Semua orang menganggap Gunung Sumber Abadi hanyalah tempat wisata gagal yang dikutuk, tetapi bagi Rizky Santoso, warisan yang dibuang oleh seluruh keluarganya ini adalah awal dari segalanya. Tepat saat ia menerima beban hutang dan kawasan wisata yang hancur itu, sebuah sistem misterius bangkit dan memberinya kekuatan untuk mengubah gunung tandus menjadi destinasi kelas dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Waktu terus berlalu tanpa terasa hingga matahari akhirnya benar-benar terbenam di ufuk barat.
Langit berubah menjadi gelap dan lampu-lampu rumah penduduk di bawah bukit mulai menyala.
Para pengunjung kloter pertama itu akhirnya memutuskan untuk pulang dengan wajah yang sangat puas.
"Kami pamit dulu ya Mas Rizky, minggu depan kami pasti bawa keluarga besar kemari," pamit ibu ketua PKK.
"Hati-hati di jalan Ibu-ibu, terima kasih atas kunjungannya hari ini," balas Rizky sambil melambaikan tangan.
Setelah kendaraan terakhir hilang dari pandangan, suasana Gunung Sumber Abadi kembali menjadi sangat sunyi.
Hanya terdengar suara deburan air terjun yang kini bersinar semakin terang dalam kegelapan malam.
Cahaya pelanginya menerangi sebagian besar area tebing dan pepohonan di sekitarnya.
"Siska, ini sudah malam, apa kamu tidak mau pulang ke rumahmu?" tanya Rizky kepada manajernya itu.
Siska yang sedang sibuk memilah foto di kameranya perlahan mengangkat kepala.
"Aku ngekos di kota Bos, lumayan jauh kalau harus bolak-balik setiap malam," jawab Siska dengan nada lesu.
"Bolehkah aku menginap di sekitar sini malam ini saja?"
"Aku bisa tidur di kursi tunggu toilet marmer yang super nyaman itu."
Rizky tertawa pelan mendengar permintaan konyol dari asisten barunya tersebut.
"Jangan konyol Siska, kamu itu perempuan," tegur Rizky.
"Di dekat pos penjagaan atas ada sebuah bangunan kayu kecil bekas tempat istirahat kakekku."
"Kamu bisa tidur di sana untuk sementara waktu sampai aku membangun asrama staf yang layak."
Siska langsung melompat kegirangan dan membereskan peralatannya dengan cepat.
"Terima kasih banyak Bos Rizky, kamu memang bos terbaik di dunia!" puji Siska sambil mengacungkan jempolnya.
"Aku mau foto air terjun pada malam hari sebentar ya Bos, cahaya pelanginya sangat bagus untuk konten besok pagi."
Siska berlari kecil menuju ke arah kolam air terjun dengan kamera yang terkalung di lehernya.
Rizky membiarkan gadis itu bekerja sambil dia sendiri mulai menghitung pembukuan harian di buku catatannya.
Tiba-tiba, suara teriakan Siska terdengar sangat nyaring memecah keheningan malam.
"Bos Rizky, cepat ke sini Bos!" teriak Siska dari arah belakang air terjun.
Rizky langsung melompat dari kursinya dan berlari dengan kecepatan penuh menyusul sumber suara.
Dia sangat takut Juragan Darma mengirimkan orang bayaran lagi untuk menyusup dan mencelakai stafnya.
"Ada apa Siska, ada orang asing yang masuk?" seru Rizky dengan nada panik saat tiba di pinggir kolam.
Siska menoleh ke arah Rizky dengan wajah tegang namun tidak menunjukkan raut ketakutan.
Gadis itu berdiri di tepian batu yang sedikit menjorok ke arah dinding tebing di balik tirai air terjun.
"Bukan orang asing Bos, tapi coba kamu lihat ke arah sini," ucap Siska sambil melambaikan tangannya.
Rizky melompat melewati beberapa batu licin hingga berdiri di sebelah Siska.
Pakaian mereka berdua sedikit basah terkena cipratan air terjun yang sangat deras.
Siska mengarahkan lampu senter dari ponselnya ke arah sebuah celah sempit di balik dinding tebing batu.
"Aku tidak sengaja terpeleset tadi dan bersandar ke dinding ini," jelas Siska sambil menunjuk celah tersebut.
"Ternyata di balik air terjun ini tidak semuanya batu padat."
Rizky menyipitkan matanya dan menajamkan penglihatannya ke arah celah gelap yang ditunjuk Siska.
Itu adalah sebuah mulut gua berukuran kecil yang tingginya hanya sekitar satu setengah meter.
Celah itu tertutup sangat rapat oleh tirai air terjun sehingga tidak mungkin terlihat dari luar kolam.
"Sebuah gua tersembunyi?" gumam Rizky dengan kening berkerut dalam.
"Aku sudah sering main ke gunung ini sejak kecil, tapi kakek tidak pernah bercerita tentang adanya gua di sini."
Rizky mengambil alih ponsel Siska dan mengarahkan cahaya senternya lebih dalam ke arah mulut gua.
Udara dingin yang terasa sangat lembab dan purba berhembus pelan dari dalam kegelapan tersebut.
Tiba-tiba, cahaya senter itu memantulkan sesuatu yang aneh di sekitar dinding pintu masuk gua.
"Siska, apakah kamu melihat pola ukiran di batu sebelah kiri itu?" tunjuk Rizky dengan hati-hati.
Siska mendekatkan wajahnya sedikit dan mengangguk pelan.
"Iya Bos, itu seperti ukiran lambang burung aneh yang sudah sangat aus dimakan usia," jawab Siska merinding.
"Apakah gunung ini dulunya bekas kerajaan purbakala atau semacamnya?"
"Aku tidak tahu," jawab Rizky dengan suara pelan.
"Tapi yang jelas, ukiran rapi seperti ini tidak mungkin terbentuk karena proses alam biasa."
Ding!
[Peringatan Sistem!]
[Area Tersembunyi Bersejarah berhasil ditemukan oleh staf.]
[Sistem mendeteksi adanya gelombang energi aneh dari kedalaman gua tersebut.]
[Misi Eksplorasi Khusus telah dibuka.]
[Deskripsi Masuki gua rahasia tersebut dan temukan kebenaran di baliknya untuk mengaktifkan fungsi baru dari sistem.]
Rizky membaca rentetan peringatan dari sistem itu dengan perasaan campur aduk.
Rasa penasarannya sangat kuat, namun instingnya mengatakan bahwa tempat itu menyimpan bahaya yang tidak diketahui.
"Bos, kita sebaiknya jangan masuk ke sana malam ini," bisik Siska sambil menarik lengan baju Rizky.
"Gua gelap begitu biasanya menjadi sarang ular berbisa atau binatang buas liar."
Rizky mengangguk setuju dengan saran manajernya tersebut.
Dia tidak memiliki persiapan alat penerangan atau perlengkapan keselamatan apa pun malam ini.
Bahkan Sarung Tangan Beruang Hitam miliknya sudah habis masa pakainya sejak tadi sore.
"Kamu benar Siska, terlalu berbahaya jika kita memaksakan diri masuk sekarang," ucap Rizky mundur perlahan.
"Kita rahasiakan saja penemuan ini untuk berdua, jangan sampai ada warga desa yang tahu."
"Aku akan memesan beberapa perlengkapan mendaki dan senter jarak jauh besok siang."
"Kita akan mengeksplorasi gua ini setelah perlengkapannya lengkap."
Siska menghela napas lega dan segera mengikuti langkah bosnya menjauhi tebing basah tersebut.
"Baik Bos, aku tidak akan mengunggah foto gua ini ke media sosial," janji Siska dengan patuh.
Mereka berdua berjalan kembali ke area depan dengan pikiran yang dipenuhi tanda tanya besar.
Gunung Sumber Abadi ternyata tidak sekadar menyimpan potensi alam yang indah untuk dijadikan tempat wisata.
Ada sebuah rahasia besar berusia entah berapa lama yang tertidur lelap di bawah tanah yang mereka pijak.
Rizky menatap langit malam yang bertabur bintang sambil menarik napas dalam-dalam.
"Sebenarnya tempat apa yang kakek wariskan kepadaku ini," batin Rizky penuh teka-teki.