Nadila terkejut saat pulang dari butik nya, dia menemukan wanita hamil di rumah nya. Irfan, suami nya Nadila mengatakan bahwa dia adalah Rani, sepupu nya yang baru saja datang dari desa.
Irfan mengatakan bahwa bahwa suami nya Rani baru saja meninggal dunia dan dia tidak punya siapa- siapa di desa.
Itu lah sebab nya dia pergi ke kota, awal nya Nadila percaya dengan semua ucapan suami nya. Tapi tidak berselang lama Nadila menemukan bukti, bahwa wanita itu bukan lah sepupu nya Irfan, melainkan istri sirih nya.
Setelah ketahuan, Irfan membela diri dan mengatakan alasan dia menikahi Rani karena Nadila tidak bisa memberi nya keturunan.
Nadila membalas semua perbuatan Irfan, setelah itu dia membeberkan sebuah fakta yang membuat Irfan menyesal seumur hidup nya.
Ikuti kisah nya di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13
Mama Nilam keluar dari kamar tamu yang berada di sebelah kamar yang di tempati oleh Rani, begitu pun dengan Nadila. Dia keluar dari dalam kamar nya, dia bertemu dengan Mama Nilam di depan pintu kamar nya.
"Ma, mas Irfan sudah masuk ke dalam kamar nya Rani!" Nadila berbisik pada Mama nya.
"Iya, ayo kita ambil bukti nya!" Mama Nilam mengajak Nadila pergi.
Ibu dan anak itu pergi ke kamar tamu, pintu kamar tidak terkunci. Kedua orang itu memang ceroboh, mereka mengira bahwa Nadila dan Mama Nilam sudah tertidur dan tidak akan bangun.
Kedua manusia laknat itu sedang berbagi keringat, Mama Nilam dan Nadila merekam kedua nya. Saat ini kedua nya tidak menyadari bahwa apa yang mereka lakukan tengah di rekam oleh istri dan mertua nya.
Tapi sebelum mereka mencapai puncak nya, tiba - tiba mereka langsung menghentikan kegiatan nya. Mama Nilam langsung menarik tangan Nadila keluar dari kamar ini.
"Ada apa Ma?" Bisik Nadila pada Mama nya.
"Udah, kamu lihat saja apa yang mereka alami! Buruan kembali ke kamar dan pura - pura tidur!" Mama Nilam berkata pada Nadila.
Nadila dan Mama Nilam bergegas masuk ke dalam kamar masing - masing, dan kembali pura - pura tidur nyenyak.
Sementara itu di dalam kamar nya, Irfan dan Rani langsung menghentikan aktifitas mereka. Tiba - tiba tubuh mereka merasa gatal dan panas, sehingga hal itu sangat menganggu mereka.
"Aduh, kenapa ini?" Irfan bertanya sambil menggaruk tubuh nya.
"Aku juga rasa nya gatal dan panas, Mas!" Rani ikutan menggaruk kulit nya.
Kulit kedua nya tampak merah dan bentol- bentol di seluruh tubuh, tidak hanya itu gatal nya di sertai dengan panas.
Irfan langsung berlari ke kamar mandi, dia membersihkan tubuh nya. Begitu pula dengan Rani, dia ikut menyusul Irfan. Kedua nya langsung mandi, tapi tetap saja rasa gatal itu tidak menghilang sekalipun mereka telah selesai mandi.
"Mas, tolong aku mas, aku tidak tahan gatal - gatal seperti ini!" Rani berkata sambil terus menggaruk kulit nya.
"Aku juga Ran, ini pasti kamu yang jorok tidak membersihkan kamar ini. Jadi nya banyak kuman dan jadi gatal - gatal!" Irfan menyalahkan Rani.
"Mas, kamu pake pembantu dong. Masa aku yang harus membersihkan kamar sendiri, atau kamu suruh saja Nadila buat membersihkan kan kamar ini!" Rani berkata dengan tidak tahu malu nya.
"Kamu udah gila ya, udah aku balik ke kamar ku saja. Bisa tambah gatal - gatal aku jika terus berada di sini!" Irfan pun pergi meninggal kan kamar nya Rani.
Irfan masuk ke dalam kamar nya dan Nadila, dia terus menggaruk kulit nya yang gatal. Sedang kam Nadila hanya pura - pura tidur, padahal dia sedang menertawakan suami nya dan selingkuhan nya.
'Hmmmm, seperti nya Mama yang ngerjain mereka. Bagus deh, Mama memang yang terbaik!' Guman Nadila di dalam hati.
Irfan terus saja menggaruk kulit nya, karena rasa gatal itu tidak juga menghilang. Sekalipun Nadila telah selesai mandi, tapi gatal nya tidak kunjung menghilang. Bahkan kini kulit nya Irfan sudah bentol - bentol besar, akibat selalu di garuk nya.
"Bagai mana agar gatal ini bisa hilang? Bertanya pada Nadila pun percuma, karena dia tidak akan bangun!" Guman Irfan.
Malam ini Irfan tidak bisa tidur, dia terus menggaruk kulit nya yang gatal dan panas. Kini kulit nya terasa perih, akibat terlalu sering di garuk.
Nadila tersenyum di dalam hati, malam ini Irfan dan gundik nya tidak jadi bersenang - senang. Mereka menikmati kulit gatal dan perih selama semalam.
Adzan subuh berkumandang, Nadila segera bangun. Dia melihat ke samping nya, Irfan sudah tertidur, mungkin rasa gatal itu sudah sedikit berkurang sehingga dia bisa memejam kan mata nya
'Kasihan kamu mas, tapi itu lah akibat nya kalau suka selingkuh!' Batin Nadila di dalam hati.
Nadila segera bangun dan dia melaksanakan sholat subuh, setelah itu dia pergi ke dapur. Dia dapur Mama Nilam tengah memasak buat sarapan, Mama Nilam tersenyum sambil menyapa Nadila.
"Bagai mana dengan Irfan, Dil?" Tanya Mama Nilam sambil berbisik.
"Dia baru bisa tidur menjelang subuh, Ma! Sebenar nya kenapa mereka bisa seperti itu, Ma? Apa yang Mama lakukan?" Tanya Nadila penasaran.
"Mama tabungan serbuk gatal di atas tempat tidur mereka, di sprei dan di selimut nya. Jadi gagal deh mereka bersenang - senang!" Jawab Mama Nilam sambil tersenyum.
"Pantesan saja!" Nadila berkata sambil tersenyum..
Mama Nilam sengaja melakukan semua itu, untuk mengerjai mereka berdua. Bahkan Nadila tidak sampai berfikir ke sana, tapi Mama Nilam tidak rela melihat putri nya di sakiti oleh mereka.
"Udah, biar Mama aja yang masak. Kamu siap - siap gih, pagi ini Mama udah punya rencana untuk Irfan!" Mama Nilam berkata pada Nadila.
"Rencana apa Ma?" Tanya Nadila.
Nadila mengernyitkan dahi nya, Mama nya ini memang penuh kejutan. Dia tidak pernah memberi tahu semua rencana nya pada Nadila, dia melakukan semua nya dengan sangat sempurna tanpa melibatkan Nadila.
"Udah, nanti juga kamu akan tahu. Sana mandi dan bersiap!" Mam Nilam berkata pada anak nya.
Nadila pun akhir nya mengalah, dia segera kembali ke kamar nya untuk membersihkan diri. Dia yakin apa yang di lakukan oleh Mama nya pasti hal yang terbaik untuk nya, di dalam kamar Nadila melihat Irfan yang masih tertidur dengan nyenyak.
Tak ingin menunda waktu, Nadila langsung mandi dan bersiap. Setelah dia rapi baru lah dia membangun kan Irfan.
"Mas, bangun Ma. Sudah siang kau bisa terlambat ke kantor!" Nadila menggoyang kan lengan Irfan.
Irfan membuka mata nya, dia masih merasa sangat mengantuk. Karena dia baru bisa memejam kan mata nya menjelang subuh, dia menggeliat.
"Sudah siang ya?" Tanya Irfan.
" Iya mas!" Jawab Nadila dengan lembut.
Irfan segera duduk sambil bersandar di sandaran tempat tidur, dia masih menggaruk kulit nya yang tampak memerah.
"Kulit kamu kenapa, Mas?" Tanya Nadila yang pura - pura tidak tahu.
"Entah lah sayang, mas tidak tahu kenapa. Sejak tadi malam mas merasa gatal, perih dan panas!" Jawab Irfan.
"Mungkin kamu alergi, Mas! Udah buruan mandi sana, nanti kamu bisa terlambat!" Nadila berkata pada Irfan.
"Iya sayang!" Irfan pun segera bangun dan turun dari tempat tidur.
Irfan pergi ke kamar mandi, sedang kan Nadila langsung melepaskan sprei dan selimut. Dia takut semua nya akan menular pada nya, karena semalam Irfan tidur di sana. Nadila segera mengganti nya dengan yang baru, dan yang lama akan dia bawa ke tempat laundry saja.
Setelah itu Nadila seperti biasanya langsung menyiapkan pakaian kerja untuk suami nya, sebisa mungkin dia bersiap biasa saja agar Irfan tidak curiga jika dia sudah mengetahui semua nya.