Di dunia modern di mana kultivasi berjalan beriringan dengan teknologi, Chen Mo adalah siswa jenius dengan nilai teori sempurna yang bermimpi menjadi kultivator hebat.
Namun, kenyataan pahit menghantam di hari kelulusan saat Upacara Kebangkitan menunjukkan bahwa dia hanya memiliki Bakat Rank F—level terendah yang dicap sebagai "sampah".
Kekecewaannya bertambah ketika teman masa kecilnya, Su Mengqi, yang membangkitkan Bakat Rank S, langsung memutuskannya demi mengejar masa depan bersama para elit.
Meskipun diremehkan oleh semua orang dan masuk ke Akademi Naga Bintang yang bergengsi hanya karena jalur akademis, Chen Mo tidak putus asa, terutama setelah dia secara tak terduga membangkitkan "Sistem Check-in".
Melalui sistem ini, dia mendapatkan hadiah tak terbatas mulai dari pil langka, teknik kuno, hingga uang tunai hanya dengan melakukan check-in di berbagai lokasi akademi.
Diam-diam, di balik tembok akademi yang penuh cemoohan, Chen Mo mulai menumpuk kekuatan dan kekayaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Malam itu, asrama barat terasa jauh lebih tenang dari biasanya.
Chen Mo duduk bersila di atas kasurnya yang tipis, matanya terpejam dengan napas yang sangat teratur.
Teknik Pernapasan Bintang Primal terus bekerja secara otomatis di dalam tubuhnya.
Setiap tarikan napasnya menarik partikel energi spiritual dari udara, menyaringnya menjadi kekuatan murni.
"Lima puluh lokasi check-in tersembunyi, ini jumlah yang sangat gila," batin Chen Mo sambil membuka mata.
"Jika aku mendatangi semuanya dalam satu hari, fluktuasi energi yang terkumpul pasti akan memicu alarm pusat akademi."
"Aku harus bersabar dan membaginya menjadi rutinitas harian agar tidak ada yang curiga."
Chen Mo mulai memetakan rute di dalam kepalanya, memprioritaskan area yang jarang dilewati oleh guru yang berjaga.
Keesokan paginya, Chen Mo turun ke kantin asrama untuk sarapan seperti biasa.
Suasana kantin masih suram, namun ada yang berbeda saat dia melangkah masuk.
Beberapa murid kelas dasar langsung menundukkan kepala dan memberinya jalan dengan raut wajah segan.
Kabar tentang bagaimana dia mengusir senior kelas menengah kemarin rupanya sudah menyebar luas.
Chen Mo mengambil nampan berisi roti keras dan bubur encer, lalu duduk di sudut ruangan.
Baru saja dia memakan satu suapan, murid kurus yang dia tolong kemarin datang menghampirinya.
Murid itu membawa segelas susu hangat dan meletakkannya di meja Chen Mo dengan gugup.
"S-selamat pagi, Saudara Chen. Namaku Wang Bo," sapa murid kurus itu dengan suara pelan.
"Susu ini dari jatahku, anggap saja sebagai ucapan terima kasih tambahan untuk kemarin."
Chen Mo menatap segelas susu itu lalu menatap wajah ketakutan Wang Bo.
"Duduklah. Kau tidak perlu memberiku jatah makanmu, tubuh kurusmu itu lebih membutuhkannya daripada aku," ucap Chen Mo santai.
Wang Bo buru-buru duduk di seberang Chen Mo, tangannya saling meremas di bawah meja.
"Saudara Chen, kau harus sangat berhati-hati mulai hari ini," bisik Wang Bo sambil menoleh ke kanan dan kiri.
"Aku mendengar dari anak asrama lain bahwa senior kekar kemarin itu adalah pesuruh dari faksi Lin Feng."
"Lin Feng dari kelas elit kabarnya sangat marah dan sedang mencari cara untuk menghancurkanmu di dalam akademi."
Mendengar nama Lin Feng, Chen Mo hanya terus mengunyah rotinya tanpa ekspresi terkejut sedikit pun.
"Orang bodoh memang selalu suka membuang waktu untuk hal yang tidak berguna," jawab Chen Mo datar.
"Lagipula, murid kelas dasar dan kelas elit memiliki area aktivitas yang berbeda."
"Kecuali dia sengaja datang ke asrama barat ini, dia tidak akan punya kesempatan untuk mencariku."
Wang Bo menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya dengan sedih.
"Itulah masalahnya, Saudara Chen. Kau belum mendengar pengumuman terbaru di grup pesan asrama."
"Hari ini, semua kelas dasar akan digabungkan dengan kelas elit untuk ujian praktik lapangan pertama kita."
Tangan Chen Mo yang sedang memegang sendok berhenti sejenak.
"Ujian gabungan? Itu bukan gaya akademi ini untuk menyatukan naga dan cacing dalam satu tempat," ucap Chen Mo dengan nada sinis.
"Mereka tidak menyatukan kita untuk belajar bersama, Saudara Chen."
"Mereka menyatukan kita karena kelas elit membutuhkan pembawa barang dan perisai daging untuk masuk ke Hutan Kabut Hitam."
Penjelasan Wang Bo membuat segalanya menjadi sangat masuk akal di kepala Chen Mo.
Sistem kelas di dunia ini benar-benar tidak peduli pada nyawa mereka yang berada di dasar rantai makanan.
"Menarik sekali," batin Chen Mo sambil tersenyum tipis, matanya memancarkan kilatan dingin yang berbahaya.
"Hutan luar akademi adalah tempat tanpa hukum, CCTV tidak akan bisa menjangkau ke sana."
Chen Mo menghabiskan makanannya dengan cepat dan berdiri dari kursi.
"Ayo berangkat ke kelas, Wang Bo. Jangan sampai Guru Zhao mendapat alasan untuk meneriaki kita pagi-pagi," ajak Chen Mo.
Saat mereka tiba di ruang kelas dasar, Guru Zhao sudah berdiri di depan kelas dengan wajah garang.
Rokok elektronik masih menempel di bibirnya, membulkan asap tebal ke udara.
Begitu melihat Chen Mo masuk, mata Guru Zhao langsung menyipit tajam penuh kebencian.
"Lihat siapa yang baru datang, murid jenius kita yang bolos dari kelasku kemarin," sindir Guru Zhao dengan suara keras.
"Aku harap kakimu yang sombong itu masih bisa berdiri tegak sampai sore nanti."
Chen Mo mengabaikan sindiran itu dan langsung berjalan menuju kursinya di pojok belakang.
Guru Zhao mendengus kasar, lalu memukul meja guru dengan penggaris besi untuk menenangkan kelas.
Prak!
"Semuanya dengarkan baik-baik, jangan ada yang berani memotong pembicaraanku!" teriak Guru Zhao.
"Ujian praktik pertama kalian akan dimulai dalam satu jam di Gerbang Utara akademi."
"Kalian akan ditugaskan untuk mengawal dan melayani murid-murid dari Kelas Elit Rank A dan Rank S."
Terdengar suara helaan napas pasrah dari seluruh penjuru kelas.
"Tugas kalian sangat jelas. Bawa tas punggung mereka, bersihkan tempat kemah mereka, dan jadilah umpan jika ada monster buas yang menyerang."
"Jika kalian berhasil membuat tuan dan nyonya elit kalian senang, kalian akan mendapat tambahan kredit akademik."
"Tapi jika ada satu saja murid elit yang terluka karena kelalaian kalian, kalian akan langsung dikeluarkan dari akademi ini."
Syarat yang sangat tidak masuk akal itu membuat beberapa siswi mulai menangis pelan.
Chen Mo menyandarkan punggungnya ke kursi dan mengangkat tangannya dengan santai.
"Ya, Chen Mo? Mau protes lagi?!" bentak Guru Zhao dengan mata melotot.
"Berapa bayarannya?" tanya Chen Mo singkat.