Naomi Clarisse tak pernah iri pada kehidupan sang kakak. Meski selalu dibandingkan dan diperlakukan tidak adil, ia memilih bekerja keras demi keluarganya.
Namun hidupnya berubah dalam semalam ketika Alicia Grace, kakaknya sendiri, menjebaknya di kamar hotel bersama Nathaniel Wijaya, pewaris keluarga mafia yang dikenal dingin dan tak mengenal ampun.
Sebuah fitnah menghancurkan nama baik Naomi. Di saat Alicia menghilang bersama pria pilihannya, Nathaniel yang dipenuhi amarah memaksa Naomi menggantikan posisi sang kakak di altar pernikahan.
Pernikahan itu adalah hukuman bagi Nathaniel.
Dan mimpi buruk bagi Naomi.
Ketika satu per satu rahasia mulai terungkap, Naomi harus memilih: terus menjadi korban, atau melawan demi mengungkap dalang di balik fitnah yang telah merenggut hidupnya.
Tunggu kelanjutannya hanya di Novel Toon atau Manga Toon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permainan Yang Dimulai
Naomi menurunkan ponselnya perlahan. Jemarinya masih bergetar hingga benda di tangannya nyaris terlepas dari genggaman.
"Nyonya?"
Suara salah seorang pelayan membuatnya tersentak. Dengan cepat Naomi mematikan layar ponselnya, lalu berusaha menenangkan napas yang terasa tidak beraturan.
"I-iya?"
Pelayan itu menatapnya penuh khawatir. "Wajah Nyonya pucat sekali. Apa ada yang terjadi?"
Naomi buru-buru menggeleng. "Tidak... mungkin hanya sedikit pusing."
Ia memaksakan seulas senyum, tetapi senyum itu tampak begitu rapuh hingga tidak mampu menyembunyikan kegelisahan yang jelas terpancar dari wajahnya.
"Kalau begitu, biar saya buatkan teh hangat."
"Terima kasih."
Pelayan itu segera berlalu menuju dapur. Begitu ditinggal sendirian, Naomi mengembuskan napas panjang yang sejak tadi terasa tertahan di dada. Ia menatap layar ponselnya yang kini telah padam.
Panggilan itu memang hanya berlangsung beberapa detik akan tetapi beberapa detik itu cukup untuk membuat seluruh tubuhnya terasa dingin.
Alicia tahu. Bukan hanya mengetahui dirinya berada di Wijaya Mansion, tetapi juga mengetahui bahwa ia mulai mencari tahu tentang kejadian di depan butik kemarin.
Bagaimana bisa?
Naomi menggigit bibir bawahnya pelan. Sejak pulang dari minimarket, ia hanya menceritakan semuanya kepada Nathan. Bahkan kedua pengawal yang menemaninya tidak mungkin mengetahui isi pembicaraan mereka di dalam kamar.
Lalu... Dari mana Alicia mengetahui semuanya? Apakah dirinya benar-benar sedang diawasi? Atau ada seseorang yang diam-diam menjadi mata dan telinga Alicia?
Pikiran itu membuat tengkuk Naomi meremang. Tanpa sadar ia mengangkat kepalanya, menatap sekeliling ruang tamu. Beberapa pelayan masih sibuk menyusun bunga. Sebagian lainnya sedang membersihkan lantai.
Semua terlihat begitu biasa. Namun justru ketenangan itulah yang membuat hatinya semakin gelisah. Rasanya seperti ada seseorang yang bersembunyi di balik semua kewajaran itu, mengawasi setiap langkahnya tanpa pernah menampakkan diri.
Naomi memeluk kedua lengannya sendiri entah kenapa hari ini ia tidak lagi merasa mansion ini sepenuhnya aman.
☘️☘️☘️☘️
Di sebuah apartemen mewah...
Alicia meletakkan ponselnya perlahan di atas meja kaca. Bunyi pelan benda itu beradu dengan permukaan meja memecah keheningan ruangan yang didominasi nuansa hitam dan abu-abu.
Sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum tipis.
Senyum penuh kemenangan.
"Sepertinya..." gumamnya pelan, "dia mulai ketakutan."
Tak jauh darinya, Adrian masih duduk di sofa sambil memeriksa beberapa dokumen kerja yang baru dikirim asistennya. Mendengar ucapan Alicia, pria itu menghentikan aktivitasnya lalu mengangkat kepala.
"Kau sengaja menelepon Naomi?"
"Tentu."
Jawaban Alicia terdengar santai, seolah apa yang baru saja dilakukannya hanyalah sesuatu yang sepele.
Ia meraih gelas berisi air mineral di atas meja, lalu menyesapnya perlahan sebelum kembali berbicara.
"Naomi itu tidak pernah pandai menyembunyikan rasa takutnya."
"Sedikit tekanan saja sudah cukup membuat pikirannya kacau."
Adrian tersenyum samar.
"Kalau begitu, sekarang dia pasti sedang sibuk menebak-nebak bagaimana kau bisa mengetahui semua yang terjadi."
"Itulah yang kuinginkan."
Alicia berjalan mendekati jendela apartemen. Kedua tangannya terlipat di depan dada, sementara tatapannya lurus mengarah pada hamparan gedung-gedung tinggi yang diterpa cahaya matahari siang.
"Dengan begitu, dia tidak akan punya waktu berpikir jernih."
Adrian ikut berdiri, lalu menghampiri wanita itu.
"Apa kau tidak takut dia akan langsung menceritakan semuanya kepada Nathan?"
Alicia justru tertawa kecil.
"Tidak."
"Justru aku berharap dia melakukannya."
Adrian mengangkat sebelah alisnya.
"Kenapa?"
Alicia memiringkan kepala sedikit. Senyumnya berubah semakin tipis, tetapi sorot matanya terlihat begitu dingin.
"Karena semakin Nathan mencari jawaban..."
"...semakin banyak rahasia yang akan ia temukan."
"Tapi setiap jawaban yang ia dapatkan hanya akan membawanya pada pertanyaan baru."
Ia berhenti sejenak, membiarkan kalimatnya menggantung di udara.
"Dan saat seseorang terlalu sibuk mencari satu kebenaran..."
"...biasanya ia tidak sadar sedang diarahkan menuju jebakan berikutnya."
Adrian terkekeh pelan. Ia benar-benar menyukai cara berpikir wanita di hadapannya.
"Kau masih sama seperti dulu."
"Selalu merencanakan beberapa langkah lebih dulu."
Alicia mengalihkan pandangannya.
"Aku hanya belajar dari kesalahan."
Ia kembali menatap keluar jendela.
"Dulu aku hampir kehilangan semuanya karena terlalu terburu-buru."
"Tapi sekarang berbeda."
"Setiap langkah sudah diperhitungkan."
Adrian memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
"Kalau begitu, penyelidikan Nathan tidak perlu kita hentikan?"
Alicia menggeleng pelan.
"Jangan."
"Biarkan dia terus mencari."
"Semakin jauh dia menggali..."
"...semakin dalam pula dia akan terperosok."
Ruangan kembali hening beberapa saat.
Tak lama kemudian, Adrian menyunggingkan senyum penuh arti.
"Kalau begitu..."
"...permainan kita benar-benar baru dimulai."
Alicia membalas senyum itu.
"Belum."
Sorot matanya berubah tajam.
"Ini bahkan belum masuk babak yang paling menarik."
Wanita itu meraih kembali ponselnya, menatap layar yang kini telah gelap.
"Dan saat waktunya tiba..."
"...aku ingin melihat sendiri bagaimana keluarga Wijaya saling meragukan, saling menyalahkan, lalu hancur karena kebenaran yang selama ini mereka abaikan."
Ucapan itu membuat senyum Adrian perlahan melebar.
Mereka tidak lagi sekadar menjalankan rencana.
Mereka sedang menunggu saat yang tepat untuk memberikan pukulan yang jauh lebih menyakitkan.
☘️☘️☘️☘️
Di mansion Naomi masih berdiri di dekat jendela ruang tamu. Cangkir teh hangat yang tadi dibuatkan pelayan telah berada di atas meja, tetapi sama sekali belum disentuh.
Pikirannya terlalu penuh. Perlahan ia membuka daftar kontak di ponselnya. Jemarinya berhenti tepat pada satu nama.
Nathan.
Ia menarik napas panjang. Beberapa kali ibu jarinya bergerak mendekati tombol panggil, tetapi selalu berhenti di detik terakhir.
Kalau menelepon sekarang. Nathan pasti sedang sibuk bekerja. Namun jika ia menunggu hingga malam... bagaimana kalau Alicia kembali melakukan sesuatu?
Naomi menutup matanya sesaat. Bayangan suara kakaknya kembali terngiang di telinga.
"Kalau masih ingin hidup tenang... berhentilah mencari tahu tentangku."
Ancaman itu bukan sekadar peringatan. Naomi yakin, Alicia mampu melakukan sesuatu yang jauh lebih buruk. Perlahan ia menggenggam ponselnya lebih erat.
"Tidak..."
bisiknya lirih.
"Aku tidak boleh menghadapi semua ini sendirian lagi."
Kali ini, apa pun risikonya, ia bertekad akan mengatakan semuanya kepada Nathan. Karena ia sadar. Diam bukan lagi cara untuk melindungi siapa pun. Justru keheningan selama ini telah memberi kesempatan bagi orang lain untuk terus mempermainkan hidupnya.
Bersambung