NovelToon NovelToon
ANAK RAHASIA SANG PEWARIS TAKHTA

ANAK RAHASIA SANG PEWARIS TAKHTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Secret A

Tujuh tahun lalu, Alena melarikan diri dari Kerajaan Aveloria dalam keadaan hamil. Ayah anaknya adalah Pangeran Adrian, pewaris takhta yang dicintainya diam-diam. Takut dihukum mati dan kehilangan bayinya, Alena memilih menghilang tanpa memberitahu kebenaran. Kini, ia kembali sebagai selir kerajaan bersama Elian, putranya yang berusia tujuh tahun. Adrian membencinya karena mengira Alena meninggalkannya, tetapi kemiripan Elian perlahan membangkitkan kecurigaan. Di tengah intrik istana, pertunangan politik, dan ancaman terhadap putranya, Alena harus mempertahankan rahasia terbesar hidupnya. Namun semakin dekat Adrian dengan Elian, semakin sulit Alena menyembunyikan kebenaran yang dapat mengubah masa depan kerajaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9 — MATA YANG SAMA

​Lampu minyak di ruang kerja Putra Mahkota berkedip-kedip ditiup angin malam yang menyelusup lewat celah jendela batu. Di atas meja kayu ek yang tertutup peta wilayah perbatasan dan dokumen anggaran militer, Pangeran Adrian duduk membisu. Tangannya menggenggam pena bulu, namun tak segores pun tinta ditorehkannya sejak dua jam lalu.

​Pikirannya sepenuhnya terikat pada bayangan anak laki-laki di Aula Utama sore tadi.

​Mata abu-abu itu. Kebiasaan mengernyitkan hidung. Cara berdirinya yang tegap namun defensif.

​Pintu ruang kerja berketuk pelan tiga kali. Tanpa menunggu jawaban penuh, Gareth melangkah masuk, menutup pintu tebal itu rapat-rapat di belakangnya. Kepala pengawal pribadi tersebut menunduk hormat, menaruh seberkas dokumen terlipat di tepi meja Adrian.

​"Anda memanggil saya, Yang Mulia?" tanya Gareth dengan nada kaku yang biasa.

​Adrian tidak langsung menyentuh dokumen itu. Ia menegakkan punggungnya, menatap Gareth dengan mata yang tajam dan tak berkedip—tatapan yang biasa ia gunakan saat menginterogasi tahanan perang di perbatasan.

​"Gareth," panggil Adrian, suaranya berat dan berbahaya. "Kau adalah orang yang mengawal kepulangan Selir Alena dan putranya dari Desa Bellmare."

​"Benar, Yang Mulia. Atas perintah langsung dari Ratu Eleanor."

​"Berapa usia anak itu?"

​Gareth menahan napas sekilas. Wajah perwira berpengalaman itu tetap datar, terlatih menyimpan rahasia selama puluhan tahun mengabdi pada keluarga Valerian. "Menurut dokumen kependudukan desa yang dikumpulkan pengawal lokal, Elian berusia tepat tujuh tahun dua bulan."

​Tujuh tahun dua bulan.

​Dada Adrian seperti dihantam martil besi. Angka itu berputar liar di dalam otaknya. Tujuh tahun dua bulan yang lalu... adalah masa-masanya bersama Alena di Taman Mawar, tepat beberapa minggu sebelum wanita itu menghilang secara mendadak.

​"Siapa nama ayahnya yang tercatat di dokumen desa?" desak Adrian lagi, matanya menyipit penuh kecurigaan.

​"Tidak ada nama ayah yang terdaftar, Yang Mulia," jawab Gareth, memilih kata-katanya dengan teramat hati-hati. "Lady Alena mendaftarkan dirinya sebagai janda dari seorang pedagang biasa yang dikabarkan tewas di perbatasan barat sebelum anak itu lahir. Tidak ada nama keluarga, tidak ada surat nikah resmi yang dilampirkan."

​Adrian tertawa pelan—sebuah tawa dingin yang membuat bulu kuduk di leher Gareth berdiri. Pria itu berdiri dari kursinya, melangkah perlahan mengelilingi meja kerja, mendekati sang kepala pengawal.

​"Seorang pedagang tanpa nama? Tanpa dokumen? Tanpa jejak?" Adrian berhenti tepat di depan Gareth, memiringkan kepalanya sedikit. "Gareth, kau sudah mengawalku sejak aku berusia dua belas tahun. Kau tahu persis bagaimana aku berpikir. Apakah kau percaya pada cerita pedagang anonim ini?"

​Gareth menundukkan kepalanya lebih dalam. "Tugas saya hanyalah menjalankan perintah dan menjaga keselamatan keluarga kerajaan, Yang Mulia. Saya tidak berhak berspekulasi mengenai asal-usul keluarga seorang selir."

​"Tetapi kau melihat anak itu, bukan?" desak Adrian, suaranya merendah bagai bisikan dari kegelapan. "Kau melihat matanya. Kau melihat struktur wajahnya. Jangan berbohong padaku, Gareth. Apakah kau tidak melihat diriku pada anak itu?"

​Ruang kerja itu mendadak hening. Hawa dingin malam seakan membekukan napas kedua pria itu. Gareth mengepalkan tangannya di balik punggung, berada di posisi yang sangat menyiksa antara kesetiaannya pada janji rahasia Ratu dan kewajibannya pada Pangeran yang dilayaninya.

​"Pangeran Adrian," ujar Gareth akhirnya, suaranya pelan dan dalam. "Jika Anda mengizinkan saya berbicara bukan sebagai pengawal, melainkan sebagai pria yang telah melihat Anda tumbuh... ada rahasia di istana ini yang jauh lebih mematikan daripada pedang musuh di perbatasan. Jika Anda menggali tanah yang salah, Anda mungkin akan menemukan kebenaran yang akan memaksa Anda memilih antara mahkota Anda... atau nyawa orang-orang yang Anda sayangi."

​Jawaban itu bukan sekadar elakan; itu adalah sebuah konfirmasi tersirat.

​Adrian memejamkan matanya rapat-rapat. Jantungnya berdegup kencang, menghantam rusuknya dengan rasa sakit yang tak tertahankan. Dugaan gila yang tadinya terdengar bagai ilusi keputusasaan mendadak berubah menjadi fakta yang hampir pasti.

​Elian adalah anaknya.

​Anak yang dibawa Alena melarikan diri tujuh tahun lalu bukanlah anak dari pria lain. Anak itu adalah darah dagingnya sendiri, pewaris sah dari garis keturunannya yang disembunyikan di sebuah desa terpencil selama tujuh tahun.

​"Mengapa..." bisik Adrian, suaranya pecah oleh kepedihan dan amarah yang melebur jadi satu. "Mengapa dia menulis surat itu? Mengapa dia berbohong padaku dan membuatku membencinya selama tujuh tahun?"

​"Saya tidak tahu isi surat itu, Yang Mulia," sahut Gareth bohong demi melindungi Alena dari kemarahan Adrian yang belum terkendali. "Namun jika seorang ibu memilih melarikan diri dalam keadaan hamil dan menanggung penderitaan di desa terpencil daripada tinggal di Istana Valerian... pastilah ada ketakutan yang jauh lebih besar daripada rasa cintanya."

​Adrian terdiam. Kata-kata Gareth menghantam kesadarannya bagai kilat di malam gelap.

​Ketakutan yang lebih besar.

​Adrian mengingat kembali masa-masa tujuh tahun lalu. Pertunangan politiknya dengan Seraphina Ardent baru saja diumumkan oleh Raja Cedric. Dewan kerajaan menuntut kepastian suksesi. Jika saat itu kehamilan Alena terbongkar—seorang gadis dari keluarga bangsawan rendah mengandung anak Putra Mahkota yang sudah ditunangkan dengan putri Duke Ardent—apa yang akan dilakukan dewan? Apa yang akan dilakukan ayahnya?

​Mereka akan menyingkirkan Alena. Dan anak itu... jika dibiarkan lahir, akan dianggap sebagai ancaman skandal yang harus dimusnahkan demi menjaga aliansi militer dengan keluarga Ardent.

​Darah di tubuh Adrian terasa mendingin seketika. Kebencian yang dipeliharanya selama tujuh tahun terhadap Alena perlahan retak, menyingkap kenyataan mengerikan yang selama ini tersembunyi di balik kepergian wanita itu. Alena tidak mengkhianatinya. Alena melarikan diri untuk menyelamatkan nyawa anak mereka.

​Sementara itu, di Paviliun Barat, suasana tak kalah mencekam.

​Bangunan dua lantai berarsitektur tua itu cukup megah, namun terasa terasing dari pusat istana. Di dalam kamar utama yang diterangi beberapa lilin lebah, Alena sedang duduk di tepi ranjang berkanopi. Ia menonton Elian yang sudah tertidur lelap di atas kasur bulu yang empuk.

​Anak kecil itu tampak begitu lelah setelah perjalanan panjang dan ketegangan di Aula Utama. Wajahnya saat tidur terlihat begitu polos dan damai, jemari mungilnya masih menggenggam erat sudut bantal.

​Alena mengusap dahi putranya lembut, air mata hangat menetes tanpa bisa ditahannya lagi.

​"Alena," panggil Mira pelan dari balik pintu. Mira melangkah masuk membawakan segelas susu hangat dan sehelai selimut tambahan. "Bagaimana keadaan anak itu?"

​"Dia sudah tidur," bisik Alena, menyapu air matanya cepat. "Mira... kita berada di dalam bahaya yang sangat besar. Adrian sudah mulai mencurigai sesuatu."

​Mira duduk di samping Alena, raut wajahnya penuh kecemasan. "Bagaimana kau tahu?"

​"Cara dia menatap Elian tadi sore," ujar Alena, suaranya bergetar. "Adrian bukan pria jahat, Mira. Dia cerdas. Dia pandai membaca taktik perang. Perhitungan usianya, mata Elian... Adrian akan menyambungkan semua petunjuk itu dalam waktu singkat."

​"Lalu apa yang akan kau lakukan jika dia bertanya langsung padamu?" tanya Mira. "Apakah kau akan terus berbohong?"

​Alena mengepalkan tangannya di atas pangkuannya, meremas kain gaun hijaunya. "Aku harus terus berbohong. Demi keselamatan Elian. Jika aku mengakuinya, Duke Ardent akan tahu bahwa Elian adalah anak kandung Adrian. Seraphina tidak akan tinggal diam melihat posisi calon anaknya digantikan oleh seorang anak yang lahir dari selir. Mereka akan meracuni Elian, Mira! Mereka akan menyewakan pembunuh bayaran untuk memastikan darah Valerian di tubuh Elian terhenti!"

​"Tapi kau tidak bisa bersembunyi selamanya di istana ini, Alena," ingat Mira lembut namun realistis. "Tempat ini penuh dengan mata-mata. Pelayan di luar pintu, pengawal di lorong... semuanya bisa saja dibayar oleh keluarga Ardent."

​Alena menatap wajah lelap Elian sekali lagi. Ia tahu Mira benar. Tembok Istana Valerian ini tidak menyembunyikannya dari badai; tembok ini justru mengurungnya di pusat badai itu sendiri.

​Tiba-tiba, dari arah jendela kamar yang terbuka sedikit, angin malam berhembus kencang, memadamkan salah satu lilin di atas meja. Alena berdiri untuk menutup daun jendela kayu tersebut.

​Namun saat ia berdiri di dekat jendela dan menatap ke bawah—ke arah Taman Mawar yang membentang di antara Paviliun Barat dan Kediaman Putra Mahkota—langkah kakinya membeku.

​Di bawah bayangan pohon eboni tua di tengah taman, berdiri sesosok pria tinggi berbalut jubah hitam. Pria itu tidak bergerak, hanya berdiri diam menatap lurus ke atas, ke arah jendela kamar Alena.

​Cahaya bulan purnama memantul tipis pada wajah tegas pria itu dan pada warna matanya yang abu-abu pekat.

​Pangeran Adrian.

​Adrian berdiri di sana, di tempat yang sama di mana mereka pernah mengikrarkan janji tujuh tahun lalu, menatap jendela kamarnya dengan tatapan yang penuh rasa sakit, kebingungan, dan keputusasaan yang mendalam.

​Alena berdiri terpaku di dekat jendela, tangannya memegang kosen kayu. Mereka saling menatap melintasi jarak puluhan meter dalam kegelapan malam. Tidak ada kata yang terucap. Namun di dalam keheningan itu, Alena menyadari satu hal yang mengerikan:

​Rahasia yang dijaganya dengan darah dan air mata selama tujuh tahun... kini telah retak sepenuhnya. Dan Adrian tidak akan pernah berhenti sampai ia menemukan seluruh kebenarannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!