10 juta orang berusia 18-25 tahun dengan tingkat kecerdasan, kekuatan fisik, ketangguhan mental dan kemampuan beradaptasi di atas rata rata, serta berstatus lajang, dipilih untuk menjadi penghuni planet baru bernama subiru selama 5 tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ponny Sagita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DASAR BABI!
Setelah semalaman bermeditasi, system ku memberikan kabar bahagia.
(Naya, kamu berhasil memenuhi salah satu syarat misi khusus api. Kamu bisa upgrade skill sekarang.)
(Nice.. Celia. Lets do it.)
Hawa hangat menyelubungiku, aku memejamkan mata, merasakannya, meresapinya. Tali ikatan energi di tubuh ku semakin memadat. Garis benang energi api menebal dan menguat.
...----------------...
Para bocil ribut saat aku dan geulis masuk ke rumah. Mereka nampak gelisah kami tak di rumah semalaman. Mungkin karena perilaku para babi. Memang semalam beberapa dari gerombolan si berat itu menyeruduk perisai energi wilayahku.
Agak mengganggu meditasiku. Bahkan geulis sempat turun dari tower dan menggeram di perbatasan wilayah, mengusir para babi keras kepala.
Setelah memberi makan geulis dan para bocil, aku ke kamar mandi, menuntaskan hajatku dan bebersih.
Kusempatkan menengok kedua tanaman hadiah mas ben, kaktus kaning, nama pemberian mas ben, menampakkan bakal bunganya. Bunga batu masih awet mekarnya, bahkan tampak lebih besar dari sebelumnya. Sepertinya aku harus membuat pot pot bunga. Kan biar lebih syantik. Masa atuh lah pake batok kelapa terus.
Aku ke dapur, pasukan cilik sudah selesai makan, dan sedang berguling-guling di lantai dapurku yang gak seberapa itu. Kuminta geulis mengajak mereka main di luar.
Aku memulai sarapanku, sebatang energy bars dan segelas kopi. Stok kopiku memang masih sangat banyak, thanks to yangti dan bu imah.
Semoga ke depannya aku bisa menemukan bibit kopi yang bisa kutambahkan dalam koleksi tanaman di kebunku.
...----------------...
Setelah pemanasan, aku mulai berlari beberapa kali mengelilingi batas wilayahku, sembari melihat para babi yang masih bergerombol di batas hutan.
Geulis hanya duduk di bawah tower pantau bersama bejo dan nining. Petir dan awan berusaha mengikutiku, namun akhirnya menyerah dan kembali ke dekat induk mereka.
Cukup puas berlari, aku lanjut berlatih kickboxing dan senjata. Kali ini senjata yang kupakai tombak panjang yang ku duplikat dari milik ana kemarin. Material logam ringan dan lentur membuat tombak takkan mudah rusak.
Aku tak memiliki ilmu pemakaian senjata ini, jadi hanya melakukan gerakan dasar. Aku berharap ke depannya bisa bertemu seseorang yang dapat mengajariku.
Aku berhenti berlatih saat timer di jam tanganku berbunyi. Durasi dua jam sudah cukup. Aku melakukan pendinginan.
Mendekati jam 09.00 wib kota jaya, waktu dimana batas awal migrasi para penyintas, aku mendekat ke batas wilayah di mana para gerombolan si berat babi hutan berada.
Mereka mendengus dengus keras, berusaha mengancamku.
"Dasar babi. Mau cari mati ya. Ini wilayah gw! Gak ada ya main jarah jarahan di sini. Sekarang gw kasi pilihan, lo pada mundur teratur, sejauh mungkin dari sini, atau gw bolongin kepala lo yang keras itu!" Aku mulai mengomeli para babi hutan.
Babi terbesar dengan taring melengkung seperti kumis baplang para juragan sawah jaman dulu, maju selangkah dan mendengus congkak.
Aku berdecih dan menyeringai. "Oh.. Gitu. Jadi pilih mati hm?! Jangan salahin gw ya kalo ada pembunuhan massal. Lo yang gak mau nyingkir."
Saat jam di tangan ku berbunyi menunjukkan jam 9 tepat, pistol sudah di tanganku dan DOR!
Tembakan pertama tepat di dahi sang ketua gerombolan babi. Dia meringkik sejenak lalu BUM! Tubuhnya yang besar tergeletak di atas tanah. Mati seketika.
Pasukan babi hutan kocar-kacir berusaha lari menyelamatkan diri. Aku tak ragu mengejar mereka semua dan kubantai satu per satu. Geulis mengikutiku, menerkam babi yang hendak menyeruduk dari samping. Aku masuk ke dalam hutan, berburu babi liar.
Seperti yang kuduga, kondisi di dalam hutan berantakan, hasil pesta pora babi hutan. Aku berdecak kesal melihatnya.
Aku berjalan santai sambil sesekali menembak jatuh babi yang numpang lewat. Masih ada yang tampak bersembunyi, berharap aku tak melihatnya.
Hedeeh.. Dikira badan segede gentong kagak keliatan apa.
Kutembaki mereka hingga panik dan berusaha kabur. Tapi ya tak ada maaf bagimu wahai babi hutan. Semua kuhabisi.
Geulis menyusul ku dan berjalan tenang di belakangku. Memastikan tak ada babi hutan yang tersisa yang nekat menyerudukku.
"Hama memang harus dibasmi tuntas, gak boleh ada sisa." Ucapku pada geulis. Dia menggeram pelan mengiyakan.
Kami berputar di sekeliling hutan hingga 15 menitan. Memastikan semua babi hutan sudah lenyap.
Lalu kami lanjut mengambil box bantuan. Dan mencari habitat tanaman baru yang mungkin masih selamat dari serbuan babi hutan kemarin.
Di atas batang sebuah pohon, aku menemukan seekor ular sapi. Bergelantungan nyaman, menonton aku dan geulis beraksi. "Kamu jaga hutan ya. Kalo ada hama macem tikus, habisin aja. Ngerti?!" aku berbicara pada sang ular. Dia sedikit mengangguk.
Kami kembali berjalan menembus hutan hingga titik terjauh dari rumahku, mecapai daerah dengan hutan bakau dan berbatu karang, berjalan di pesisir, memutari pulau menuju pulang.
Di pantai yang kami lalui, aku menemukan beberapa kepiting kecil keluar dari bawah pasir dan berjalan menuju ombak.
Di kejauhan lautan, nampak sepasukan lumba lumba berenang dan melompat di atas air. Suara teriakan nyaring mereka pun sampai ke telingaku.
Aku lalu berjongkok di depan dua ekor kelomang yang sedang adu nasib, aku tertawa sambil menonton mereka.
...----------------...
Di bumi.
Chat dunia maya negara pusaka.
-A : kanaya agak random ya. Tadi badass banget ngbantai babi. Lah trus sekarang ketawa ketawa sendiri ngeliatin kelomang lagi ribut.
-B : lah kemarin lebih random, nangisin banteng yang dia bunuh. Emang agak lain tuh cewe, tapi gw suka.
-C : padahal benito cowonya gak begitu ya. Cool banget. Lakik banget. Tapi sukanya sama cewe aneh.
-D : kanaya bukan aneh. Dia unik. Cari deh di muka bumi ini, ada gak yang kayak dia? Jarang pasti.
.
Basis kota jaya.
"Kemarin pake pedang, tangan kosong, pedang api, sekarang pakai pistol. Senjata dia gak main main ya. Besok entah pake apa lagi. Selain senjata berjalan, kayaknya dia gudang senjata." Komentar salah satu petugas.
"Menurut info, dia dapat beberapa senjata dari kakeknya. Tapi setau saya, bukan pistol salah satunya." Tanggap petugas yang lain.
"Wah.. Kakek dia ternyata pemasok senjata nya." Si petugas pertama terkekeh.
...----------------...
Back to naya.
Hologram biru mas ben menyala di atas tanganku, nampak perubahan warna pada tubuhnya yang kelelahan. Heran deh si masku ini, kok suka banget bikin tubuhnya dehidrasi. Lagian abis lawan apa sih, kok kayaknya cape banget.
.
Chat ke mas ben.
-Aku : abis ngapain. Cape banget kayaknya.
-Ben : abis lawan singa gunung sayang. Pinter banget pake sembunyi sembunyi trus nyergap.
-Aku : minum yang banyak mas. Dehidrasi kamu tuh.
(Naya mengirim kan sebutir kelapa muda)
-Ben : dari kemaren mas belum ngasi apa apa ke kamu loh nay, kamu udah ngasi lagi.
-Aku : santai aja kali mas. Btw tadi aku abis berburu babi hutan sama geulis. Kesel banget liat hutan diacak acak.
-Ben : babi hutan kan agresif sayang. Kamu gak diseruduk?
-Aku : kan ada geulis jadi backup aku. Makanya aku santai aja, muterin hutan sambil kutembakin satu satu.
-Ben : mas agak tenang kamu ada partnernya. Kayak di bumi, ada celia yang jadi partner kamu.
-Aku : hahaha.. Tapi celia tetep partner aku, kan system aku namanya celia.
-Ben : iya sih ya. Kamu sama dia klop banget, padahal dia kan manja. Mas aja suka kelabakan sama kelakuannya.
-Aku : ya emang sih. Tapi dia setia kawan. Cuma dia satu satunya sobat aku mas.
-Ben : dan cuma sayangku satu satunya sobat dia. Makasih ya sayang..
-Aku : dih! Apaan sih.
-Ben : hahaha..
...----------------...