Kanaya Tabitha adalah definisi wanita sempurna. Cantik, pintar, dan mandiri, dia sukses membangun bisnisnya dari nol. Di balik keanggunannya, Kanaya adalah sosok wanita tangguh yang menguasai seni bela diri tingkat tinggi, dan jangan harap ada pria yang bisa mendekatinya dan mengusik hidup tenang nya, hubungan dan cinta tidak ada di dalam daftar hidup nya.
Namun, dunia indahnya runtuh saat sebuah rahasia besar mendadak memutarbalikkan hidupnya. Tubuhnya mengalami perubahan aneh yang tak masuk akal. Bagaimana bisa dia hamil tanpa pernah disentuh pria mana pun?
Kanaya tidak tahu bahwa setiap malam, rahimnya telah diklaim oleh Alexander Giorge, Raja Vampir yang posesif dan berbahaya di balik kegelapan.
"Kamu milik ku, Kanaya. Berlari lah sejauh apa pun, darah daging ku akan selalu membimbingku kembali ke tempat tidurmu. Jika ada pria lain yang berani menyentuhmu, ku pastikan namanya tinggal sejarah."_ Alexander Giorge.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENANGKAPAN
Naya mendesah lega dalam tidurnya, tangannya bergerak menyentuh tangan Alexander yang ada di atas perutnya, menggenggam jemari besar pria itu dengan erat.
"Anget... jangan dilepas," bisik Naya manja, matanya masih terpejam erat.
Alexander terpaku melihat tangan mungil Naya yang menggenggam jemarinya, jantung keabadiannya yang sudah ratusan tahun tidak berdetak, rasanya seperti dihangatkan kembali oleh gadis manusia di depannya ini, dia membalikkan tangannya, membalas genggaman Naya tak kalah erat, lalu mengecup punggung tangan Naya dengan lembut.
Cup
"Nggak akan aku lepas, Sayang, tidurlah yang nyenyak," ucap Alexander lembut.
Alex kemudian beralih menatap leher jenjang Naya, melihat dua titik merah bekas tanda miliknya yang kemarin sempat membuat Naya panik.
Cup
Dia mengecup perlahan tanda itu, memberikan sensasi geli yang membuat Naya sedikit melenguh lembut.
"Eungh...geli..." gumam Naya, kepalanya miring ke kiri untuk memberikan akses lebih bagi pria itu.
Alexander tersenyum di sela kecupannya, lalu dia berpindah mencium dahi Naya cukup lama, menyalurkan seluruh rasa cinta dan kasih sayang yang dia miliki.
Rasa aman menyelimuti kamar itu, membuat tidur Naya menjadi tidur paling nyenyak yang pernah dia rasakan dalam beberapa minggu terakhir.
"Kamu aman di sini, Naya, tidak akan ada satu pun makhluk yang boleh menyentuh atau menyakitimu, aku akan selalu menjagamu dan anak kita dari kegelapan," bisik Alexander berjanji, matanya kembali berkilat merah penuh ketegasan sebelum akhirnya, menarik selimut Naya sampai ke dada dan menghilang bersama embusan angin, meninggalkan kehangatan yang begitu nyata di ranjang itu.
Sementara itu, di luar area apartemen Fanya, suasana sore hari yang tenang berubah mencekam di sebuah gang gelap yang sepi, tak jauh dari gerbang masuk basemen.
Dua vampir liar yang tadi mengikuti Naya kini sudah tersungkur di atas aspal dingin, tubuh mereka gemetar hebat, ditekan oleh energi yang luar biasa pekat.
Di depan mereka, dua pengawal bayangan utusan Alexander berdiri tegak tanpa emosi.
"Siapa yang memerintahkan kalian?" tanya salah satu pengawal berjas hitam, suaranya dingin seperti es.
Vampir liar yang duduk di kursi penumpang tadi mendongak, matanya masih menyala merah, mencoba memberontak.
"Kami hanya mencium bau darah suci! Wanita itu, dia membawa benih yang sangat berharga. Kami berhak atas darah itu!" jawab salah satu Vampir liar.
Brak
Tanpa peringatan, salah satu pengawal bayangan menendang dada vampir itu hingga menghantam dinding di belakangnya.
"Berani menyebutnya sekali lagi, dan aku akan memastikan abu tubuhmu tersebar di tempat pembuangan sampah," desis pengawal itu, matanya berkilat mengeluarkan aura membunuh yang pekat.
"Wanita itu adalah milik Yang Mulia Raja Alexander. Berlutut dan akui dosa kalian!" bentak Vampir bawahan Alexander.
Mendengar nama Alexander disebut, kedua vampir liar itu langsung pucat pasi, ketakutan yang sangat besar langsung melingkupi pikiran mereka.
Mereka tahu betul, berurusan dengan sang Raja Vampir sama saja dengan memesan tiket menuju pemusnahan abadi.
"Ma-maafkan kami... Kami benar-benar tidak tahu kalau wanita itu milik Yang Mulia Raja," ucap vampir yang memegang kemudi, tubuhnya bersujud di atas tanah, gemetar ketakutan.
"Kalian terlambat untuk meminta maaf," sebuah suara berat dan berwibawa tiba-tiba bergema dari kegelapan gang.
Kedua pengawal bayangan langsung berbalik dan membungkuk hormat saat melihat kedatangan sang Raja.
Dari balik bayang-bayang pohon besar, Alexander Giorge melangkah keluar, jubah hitamnya tampak berkibar pelan terkena angin, dan aura kepemimpinannya yang begitu besar langsung mendominasi seluruh tempat itu.
Alexander baru saja turun dari kamar apartemen Naya, dan kelembutan yang tadi dia tunjukkan di depan gadis itu kini telah menguap sepenuhnya, digantikan oleh sosok penguasa yang kejam dan tak kenal ampun.
"Yang Mulia!" bisik kedua vampir liar itu dengan suara tercekat.
Mereka bahkan tidak berani menatap langsung ke arah mata merah menyala milik Alexander.
Alexander berjalan mendekat, sepasang sepatunya menapak pelan namun terasa seperti dentuman kematian bagi kedua mangsanya. Dia berhenti tepat di depan vampir yang tadi mengincar rahim Naya.
"Kalian mencium bau anakku, dan kalian berniat menyentuh wanitaku?" tanya Alexander dengan nada suara yang sangat tenang, namun justru ketenangan itulah yang paling mengerikan.
"Ka-kami khilaf, Yang Mulia! Tolong ampuni nyawa kami, kami berjanji akan pergi jauh dan tidak akan pernah kembali ke kota ini!" mohon vampir itu sambil menangis ketakutan, mencengkeram ujung celana Alexander.
Alexander melihat tangan kotor itu menyentuh pakaiannya dengan tatapan jijik.
Cih
Dalam satu gerakan kilat, Alexander mencengkeram leher vampir tersebut dan mengangkatnya ke udara hanya dengan satu tangan.
GREKKK
"Keberadaan kalian saja sudah menodai udara di sekitar wanitaku," ucap Alexander dingin.
Tanpa memberikan kesempatan lagi untuk memohon, Alexander mengerahkan sedikit kekuatan vampir nya.
Seketika itu juga, tubuh vampir di genggamannya terbakar oleh api hitam yang panas.
"AAAAAKKKKKKHHHHHHH!"
Vampir itu menjerit kesakitan selama beberapa detik sebelum akhirnya tubuhnya berubah menjadi tumpukan abu yang hancur ditiup angin.
Vampir yang satu lagi, yang menyaksikan temannya musnah dalam sekejap, langsung menangis histeris.
"Yang Mulia! Saya hanya menyetir mobil! Saya bersumpah tidak punya niat buruk pada wanita itu! Tolong jangan bunuh saya!" ucap Vampir liar itu.
Alexander mengibaskan tangannya, membersihkan sisa abu yang menempel di jarinya, lalu melirik pengawal bayangannya.
"Bawa dia ke ruang bawah tanah istana. Interogasi sampai dia mengatakan siapa yang memerintah kan mereka datang ke sini, pihak mana saja yang mengincar Naya ku. Setelah dia tidak berguna lagi, kalian tahu apa yang harus dilakukan," perintah Alexander tanpa belas kasihan.
"Baik, Yang Mulia, perintah Anda akan segera kami laksanakan," jawab kedua pengawal itu serempak.
"Tunggu, Yang Mulia! Tolong! Kenapa saya harus dibawa ke sana? Saya sudah jujur!" teriak vampir itu histeris saat kedua lengannya ditarik paksa ke belakang hingga terdengar bunyi klik dari borgol khusus yang mengunci kekuatannya.
Alexander tidak langsung menjawab, dia berjalan selangkah demi selangkah mendekati vampir liar yang ketakutan setengah mati itu, lalu membungkuk sedikit agar wajah mereka sejajar.
"Kamu pikir aku akan melepasmu begitu saja setelah kamu tahu tentang anakku?" tanya Alexander dengan senyum miring yang terlihat sangat mengerikan.
"Seseorang pasti memberi kalian informasi tentang keberadaan darah suci di kota ini. Katakan siapa, dan mungkin aku akan membuat kematianmu tidak se menyakitkan temanmu tadi," ucap Alexander, dingin.
Vampir liar itu menelan ludah dengan susah payah, matanya bergerak panik ke kiri dan ke kanan.
"S-saya tidak tahu namanya, Yang Mulia! Mereka bilang ada manusia dengan aroma darah yang sangat manis berkeliaran di dekat sini," jawab Vampir liar itu dengan suara yang putus-putus karena ketakutan.
Alexander kembali berdiri tegak, dia melambaikan tangannya memberikan isyarat kepada pengawalnya untuk segera membawa pergi makhluk itu.