum tiba terasa sangat intens dan sarat akan rahasia.
"Za, kamu yakin ini aman?" bisik Nabila pelan sambil melirik ke sekeliling restoran yang sepi. "Mas Arga beneran enggak curiga soal klausa penjamin atas namaku?"
Reza terkekeh pelan, tangannya di bawah meja terulur dan mengusap paha Nabila dengan berani selama dua detik sebelum menariknya kembali. "Kamu terlalu penakut, Bi. Arga itu buta karena cinta sama kamu. Di kepalanya, dia cuma mikir kalau dia kasih kamu wewenang besar, kamu bakal tambah sayang sama dia. Si bodoh itu enggak bakal sadar kalau uang 100 miliar ini bakal jadi tiket kita buat hidup mewah di Eropa nanti."
Nabila tersenyum lega, matanya berbinar penuh kebanggaan pada keberanian Reza. "Kamu memang hebat, Za. Aku benar-benar enggak salah pilih."
Tepat saat itu, langkah kaki Arga terdengar mendekati meja mereka. Reza dan Nabila seketika mengubah posisi duduk mereka, kembali memasang topeng paling sempurna.
"Maaf membuat kalian menunggu," sapa Arga ramah. Ia duduk di kepala meja, menatap dua orang di hadapannya dengan pendar mata yang tampak begitu hangat dan penuh rasa percaya.
"Sama sekali enggak masalah, Ga! Kami baru saja membicarakan betapa luar biasanya kamu," sahut Reza cepat dengan senyum lebar yang terangkul di wajahnya.
Arga memberikan isyarat pada Bimo yang berdiri di belakangnya. Bimo meletakkan dokumen-dokumen tebal itu di atas meja, tepat di depan Reza dan Nabila.
"Ini dia berkasnya," kata Arga dengan suara yang berat dan berwibawa. Tangannya terulur mengusap jemari Nabila di atas meja, menatap istrinya dengan tatapan yang penuh kepura-puraan. "Nabila, Sayang... ini adalah langkah besar untuk keluarga kita. Dengan menandatangani berkas ini sebagai penjamin, kamu resmi menjadi bagian dari pilar keberhasilan bisnis Mas."
Nabila menatap Arga dengan rasa haru palsu yang meluap. "Mas Arga... terima kasih sudah sangat mempercayaiku."
"Tentu," bisik Arga, meremas lembut jemari Nabila. Tentu saja aku mempercayaimu untuk masuk ke dalam lubang yang kugali sendiri.
Reza tanpa ragu mengambil pena, membubuhkan tanda tangannya di setiap lembar berkas dengan dorongan rasa serakah yang membakar dadanya. Ia membayangkan angka 100 miliar yang sebentar lagi akan mengalir ke rekening rahasianya. Kemudian, pena itu diserahkan kepada Nabila.
Nabila menatap lembaran kertas itu sejenak. Ada sedikit keraguan di hatinya saat melihat kolom Personal Guarantor yang tercetak tebal di atas namanya. Namun, lirikan mata Reza yang penuh dorongan serta senyuman hangat Arga yang menenangkan di sisinya mengusir seluruh keraguannya.
Nabila menggoreskan tanda tangannya.
Sret.
Arga memperhatikan setiap lekuk coretan tangan istrinya di atas kertas tersebut. Di dalam dadanya, detak jantung Arga berdegup sangat tenang. Perangkap pertama telah terpasang dengan sempurna. Pengunci rantai telah terpasang di leher mereka masing-masing, dan kini kunci pintu penjara itu telah sepenuhnya berada di dalam genggaman Arga.
"Selesai," ujar Arga lembut seraya mengambil kembali berkas tersebut dan menyerahkannya pada Bimo. Ia mengangkat gelas air putihnya ke udara. "Selamat untuk kita bertiga. Semoga apa yang kita tanam hari ini... membuahkan hasil yang setimpal dalam waktu dekat."
Reza dan Nabila mengangkat gelas mereka masing-masing, saling melempar senyum kemenangan tersembunyi di balik gelas kristal mereka—tanpa menyadari bahwa di seberang meja, Arga Pratama sedang menatap mereka seperti seorang hakim yang baru saja mengetukkan palu kematian.
laju dikit Thor biar gereget bacanya ini slowly Banggt