NovelToon NovelToon
Segel Kekuatanku Hanya Bisa Di Buka Dengan 1000 Ulasan Bintang Lima

Segel Kekuatanku Hanya Bisa Di Buka Dengan 1000 Ulasan Bintang Lima

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / CEO
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Deni adalah seorang pemuda jenius yang berada satu langkah lagi menuju puncak ilmu bela diri, namun secara sepihak diusir oleh gurunya untuk turun gunung dengan sebuah misi yang sangat absurd yaitu menjadi kurir Shopee Food. Untuk membuka segel kekuatannya dan resmi menjadi Raja Bela Diri sejati, Deni diwajibkan oleh sebuah sistem misterius untuk mengumpulkan seribu ulasan bintang lima dari para pelanggannya di kerasnya ibukota.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Angin malam berhembus sangat kencang menerpa wajah Deni yang sedang mengendarai motor maticnya.

Brumm.

Motor butut itu berhenti tepat di depan sebuah gedung perkantoran berlantai lima yang terlihat sepi.

Gedung itu berdiri kokoh di kawasan industri pinggiran kota yang sangat jauh dari pemukiman warga.

Deni mematikan mesin motornya lalu melepaskan helm kebesarannya.

Ceklek.

"Jadi ini markas utama pusat dari Serikat Bayangan Hitam."

Gumam Deni sambil menatap papan nama usang bertuliskan Perusahaan Ekspedisi Bayangan di depan gedung tersebut.

"Pantas saja mereka sangat sombong, ternyata mereka bersembunyi dengan kedok perusahaan ekspedisi saingan."

Deni berjalan santai mendekati gerbang besi raksasa yang tertutup rapat itu.

Tap tap tap.

Dua orang penjaga berbadan besar yang memakai jas hitam langsung menghadang langkah santai Deni.

"Berhenti di sana bocah."

Bentak salah satu penjaga sambil menyorotkan senter tepat ke arah wajah Deni.

"Ini area pribadi tertutup dan tidak ada orang yang boleh masuk lewat dari jam malam."

Deni menyipitkan matanya karena silau terkena cahaya senter yang sangat terang itu.

"Paman tolong matikan senternya, mataku jadi sakit melihat cahaya seterang itu."

Keluh Deni sambil menutupi wajahnya pakai sebelah tangan.

"Aku ini cuma kurir yang mau mengantar paket balasan khusus untuk bos besar kalian."

Kedua penjaga itu saling berpandangan dengan raut wajah yang penuh kebingungan.

"Paket balasan apa maksudmu malam-malam begini."

Tanya penjaga yang memegang senter dengan nada suara curiga.

"Paket balasan berupa tulang yang patah dan sedikit pelajaran tata krama dalam bertamu."

Jawab Deni cengengesan tanpa ada rasa takut sedikit pun di wajahnya yang polos.

Penjaga kedua yang memiliki bekas luka di pipinya langsung marah besar mendengar jawaban yang dianggapnya menghina itu.

"Bocah kurang ajar, kau pasti mata-mata dari kelompok musuh yang mau mencari masalah di sini."

Pria itu langsung menarik sebuah tongkat besi panjang dari balik jas hitamnya.

Sring.

"Pergi dari sini sekarang juga atau aku akan mematahkan kedua kakimu sampai cacat."

Ancam penjaga itu sambil mengayunkan tongkat besinya ke udara dengan beringas.

Wush.

Deni hanya menghela nafas panjang melihat tingkah garang para penjaga markas ini.

"Kenapa sih semua anggota serikat bayangan suka sekali berteriak dan mematahkan kaki orang."

Tanya Deni entah pada siapa sambil menggelengkan kepalanya pelan.

"Padahal kalau mau bicara baik-baik kan bisa lebih menghemat tenaga paman berdua."

Penjaga berwajah luka itu sudah kehabisan kesabarannya dan langsung berlari menerjang Deni.

"Mati kau kurir sialan."

Dia mengayunkan tongkat besi itu sekuat tenaga mengincar kepala Deni.

Syuut.

Deni tidak bergeser sedikit pun dari tempatnya berdiri dan hanya mengangkat tangan kanannya ke atas.

Tap.

Tangan telanjang Deni menangkap ujung tongkat besi itu dengan sangat mudah.

Besi keras itu berhenti seketika di udara seolah menabrak dinding batu raksasa yang tidak terlihat.

Penjaga itu membelalakkan matanya lebar-lebar karena tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

"B-bagaimana mungkin kau menahan pukulanku hanya dengan satu tangan kosong."

Gagap penjaga itu dengan wajah yang seketika berubah pucat pasi.

"Soalnya pukulan paman ini sangat lemah seperti anak kucing yang belum makan berhari-hari."

Ejek Deni santai lalu memelintir tongkat besi itu menggunakan tenaga dalamnya.

Krak.

Tongkat besi setebal dua jari itu langsung melengkung dan patah menjadi dua bagian.

Klang.

Kedua penjaga itu mundur beberapa langkah karena terkejut setengah mati melihat kekuatan tidak masuk akal tersebut.

"Monster dari mana anak ini."

Teriak penjaga pemegang senter yang langsung menjatuhkan senternya ke tanah karena panik.

Bruk.

Dia merogoh saku jasnya dengan tangan gemetar dan mengeluarkan sebuah pistol hitam mengkilap.

Klik.

Suara pelatuk pistol yang ditarik terdengar sangat jelas memecah keheningan malam di depan gerbang.

"Jangan bergerak atau aku akan melubangi kepalamu sekarang juga."

Ancam penjaga itu dengan suara bergetar sambil menodongkan moncong senjatanya ke dada Deni.

Deni menghentikan senyumannya dan menatap pistol itu dengan pandangan bosan.

"Wah ternyata markas pusat ini lebih modern ya karena penjaganya sudah punya mainan pistol segala."

Komentar Deni santai seolah yang ditodongkan padanya hanyalah pistol air mainan anak-anak.

"Tapi aku sangat tidak suka diancam pakai senjata api paman."

Sebelum penjaga itu sempat bereaksi, sosok Deni tiba-tiba menghilang dari pandangannya.

Wush.

Penjaga itu hanya merasakan embusan angin dingin yang sangat kencang menerpa wajahnya.

"Lho ke mana anak tadi pergi."

Tanya penjaga itu kebingungan mencari sosok pemuda berjaket oranye di sekitarnya.

Tiba-tiba terdengar suara bisikan pelan tepat dari arah belakang telinga kanan penjaga tersebut.

"Aku ada di sini paman penjaga yang kaget."

Deni muncul entah dari mana dan langsung mendaratkan pukulan ringan tapi padat ke tengkuk penjaga itu.

Duk.

Penjaga itu langsung memutar bola matanya ke atas dan ambruk ke tanah tanpa sempat menarik pelatuk senjatanya.

Bruk.

Melihat temannya tumbang dalam sekejap mata, penjaga berwajah luka itu langsung kehilangan seluruh nyalinya.

"T-tolong jangan bunuh aku, aku cuma bekerja harian cari makan di sini."

Mohon penjaga berwajah luka itu sambil berlutut di atas aspal yang kotor.

Deni memungut pistol yang jatuh ke tanah lalu membuangnya jauh-jauh ke dalam semak belukar.

Syuut.

"Aku tidak akan mematahkan lehermu kalau kau mau membukakan gerbang besar ini untukku paman."

Perintah Deni menunjuk gerbang besi yang menjulang tinggi di depan mereka.

Penjaga itu mengangguk cepat berulang kali tanpa berani menatap mata Deni.

Dia segera berdiri dan menempelkan kartu akses khususnya pada mesin pembaca di dekat dinding.

Tit.

Terdengar suara dengungan halus saat mesin itu memverifikasi akses kartu tersebut.

Kriet.

Gerbang besi raksasa itu perlahan bergeser terbuka memberikan jalan masuk yang cukup lebar.

"T-tuan kurir, di dalam sana ada puluhan anggota elit yang siap membunuh siapa pun penyusupnya."

Ucap penjaga itu mencoba memberikan sedikit peringatan karena merasa telah diampuni nyawanya.

"Tenang saja paman, puluhan orang itu kebetulan memang paket poin yang sedang aku cari malam ini."

Jawab Deni tersenyum lebar membayangkan jumlah poin ulasan yang akan segera dia dapatkan.

Deni berjalan santai melewati celah gerbang besi itu dan masuk ke area halaman dalam gedung utama.

Tap tap tap.

Begitu kakinya menginjak halaman paving block, sebuah lampu sorot besar tiba-tiba menyala dan menyorot ke arahnya.

Benderang.

Seluruh area halaman luas itu seketika menjadi terang benderang seperti sedang di siang hari.

Suara sirine peringatan yang sangat nyaring langsung meraung-raung dari berbagai sudut atap gedung.

Ngiung ngiung.

Dalam hitungan detik, puluhan orang berbaju hitam berhamburan keluar dari pintu utama gedung bagai semut yang sarangnya diinjak.

Mereka berlari cepat dan langsung mengepung Deni dalam formasi setengah lingkaran yang sangat rapat.

Masing-masing dari mereka memegang berbagai macam senjata tajam yang berkilat tertimpa cahaya lampu sorot.

Sring sring.

Seorang pria bertubuh kekar dan botak yang tampaknya adalah pemimpin pasukan berjalan maju ke depan barisan.

"Berani sekali kau menyusup sendirian ke markas pusat kami anak muda."

Sapa pria kekar itu dengan suara serak yang sangat berat.

Deni menguap lebar sambil menutupi mulutnya karena merasa sedikit mengantuk mendengar basa-basi standar penjahat.

"Aku ini bukan penyusup paman botak, aku ini kurir resmi yang mau mengantar paket pesanan darurat."

Jawab Deni dengan nada suara yang sengaja dikeraskan agar semua pasukan itu bisa mendengarnya.

"Cepat panggil bos besar kalian yang suka menyuruh pasukan mati itu keluar menemui pelanggannya."

Pria kekar itu tertawa meremehkan mendengar permintaan Deni yang dianggapnya sebagai lelucon konyol.

Hahaha.

"Untuk bertemu Ketua Besar kami, kau harus melewati mayat kami semua terlebih dahulu bocah sombong."

Tantang pria itu sambil mengangkat golok besarnya tinggi-tinggi ke udara.

"Bunuh dia dan cacah dagingnya untuk makanan anjing penjaga kita malam ini juga."

Teriak pria itu memberikan komando mematikan kepada seluruh pasukan elit di belakangnya.

Puluhan pria berpakaian hitam itu langsung bersorak garang dan berlari menerjang Deni secara bersamaan dari segala arah.

Waaaa.

Deni hanya tersenyum tipis melihat gelombang serangan mematikan yang mulai mendekatinya.

"Baiklah kalau kalian memang memaksa ingin diantar ke rumah sakit berjamaah malam ini."

Gumam Deni meregangkan otot leher dan kedua bahunya bersiap untuk memulai pemanasan malamnya.

Ting.

Tiba-tiba layar biru transparan muncul di depan pandangan Deni dan menutupi sedikit penglihatannya.

[Sistem Raja Kurir Merespons Kedatangan Tuan di Markas Pusat Musuh]

[Misi Utama Dimulai Sapu Bersih Seluruh Pasukan Elit Markas Pusat Malam Ini Juga]

[Hadiah Tiga Puluh Poin Ulasan Bintang Lima Akan Diberikan Jika Tuan Menang Tanpa Terluka Sedikit Pun]

Mata Deni langsung berbinar sangat terang membaca jumlah hadiah poin yang luar biasa besar di akhir kalimat itu.

"Tiga puluh poin sekaligus, sistemku ini memang paling tahu cara membakar semangat pegawainya yang sedang lelah."

Batin Deni bersorak kegirangan seolah baru saja menemukan harta karun di tengah kepungan preman.

Deni mengepalkan kedua tangannya dan langsung memasang kuda-kuda bertarung yang terlihat sangat sederhana namun memancarkan aura mengerikan.

Malam ini halaman gedung ekspedisi palsu itu akan menjadi arena pertunjukan tunggal dari amukan sang raja kurir.

1
Asmara Kacau
alur cerita nya bagus dan MC nya kocak
Asmara Kacau
kelazz ceritanya bagus dan mc nya deni sangat kocak orang nya 🤣🤣🤣 gass terus thor lanjutkan👊🏻
kiyoe: heheh pantengin terus kelanjutan cerita nya kak jangan lupa subscribe biar langsung muncul notif nya hehe 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!