Freya Winata (25) adalah definisi sempurna dari wanita modern, cantik, ceria, manja, dan enerjik. hidupnya yang penuh warna mendadak berubah ketika kedua orang tuanya menjodohkannya dengan Adrian Valerick (30), seorang CEO dingin yang kaku, keras kepala dan hanya peduli dengan tumpukan berkas di kantornya.
Bagi Adrian, pernikahan adalah transaksi yang tidak logis. Namun, ancaman pencopotan jabatan dari sang ayah membuatnya terpaksa mengucapkan janji suci. Berbeda dengan Adrian yang murka, Freya justru melihat kejengkelan Adrian sebagai tantangan paling seru dalam hidupnya. Ia bertekad menjinakkan "Tuan Kaku".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon puput11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Laporan Berdarah Dingin
Pendingin ruangan di lantai teratas gedung pencakar langit Valerick Group berdesis halus, menyebarkan hawa dingin yang menusuk kulit. Adrian duduk tegak di balik meja mahoni raksasanya. Jemarinya yang kokoh mengetuk meja berirama, sementara matanya yang tajam menatap lurus ke arah Bram dan Pak Teguh yang baru saja kembali.
Aroma kopi hitam pekat yang baru saja diseduh menguap dari cangkir porselen di sudut meja, mempertegas atmosfer kaku di dalam ruangan.
"Jadi, kalian kembali dengan tangan kosong?" suara bariton Adrian memotong keheningan dengan intonasi rendah yang mengancam.
Bram melangkah maju dengan canggung, menyerahkan sebuah tablet yang menampilkan foto sisa-sisa kotak hitam yang telah hangus. "Mohon Maaf, Tuan Adrian. Lokasi itu sudah dikosongkan dengan rapi sebelum kami tiba. Namun, peretas itu meninggalkan sebuah perangkat proyeksi."
"Perangkat pemusnah otomatis, Tuan Muda," Pak Teguh menimpali dengan suara yang tegas khas militer.
"Alat itu memunculkan pesan holografik sebelum meledak dan menghancurkan seluruh komponen internalnya dari dalam. Ini taktik militer tingkat tinggi."
Adrian menghentikan ketukan jarinya. Rahangnya yang tegas mengeras seketika. "Sebutkan isi pesannya."
Bram menelan ludah gugup, membaca salinan teks yang sempat direkam oleh tabletnya. "Dia mengatakan bahwa Metro Pulse hanyalah pion pertama yang dia sentuh. Dia menyebut ada fondasi yang siap runtuh jika Anda tetap menggenggam apa yang bukan milik Anda. Kerajaan bisnis ini akan hancur dalam senyap jika... jika 'permatanya' tidak kembali, Tuan."
Suasana ruangan mendadak drop beberapa derajat. Adrian menyipitkan matanya yang tajam, memetakan setiap kata kunci ke dalam sistem logika makro bisnisnya.
"Permata?" Adrian bergumam, suaranya sedingin es kutub.
"Apakah ada kebocoran data mengenai akuisisi lahan tambang nikel baru kita di bagian timur? Atau ini tentang blok investasi energi terpusat yang kita menangkan?"
"Kami sedang memeriksa seluruh portofolio investasi internal raksasa kita, Tuan," jawab Bram dengan napas yang memburu lelah.
"Namun tidak ada proyek atau aset yang secara harfiah dinamai atau dikategorikan sebagai 'permata'. Tim siber kami menduga ini adalah istilah samaran untuk menjatuhkan mental Anda menjelang bursa saham dibuka besok pagi."
Adrian berdiri dari kursi kerjanya, membelakangi mereka berdua sembari menatap hamparan pemandangan kota Jakarta dari balik dinding kaca setinggi langit-langit. Tubuhnya yang tegap tampak kokoh bagai dinding baja, memantulkan bayangan kegagahan yang penuh wibawa.
"Dia mengincar fondasi Valerick Group karena motif personal," analisis Adrian dingin, matanya menatap tajam lurus ke depan.
"Gunakan jaringan intelijen swasta kita, Pak Teguh. Saya tidak peduli seberapa bersih peretas ini bersembunyi. Jika dia menyentuh Metro Pulse lagi, pastikan sistem operasinya di dunia nyata dihentikan secara permanen."
"Siap, laksanakan, Tuan Muda!" Pak Teguh membungkuk hormat dengan tegas.
Bram melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul empat sore. "Tuan Adrian, tiga puluh menit lagi Anda ada rapat koordinasi dengan konsorsium bank internasional mengenai ekspansi pengembang utama."
Adrian membetulkan letak jam tangan mewahnya dengan satu gerakan kaku dan formal. "Siapkan berkasnya, Bram. Jangan biarkan bug digital ini menganggu efisiensi waktu kerja saya."
"Baik, Tuan," Bram membungkuk lalu melangkah mundur bersama Pak Teguh keluar dari ruang kerja mewah tersebut.
Begitu pintu ganda tertutup, Adrian mengembuskan napas panjang lewat hidung. Pikirannya yang genius merajut teka-teki "permata" tersebut dengan sangat teliti. Namun, di tengah kalkulasi rumitnya, sebuah kilasan aroma manis nan segar dari parfum milik Freya mendadak melintas di kepalanya tanpa izin. Adrian berdehem kaku, menggelengkan kepalanya cepat untuk mengusir distorsi sialan itu dari sistem fokusnya.