Pernah gak sih, kamu sayang banget sama seseorang, tapi demi menjaga hati dan prinsip, kamu terpaksa bersikap sedingin es ke dia?
Itu yang dirasain Zaza. Waktu hatinya mulai telanjur jauh sama Rayyan, dia milih buat mundur perlahan. Gak ada chat basa-basi, gak ada modus pengen ketemu. Semua rindu dan riuhnya perasaan cuma dia tumpahin di sepertiga malam, langsung ke Pemilik Hati.
Rayyan pun sama. Dia kelihatan cuek dan gak peduli, padahal aslinya lagi berjuang mati-matian nahan rasa demi sebuah komitmen. Akhirnya, mereka berdua terjebak dalam kesunyian, sama-sama ngira kalau cinta mereka cuma bertepuk sebelah tangan.
Saling menjauh, tapi saling mendekat lewat doa apa mungkin cara sedekat ini malah bikin mereka makin jauh selamanya? Atau justru, menjaga jarak demi ibadah bakal berujung pada akhir yang gak terduga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Skenario yang Terbaca
Hari Sabtu yang dicemaskan Zaza akhirnya tiba juga. Sejak pagi, suasana di rumah Dinoyo sudah sibuk. Abi sudah rapi dengan baju koko putih terbaiknya, sementara Umi bolak-balik memastikan penampilannya di depan cermin. Zaza sendiri baru saja menginjakkan kaki di teras rumah setelah menempuh perjalanan singkat dari kampus menggunakan angkutan kota. Napasnya agak memburu, efek terburu-buru menyudahi rapat evaluasi UKM yang untungnya bisa selesai tepat waktu.
"Alhamdulillah, kamu sudah pulang, Nduk," sambut Umi dengan wajah lega saat melihat Zaza membuka pagar. "Ayo cepat bersiap. Mandi dan ganti baju yang pantas. Kita harus segera berangkat ke Batu, tidak enak kalau sampai terlambat dari jam yang dijanjikan."
Zaza hanya bisa mengangguk pasrah. "Iya, Umi. Zaza siap-siap dulu."
Di dalam kamarnya, Zaza berdiri mematung di depan lemari pakaian. Tangannya bergerak ragu, sebelum akhirnya memilih sebuah gamis abaya modern berwarna hitam polos dengan aksen benang emas tipis di bagian dada. Ia memadukannya dengan pashmina merah muda bermotif bunga halus, dan niqob dingin warna senada dengan hijabnya, setelan yang membuatnya merasa nyaman sekaligus terlindungi. Saat berkaca, ada gurat lelah dan bimbang di matanya. Skenario perjodohan ini terasa begitu nyata di depan mata, sementara hatinya masih saja mengunci satu nama yang tak seharusnya ada di sana.
"Ya Allah, hamba rida pada apa pun ketetapan-Mu hari ini," bisik Zaza lirih, membetulkan letak jilbabnya sebelum melangkah keluar kamar.
Perjalanan menuju Kota Wisata Batu ditempuh dalam keheningan yang sarat akan doa. Mobil tua milik Abi membelah jalanan menanjak yang mulai berkabut tipis. Zaza hanya menatap keluar jendela, membiarkan pikirannya hanyut bersama rintik gerimis yang mulai membasahi kaca mobil.
Sementara itu, di sebuah vila megah bergaya modern minimalis yang bertengger di salah satu kawasan elite di dataran tinggi Batu, atmosfer ketegangan justru sedang memuncak.
Rayyan berdiri di balkon lantai dua, mengenakan kemeja batik lengan panjang yang dipaksakan oleh mamanya. Penampilannya hari ini sangat jauh dari kesan anak skater yang biasa nongkrong di jalanan. Rambutnya disisir rapi, menyisakan tatapan matanya yang tetap tajam namun kini terlihat begitu gelisah.
"Rayyan! Ayo turun, tamu Papa sudah datang," panggil mamanya dari balik pintu kamar dengan suara yang dibuat seanggun mungkin.
Rayyan menghela napas panjang, meremas pembatas balkon besi yang terasa dingin oleh kabut Batu. Semalaman ia tidak bisa tidur nyenyak setelah papanya mengumumkan secara mendadak bahwa hari ini akan ada acara syukuran sekaligus pertemuan keluarga penting. Pertemuan yang esensinya adalah mengenalkan Rayyan dengan anak gadis dari seorang rekan bisnis lama papanya, seorang pria yang katanya sangat dihormati dan memiliki pengaruh besar.
"Cari yang setara," kalimat papanya kembali berdengung di kepala Rayyan.
Dengan langkah berat dan hati yang sepenuhnya mati rasa, Rayyan berjalan turun menapaki tangga marmer menuju ruang tamu utama. Di kepalanya, skenario penolakan secara halus sudah ia susun rapi. Ia tidak ingin mengkhianati komitmen spiritual yang baru saja ia mulai di sepertiga malamnya belakangan ini. Ia tidak ingin melibatkan hati perempuan lain saat jiwanya sendiri masih tertinggal di pojok perpustakaan kampus bersama gadis bernama Zaza.
Namun, begitu kakinya menginjak lantai ruang tamu, seluruh pasokan udara di paru-paru Rayyan seolah tersedot habis.
Di atas sofa kulit berdesain mewah, duduk seorang pria paruh baya berwibawa bersama istrinya yang bersahaja. Dan di samping wanita itu, duduk seorang gadis yang sedang menundukkan kepala dalam-dalam, meremas ujung map di pangkuannya dengan gugup. Gadis dengan abaya hitam beraksen emas dan pashmina pink floral beserta niqobnya yang sangat familiar di ingatan Rayyan.
"Nah, ini anak saya, Ahmad Rayyan Dafril," suara Papa Rayyan terdengar menggelegar penuh kebanggaan, memecah keheningan batin Rayyan. "Rayyan, perkenalkan, ini sahabat lama Papa, Pak Zain, dan ini istrinya. Lalu yang itu putri mereka, Fatiah Azahra Zain. Panggilannya Zaza."
Mendengar nama lengkapnya disebut, Zaza perlahan mendongakkan wajahnya demi sopan santun. Netra teduhnya bergerak naik, bersiap menyunggingkan senyum formal yang biasa ia tunjukkan pada orang baru, tetapi dalam persembunyian niqobnya.
Namun, detik saat pandangan mereka bertemu, waktu seolah berhenti berputar di dalam ruangan itu.
Zaza tersentak kecil, jemarinya yang meremas map seketika kaku. Matanya melebar menatap pemuda jangkung berbaju batik yang kini juga sedang berdiri mematung seperti patung lilin di depan tangga. Sepasang mata elang itu, gaya rambut yang meski sudah disisir rapi tetap menyisakan struktur yang sama dia adalah Rayyan. Pemuda jalanan dengan skateboard yang selama ini ia hindari mati-matian di kampus, kini berdiri di hadapannya sebagai anak dari konglomerat pemilik vila mewah ini.
"Kam... kamu?" bisik Zaza hampir tak terdengar, suaranya tercekat di tenggorokan.
Rayyan masih terpaku, namun perlahan, sebuah senyuman tipis yang sangat tulus mulai terbit di sudut bibirnya. Ada rasa tidak percaya yang berbaur dengan rasa syukur yang membuncah hebat di dalam dadanya. Skenario langit yang ia minta di sepertiga malamnya ternyata bekerja dengan cara yang jauh lebih indah dan tak terduga dari apa yang bisa dibayangkan oleh logika manusianya.
"Iya, Zaza. Ini gue... Rayyan," jawab Rayyan lirih, nadanya tidak lagi terdengar angkuh seperti di kampus, melainkan penuh dengan rasa hormat.
Kedua orang tua mereka saling berpandangan, tampak bingung sekaligus terkejut melihat reaksi spontan dari kedua anak muda tersebut.
"Lho, kalian... sudah saling kenal sebelumnya?" tanya Abi Zaza sambil menatap putrinya dengan dahi berkerut heran.
Rayyan segera mengambil satu langkah maju, menurunkan pandangannya sebentar ke arah Pak Zain dengan sikap takzim yang belum pernah ia tunjukkan pada rekan bisnis papanya yang lain.
"Kami satu kampus, Om... maksud saya, Pak," ucap Rayyan, suaranya kini terdengar mantap dan berwibawa. Ia melirik sekilas ke arah Zaza yang kembali menundukkan wajahnya, namun kali ini ada rona merah muda yang perlahan menjalar di kedua pipi gadis itu di balik tundukannya. "Tapi di kampus, Zaza selalu menjaga jarak dengan saya karena kami belum mahram. Dan hari ini... saya bersyukur sekali karena jalur yang berkah ini yang akhirnya membawa saya berdiri di sini, di depan Bapak."
Mendengar kalimat yang keluar dari mulut Rayyan, Zaza merasakan matanya mendadak hangat oleh air mata yang siap tumpah. Riuh batinnya yang selama berhari-hari ini menyiksa, ketakutannya akan perjodohan, dan keputusasaannya dalam membatasi rasa, mendadak lebur menjadi sebuah rasa lega yang luar biasa. Di bawah langit Batu yang dingin dan berkabut, dua hati yang saling menjauh di dunia nyata itu akhirnya menyadari; bahwa jarak yang mereka jaga demi ibadah, justru bermuara pada akhir yang paling indah.
beruntung kalo perjodohan itu mengarah kesana 😙
bikin abang rayyan bingung
si eneng berada dijalur lain sih 😁
. sampai kamu gak bisa meninggalkan sholat hehe