NovelToon NovelToon
Sultan Berjiwa Jawara

Sultan Berjiwa Jawara

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / CEO
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

DADANG SANG PENAKLUK adalah cerita tentang Dadang Hermawan, jawara silat dari Lembang yang tewas secara misterius lalu terbangun di tubuh pewaris konglomerat Jakarta. Di tengah dunia bisnis, keluarga berbahaya, dan organisasi rahasia yang mengincar tubuhnya, ia harus bertahan sambil mengungkap kebenaran di balik “Proyek Wadah Sempurna” yang menghubungkan hidup dan kematiannya. Setiap kemenangan membawa luka baru, setiap jawaban membuka misteri yang lebih gelap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: DUA LANGIT, SATU KEHILANGAN**

**

Lembang malam itu dingin banget, lebih dingin dari biasanya, kayak kabut sengaja turun lebih tebal buat nutupin kesedihan yang masih nempel di mana-mana. Di teras rumah petak yang catnya makin pudar, Mak Inah duduk sendirian di kursi kayu, selimut tipis dililitkan ke badannya yang udah keriput, matanya menatap jalan setapak yang gelap, sepi, hanya diterangi satu lampu jalan yang kelap-kelip.

"Mak nungguin atuh, Dadang pasti pulang. Paling abis nganterin sayur ke rumah Aki buat latihan silat dulu."

Dudung keluar dari dalam rumah, mata sembab, suara serak, "Mak, masuk, atuh. Udah malem, Mak teh dari pagi belum makan."

"Mak gak laper, Dung. Mak nungguin Aa kamu dulu."

Dudung berdiri di ambang pintu, dadanya sesak, lidahnya kelu mau ngomong apa, tapi akhirnya keluar juga kata-kata yang udah ditahan berhari-hari.

"Mak... Aa Dadang udah teu ada. Udah sebulan, Mak. Udah dikubur. Mak harus iklas."

Mak Inah berdiri mendadak, matanya membesar, suaranya naik, "Kamu teh, Dung! Kamu kok bilang Aa kamu udah meninggal! Jangan ngomong gitu sama kakak kamu sendiri, dosa, Dung!"

Dudung menunduk, air matanya jatuh diam-diam, badannya bergetar nahan tangis yang udah mau pecah, tapi dia tahan, soalnya kalau dia nangis sekarang, emaknya pasti makin panik.

Mak Inah berhenti sebentar, matanya menatap muka Dudung lebih dekat di bawah cahaya lampu teras, dan dia baru sadar, ada lebam di pipi anaknya, sedikit bengkak di sudut bibir.

"Dudung, ini kenapa muka kamu? Bonyok begini."

"Oh, eh, jatuh, Mak. Jatuh dari motor, sama temen tadi siang."

Mak Inah percaya begitu saja, mengangguk pelan, lalu mengelus pipi anaknya dengan tangan yang gemetar, "Hati-hati atuh kalau bawa motor."

Tapi yang sebenarnya terjadi jauh lebih pahit dari sekadar jatuh dari motor. Sejak kepergian Dadang, sekolah Dudung berubah jadi tempat yang dia takuti setiap pagi. Anak-anak yang dulu segan karena dia adik jawara, sekarang malah jadi berani, malah jadi senang melihatnya sendirian tanpa pelindung.

Dan yang paling menyakitkan, salah satu yang paling sering memalaknya adalah Ujang, sahabat seperguruan Dadang sendiri, yang dulu menangis paling keras di pemakaman, tapi sekarang justru jadi orang yang paling sering menarik kerah baju Dudung di gang sempit sepulang sekolah, meminta uang yang Dudung sendiri tidak punya.

"Kakak lo udah teu ada, siapa lagi yang mau lindungin lo," kata Ujang waktu itu, suaranya dingin, jauh dari sosok yang dulu memanggil Dadang dengan penuh hormat.

Dudung tidak pernah membalas, hanya menahan setiap pukulan yang jatuh ke tubuhnya, karena dia tahu, sekuat apapun dia menangis, tidak ada lagi kakak yang akan datang membelanya.

Tapi semua itu dia simpan sendiri, tidak pernah diceritakan ke emaknya, karena dia tahu, hati Mak Inah sudah cukup hancur tanpa harus ditambah beban itu.

***

Dari arah gang, muncul Kirana, membawa rantang makanan, langkahnya pelan, ragu, seperti berat sekali untuk sekadar mendekat ke rumah itu.

"Assalamualaikum, Mak."

Mak Inah menengok, tersenyum lemah, "Kirana. Ayo, atuh, masuk."

"Saya cuma mau ngasih ini, Mak. Makanan, biar Mak makan."

Kirana meletakkan rantang itu di meja teras, dan saat dia mendengar Mak Inah bergumam lagi, "Mak nungguin Dadang pulang, dia pasti laper abis nganterin sayur," dada Kirana terasa diremas habis-habis.

Dia tidak sanggup berlama-lama di situ. Pamit cepat, hampir terbata, "Saya pulang dulu, Mak."

Begitu keluar dari pekarangan rumah, langkahnya semakin cepat, sampai dia berhenti di semak-semak pinggir jalan setapak, badannya merosot, dan tangisan yang selama ini dia tahan akhirnya pecah sendirian di sana.

"Ini gara-gara aku. A Dadang meninggal gara-gara aku."

Suaranya tenggelam dalam gelapnya malam Lembang, hanya jangkrik dan angin dingin yang mendengar, dan Kirana menangis di sana sampai badannya lemas, sampai tidak ada lagi air mata yang bisa keluar.

***

Jauh dari sana, di balkon rumah mewah yang menghadap langit Jakarta yang penuh gedung berkilau, Dadang berdiri sendirian, menatap bulan yang sama, langit yang sama, walau jaraknya begitu jauh dari rumah yang dulu menjadi rumahnya.

Dia memegang dadanya sendiri, merasakan sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan, seperti ada ikatan batin yang tidak pernah bisa benar-benar putus, walau raganya sudah berpindah.

"Ikatan batin itu nyata kali ya. Apa yang Mak rasain, mungkin nyambung juga ke sini, ke gue."

Dia menengadah, menatap bintang-bintang yang jumlahnya jauh lebih sedikit dibanding langit Lembang yang gelap dan jernih.

"Gue sekarang jadi sultan. Rumah gede, duit banyak, semua orang manggil gue Tuan David. Tapi gue gak bahagia. Gue cuma keinget Mak, keinget Dudung, keinget Kirana."

Dia menutup mata, menahan sesuatu yang panas di balik kelopaknya.

"Kalau gue balik ke sana sekarang, mereka juga gak akan kenal gue. Muka ini bukan muka Dadang. Tapi suatu hari, gue akan ke sana. Walau mereka gak akan pernah tahu, ini gue, Dadang, yang sekarang ada di tubuh orang lain."

Ponsel di tangannya bergetar. Nama Anto muncul di layar.

Dia menjawab, "Halo?"

"Vid," suara Anto di seberang terdengar serius, jauh dari nada bercanda biasanya, "gue sama Camelia udah diskusi panjang soal lo. Soal perubahan lo yang aneh banget ini."

Dadang terdiam, jantungnya mulai berdebar.

"Gue tau lo bukan David. Besok jam sembilan, kita ketemu, bicara. Tolong, jelasin ke gue dengan masuk akal, kenapa lo berubah."

Telepon ditutup begitu saja, meninggalkan Dadang berdiri sendiri di balkon, menatap layar ponsel yang sudah gelap, sementara angin malam Jakarta berhembus pelan, membawa pertanyaan besar yang esok harus dia jawab.

Akankah dia mengaku? Dan jika dia mengaku, apakah Anto dan Camelia akan percaya, sementara Bunda Melati sendiri, ibu yang melahirkan tubuh ini, bahkan tidak pernah benar-benar mempercayainya?

*(bersambung)*

1
Vie
apakah mereka sebenarnya ditukar?? iihhh penasaran
Vie
pastinya... wah teka teki silang nih.. 🤭🤭
Vie
iihh jadi tegang gini.. dari pertama baca vibes nya agak menegangkan... 👍🏼👍🏼👍🏼
Was pray
gak ada kejelasan, satu bab menggantung
Vie
wah kenapa tuh, ada apa.... aaahh aku jadi tegang nih... penasaran...
Vie
kebayang muka nya pa Jarwo sok cool dan jaga gengsi 🤣🤣🤣🤣🤣
Vie
iya ... iya.... ngetes nya sampai habis 3 biji.... asal jangan "darmaji" aja ya Tot 🤣🤣🤣🤣
Vie
cuman butuh 1 menit untuk nya sadar kembali ke jalan Allah, dan utuh 1 detik untuk nya kembali error 🤣🤣🤣
Vie
apaan tuh?
Vie
buat anak2 hal seperti itu bisa jadi hiburan tersendiri, apalagi ramai2 jadi dianggap seru... 🤭🤭
Vie
tuh kan lama2 pasukan nya David jadi banyak juga. dari 5 orang jadi belasan ... dari belasan jadi puluhan... terus ratusan... dan terus banyak lagi..... sampai dia menjadi kuat dan tak terkalahkan untuk membuktikan pada keluarga nya...
Vie
aura kasih nya keluar.. eh salah.. aura kebapopaanya bang Jarwo keluar karena tiap hari mainya bareng sama si Adit terus... 🤣🤣🤣🤣
Vie: iya bener... jadi berasa udah punya anak dia, karen tiap hari sama si Adit terus... 🤭🤭🤭🤭
total 2 replies
Vie
belum apa2 udah kalah duluan sama anak kecil lagi 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Vie: iya kalau masalah fisik dan kekuatan, tapi nya kalau otak dia gak bisa diremehkan..... 👍🏻👍🏻👍🏻
total 2 replies
Vie
💪🏻💪🏻💪🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
Was pray
Rambo otaknya lebih jalan daripada bos nya, otot dan otak bersinergi maka melahirkan insan yg bermental baja tapi berhati lembut, Rambo yg dulu jadi sampah masyarakat sekarang berubah jadi bbiji emas, tiru anak buahmu bos dadang
Vie
jadi acara bedah rumah 🤣🤣🤣🤣🤣
Was pray
dari dulu punya inisiatif mandiri dan lepas dari urusan warisan keluarga kamu udah sukses dan gak sakit hati dang dang...
Was pray
kamu diberi kesempatan ke dua hidup kembali dengan diberi amanah raga David tapi kamu gagal mengemban amanah itu Dadang, kasihan David , gunakan otakmu dang sekuat apapun ototmy tetap akan kalah dengan otak, jangan jadi kerbau otot kuat tapi otak nol besar hargai saran teman2mu, gajah aja yg kuat kalah sama semut
Vie
dan itu kombinasi yang tepat untuk memulai sesuatu hal yang tidak akan pernah bisa mereka lakukan dan lupakan....
Vie
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻💪🏻💪🏻💪🏻💪🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!