Diabaikan oleh Arka—suaminya yang dingin—Kirana terbiasa menelan rasa sakit sendirian. Namun, sebuah kecelakaan tragis yang merenggut janinnya mengubah segalanya. Kirana yang manja dan cengeng mati di hari itu, berganti menjadi sosok wanita dingin dan mandiri yang membangun usahanya sendiri dari nol.
Saat Kirana mengembalikan fasilitas rumah tangga dan mengajukan perceraian, Arka baru tersadar dari kesalahannya. Pria yang dulu acuh kini harus meruntuhkan egonya dan mempertaruhkan segalanya demi mendapatkan kembali maaf serta cinta dari sang istri.
#NikahPaksa
#Penyesalansuami
#WanitaMandiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 : Vonis yang Menghancurkan Jiwa
Bau disinfektan dan cairan pembersih lantai yang tajam bergesekan dengan indra penciuman Arka, menciptakan sensasi mual yang berpusat di ulu hatinya. Ia masih terduduk di lantai dingin koridor IGD, bersandar pada dinding putih pualam yang terasa begitu keras. Punggungnya bergetar hebat setiap kali isak tangis tertahan lolos dari bibirnya yang kering. Di hadapannya, bayangan kantong plastik transparan berisi mantel krem Kirana yang compang-camping dan berlumuran darah terus menari-nari, menghujam kesadarannya tanpa ampun.
Langkah kaki cepat dari sandal karet perawat yang bergesekan dengan lantai menghentikan ratapan tertahan Arka.
Seorang dokter spesialis bedah obstetri dan ginekologi berjas putih bersih, dengan stetoskop melingkar di lehernya, berjalan menghampiri Arka. Wajah dokter paruh baya itu menyuratkan kelelahan yang luar biasa, garis-garis ketegangan tampak jelas di sekitar mata dan dahinya—bukti nyata dari perjuangan panjang berjam-jam di ruang operasi demi merajut kembali sisa-sisa nyawa yang hampir copot dari tubuh Kirana.
Arka serta-merta mendongak. Dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, ia bangkit berdiri, limbung sejenak sebelum berhasil menyeimbangkan tubuhnya di hadapan sang dokter. Tangannya terulur secara reflek, mencengkeram lengan jas putih itu dengan cengkeraman erat yang menyiratkan keputusasaan mutlak.
"Dokter..." suaranya terdengar serak, pecah, dan nyaris tidak dikenali oleh telinganya sendiri. "Istri saya... bagaimana keadaannya sekarang? Apakah dia... apakah dia baik-baik saja?"
Dokter itu menatap Arka dengan pandangan yang sarat akan empati dan kedukaan mendalam. Ia melepaskan cengkeraman tangan Arka secara perlahan, lalu menepuk pundak pria itu dua kali dengan penuh kelembutan.
"Tuan Arka, silakan tenangkan diri Anda terlebih dahulu," ucap sang dokter dengan suara berat namun tenang, mencoba menciptakan ruang bagi Arka untuk mencerna kalimat-kalimat selanjutnya yang akan meluncur dari bibirnya.
"Saya sudah tenang, Dok. Tolong... katakan yang sebenarnya pada saya," potong Arka cepat, napasnya memburu tidak teratur. Air mata kembali mengalir deras membasahi rahangnya yang mengeras.
Dokter tersebut menghela napas panjang, menarik napas seolah bersiap menyampaikan sebuah vonis mati bagi jiwa Arka.
"Istri Anda, Nyonya Kirana, adalah seorang pejuang sejati. Kondisinya saat tiba di rumah sakit sangat kritis, mengalami syok hipovolemik akibat kehilangan banyak darah dalam waktu singkat, ditambah trauma tumpul yang hebat pada bagian abdomen akibat hantaman keras di sisi samping kendaraan."
Dokter itu berhenti sejenak, membiarkan setiap patah kata meresap ke dalam kepala Arka yang berdengung.
"Tim medis telah melakukan segala prosedur penyelamatan darurat, termasuk transfusi darah masif dan pembedahan kilat. Saya bersyukur bisa menyampaikan bahwa nyawa Nyonya Kirana berhasil diselamatkan. Beliau baru saja melewati masa kritisnya dan sedang dipindahkan ke ruang perawatan intensif khusus untuk pemantauan lanjutan."
Mendengar kata "selamat", secercah kelegaan yang amat rapuh sempat melintas di dada Arka. Bahunya yang tadinya membungkuk sedikit terangkat, dan sebuah helapas napas berat terlepas dari paru-parunya. Namun, kelegaan itu tidak bertahan bahkan untuk sepersekian detik.
Dokter itu mengangkat sebelah tangannya, mengisyaratkan bahwa penjelasan belum selesai. Wajah sang dokter kembali menegang, menyembunyikan kepedihan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
"Tetapi... ada harga yang harus dibayar sangat mahal untuk keselamatan beliau, Tuan Arka," lanjut sang dokter dengan nada suara yang semakin merendah. "Benturan hebat di sisi kendaraan yang menghantam langsung posisi duduk pasien, berpadu dengan tingkat stres fisik dan psikologis yang ekstrim yang dialaminya sebelum kecelakaan..."
Jantung Arka berhenti berdetak. Seluruh aliran darah di tubuhnya mendadak terasa surut, meninggalkan sensasi dingin yang mencengkeram tulang sumsumnya.
"...usia kehamilan istri Anda yang baru menginjak sepuluh minggu... tidak dapat dipertahankan."
Vonis itu jatuh bagaikan palu godam raksasa, menghantam kesadaran Arka hingga berkeping-keping tanpa sisa.
*Sepuluh minggu.*
Angka itu berputar-putar di dalam kepalanya dengan kejam. Sepuluh minggu kehidupan kecil yang tumbuh di dalam rahim Kirana—buah hati yang keberadaannya bahkan sempat ia abaikan, yang ia anggap sebagai beban di tengah kesibukan bisnisnya, yang pagi tadi dikandung oleh seorang ibu dengan membawa rantang makanan hangat penuh ketulusan ke lobi kantornya—kini telah lenyap. Dirampas oleh maut, hancur bersama pecahan kaca taksi dan kebisuan ego seorang suami yang enggan membuka pintu maaf.
"Tidak..." bisik Arka lemah. Dunianya runtuh seketika.
"Kami telah berusaha sekuat tenaga, Tuan Arka," lanjut sang dokter dengan nada penuh penyesalan. "Kerusakan jaringan dan pendarahan internal di area rahim memaksa kami mengambil tindakan medis darurat demi menyelamatkan nyawa ibunya. Janin tersebut... gagal dipertahankan. Maafkan kami."
Arka membeku.
Ia berdiri kaku bagaikan patung es di tengah koridor rumah sakit yang sibuk. Kakinya kehilangan seluruh daya topang, namun kali ini ia bahkan tidak mampu lagi untuk sekadar jatuh berlutut. Matanya menatap kosong ke arah sang dokter, namun tidak ada suara yang keluar dari tenggorokannya. Mulutnya sedikit terbuka, mencoba meraup oksigen yang mendadak berubah menjadi racun pekat yang mencekik lehernya.
Semua keangkuhannya sebagai CEO muda yang berkuasa, seluruh kontrak miliaran rupiah yang ia banggakan di ruang rapat tadi siang, setiap kata-kata dingin dan benteng es yang ia bangun di sekeliling rumah tangganya—musnah dalam sekejap, berubah menjadi abu penyesalan yang membakar habis harga dirinya.
"Tuan Arka? Apakah Anda mendengarkan saya?" tanya dokter itu cemas melihat reaksi Arka yang tampak kehilangan kesadaran mentalnya.
Namun Arka tidak merespons. Pikirannya terlempar kembali pada pemandangan semalam, ketika Kirana duduk di dekat lilin aromaterapi dengan mata berbinar harapan, mengucapkan kata-kata penutup yang diabaikannya begitu saja. Pikirannya melompat pada pagi hari tadi, saat Kirana melangkah keluar rumah di tengah badai hujan, membawa rantang susun empat berisi *goulash* daging sapi yang tidak pernah sampai ke meja makannya, yang berujung pada penolakan dingin di lobi *Pratama Tower* dan hinaan tajam dari Sinta.
Semua itu adalah ulahnya. Setiap tetes darah di mantel krem Kirana, setiap lembar kain kasa berdarah di ruang tindakan IGD, dan kini... hilangnya nyawa anak kandung mereka—semuanya adalah hasil dari kebisuan dan keangkuhannya sendiri.
"Anak... kami..." suara Arka akhirnya tercekat keluar, parau, nyaris seperti lolongan binatang yang terluka parah di tengah hutan belantara.
Ia membalikkan tubuhnya perlahan, membiarkan air matanya tumpah tanpa kendali, membasahi lantai rumah sakit tempat istrinya kini berjuang seorang diri di balik pintu ruang pemulihan intensif. Arka tahu, bahkan jika Kirana nanti membuka matanya dan berhasil pulih dari luka fisiknya, kepribadian lama istrinya—wanita lembut yang selalu tersenyum, yang selalu sabar membawakan makanan hangat, yang selalu percaya pada kesempatan kedua—telah mati bersama hancurnya janin sepuluh minggu di malam badai ini.
Dan yang tertinggal di hadapannya kini hanyalah reruntuhan hidup berdarah, sebuah kehormatan semu, dan hukuman penyesalan abadi yang harus ia bayar setiap detik sisa hidupnya.
Suasana di luar jendela kaca ruang tunggu V.I.P yang terletak di lantai tiga Rumah Sakit Harapan Bangsa tampak semakin kelam. Malam kian merayap dalam keheningan yang menyesakkan, membawa serta sisa-sisa rintik hujan yang kini mulai berubah menjadi gerimis halus. Di dalam ruangan bernuansa remang-remang itu, Arka duduk terpaku di atas sebuah sofa kulit berwarna hitam legam. Kedua sikunya bertumpu di atas kedua paha, sementara jemari tangannya saling mencengkeram kuat-kuat di depan wajahnya yang basah oleh air mata yang telah mengering, menyisakan jejak garam yang kaku di kulit pipinya.
Pikiran pria itu tidak lagi mampu merumuskan kalimat yang utuh. Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan senyuman tipis Kirana saat menyiapkan sarapan di pagi hari—senyuman yang selalu ia sambut dengan tatapan jengkel dan pengabaian—berkelebat tajam, menjelma menjadi bilah-bilah pisau tak kasat mata yang mencabik-cabik dinding jantungnya. Arka menyadari sebuah kebenaran yang teramat pahit: ia tidak pernah benar-benar mengenal istrinya. Ia terlalu sibuk membangun singgasana kejayaan di dunia bisnis, mengumpulkan pundi-pundi kekayaan, dan membiarkan ego serta ambisinya menutup rapat mata batinnya dari ketulusan seorang wanita yang telah menyerahkan seluruh hidupnya untuk merawat rumah tangga mereka.
Pintu ruang tunggu berderit pelan, terbuka selebar setengah meter. Seorang suster senior berbusana putih bersih melangkah masuk dengan langkah hati-hati, membawa sebuah papan klip kecil di tangannya.
"Tuan Arka?" panggil suster itu dengan nada suara yang sangat lembut, seolah takut memecah keheningan rapuh di ruangan tersebut.
Arka mendongak dengan gerakan kaku. Mata merahnya yang menyala akibat kurang tidur dan menangis berjam-jam menatap tajam ke arah sang suster, seolah mencari secercah harapan atau justru vonis lanjutan yang lebih mengerikan. Ia segera berdiri dari duduknya, menghampiri perawat itu dengan langkah gontai.
"Bagaimana keadaan Kirana, Suster? Apakah dia sudah sadar? Apakah saya sudah bisa masuk menemuinya?" berondong Arka cepat, suaranya terdengar begitu putus asa, memohon belas kasihan dari wanita berseragam putih di hadapannya.
Suster itu menarik napas pelan, menampilkan ekspresi wajah penuh iba sebelum menjawab. "Secara medis, kondisi fisik Nyonya Kirana pascaoperasi pembersihan dan penanganan trauma tumpul sudah stabil. Luka-luka di tubuhnya berangsur membaik, dan tanda-tanda vitalnya berada dalam batas normal. Namun..."
Perawat itu menghentikan kalimatnya sejenak, menelan ludah seolah berat untuk melanjutkan.
"Namun apa, Suster? Katakan padaku!" desak Arka, jemarinya mencengkeram tepi meja perawat di dekat sana hingga buku-buku jarinya memutih.
"Dokter spesialis psikiatri yang tadi malam melakukan pemeriksaan awal telah menyampaikan catatannya," lanjut suster tersebut dengan suara berhati-hati. "Nyonya Kirana mengalami syok psikologis yang sangat berat, sebuah kondisi yang disebut sebagai *catatonic withdrawal* atau disosiasi traumatis akut. Beliau menolak segala bentuk rangsangan dari luar. Ketika kami mencoba berbicara, beliau tidak merespons. Ketika matanya terbuka, pandangannya hanya menatap kosong ke satu titik di dinding, seolah raganya ada di ranjang rumah sakit, namun jiwanya telah pergi bersembunyi di tempat yang tidak bisa dijangkau oleh siapapun."
Penjelasan itu kembali menghantam dada Arka bagaikan hantaman palu besi. Rasanya jauh lebih menyakitkan daripada pukulan fisik. Kehilangan anak mereka adalah luka yang menganga, namun melihat Kirana ditarik ke dalam kegelapan pikirannya sendiri—menjadi sosok tanpa jiwa yang terperangkap dalam sangkar kesedihan—adalah siksaan abadi yang jauh lebih kejam.
"Apakah... apakah saya boleh masuk ke kamarnya sekarang?" tanya Arka dengan suara yang hampir tak terdengar, diliputi ketakutan yang luar biasa besar akan apa yang akan ia temui di balik pintu kamar perawatan intensif itu.
"Silakan, Tuan. Tapi kami mohon, perlakukan beliau dengan sangat hati-hati. Jangan mencoba memaksanya berbicara atau memberikan reaksi emosional. Ruangan tersebut kini steril dan tenang, dan kehadirannya di sana membutuhkan ketenangan mutlak," pesan sang suster sebelum mempersilakan Arka berlalu.
Dengan langkah kaki yang terasa begitu berat, seolah setiap jengkal lantai koridor ditarik oleh beban penyesalan yang tak tertahankan, Arka berjalan menuju pintu kamar perawatan V.I.P nomor 402. Pintu kayu berpelitur gelap itu didorongnya perlahan, sangat pelan, hingga terbuka cukup untuk melewatkan tubuhnya yang limbung.
Suasana di dalam kamar bernuansa krem pucat itu terasa begitu dingin dan lengang. Lampu tidur di sudut ruangan dipasang pada tingkat paling redup, memancarkan pendar kuning kekuningan yang lemah ke atas lantai marmer. Di tengah ruangan, sebuah ranjang rumah sakit berseprai putih bersih menopang tubuh kurus Kirana yang terbaring kaku.
Wajah wanita itu tampak sangat pucat, seputih porselen yang retak. Perban putih bersih melilit rapi di pelipis kirinya, menutupi luka robek akibat pecahan kaca taksi yang menghantamnya sore kemarin. Rambut hitam panjangnya yang biasanya tertata rapi kini tergerai bebas di atas bantal, membingkai wajahnya yang kehilangan seluruh rona kehidupan. Selang infus bening tertusuk di punggung tangan kanannya, mengalirkan cairan penenang dan nutrisi secara perlahan tetes demi tetes ke dalam pembuluh darahnya.
Arka melangkah masuk dengan napas tertahan. Ia menarik sebuah kursi kayu berlapis bantalan empuk, lalu meletakkannya tepat di samping ranjang tempat Kirana berbaring. Pria itu duduk dengan sangat hati-hati, seolah takut kehadiran fisiknya akan menciderai udara rapuh di sekitar istrinya.
Untuk beberapa menit lamanya, Arka hanya terdiam di sana, menatap wajah wanita yang selama ini ia abaikan, ia caci maki, dan ia perlakukan dengan begitu dingin. Baru kali ini, di saat semuanya telah hancur berkeping-keping, Arka memiliki kesempatan untuk benar-benar mengamati setiap detail wajah Kirana—bulu mata lentik yang kini terpejam rapat, garis rahang halus yang tampak semakin tirus akibat beban batin selama berbulan-bulan, serta bibir pucat yang kehilangan senyum manisnya.
"Kirana..." panggil Arka dengan suara yang sangat lirih, nyaris berupa bisikan angin yang berhembus pelan di dalam kamar sunyi itu.
Tidak ada respons. Tidak ada kedipan mata, tidak ada perubahan ekspresi di wajah wanita itu. Kirana bahkan tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia menyadari kehadiran suami yang duduk menangis di sisi ranjangnya. Pandangan matanya, saat ia sesekali membuka kelopak matanya, hanya menatap lurus ke arah langit-langit kamar yang kosong—hampa, tanpa ekspresi, seolah di antara mereka kini membentang dinding kaca tak kasat mata yang terbuat dari rasa sakit yang tak terampuni.
Dengan tangan yang gemetar hebat, Arka perlahan menjulurkan telapak tangannya ke atas selimut putih, mencoba meraih jemari Kirana yang terkulai lemas. Ia ingin menggenggam tangan itu, menyalurkan kehangatan, dan memohon ribuan kali kata maaf atas kebodohannya.
Namun, begitu ujung jari Arka bersentuhan lembut dengan kulit punggung tangan Kirana, sebuah kejadian kecil terjadi secara refleks. Jari-jari Kirana bergerak pelan, menarik tangannya menjauh dari sentuhan Arka, menyelubunginya di bawah selimut dengan gerakan mekanis yang begitu dingin dan menolak.
Penolakan tanpa suara itu menghunjam tepat di ulu hati Arka, mencabik-cabik sisa kewarasannya. Pria itu menundukkan kepalanya, menenggelamkan wajah di antara kedua telapak tangannya, dan membiarkan isak tangisnya pecah tanpa tertahan di dalam keheningan malam rumah sakit. Di ruangan putih itu, Arka akhirnya memahami takdir yang sesungguhnya ia berhasil menyelamatkan nyawa istrinya dari maut di jalan raya, namun ia telah kehilangan jiwa wanita itu untuk selama-lamanya.
.. mending pretty cure