Tujuh belas tahun hidup sederhana, Haena mendadak mendapati dirinya adalah putri kandung yang tertukar dari Keluarga Dirgantara, dinasti konglomerat terkaya. Namun, kepulangannya ke istana megah itu justru disambut dingin oleh sang ibu, Nyonya Rosalind, serta intrik busuk dari Vanya, anak angkat yang takut posisinya tergusur.
Bukannya tumbang oleh intimidasi dunia elite, gadis jenius bermental baja ini justru menarik perhatian Kaelen Arkananta, pewaris tunggal yang terkenal dingin dan tak tersentuh. Bersama Kaelen, Haena tidak hanya menemukan cinta sejati, tetapi juga mulai membongkar konspirasi gelap masa lalu yang sengaja membuangnya saat bayi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Haena_Llulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Fajar Baru Imperium Dirgantara
Aroma kopi arabika premium menguar halus di dalam ruang kerja utama lantai paling atas gedung pencakar langit Dirgantara Corp. Sinar matahari pagi menembus dinding kaca raksasa yang menyajikan panorama bentang kota Jakarta yang megah di bawahnya. Di balik meja marmer hitam yang luas, Haena duduk dengan anggun. Setelan blazer formal desainer berwarna hitam pekat yang dikenakannya melekat sempurna pada siluet tubuhnya yang tinggi dan proporsional. Kacamata dengan bingkai transparan membingkai sepasang matanya yang jernih dan tajam, sementara tahi lalat kecil di bawah dagunya mempertegas ekspresi dingin yang penuh konsentrasi.
Dokumen pengalihan aset dan kepemilikan 51% saham pengendali yang baru saja ditandatanganinya kemarin kini tertata rapi di dalam map kulit eksklusif di atas meja. Bagi Haena, tanda tangan itu bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan garis awal dari sebuah ekspansi besar-besaran. Mental bajanya tidak membiarkannya bersantai bahkan untuk satu hari pun.
Tok! Tok!
Pintu kayu jati solid setinggi tiga meter itu terbuka perlahan setelah ketukan yang teratur. Pak Baskara melangkah masuk dengan takzim, membawa sebuah tablet digital dan beberapa laporan keuangan triwulan anak perusahaan.
"Selamat pagi, Nona Haena," sapa Pak Baskara sembari membungkuk hormat.
"Saya ingin melaporkan bahwa restrukturisasi jajaran direksi tahap pertama telah selesai dilaksanakan sesuai dengan instruksi Anda kemarin siang. Tiga direktur senior yang memiliki afiliasi tersembunyi dengan keluarga besar Nyonya Rosalind telah resmi mengajukan pengunduran diri mereka pagi ini."
Haena tidak mengalihkan pandangannya dari layar laptop khusus berkecepatan tinggi di hadapannya. Jari-jari lentiknya bergerak taktis di atas papan ketik.
"Bagus, Pak Baskara. Pastikan pesangon mereka dibayarkan sesuai dengan regulasi hukum ketenagakerjaan yang berlaku, tetapi putus semua akses digital dan fisik mereka ke seluruh jaringan Dirgantara Corp dalam jam ini juga. Aku tidak ingin ada kebocoran data sekecil apa pun."
"Baik, Nona. Semua sudah ditangani oleh tim legal," jawab Pak Baskara patuh.
"Selain itu, Tuan Bramasta baru saja bertolak menuju Swiss untuk menyelesaikan beberapa urusan perbankan pribadi dan beristirahat. Beliau berpesan bahwa beliau memercayakan seluruh keputusan strategis domestik sepenuhnya ke dalam tangan Anda."
Haena mengangguk perlahan. Jari telunjuknya mengetuk pelan tahi lalat di bawah dagunya, menghitung langkah taktis berikutnya.
"Bagaimana dengan kondisi Ibu Aminah di vila pinggiran kota?"
Wajah Pak Baskara seketika melembut.
"Sangat baik, Nona. Vila pribadi yang Anda siapkan memiliki pengawasan ketat. Dokter spesialis utama dari rumah sakit pusat juga bersiaga dua aktifan jam di sana. Pasokan tabung oksigen konsentrator portabel tercanggih sudah terpenuhi, dan Ibu Aminah menyampaikan salam hangat serta meminta Anda untuk tidak terlalu memaksakan diri bekerja hingga larut malam."
Mendengar nama wanita tua yang telah merawatnya dengan peluh dan kasih sayang di kedai soto itu, seulas senyuman tipis yang sangat tulus sempat terukir di bibir Haena sebelum kembali berganti dengan ekspresi profesionalnya yang dingin.
"Terima kasih, Pak Baskara. Anda boleh kembali ke ruangan Anda."
Setelah Pak Baskara keluar, Haena melirik ke arah gawai pintar miliknya yang bergetar di atas meja. Sebuah pesan singkat terenkripsi masuk, menampilkan sebuah koordinat lokasi dan sebuah kalimat pendek “Lantai dansa telah usai, namun bisnis yang sesungguhnya baru saja dimulai. Temui aku di restoran atap gedung Arkananta siang ini. Kaelen.”
Haena menarik sudut bibirnya tipis. Aliansi bayangannya dengan Kaelen Arkananta di malam pesta perjamuan kemarin memang terlalu berharga untuk dilewatkan begitu saja. Kaelen bukan sekadar pemuda penguasa sekolah; dia adalah pewaris tunggal imperium logistik maritim dan teknologi Arkananta Group yang memiliki akses jaringan intelijen militer yang luar biasa masif.
Tepat pukul dua belas siang, mobil mewah khusus yang membawa Haena tiba di pelataran menara Arkananta Group. Dengan langkah yang mantap dan memancarkan aura dominan seorang pemimpin baru, Haena melangkah masuk menuju lift VIP yang langsung membawanya ke restoran atap eksklusif di lantai paling atas.
Restorannya telah dikosongkan sepenuhnya untuk jam makan siang ini atas perintah sang pemilik. Di sudut luar yang menghadap langsung ke langit biru ibu kota, Kaelen Arkananta sudah duduk menunggunya. Setelan tuksedo formalnya kemarin telah berganti dengan kemeja kasual premium berwarna hitam dengan lengan yang digulung hingga sebatas siku, memperlihatkan jam tangan kronograf mewah dan otot lengannya yang kokoh. Sepasang mata elangnya yang sedingin es seketika berkilat hangat begitu melihat kedatangan Haena.
"Kamu selalu tepat waktu, Tuan Putri," ucap Kaelen, suara baritonnya yang berat terdengar sangat karismatik. Dia berdiri dan menarikkan kursi kulit mewah khusus untuk Haena sebelum kembali duduk di seberangnya.
"Waktu adalah komoditas paling mahal yang kita miliki, Kaelen," balas Haena dengan nada santai namun tegas sembari membetulkan letak kacamata transparannya.
"Jadi, apa proyek besar yang membuat seorang pewaris Arkananta mengosongkan seluruh restoran atap ini hanya untuk makan siang?"
Seorang pramusaji datang menyajikan dua porsi hidangan steik premium khas barat dengan sangat anggun sebelum kembali undur diri dengan cepat, menjaga privasi kedua titan muda tersebut.
Kaelen menyesap pelan minuman di gelas kristalnya, lalu menatap lekat-lekat ke dalam manik mata Haena.
"Tim siber dan logistik maritimku baru saja menyelesaikan pemindaian menyeluruh terhadap sisa-sisa aset dan jaringan penyelundupan milik komplotan lama Nyonya Rosalind di sepanjang jalur pelayaran regional. Setelah skandal di ballroom kemarin meledak, seluruh mitra bisnis asing mereka di Singapura dan Hong Kong panik dan memutus kontrak secara sepihak."
Kaelen memajukan tubuhnya sedikit, memperpendek jarak di antara mereka hingga aroma maskulin yang khas tercium oleh Haena.
"Ada kekosongan kekuasaan dan jalur logistik maritim senilai ratusan triliun rupiah di wilayah Indonesia Timur sekarang, Haena. Aku ingin Arkananta Group dan Dirgantara Corp melakukan merger taktis untuk membangun pelabuhan pintar terintegrasi yang baru. Aku menyediakan infrastruktur laut dan keamanan frekuensi militer, sementara kamu mengamankan konsesi hukum, pendanaan yayasan, dan regulasi domestik melalui pengaruh barumu di Dirgantara Corp."
Haena terdieam sesaat. Otak jeniusnya langsung bekerja dalam kecepatan penuh, memproyeksikan diagram keuntungan, risiko hukum, dan efisiensi jangka panjang dari proposal yang diajukan Kaelen. Jari telunjuknya kembali mengetuk pelan tahi lalat di bawah dagunya dengan ritme yang teratur.
"Sebuah kolaborasi yang sangat agresif, Kaelen," ucap Haena, matanya berkilat penuh kecerdasan mutlak dari balik lensa kacamatanya.
"Dirgantara Corp baru saja melewati badai internal akibat kasus pembersihan Nyonya Rosalind dan Vanya. Mengambil proyek sebesar ini di wilayah timur akan membutuhkan validasi hukum yang sangat ketat agar tidak memicu kecurigaan dari otoritas bursa efek."
"Dan itulah alasan kenapa aku menawarkan ini kepadamu, bukan kepada ayahmu," sahut Kaelen dengan seulas senyuman sinis yang teramat menawan di bibirnya.
"Aku tahu kamu memiliki kapasitas otak yang jauh melampaui seluruh konsultan hukum senior yang dimiliki perusahaan kita gabungan. Kamu bisa mengurus regulasi di sana dengan sangat mudah."
Haena menatap Kaelen dengan pandangan yang setara, menolak untuk terbuai oleh pujian tersebut namun menerima kebenaran taktis di dalamnya.
"Aku setuju dengan draf awal aliansi ekonomi ini, Kaelen. Besok pagi, tim legal pribadiku akan mengirimkan nota kesepahaman terenkripsi ke mejamu. Kita akan membagi kepemilikan proyek pelabuhan pintar ini dengan rasio seimbang, tanpa ada pihak yang mendominasi."
"Kesepakatan yang adil," ucap Kaelen, mengangkat gelas kristalnya ke udara untuk bersulang.
"Untuk masa depan imperium kita."
Haena menyentuhkan gelasnya dengan dentingan halus yang jernih.
"Untuk kehancuran siapa saja yang berani menghalangi jalan kita."
Sementara itu, di sebuah sudut kawasan pemukiman kumuh di pinggiran kota yang berjarak puluhan kilometer dari kemewahan menara Dirgantara dan Arkananta, atmosfer yang sepenuhnya bertolak belakang sedang terjadi.
Di dalam sebuah rumah kontrakan sempit berdinding tripleks yang pengap, Vanya duduk bersimpuh di atas lantai semen yang dingin. Wajah cantiknya yang dulu selalu dipoles riasan Korean Ulzzang yang anggun kini tampak kusam, pucat, dan berantakan akibat air mata yang terus mengalir tanpa henti. Di sudut ruangan, Nyonya Rosalind duduk termenung dengan pandangan mata yang kosong, sesekali meracau tak jelas akibat guncangan mental yang hebat setelah kehilangan seluruh status sosial, kekayaan, dan harga dirinya di malam perjamuan.
Prankkk!
Vanya melemparkan sebuah cangkir plastik kosong ke arah dinding dengan histeris.
"Ini tidak adil! Bagaimana mungkin jalang dari kedai soto itu sekarang duduk di kursi direktur utama?! Posisiku... reputasiku... seluruh temanku sekarang memblokir nomor kontakku! Aku dihina di media sosial setiap detik!"
Vanya mencengkeram rambutnya sendiri dengan frustrasi, mengingat bagaimana petugas keamanan menyeretnya keluar dari hotel mewah dengan penuh ludah kehinaan.
"Aku tidak akan membiarkanmu menang begitu saja, Haena! Aku bersumpah... jika aku harus jatuh ke dalam neraka, aku akan memastikan kamu ikut merangkak bersamaku!"
Namun, sumpah serapah Vanya hanya menggema sia-sia di dalam ruangan sempit yang sunyi tersebut. Dunia elite ibu kota telah melupakan keberadaan mereka secepat kilat, menggantinya dengan rasa takjub dan segan yang teramat besar terhadap sosok penguasa baru Dirgantara Corp.
Sore harinya, Haena kembali ke gedung pusat Dirgantara Corp untuk menghadiri rapat pleno luar biasa bersama seluruh dewan komisaris utama. Ketika dia melangkah memasuki ruang konferensi besar yang mewah, seluruh pasang mata dari para taipan bisnis tua yang hadir langsung tertuju padanya. Tidak ada lagi pandangan meremehkan, tidak ada lagi bisik-bisik rasisme sosial tentang asal-usulnya yang tumbuh di jalanan. Yang tersisa hanyalah rasa hormat yang mutlak dan ketakutan yang samar terhadap ketegasan mental bajanya.
Gavin dan Clarissa berdiri bersiaga di depan pintu ruang rapat, memastikan tidak ada penyusup atau gangguan keamanan elektronik yang masuk, sementara Pak Baskara berdiri di sebelah kanan Haena untuk menyiapkan dokumen presentasi megaproyek.
Haena mengambil posisi duduk di kursi utama di ujung meja panjang bersisi kaca. Dari balik kacamata transparannya, dia menatap seluruh jajaran direksi dengan pandangan yang dingin, suci, dan tak tersentuh.
"Selamat sore, para anggota dewan yang terhormat," suara Haena yang jernih dan sarat akan otoritas mutlak bergema, membungkam seluruh ruangan.
"Mulai hari ini, Dirgantara Corp tidak akan lagi berjalan dengan metode konservatif yang lambat. Kita telah resmi menjalin aliansi strategis dengan Arkananta Group untuk proyek maritim terintegrasi di Indonesia Timur. Bagi siapa saja yang tidak mampu mengimbangi kecepatan dan standar komputasi taktis yang saya tetapkan... silakan tinggalkan lencana perusahaan Anda di meja ini sebelum matahari terbenam."
Dengan satu ketukan palu sidang yang tegas, Haena menutup rapat tersebut, menandakan dimulainya era baru di bawah kepemimpinannya. Sang putri sejati yang dulu terbuang dan hilang kini telah sepenuhnya naik takhta, memegang kendali mutlak atas masa depannya sendiri, dan siap menghancurkan dunia yang pernah mencampakkannya dengan kecerdasan yang tak tertandingi.
(Cliffhanger)
"Malam harinya, ketika Haena memeriksa sistem keamanan server utama Dirgantara Corp bersama Gavin dan Clarissa, mereka mendeteksi adanya aktivitas peretasan tingkat tinggi yang mencoba mencuri cetak biru navigasi pelabuhan pintar. Yang mengejutkan, pelacakan IP address menunjukkan bahwa sinyal peretasan itu berasal dari sebuah kelab malam rahasia di sektor utara kota, di mana Vanya diam-diam sedang mengadakan pertemuan gelap dengan seorang pria misterius yang memimpin sindikat tentara bayaran internasional."