NovelToon NovelToon
Jejak Di Pinggir Hutan

Jejak Di Pinggir Hutan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:461
Nilai: 5
Nama Author: Thomaz3235

Rangga Hidayat, anak tunggal konglomerat properti, kehilangan kedua orang tuanya dalam pembunuhan berencana yang dikamuflase sebagai kecelakaan. Ia sendiri hampir tewas, lalu dibuang di tepi hutan dekat Desa Sumbermulyo. Seorang nenek miskin, Saroh, menemukannya dan merawatnya dengan penuh kasih. Di desa terpencil itu, Rangga belajar hidup sederhana: bertani, beternak, bermain, dan berteman. Ia mengalami ejekan, candaan, persahabatan, dan cinta pertama. Perlahan ia tumbuh menjadi pemuda tang gigih. Ketika dewasa, ia merantau ke kota untuk bekerja, menyelidiki kematian orang tuanya, dan menghadapi konflik batin antara balas dendam dan pengampunan. Novel ini mengikuti perjalanan emosionalnya dari anak manja menjadi lelaki dewasa yang bijaksana, dengan latar pedesaan yang hangat dan intrik kota yang kelam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thomaz3235, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33: PERLOMBAAN ALAT MUSIK DAN SUARA YANG MENYENTUH JIWA

Hari ketiga Festival Seni Tahunan SMA Negeri 1 Kabupaten dimulai dengan suasana yang tak kalah meriah dari hari-hari sebelumnya. Aula sekolah kembali dipenuhi oleh ratusan siswa, guru, dan orang tua yang datang untuk menyaksikan kategori perlombaan terakhir: memainkan alat musik. Suasana semakin tegang dan penuh antisipasi, karena kategori ini dianggap sebagai puncak dari seluruh rangkaian festival. Lampu-lampu sorot menerangi panggung dengan sempurna, menciptakan efek dramatis yang memukau.

Rangga duduk di kursi peserta dengan suling bambunya di pangkuan. Suling itu ia genggam erat, seolah sedang memegang tangan kakeknya yang telah tiada. Ia telah berlatih berjam-jam untuk hari ini, mempersiapkan melodi yang akan ia mainkan—sebuah lagu tentang desanya, tentang sawah yang menghijau, sungai yang mengalir, dan cinta yang tumbuh di tempat sederhana.

Di sampingnya, Bram duduk dengan gitarnya, jari-jarinya gemetar hebat. Wajahnya pucat pasi, dan keringat dingin mengalir deras di dahinya. "Rangga, aku tidak tahu apakah aku bisa melakukan ini. Aku masih ingat cemoohan yang mereka lontarkan pada Anisa kemarin. Bagaimana jika mereka melakukan hal yang sama padaku? Aku mantan preman, mereka pasti akan menertawakanku."

Rangga menatap Bram dengan mata penuh keyakinan. "Bram, kau sudah berlatih berjam-jam setiap hari. Jari-jarimu sudah lecet karena senar gitar. Kau melakukan semua itu bukan untuk membuat orang lain terkesan, tetapi untuk menghormati ibumu. Ingat itu, dan kau akan baik-baik saja. Dan jika mereka mencemoohmu, buktikan pada mereka bahwa kau lebih dari sekadar masa lalu."

Perlombaan alat musik dimulai dengan pembacaan aturan dari MC. Seorang siswa kelas 1 bernama Andi naik ke panggung pertama dengan penuh semangat. Ia memainkan piano dengan jari-jarinya yang lincah menari di atas tuts putih dan hitam, menciptakan melodi yang ceria dan enerjik. Penonton bertepuk tangan mengikuti irama, dan suasana menjadi hangat.

Selanjutnya, seorang siswi kelas 2 bernama Sari naik ke panggung dengan biolanya. Ia memainkan melodi yang lembut dan menenangkan, membuat suasana menjadi damai dan tenang. Beberapa penonton menutup mata mereka, menikmati setiap nada yang keluar dari biolanya.

Seorang siswa kelas 3 bernama Budi naik berikutnya dengan gitar elektrik. Ia memainkan lagu rock yang menghentak, membuat penonton bergemuruh dan bertepuk tangan dengan antusias. Suara gitarnya yang keras dan penuh semangat menggetarkan seluruh ruangan.

Kemudian seorang siswi kelas 2 bernama Maya memainkan angklung dengan indah, menghadirkan suasana tradisional yang kental. Penonton terpesona oleh keharmonisan suara angklung yang ia mainkan.

Selanjutnya, seorang siswa kelas 3 bernama Andre memainkan drum dengan penuh energi, membuat penonton terpukau oleh ritme yang ia ciptakan. Suara drumnya bergema di seluruh ruangan, menciptakan suasana yang meriah dan penuh semangat.

Kemudian, nama Bram dipanggil. "Berikutnya, Bram dari kelas 3!"

Bram berdiri dengan gemetar. Ia berjalan menuju panggung dengan langkah yang terasa berat, gitarnya ia genggam erat seperti memegang sesuatu yang sangat berharga. Sebelum ia mencapai panggung, beberapa siswa dari barisan belakang mulai bersiul dan berteriak.

"Hei, Bram! Kau yakin mau naik? Kau kan preman, bukan seniman!" teriak seorang siswa.

"Lebih baik turun! Kau hanya mempermalukan dirimu sendiri!" teriak yang lain, diikuti tawa beberapa siswa.

"Kau tidak bisa main gitar! Kau hanya bisa memukul orang!" teriak yang lainnya lagi.

Bram berhenti sejenak, wajahnya memerah karena malu dan marah. Tangannya yang memegang gitar mulai gemetar hebat. Ia menunduk, ingin berlari dan bersembunyi dari semua ejekan yang menusuk hatinya.

Rangga yang mendengar cemoohan itu langsung berdiri dari kursinya. "HENTIKAN!" teriaknya dengan suara lantang, membuat semua orang terkejut. "Kalian tidak punya hak untuk merendahkan orang lain! Bram telah berubah! Dia sudah bukan preman lagi! Dan jika kalian tidak bisa mendukung, setidaknya diam dan hormati!"

Para siswa yang mencemooh terdiam, terkejut dengan kemarahan Rangga. Namun beberapa dari mereka masih tersenyum sinis, menunggu Bram membuat kesalahan. Rangga menatap Bram dengan mata penuh keyakinan. "Bram, kau bisa! Tunjukkan pada mereka siapa dirimu! Mainkan untuk ibumu!"

Bram menatap Rangga, dan melihat keyakinan di matanya membuat hatinya sedikit tenang. Ia mengangguk, lalu melanjutkan langkah ke panggung. Ia berdiri di depan mikrofon, tangannya masih gemetar memegang leher gitar. Ia menatap kerumunan di depannya—beberapa masih tersenyum sinis, beberapa menatapnya dengan rasa iba, dan beberapa menunggu dengan penuh harap.

Ia menutup matanya sejenak. Ia teringat pada ibunya yang telah tiada, pada saat-saat ketika ibunya mengajarinya memainkan gitar untuk pertama kalinya. Ia teringat pada janjinya untuk menjadi orang yang lebih baik, untuk membuat ibunya bangga. Air mata mulai menggenang di matanya, tetapi ia menahannya. Ia tidak mau menangis di depan mereka. Ia akan menunjukkan bahwa ia layak berada di sini.

Ia membuka matanya dan mulai memainkan gitarnya. Jari-jarinya bergerak di senar gitar, menciptakan melodi yang sederhana namun menyentuh hati. Ia memainkan lagu instrumental yang ia pelajari dari ibunya—sebuah lagu tentang kehilangan, tentang kerinduan, dan tentang cinta yang tak pernah mati. Setiap nada yang keluar dari gitarnya membawa perasaan yang mendalam, seolah ia sedang bercerita tanpa kata-kata.

Penonton yang tadinya mencemooh mulai terdiam. Beberapa dari mereka terkejut dengan keindahan melodi yang ia mainkan. Mereka tidak menyangka bahwa Bram, yang dulu dikenal sebagai preman kejam, bisa menghasilkan suara yang begitu indah dan menyentuh hati.

Bram terus memainkan gitarnya dengan penuh perasaan. Jari-jarinya bergerak lincah di senar-senar itu, menciptakan melodi yang mengalun lembut, kadang naik turun mengikuti emosi yang ia rasakan. Ia bermain dengan segenap jiwanya, mengungkapkan semua rasa sakit dan kerinduan yang selama ini ia pendam.

Beberapa penonton mulai menangis. Seorang ibu di barisan depan mengusap air matanya. Para siswa yang tadinya mencemooh kini terdiam, mata mereka mulai berkaca-kaca. Mereka tidak bisa berkata-kata, hanya bisa terhanyut dalam melodi yang dimainkan oleh Bram.

Ketika Bram selesai, suasana hening selama beberapa detik. Kemudian, seperti gelombang yang pecah, tepuk tangan bergemuruh memenuhi ruangan. Bukan tepuk tangan biasa, tetapi tepuk tangan yang bergema dari lubuk hati. Beberapa siswa berdiri memberikan standing ovation sambil menangis. Para siswa yang tadinya mencemooh kini bertepuk tangan paling keras, menangis dan tersenyum pada saat yang bersamaan.

"Bram, kau luar biasa!" teriak seorang siswa dari barisan belakang.

"Aku minta maaf karena mencemoohmu!" teriak yang lain dengan tangis.

Bram tidak percaya. Air mata mengalir deras di pipinya, dan ia tersenyum untuk pertama kalinya dengan tulus dan bahagia. Ia menatap langit-langit aula, seolah sedang menatap ibunya di atas sana. "Aku berhasil, Ibu," bisiknya.

Setelah penampilan Bram yang memukau, beberapa peserta lain tampil dengan alat musik mereka masing-masing. Seorang siswa memainkan seruling dengan indah, seorang siswi memainkan kecapi dengan lembut, dan seorang siswa lainnya memainkan harmonika dengan penuh perasaan.

Kemudian, nama Rangga dipanggil. "Berikutnya, Rangga Hidayat dari kelas 2!"

Rangga berdiri dengan tenang. Ia berjalan menuju panggung dengan langkah mantap, suling bambunya ia genggam erat di tangan. Ia tidak merasa gugup seperti sebelumnya. Ia sudah mempersiapkan segalanya dengan matang, dan ia tahu bahwa ia akan memberikan yang terbaik.

Ia berdiri di depan mikrofon, menatap kerumunan di depannya. "Ini suling peninggalan kakekku," katanya dengan suara tenang. "Aku belajar memainkannya dari Nenek Saroh. Melodi yang akan aku mainkan adalah tentang desaku—tentang sawah yang menghijau, sungai yang mengalir, dan cinta yang tumbuh di tempat sederhana. Tentang keindahan yang sering terlupakan oleh mereka yang tinggal di kota."

Ia menutup matanya sejenak, mengingat saat-saat tenang di teras gubuk, saat angin malam berhembus dan ia meniup suling ini untuk Nenek. Ia teringat pada Nenek Saroh yang selalu tersenyum mendengarnya, pada desanya yang penuh kedamaian, pada semua kenangan indah yang ia miliki. Air mata mulai menggenang di matanya, tetapi ia tidak menghiraukannya.

Ia mulai memainkan sulingnya. Suara sulingnya mengalun lembut, menggambarkan keindahan alam desa—suara angin di sawah yang membawa aroma padi, aliran sungai yang jernih dengan air yang berkilau di bawah sinar matahari, kicauan burung di pagi hari yang menyambut fajar, dan gemericik air hujan yang turun membawa kesegaran.

Melodi yang ia mainkan penuh dengan perasaan dan emosi yang mendalam. Ia memainkan tentang kebahagiaan sederhana di desa, tentang cinta yang tulus dari Nenek, tentang persahabatan yang ia temukan, dan tentang perjuangan untuk bertahan hidup. Ia juga memainkan tentang kesedihan—tentang kehilangan orang tua, tentang rasa sakit yang pernah ia alami, dan tentang kerinduan pada masa lalu yang tak akan pernah kembali.

Penonton mulai terhanyut dalam alunan sulingnya. Beberapa menutup mata mereka, membayangkan diri mereka berada di tengah sawah yang hijau, merasakan angin sepoi-sepoi dan mendengar kicauan burung. Beberapa lainnya mulai menangis, terbawa oleh kesedihan yang terpancar dari nada-nada yang ia mainkan.

Rangga terus memainkan sulingnya, tidak peduli dengan air mata yang mengalir di pipinya. Ia memainkan semua perasaannya—semua rasa sakit, semua kebahagiaan, semua kerinduan, dan semua cinta yang ia miliki. Ia memainkan untuk Nenek, untuk desanya, untuk semua yang telah ia alami.

Ketika ia selesai, suasana hening selama beberapa detik. Tidak ada suara, tidak ada gerakan. Semua orang masih terhanyut dalam alunan melodi yang mengguncang jiwa mereka. Beberapa penonton masih menangis, tidak bisa berhenti.

Kemudian, tepuk tangan bergemuruh memenuhi ruangan. Semua penonton berdiri memberikan standing ovation sambil menangis. Beberapa guru menangis tersedu-sedu, tidak bisa menahan emosi mereka. Anisa menangis di kursinya, memeluk dirinya sendiri. Bram juga menangis, terharu oleh keindahan yang ia dengar.

Pengumuman pemenang dilakukan dengan penuh ketegangan. MC naik ke panggung dan membacakan hasil keputusan juri. "Untuk kategori memainkan alat musik, juara pertama adalah... Rangga Hidayat!" Rangga menerima piala dengan tangan gemetar, air mata bahagia mengalir di pipinya. "Dan juara ketiga untuk kategori yang sama adalah... Bram!"

Bram tidak percaya. Ia berlari ke panggung dengan air mata haru, menerima pialanya dengan tangan gemetar. "Aku berhasil, Rangga! Aku benar-benar berhasil!" Rangga memeluk Bram erat-erat. "Kau memang bisa, Bram. Aku selalu percaya padamu."

Malam itu, Rangga pulang dengan perasaan bahagia dan damai. Ia telah membagikan perasaannya melalui suling, dan semua orang merasakannya. Itu adalah kemenangan yang paling berharga—bukan tentang piala, tetapi tentang bagaimana musiknya mampu menyentuh hati banyak orang.

---

[Bersambung...]

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!