NovelToon NovelToon
Tangan Emas: Dokter Muda dengan Sistem Ilahi

Tangan Emas: Dokter Muda dengan Sistem Ilahi

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup / Sistem / Dokter
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Elang

"Surya Pratama hanyalah seorang dokter magang miskin di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. Diputusin pacarnya di depan umum, dihina oleh si kaya Kevin Hartono — hidupnya hancur.

Tapi di saat paling rendah, sebuah **Sistem Dokter Ilahi Super** terbangun dalam pikirannya.

Setiap nyawa yang ia selamatkan mengisi **Botol Pahala**. Setiap botol yang penuh membuka kemampuan baru: **Tangan Emas** yang membuat tangannya tak pernah gemetar, **Mata Tembus** yang melihat menembus tubuh manusia, **Mimpi Ilahi** yang membaca ingatan terakhir orang mati.

Level demi level, Surya naik — dari dokter magang yang diremehkan semua orang menjadi Kepala IGD termuda dalam sejarah rumah sakit."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Bab 2 — Sumpah Seorang Dokter

Perintah Pak Hendra terasa lebih berat daripada noda darah yang mengering di jas Surya.

Mereka baru berjalan setengah koridor ketika dr. Ratna Widodo datang dari arah IGD. Ponsel di tangannya menampilkan video yang sama. Angka di bawahnya sudah melewati empat ratus ribu tanda suka.

"Itu benar kamu?" tanya Bu Ratna.

Surya mengangguk.

"Kamu membuka dada orang di restoran tanpa persetujuan keluarga, tanpa ruang steril, dan tanpa kewenangan praktik mandiri."

"Pasien henti jantung. Tidak ada keluarga di sana."

"Saya paham keadaan darurat." Nada Bu Ratna tetap keras. "Tapi memahami alasan tidak menghapus konsekuensi. Rumah sakit bisa diperiksa. Kamu bisa dilaporkan. Sebelum polisi datang, lebih baik kamu serahkan diri dan jelaskan semuanya secara resmi."

Pak Hendra menghentikan langkah. "Pasiennya hidup karena dia."

"Dan kalau pasiennya meninggal?"

"Saya tetap akan melakukannya," jawab Surya.

Bu Ratna menatapnya beberapa detik. "Itu jawaban yang berbahaya."

"Buat dokter yang takut mengambil keputusan, mungkin."

Pak Hendra mendecakkan lidah. "Kalian bisa berdebat nanti. Direktur menunggu."

Ruang rapat kecil di lantai administrasi sudah penuh. Direktur RS, dr. Bambang Sutrisno, duduk di ujung meja. Wakil direktur, bagian hukum, komite medik, dan seorang petugas humas mengelilinginya. Layar besar di dinding berhenti pada gambar Surya mengangkat pisau daging.

Wajahnya terlihat seperti seorang pembunuh.

"Dokter muda Surya Pratama," kata Pak Bambang. "Duduk."

Surya tetap berdiri. Jasnya masih basah oleh darah pasien.

Wakil direktur mengetuk meja. "Video ini sudah masuk berita nasional. Tagar pembunuh berjas putih berada di urutan dua. Cara tercepat melindungi rumah sakit adalah menegaskan bahwa tindakan Saudara dilakukan di luar instruksi dan tanggung jawab institusi."

"Dengan kata lain, saya dikeluarkan," kata Surya.

Tak ada yang langsung membantah.

Petugas hukum membuka sebuah map. "Kami harus mempertimbangkan dugaan pelanggaran etik dan tindakan invasif tanpa informed consent. Saudara belum memiliki SIP penuh. Bahkan jika niatnya menolong, metodenya—"

"Metode saya menghasilkan return of spontaneous circulation sebelum ambulans tiba," potong Surya.

"Hasil tidak selalu membenarkan prosedur."

"Kematian pasien juga tidak akan dibenarkan oleh formulir yang rapi."

Udara di ruangan menegang.

Pak Bambang menyatukan kedua tangan. "Kalau waktu dapat diulang, apa yang akan kamu lakukan?"

Surya menatap satu per satu orang di meja itu.

"Hal yang sama."

Wakil direktur mendengus. "Berarti Saudara tidak menyesal."

"Saya menyesal alatnya tidak steril. Saya menyesal ambulans tidak tiba lebih cepat. Saya menyesal harus membelah dada pasien di lantai restoran." Surya menarik napas. "Tapi saya tidak menyesal menyelamatkan nyawanya."

Dia menunjuk jas putihnya sendiri.

"Saat mengucapkan sumpah dokter, kita tidak bersumpah hanya menolong orang di dalam rumah sakit. Kita tidak bersumpah menunggu jabatan, izin atasan, atau kamera berhenti merekam. Di depan saya ada manusia yang jantungnya berhenti. Kalau saya diam demi menyelamatkan karier, untuk apa saya memakai jas ini?"

Tak ada suara selain dengung pendingin ruangan.

Bu Ratna, yang berdiri dekat pintu, menurunkan ponselnya.

Pintu terbuka mendadak.

Pak Hendra masuk bersama seorang dokter bedah toraks yang masih mengenakan pakaian operasi.

"Operasi selesai," kata Pak Hendra. "Pasien stabil dan dipindahkan ke ICU."

Semua kepala terangkat.

Dokter bedah meletakkan foto hasil operasi di meja. "Tumor pada paru kiri pecah dan merobek pembuluh. Darah memenuhi rongga toraks. Tanpa tekanan langsung yang dilakukan Surya, pasien hampir pasti meninggal sebelum sampai rumah sakit. Posisi tekanannya tepat. Tidak meleset satu sentimeter pun."

Wakil direktur menatap foto itu, lalu gambar pisau di layar.

Mulutnya tertutup rapat.

Ponsel petugas humas berbunyi. Dia membaca pesan, lalu wajahnya berubah.

"Ada video lengkap," katanya. "Seorang pengunjung mengunggah rekaman dari awal resusitasi sampai jantung pasien kembali berdetak. Keluarga pasien juga sudah memberi pernyataan."

Layar besar berganti.

Kali ini publik melihat dua puluh menit kompresi dada. Mereka mendengar Surya meminta ambulans. Mereka melihat tangannya memijat jantung dan garis monitor kembali bergerak.

Komentar berbalik lebih cepat daripada datangnya tuduhan.

Dia dokter yang baru saja menyelamatkan nyawa seorang pasien.

Saya minta maaf sudah ikut menghujat.

Kalau itu ayah saya, saya akan berterima kasih seumur hidup.

Tagar pembunuh berjas putih tenggelam. Gantinya naik satu kalimat baru: DOKTER PEMBERANI SURABAYA.

Pak Bambang berdiri. "Rumah sakit tidak akan mengorbankan dokter yang menyelamatkan nyawa. Komite medik tetap melakukan evaluasi prosedural. Namun posisi resmi kita jelas: tindakan itu adalah respons darurat, dan pasien hidup karena Surya."

Surya akhirnya mengembuskan napas.

"Surya," panggil Bu Ratna.

Dia menoleh.

Dokter senior itu menundukkan kepala sedikit. "Saya masih tidak menyukai caramu mengambil risiko. Tapi saya salah menilai niatmu. Maaf."

"Saya terima, Bu."

Belum sempat rapat ditutup, suara gaduh terdengar dari koridor. Seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun masuk bersama dua anggota keluarganya. Matanya merah, tangannya gemetar.

"Dokter Surya yang mana?"

Surya maju satu langkah. "Saya."

Pria itu langsung berlutut.

"Ayah saya masih hidup karena Dokter."

Surya buru-buru menarik lengannya. "Pak, berdiri. Jangan seperti ini."

"Saya tadi lihat videonya. Semua orang memaki Dokter saat tangan Dokter masih menahan darah ayah saya." Suaranya pecah. "Kami tidak punya apa pun yang cukup untuk membalas."

Istri dan adiknya ikut menunduk, menangis. Surya memaksa pria itu berdiri, tetapi rasa terima kasih yang memenuhi ruangan seakan memiliki berat sendiri.

Sesuatu bergetar di benaknya.

Sebuah botol bening muncul dalam pandangannya. Cahaya keemasan mengalir dari keluarga pasien, mengisi botol itu sampai ke leher.

『Botol Pahala telah penuh.』

『Ketulusan terverifikasi. Undian pertama tersedia.』

Surya terpaku.

Jadi poin itu tidak berasal dari operasi atau ketenaran.

Sistem mengukur rasa terima kasih yang nyata.

Ketika dia berkedip, tiga kartu cahaya terbuka.

『Pengalaman eksisi fibroma tingkat dunia diperoleh.』

『Tangan Emas meningkat menjadi 50 persen.』

『Pengalaman penanganan kuku akibat onikomikosis diperoleh.』

Panas halus mengalir dari pergelangan ke ujung jari Surya. Sendi-sendinya terasa lebih ringan. Setiap jari dapat bergerak sendiri dengan ketepatan yang sebelumnya mustahil.

Dia belum sempat mengujinya ketika pengeras suara IGD memanggil kasus trauma ringan.

Beberapa jam kemudian, seorang anak laki-laki duduk menangis di ranjang periksa. Luka robek memanjang di lengan bawahnya setelah jatuh menabrak pagar. Ibunya memegang bahunya, cemas melihat jarum.

"Sakit, Dok?" tanya anak itu.

"Kalau kamu lihat jarumnya, sakitnya dua kali lipat," kata Surya. "Jadi bantu saya lihat wajah Kak Rizki. Itu lebih mengerikan."

"Woi," protes Rizki dari seberang ranjang.

Anak itu tertawa di sela tangisnya.

Setelah anestesi lokal bekerja, Surya mulai melakukan jahitan intradermal. Tangannya bergerak tanpa getaran. Jarum masuk pada sudut yang sama, jarak tiap tusukan nyaris identik. Benang menghilang rapi di bawah kulit.

Delapan menit kemudian, luka itu tampak seperti satu garis tipis.

Bu Ratna mendekat dan memeriksa hasilnya. "Kamu belajar teknik ini dari siapa?"

"Baru terpikir tadi."

"Jangan bohong."

"Kalau saya jawab dari sistem di kepala, Bu Ratna bakal minta saya konsultasi psikiatri."

Rizki tertawa. Bu Ratna tidak.

Namun matanya tetap terpaku pada jahitan tersebut.

『Rasa terima kasih diterima. Botol Pahala terisi sepertiga.』

Keesokan paginya, meja Surya di ruang jaga dipenuhi tiga kantong sarapan.

Bunga membawa bubur ayam. Dewi Anggraini membawa roti dan kopi. Seorang perawat lain meletakkan nasi kuning lengkap dengan catatan kecil: untuk dokter paling berani di Surabaya.

"Gue jaga malam tiga tahun," keluh Rizki. "Yang gue dapat cuma gastritis. Lo pegang jantung sekali, langsung dapat katering."

Budi Gendut menepuk perutnya. "Kalau Surya bingung pilih yang mana, gue siap jadi tim penilai."

"Sentuh satu saja, saya jahit mulut kalian," kata Dewi.

Ruangan meledak oleh tawa.

Siang itu, rumah sakit mengadakan konferensi pers dan pemberian penghargaan yang disiarkan langsung. Pak Bambang menyerahkan plakat serta hadiah gabungan dari rumah sakit dan yayasan pasien senilai Rp150.000.000.

Kilatan kamera memenuhi aula.

Surya berdiri di podium dengan jas putih baru. Jas yang berlumuran darah disimpan di dalam kantong barang bukti rumah sakit. Namun semua orang yang menonton masih mengingat gambarnya.

Seorang reporter mengangkat tangan. "Dokter Surya, apakah Anda menganggap tindakan Anda heroik?"

"Tidak," jawab Surya. "Saya hanya kebetulan berada di sana saat seseorang membutuhkan dokter."

Komentar live bergerak begitu cepat di layar monitor.

Lalu dua nama muncul berulang kali.

Tiara Putri: Jangan tertipu. Dia cuma cari perhatian.

Kevin Hartono: Coba tanya dari mana dokter muda miskin itu belajar operasi. Jangan-jangan pasiennya dijadikan eksperimen.

Rizki menunjukkan layar ponselnya dari sisi panggung.

Surya membaca kedua komentar itu.

Kemudian dia menarik mikrofon lebih dekat.

"Baik," katanya tenang. "Kalau mantan saya dan lelaki yang membelinya ingin penjelasan, saya akan jawab sekarang."

1
Mayang
jangan mendadak tamat y thor/Tongue/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!