NovelToon NovelToon
Setelah Taksi Itu Berlalu

Setelah Taksi Itu Berlalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Perjodohan / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:12.3k
Nilai: 5
Nama Author: Selie Noris

Diabaikan oleh Arka—suaminya yang dingin—Kirana terbiasa menelan rasa sakit sendirian. Namun, sebuah kecelakaan tragis yang merenggut janinnya mengubah segalanya. Kirana yang manja dan cengeng mati di hari itu, berganti menjadi sosok wanita dingin dan mandiri yang membangun usahanya sendiri dari nol.

Saat Kirana mengembalikan fasilitas rumah tangga dan mengajukan perceraian, Arka baru tersadar dari kesalahannya. Pria yang dulu acuh kini harus meruntuhkan egonya dan mempertaruhkan segalanya demi mendapatkan kembali maaf serta cinta dari sang istri.




#NikahPaksa
#Penyesalansuami
#WanitaMandiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 : Vonis yang Menghancurkan Jiwa

Bau disinfektan dan cairan pembersih lantai yang tajam bergesekan dengan indra penciuman Arka, menciptakan sensasi mual yang berpusat di ulu hatinya. Ia masih terduduk di lantai dingin koridor IGD, bersandar pada dinding putih pualam yang terasa begitu keras. Punggungnya bergetar hebat setiap kali isak tangis tertahan lolos dari bibirnya yang kering. Di hadapannya, bayangan kantong plastik transparan berisi mantel krem Kirana yang compang-camping dan berlumuran darah terus menari-nari, menghujam kesadarannya tanpa ampun.

Langkah kaki cepat dari sandal karet perawat yang bergesekan dengan lantai menghentikan ratapan tertahan Arka.

Seorang dokter spesialis bedah obstetri dan ginekologi berjas putih bersih, dengan stetoskop melingkar di lehernya, berjalan menghampiri Arka. Wajah dokter paruh baya itu menyuratkan kelelahan yang luar biasa, garis-garis ketegangan tampak jelas di sekitar mata dan dahinya—bukti nyata dari perjuangan panjang berjam-jam di ruang operasi demi merajut kembali sisa-sisa nyawa yang hampir copot dari tubuh Kirana.

Arka serta-merta mendongak. Dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, ia bangkit berdiri, limbung sejenak sebelum berhasil menyeimbangkan tubuhnya di hadapan sang dokter. Tangannya terulur secara reflek, mencengkeram lengan jas putih itu dengan cengkeraman erat yang menyiratkan keputusasaan mutlak.

"Dokter..." suaranya terdengar serak, pecah, dan nyaris tidak dikenali oleh telinganya sendiri. "Istri saya... bagaimana keadaannya sekarang? Apakah dia... apakah dia baik-baik saja?"

Dokter itu menatap Arka dengan pandangan yang sarat akan empati dan kedukaan mendalam. Ia melepaskan cengkeraman tangan Arka secara perlahan, lalu menepuk pundak pria itu dua kali dengan penuh kelembutan.

"Tuan Arka, silakan tenangkan diri Anda terlebih dahulu," ucap sang dokter dengan suara berat namun tenang, mencoba menciptakan ruang bagi Arka untuk mencerna kalimat-kalimat selanjutnya yang akan meluncur dari bibirnya.

"Saya sudah tenang, Dok. Tolong... katakan yang sebenarnya pada saya," potong Arka cepat, napasnya memburu tidak teratur. Air mata kembali mengalir deras membasahi rahangnya yang mengeras.

Dokter tersebut menghela napas panjang, menarik napas seolah bersiap menyampaikan sebuah vonis mati bagi jiwa Arka.

"Istri Anda, Nyonya Kirana, adalah seorang pejuang sejati. Kondisinya saat tiba di rumah sakit sangat kritis, mengalami syok hipovolemik akibat kehilangan banyak darah dalam waktu singkat, ditambah trauma tumpul yang hebat pada bagian abdomen akibat hantaman keras di sisi samping kendaraan."

Dokter itu berhenti sejenak, membiarkan setiap patah kata meresap ke dalam kepala Arka yang berdengung.

"Tim medis telah melakukan segala prosedur penyelamatan darurat, termasuk transfusi darah masif dan pembedahan kilat. Saya bersyukur bisa menyampaikan bahwa nyawa Nyonya Kirana berhasil diselamatkan. Beliau baru saja melewati masa kritisnya dan sedang dipindahkan ke ruang perawatan intensif khusus untuk pemantauan lanjutan."

Mendengar kata "selamat", secercah kelegaan yang amat rapuh sempat melintas di dada Arka. Bahunya yang tadinya membungkuk sedikit terangkat, dan sebuah helapas napas berat terlepas dari paru-parunya. Namun, kelegaan itu tidak bertahan bahkan untuk sepersekian detik.

Dokter itu mengangkat sebelah tangannya, mengisyaratkan bahwa penjelasan belum selesai. Wajah sang dokter kembali menegang, menyembunyikan kepedihan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

"Tetapi... ada harga yang harus dibayar sangat mahal untuk keselamatan beliau, Tuan Arka," lanjut sang dokter dengan nada suara yang semakin merendah. "Benturan hebat di sisi kendaraan yang menghantam langsung posisi duduk pasien, berpadu dengan tingkat stres fisik dan psikologis yang ekstrim yang dialaminya sebelum kecelakaan..."

Jantung Arka berhenti berdetak. Seluruh aliran darah di tubuhnya mendadak terasa surut, meninggalkan sensasi dingin yang mencengkeram tulang sumsumnya.

"...usia kehamilan istri Anda yang baru menginjak sepuluh minggu... tidak dapat dipertahankan."

Vonis itu jatuh bagaikan palu godam raksasa, menghantam kesadaran Arka hingga berkeping-keping tanpa sisa.

*Sepuluh minggu.*

Angka itu berputar-putar di dalam kepalanya dengan kejam. Sepuluh minggu kehidupan kecil yang tumbuh di dalam rahim Kirana—buah hati yang keberadaannya bahkan sempat ia abaikan, yang ia anggap sebagai beban di tengah kesibukan bisnisnya, yang pagi tadi dikandung oleh seorang ibu dengan membawa rantang makanan hangat penuh ketulusan ke lobi kantornya—kini telah lenyap. Dirampas oleh maut, hancur bersama pecahan kaca taksi dan kebisuan ego seorang suami yang enggan membuka pintu maaf.

"Tidak..." bisik Arka lemah. Dunianya runtuh seketika.

"Kami telah berusaha sekuat tenaga, Tuan Arka," lanjut sang dokter dengan nada penuh penyesalan. "Kerusakan jaringan dan pendarahan internal di area rahim memaksa kami mengambil tindakan medis darurat demi menyelamatkan nyawa ibunya. Janin tersebut... gagal dipertahankan. Maafkan kami."

Arka membeku.

Ia berdiri kaku bagaikan patung es di tengah koridor rumah sakit yang sibuk. Kakinya kehilangan seluruh daya topang, namun kali ini ia bahkan tidak mampu lagi untuk sekadar jatuh berlutut. Matanya menatap kosong ke arah sang dokter, namun tidak ada suara yang keluar dari tenggorokannya. Mulutnya sedikit terbuka, mencoba meraup oksigen yang mendadak berubah menjadi racun pekat yang mencekik lehernya.

Semua keangkuhannya sebagai CEO muda yang berkuasa, seluruh kontrak miliaran rupiah yang ia banggakan di ruang rapat tadi siang, setiap kata-kata dingin dan benteng es yang ia bangun di sekeliling rumah tangganya—musnah dalam sekejap, berubah menjadi abu penyesalan yang membakar habis harga dirinya.

"Tuan Arka? Apakah Anda mendengarkan saya?" tanya dokter itu cemas melihat reaksi Arka yang tampak kehilangan kesadaran mentalnya.

Namun Arka tidak merespons. Pikirannya terlempar kembali pada pemandangan semalam, ketika Kirana duduk di dekat lilin aromaterapi dengan mata berbinar harapan, mengucapkan kata-kata penutup yang diabaikannya begitu saja. Pikirannya melompat pada pagi hari tadi, saat Kirana melangkah keluar rumah di tengah badai hujan, membawa rantang susun empat berisi *goulash* daging sapi yang tidak pernah sampai ke meja makannya, yang berujung pada penolakan dingin di lobi *Pratama Tower* dan hinaan tajam dari Sinta.

Semua itu adalah ulahnya. Setiap tetes darah di mantel krem Kirana, setiap lembar kain kasa berdarah di ruang tindakan IGD, dan kini... hilangnya nyawa anak kandung mereka—semuanya adalah hasil dari kebisuan dan keangkuhannya sendiri.

"Anak... kami..." suara Arka akhirnya tercekat keluar, parau, nyaris seperti lolongan binatang yang terluka parah di tengah hutan belantara.

Ia membalikkan tubuhnya perlahan, membiarkan air matanya tumpah tanpa kendali, membasahi lantai rumah sakit tempat istrinya kini berjuang seorang diri di balik pintu ruang pemulihan intensif. Arka tahu, bahkan jika Kirana nanti membuka matanya dan berhasil pulih dari luka fisiknya, kepribadian lama istrinya—wanita lembut yang selalu tersenyum, yang selalu sabar membawakan makanan hangat, yang selalu percaya pada kesempatan kedua—telah mati bersama hancurnya janin sepuluh minggu di malam badai ini.

Dan yang tertinggal di hadapannya kini hanyalah reruntuhan hidup berdarah, sebuah kehormatan semu, dan hukuman penyesalan abadi yang harus ia bayar setiap detik sisa hidupnya.

1
putmelyana
semangat thor 💪
Selie Noris: Kak, terima kasih ya.... ♥️
total 1 replies
Selie Noris
♥️♥️♥️
Sulicungliieee
ડɑ𝗍υ ƙɑ𝗍ɑ υ𐓣𝗍υƙოυ ɑ𝗋ƙɑ.......ડυ𝗈𝗈ƙ𝗈𝗋𝗋𝗋𝗋𝗋.....
Selie Noris: Kak, makasih sudah mampir....
total 1 replies
Yusria Mumba
seorang wanita kalau sudah sakit hatiny, susah d, obati,
Selie Noris: Kak, terima kasih sudah mampir. ♥️
total 1 replies
Yusria Mumba
nyesalkan sudah terlambat,
Selie Noris: Kak, terima kasih sudah mampir. ♥️
total 1 replies
Yusria Mumba
ti galon ajasumi kaya gitu,
Selie Noris: Kak, terima kasih sudah mampir. ♥️
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!