Kegiatan kemping Pramuka yang seharusnya menyenangkan berubah menjadi petaka, kala seseorang dengan sengaja mengubah arah tanda panah penunjuk jalan. Daniel dan Zeya tersesat hingga terpaksa bermalam di sebuah pondok tua. Demi bertahan dari dinginnya malam yang bisa menyebabkan hipotermia, mereka pun saling menghangatkan tubuh.
Pagi harinya, warga desa menemukan mereka dalam keadaan berpelukan. Tanpa mau mendengar penjelasan, keduanya langsung dibawa ke Balai Desa dan dipaksa menikah sesuai hukum adat yang berlaku.
Daniel dan Zeya mengira semuanya akan selesai setelah pernikahan itu. Namun, mereka kembali dikejutkan oleh aturan adat yang melarang pasangan pengantin meninggalkan desa sampai waktu yang ditentukan.
Terjebak dalam pernikahan yang tak terduga, Daniel dan Zeya harus menjalani hari-hari bersama di desa, apakah Daniel dan Zeya akan terpuruk atau justru bangkit memulai hidup baru mereka di sana?
Ikuti kisah mereka hanya di sini;
"Menikah Karena Jebakan"
karya Moms TZ, buka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11.
Kepala Maura langsung terhempas ke samping akibat kerasnya pukulan itu. Rambutnya berantakan menutupi sebagian wajah, sementara telapak tangannya refleks memegang pipi yang kini terasa panas dan berdenyut nyeri.
"Si4l4n...andai saja nggak ada orang banyak," umpatnya dalam hati. "Tapi sekarang aku masih harus memainkan peranku."
Matanya menatap Zeya dengan sorot yang tampak penuh luka. Airmatanya berurai membasahi pipinya. Napasnya memburu, bibirnya bergetar halus seolah tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun sambil menggeleng pelan.
"Astaga, Zeya! Apa yang kamu lakukan, Sayang. Kalian itu bersaudara!" seru Bu Safira panik. Ia lalu memeluk tubuh Maura yang tampak limbung.
Maura terisak di pelukan Bu Safira. Bahunya berguncang hebat, jemarinya mencengkeram lengan ibu sambungnya itu seolah mencari perlindungan.
"Bu... apa salahku? Kenapa... Zeya melakukan ini...Bu?" ucapnya terbata-bata di sela isak tangis. Kepalanya tertunduk, seakan terlalu takut untuk menatap siapa pun.
Melihat putrinya menangis seperti itu, Dr. Rangga segera melangkah cepat menghampiri. Wajahnya masih menyisakan keterkejutan yang belum sirna.
"Zeya," panggilnya pelan, berusaha menahan emosi. "Ada apa, Sayang? Kenapa kamu melakukan ini pada Maura? Kesalahan apa yang sudah diperbuatnya?" tanyanya dengan dahi berkerut.
Ruangan berubah hening. Semua mata tertuju pada Zeya. Dirinya yang selama ini dikenal lembut, sabar, dan selalu mengedepankan kepala dingin, kini berdiri tegak dengan tatapan setajam belati. Wajahnya nyaris tanpa ekspresi.
"Itu hadiah untuknya, setelah semua yang dia lakukan pada kami!" balasnya dingin, lalu melipat kedua tangan di depan dada, serta menatap Maura tanpa sedikit pun rasa peduli.
"Kenapa, Maura?" lanjutnya dengan suara yang mulai bergetar menahan amarah. "Katakan... kenapa kamu tega melakukan semua itu pada kami!" tanyanya dengan intonasi meninggi, sembari selangkah mendekat hingga jarak mereka nyaris tak tersisa.
Maura masih memainkan perannya dengan berpura-berpura. "Apa maksudmu, Ze? Aku benar-benar nggak ngerti apa yang kamu bicarakan."
"Nggak usah berlagak polos!" potong Zeya tajam seraya mengepalkan kedua tangannya. "Kamu yang sengaja membuat kami tersesat, kan? Lalu sengaja menyebarkan foto dan video pernikahan kami dengan fitnah yang begitu keji. Semuanya ulahmu, bukan?" desaknya tanpa mengalihkan pandangan. "Apa sebenarnya alasanmu melakukan semua itu?"
"Aku nggak tahu apa-apa, Zeya! Aku nggak melakukan apapun!" sangkal Maura keras kepala sambil menggeleng cepat. "Kalian itu salah paham! Jangan asal menuduh tanpa bukti!" serunya, berusaha mempertahankan ketenangannya meski raut wajahnya mulai goyah.
"Tunggu, ada apa ini sebenarnya?" sela Bu Safira dengan raut bingung. "Siapa yang menikah? Benarkah Zeya sudah menikah? Kapan? Kenapa aku bisa nggak tahu?" cecarnya sambil menyapukan pandangannya ke semua orang.
"Benar, Sayang," timpal Dr. Rangga, dengan menatap Zeya lembut. "Apa yang sudah Maura lakukan padamu sampai membuatmu semarah ini?" tanyanya serius. "Papa ingin mendengar semuanya."
Mami Mia mendekat sambil bertepuk tangan.
Plok
Plok
Plok
Di belakangnya Ayah Bastian dan Daniel mengikuti. Sementara dua orang utusan Pak Kades hanya duduk diam menjadi penonton sambil diam-diam merekam kejadian tersebut.
"Lucu sekali, ya," ucapnya sambil terkekeh pelan dan menggelengkan kepala. "Kalian ini benar-benar nggak tahu, atau hanya pura-pura seperti anak kalian?" lanjutnya sarkas.
Dr. Rangga dan Bu Safira saling berpandangan dengan ekspresi bingung.
"Apa maksud, Bu Mia?" tanya Dr. Rangga. "Kami memang benar-benar nggak tahu apa-apa?"
Mami Mia mengembuskan napas kasar, ada rasa jengkel di dallam hatinya. "Apa selama ini kalian terlalu sibuk sampai nggak sempat membuka berita yang sedang ramai di jagat maya? Atau... memang sengaja memilih untuk nggak peduli?" sarkasnya lagi.
Kemudian Daniel mendekati pasangan suami istri tersebut, menyodorkan map warna biru dongker, berisi bukti-bukti berita yang telah dicetak.
Bu Safira melepaskan pelukannya pada Maura, lalu menyambar map tersebut dari tangan Daniel. Sesaat kemudian ia menutup mulutnya menggunakan telapak tangan kanan. Netranya membelalak seakan tak percaya, seraya menggelengkan kepalanya berkali-kali.
"Nggak mungkin..." gumamnya pelan menolak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Dr. Rangga yang merasa penasaran langsung mengambil alih map tersebut dari tangan sang istri, lalu membacanya. Ekspresi wajahnya seketika berubah. Pria itu menatap putrinya dengan pandangan seolah minta penjelasan.
Mami Mia yang menyaksikan itu, langsung tertawa sinis. "Hahaha... Miris sekali, ya. Kalian ini orang-orang terhormat, tapi bagaimana mungkin bisa membesarkan anak tak berakhlak seperti dia?" sindirnya seraya menunjuk pada Maura.
"Kamu bahkan mengabaikan Zeya, dan lebih mengutamakan dia, Fira." timpal Ayah Bastian dengan kalimat yang begitu menusuk. "Dan inikah hasil dari didikan kalian?" lanjutnya seraya menatap tajam ke arah Bu Safira dan Dr. Rangga bergantian.
"Kurang apa kami terhadapmu, Maura?" Kali ini tatapan Ayah Bastian beralih pada Maura.
"Saya bahkan menganggapmu seperti anak sendiri sama dengan Zeya. Memberi akses tak terbatas ketika di mansion. Tapi inikah balasanmu? Katakan apa alasanmu melakukan perbuatan tak terpuji ini?"
Kalimat yang Ayah Bastian ucapkan tidak keras, tetapi mampu membuat Maura yang sedari tadi masih memasang wajah sedih sontak menegang. Jantungnya berdegup semakin kencang ketika tatapan matanya berserobok dengan pria yang selama ini selalu bersikap baik padanya itu. Jemarinya tanpa sadar mengepal di kedua sisi tubuhnya. Raut wajahnya tampak panik, tetapi hanya berlangsung sepersekian detik.
Namun, Zeya masih sempat menangkap perubahan raut wajahnya. Dan itu sudah lebih dari cukup untuknya. Senyum tipis terukir di bibir gadis remaja itu.
Dokter Rangga mendekati putrinya, mukanya memerah karena rasa malu yang luar biasa. "Katakan, Maura. Katakan kalau ini nggak benar, Sayang," ucapnya masih berusaha menolak kenyataan.
Maura yang merasa mendapat dukungan papanya lagi-lagi masih berlagak polos. "Tentu saja semua itu nggak benar, Pa. Maura nggak ngerti kenapa mereka terus menuduh seperti itu," jawabnya mengsedih.
Zeya yang merasa waktunya terbuang sia-sia, lantas mengambil ponselnya dari dalam tas. Kemudian menyalakan rekaman itu dengan pengeras suara, sehingga semua orang yang ada di ruangan tersebut dapat mendengarnya sangat jelas.
Wajah Maura perlahan memucat. Sorot matanya yang semula penuh keyakinan mulai bergerak liar dalam kepanikan saat semua mata tertuju padanya. Jemarinya sontak mengepal begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih."
"Sudahlah, hentikan sandiwaramu, Maura," ucap Zeya pelan, tetapi nada suaranya justru terdengar jauh lebih mengintimidasi. "Semua bukti sudah ada di tanganku. Nggak ada lagi yang bisa kamu bantah." Ia menatap lurus ke mata Maura. "Sekarang katakan... apa alasanmu? Jangan membuat kami semua menunggu!"
Perlahan, sudut bibir Maura mulai terangkat membentuk senyum sinis. Matanya menatap Zeya dengan kebencian yang kini tak lagi berusaha disembunyikan. Tatapannya menyala penuh amarah, sementara dadanya naik turun menahan gejolak emosi.
"Itu karena...aku sangat membencimu...!!!" pekiknya lantang.
"Sejak dulu aku selalu membencimu, Zeya! Aku muak melihatmu selalu dipuji, selalu menjadi pusat perhatian, seolah-olah dunia hanya berputar di sekelilingmu!" teriaknya dengan mata memerah dipenuhi amarah serta iri dengki yang selama ini dipendamnya.
.emaknya datang😁