Saat Planet Diamond runtuh menjadi abu akibat amukan monster legendaris Typhon, sebuah pengorbanan darah terakhir mengirim dua benih harapan ke Planet Bumi. Namun, badai dimensi memisahkan takdir mereka secara kejam.
Alan, bocah Pegasus berusia tujuh tahun yang cerdas, terdampar di danau sebuah kastil kuno. Ia ditemukan oleh Jacob, sang Raja Vampir penguasa malam yang mematikan. Di dunia yang dipenuhi predator berdarah dingin, Alan harus bertahan hidup, menyembunyikan sayapnya, dan tumbuh bersama seorang Pangeran Vampir misterius.
Sementara itu, di belahan kota seberang, seorang bayi perempuan berambut seputih salju terlahir dari kristal pualam ajaib di tengah hutan. Dirawat oleh sepasang petani miskin yang menamainya White Crystal, bayi itu menyembunyikan rahasia besar: setiap kali kulitnya menyentuh air, udara musim panas mendadak membeku menjadi es.
Dua penyintas terakhir. Dua klan bumi yang saling bertolak belakang—Vampir yang dingin dan Petani yang naif.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. Gadis Kecil Berambut Pink
Monster itu menyeret Justin masuk ke dalam gua dan menghempaskan tubuhnya hingga menghantam dinding batu.
BRAKK!
Justin hanya bisa meringis menahan sakit. Ia tidak mampu berkata-kata; tubuhnya terlalu lemah dan dicekam ketakutan yang hebat. Sementara itu, sang monster pergi begitu saja, meninggalkan Justin yang tergeletak mengenaskan.
Tubuhnya terasa remuk. Ia bahkan tidak bisa bergerak, sementara luka di kakinya masih menganga. Kini, ia hanya bisa menunggu kemampuan regenerasinya bekerja untuk memulihkan tenaga dan menutup luka-lukanya kembali.
Malam di dalam gua terasa seperti dekapan maut yang dingin dan lembap. Kegelapan di sana begitu pekat, seolah cahaya tidak pernah diizinkan masuk. Hanya terdengar suara tetesan air yang jatuh dari langit-langit batu, beradu dengan suara napas Justin yang tersengal dan geraman rendah Monster Nessie yang bergema dari kegelapan terdalam.
Bau amis daging dan lumut busuk menusuk indra penciumannya, menambah kengerian di tengah kesunyian yang mencekam.
Namun, perlahan waktu berputar. Kegelapan yang tebal itu mulai memudar menjadi abu-abu samar. Suara ombak di luar gua yang tadinya terdengar ganas, kini mulai tenang. Satu per satu, garis cahaya keemasan mulai menyelinap masuk melalui celah-celah sempit di mulut gua, membelah kabut tipis yang menggantung di udara.
Pagi telah tiba. Suara kicauan burung pantai mulai menggantikan kesunyian malam yang horor. Cahaya matahari yang hangat mulai menyentuh dinding batu yang dingin, menyinari tubuh Justin yang bersimbah darah. Semburat fajar itu seolah menjadi penanda bahwa waktu Justin untuk bertahan hidup telah dimulai kembali, memberikan secercah harapan di tengah keputusasaan yang sempat menguasainya sepanjang malam.
Semburat fajar yang hangat mulai menyentuh kelopak mata Justin, memaksanya tersadar dari rasa sakit yang sempat membuatnya nyaris kehilangan kesadaran. Cahaya keemasan matahari pagi kini menyinari mulut gua, memantul di atas pasir pantai yang basah oleh sisa pasang semalam.
Harapan baru itu memberinya kekuatan tambahan untuk menyeret tubuhnya keluar, menjauh dari bau amis sarang Nessie yang menyesakkan. ia terus memaksakan tubuh kecilnya untuk merangkak keluar dari kegelapan sarang, menjauh dari bau amis pengap Nessie yang menyesakkan rongga dadanya.
"Ayah... Alan... tolong aku... aku sangat takut di tempat ini..."
Justin terisak lirih dengan air mata yang menetes membasahi pasir, seluruh tubuhnya masih bergetar hebat akibat trauma. Dengan sisa-sisa pengerahan tenaga yang tersisa di ototnya, dia terus berusaha menyeret tubuhnya merangkak keluar meniti lantai gua.
Dia harus bisa memanfaatkan momentum emas ini untuk melarikan diri sejauh mungkin sebelum monster Nessie di kegelapan terdalam terbangun dari istirahat tidurnya.
Namun, tepat pada detik ketika tubuh kecilnya berhasil mencapai batas luar gua, menapakkan tangannya di atas hamparan pasir pantai yang luas dan merasakan kehangatan matahari pagi membalut permukaan kulit pucatnya, metabolisme tubuh Justin benar-benar mencapai titik batas absolutnya.
BRUKK!!
Anak itu ambruk tertelungkup. Butiran pasir pantai yang hangat bersentuhan langsung dengan kulit pipinya, namun di sisi lain, kaki kanannya yang memendam racun gigitan Nessie mendadak terasa panas berdenyut seolah sedang dibakar oleh api tak kasat mata.
"Argh... sakit sekali... kakiku... aku sudah tidak kuat lagi," rintih Justin penuh keputusasaan murni, air matanya kian menderu. "Siapa pun yang berada di tempat sepi ini... tolong selamatkan aku..."
Di tengah puncak keputusasaan yang mendalam tersebut, sebuah bayangan kecil berbentuk siluet tubuh manusia mendadak jatuh menutupi wajahnya, menghalangi paparan silau sinar matahari pagi yang membakar retinanya.
"Apakah kau sedang terluka parah, Teman kecil?"
Suara vokal itu terdengar teramat lembut, jernih, dan bergaung indah laksana denting lonceng perak di tengah deru suara gemuruh ombak pantai. Justin memberanikan diri mendongakkan kepalanya ke atas dengan sisa kekuatan leher yang dia miliki.
Di hadapannya, berdiri sesosok gadis kecil yang penampilannya diperkirakan baru berusia sekitar sepuluh tahun. Gadis itu seolah-olah muncul melangkah keluar dari dalam pendaran cahaya fajar keemasan itu sendiri.
Helaian rambut panjangnya yang memancarkan warna merah muda (pink) cerah bergelombang tampak berkibar indah ditiup oleh embusan angin laut, menciptakan visual kontras yang luar biasa menawan dengan latar belakang langit pagi yang mulai membiru bersih.
Sepasang mata bulat sewarna biru safir murni miliknya menatap lurus ke arah Justin dengan binar tatapan yang dipenuhi rasa ingin tahu yang mendalam. Dan saat sela bibir merahnya melengkung tipis membentuk seulas senyuman manis, sebuah lesung pipi yang menggemaskan muncul di permukaan wajahnya yang rupawan.
Seketika itu juga, atmosfer dunia di sekitar indra Justin terasa mendadak berubah menjadi sunyi senyap. Rasa nyeri berdenyut yang membakar struktur tulang di kaki kanannya seolah melunak dan memudar, kalah telak oleh rasa takjub yang luar biasa di dalam dadanya menyaksikan kehadiran sosok gadis yang penampilannya tampak laksana sesosok malaikat penolong di tepi pantai yang terisolasi tersebut.
"Permisi... apakah kau bersedia menolongku?" ucap Justin dengan suara parau yang terputus-putus. "Aku... aku sudah tidak kuat lagi untuk sekadar berjalan kaki. Kakiku terluka sangat parah akibat gigitan rahang monster Nessie di danau... Tolong... selamatkan nyawaku!"
Gadis kecil berambut merah muda itu menganggukkan kepalanya dengan santai. Anehnya, dia sama sekali tidak menunjukkan ekspresi ketakutan atau panik sedikit pun saat indra pendengarannya menangkap frasa nama monster "Nessie".
"Tentu saja aku akan menolongmu," jawab gadis itu dengan nada suara yang teramat stabil. "Nessie tua itu biasanya tidak akan pernah suka menggigit atau menyerang entitas mahluk hidup lain selama mahluk itu tidak bertindak bodoh mengganggu kenyamanan tidurnya. Kau saat ini entah merupakan seorang pejuang anak-anak yang teramat berani... atau hanya sekadar anak kecil yang sedang berada di puncak kesialan takdir. Tenanglah, kandungan racun sekresi di dalam gigitannya tidak akan pernah bisa bekerja merusak tubuhmu selama kau berada di dekatku."
Gadis berambut merah muda itu kemudian merendahkan tubuhnya, berjongkok santai di samping posisi terkapar Justin. "Luka akibat gigitan Nessie memang terkenal bisa memicu rasa perih yang luar biasa," ucapnya lembut, jari telunjuknya menunjuk ke arah bekas robekan zhirah di kaki Justin.
Justin sedikit tersentak, terkejut melihat tingkat keberanian abnormal yang dipamerkan oleh gadis kecil manusia di hadapannya. "Hati-hati... rasanya mungkin akan teramat sakit jika kau menyentuh lukanya secara langsung."
Gadis itu kembali tersenyum manis, memamerkan lesung pipinya. "Jangan khawatir. Jika kau bisa mengondisikan batinmu untuk tetap tenang, rasa sakit itu akan menguap dan hilang dengan cepat."
Justin didera kebingungan massal di dalam otaknya. Bagaimana bisa seorang anak perempuan sekecil ini memiliki kontrol mental dan bersikap begitu tenang di depan sarang monster purba? "Siapa sebenarnya identitas dirimu? Kenapa anak perempuan sepertimu bisa berada sendirian di tepi pantai berbahaya ini?"
Gadis itu tidak langsung memberikan jawaban verbal. Dia memilih untuk bangkit berdiri kembali, memutar tubuhnya menatap lurus ke arah bentangan luas lautan samudra di depan mereka.
"Aku sama sekali tidak sedang berada di dalam kesendirian di sini. Ada terlampau banyak teman-teman baikku yang hidup di dalam perut laut."