Demi takhta tertinggi Klan Zhou, Zhou Yu dijebak oleh konspirasi kejam. Menggunakan ramalan palsu, para tetua mengasingkannya ke Pulau Sunyi—tempat para biksu tanpa kekuatan kultivasi, tempat di mana masa depannya sengaja dikubur hidup-hidup.
Enggan membiarkan takdirnya mati dalam kesunyian, Zhou Yu nekat melarikan diri ke Hutan Keramat yang tabu. Di sana, di balik kabut abadi, dia menemukan kerangka naga raksasa yang terantai.
Siapa sangka, setetes darah Zhou Yu justru menghancurkan segel kuno dan membangkitkan takdir yang sebenarnya: Garis Keturunan Iblis Kuno yang ditakuti langit dan bumi! Dengan tulang naga iblis di tubuhnya dan dendam yang membara di hatinya, Zhou Yu berjalan keluar dari pulau pengasingan.
"Kalian membuangku karena takut aku merebut takhta? Bersiaplah, karena sekarang aku kembali untuk meratakan seluruh klan!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyusup ke Sarang Serigala
Malam telah mencapai puncaknya ketika sesosok bayangan hitam melesat lurus dari atap Paviliun Mu Rong, bergerak seringan kapas di antara kegelapan malam Ibu Kota.
Zhou Yu telah mengunci targetnya: Penjara Bawah Tanah Lapisan Ketiga di bawah kastil klan.
Mengabaikan peringatan Kapten Yuan bukanlah tindakan bodoh yang didasari oleh emosi semata. Sebaliknya, bagi Zhou Yu yang sekarang, jebakan Zhou Gung justru merupakan peluang emas untuk memotong sayap-sayap pelindung sang paman sebelum hari turnamen tiba.
Kastil Klan Zhou dilindungi oleh Formasi Elang Emas yang mampu mendeteksi fluktuasi Qi asing. Namun, ketika Zhou Yu mendekati dinding luar kompleks penjara, dia mengoperasikan Sutra Naga Iblis Pembalik Langit.
Wusss!
Abyssal Qi hitam legam berputar lambat di dalam tubuhnya, menyerap dan menyelaraskan hawa keberadaannya dengan kegelapan malam secara mutlak. Dia berjalan melewati garis batas formasi tanpa memicu riak energi sedikit pun—menjelma menjadi hantu yang tak kasat mata bagi mata sihir klan.
Zhou Yu menyusup melalui gerbang belakang, jalur yang biasa digunakan untuk pasokan logistik dan pembuangan mayat para tahanan.
Sret!
Dua orang penjaga di ranah Pengumpulan Qi Tingkat 8 yang sedang berjaga di lorong Lapisan Pertama bahkan tidak sempat melihat apa yang menyerang mereka. Dalam satu kedipan mata, Zhou Yu sudah berada di antara keduanya.
Tangan kokohnya mencengkeram leher mereka dari belakang, lalu mematahkannya dalam satu sentakan tanpa suara. Tubuh mereka ambruk, langsung disembunyikan Zhou Yu ke balik tong kayu.
Dia terus bergerak turun ke Lapisan Kedua. Lorong-lorong batu di tempat ini semakin sempit, lembab, dan dipenuhi oleh bau busuk darah kering. Di ujung tangga menuju Lapisan Ketiga, dua sipir ranah Pendirian Fondasi Tingkat 1 sedang duduk sembari minum arak.
Sebelum cawan mereka sempat menyentuh bibir, seberkas bayangan hitam melintas.
Jleb! Krak!
Jari-jari Zhou Yu yang sekeras baja mitis menusuk lurus ke depan, meremukkan jakun kedua sipir tersebut secara bersamaan. Mereka tewas seketika dengan mata membelalak, tanpa sempat mengeluarkan satu pun suara atau memicu jimat alarm di pinggang mereka.
Zhou Yu melangkah melewati mayat-mayat itu, menuruni anak tangga terakhir menuju Lapisan Ketiga—wilayah tabu yang paling dalam.
Atmosfer di Lapisan Ketiga terasa sangat menindas. Hanya ada beberapa obor dinding yang menyala redup, melemparkan bayangan panjang yang mengerikan di atas dinding batu yang basah.
Di tengah ruangan tengah yang luas, sesosok pria paruh baya bertubuh kurus kering tergantung dengan rantai besi besar yang mengikat kedua pergelangan tangannya. Pakaian tempur lamanya robek-robek, memperlihatkan kulit yang dipenuhi bekas cambukan beracun hingga mengeluarkan nanah dan darah.
Itu adalah Kapten Yuan. Napasnya sangat lemah, kepalanya terkulai layaknya orang yang sudah mati.
Begitu kaki Zhou Yu menapak di lantai batu ruangan tersebut, keheningan malam mendadak pecah oleh suara tepuk tangan yang menggema sinis dari balik pilar batu besar di sudut kegelapan.
Plak! Plak! Plak!
"Luar biasa. Benar-benar luar biasa," sebuah suara parau penuh kemenangan terdengar.
Sesosok pria tua berjubah abu-abu dengan lambang sipir klan melangkah keluar, diikuti oleh delapan algojo berbadan kekar yang memegang kapak besar. Pria tua itu memancarkan fluktuasi energi yang kuat—ranah Pendirian Fondasi Tingkat 3.
Dia adalah Tetua Zhou Mo, Kepala Sipir Penjara sekaligus anjing pelacak kepercayaan Zhou Gung.
"Mantan Tuan Muda Kedua... atau haruskah aku memanggilmu tikus yang selamat dari Pulau Sunyi?" Zhou Mo menyipitkan matanya yang licik, menatap Zhou Yu dengan pandangan meremehkan.
"Panglima Tertinggi Zhou Gung memang tidak salah sangka. Dia tahu tikus seperti Yuan ini pasti akan mencoba mengirimkan pesan, dan bocah bodoh sepertimu pasti akan datang mengantarkan nyawa demi rasa keadilan yang konyol."
Mendengar suara gaduh itu, Kapten Yuan yang sekarat perlahan mengangkat kepalanya dengan susah payah. Begitu matanya yang membengkak menangkap sosok berjubah hitam di depannya, pupil matanya membelalak ngeri.
"Tuan... Tuan Muda Kedua?! Kenapa... kenapa Anda datang... Lari!" Yuan berteriak serak hingga memuntahkan darah, mencoba menggerakkan rantainya hingga berdenting nyaring.
Zhou Mo tertawa terbahak-bahak. "Lari? Di hadapanku, Tetua Zhou Mo, tidak ada jalan keluar bagi sampah fana seperti dia! Bocah, serahkan dirimu sekarang, dan aku mungkin akan membiarkanmu mati dengan tubuh yang utuh!"
Zhou Yu berdiri diam di tengah ruangan. Di bawah tudung jubah hitamnya, dia perlahan mengangkat wajahnya. Ketika wajah itu terkena cahaya obor dinding, senyum kemenangan di wajah Zhou Mo mendadak membeku.
Zhou Yu tidak menunjukkan rasa takut, panik, ataupun putus asa. Sebaliknya, sepasang matanya telah berubah menjadi vertikal sempurna, menyala dengan warna merah darah yang sangat mengerikan.
Wusss!
Aura kegelapan purba yang begitu pekat mulai mengalir keluar dari tubuh pemuda itu, membuat suhu di Lapisan Ketiga mendadak anjlok drastis hingga air di lantai batu mulai membeku menjadi es hitam.
"Umpan?" Zhou Yu bersuara, nadanya begitu datar namun membawa tekanan mental yang membuat kedelapan algojo di belakang Zhou Mo langsung jatuh berlutut karena sesak napas.
"Kalian salah menentukan siapa yang menjadi pemburu, dan siapa yang menjadi mangsa di tempat ini."
Zhou Yu mengangkat tangan kanannya, menggerakkan jari-jarinya di udara. Abyssal Qi hitam legam bermanifestasi di ujung jemarinya, dikompresi dengan sangat padat hingga membentuk jalinan benang hitam tak kasat mata yang memancarkan energi pemotong mutlak.
"Sutra Naga Iblis: Cakar Naga Pembalik Langit—Gaya Benang Pemutus Jiwa!"
Merasakan bahaya kematian yang begitu dekat, wajah Zhou Mo mendadak pucat pasi. Instingnya menjerit histeris bahwa pemuda di depannya ini adalah monster yang jauh melampaui levelnya. Dengan panik, dia merogoh kantongnya untuk mengambil jimat komunikasi utama klan guna memanggil bantuan Zhou Gung.
Namun, gerakannya terlalu lambat.
Zhou Yu menghentakkan tangannya ke depan. Benang-benang Qi hitam yang setajam silet melesat membelah kegelapan lorong secepat kilat, melewati delapan algojo dan memotong tepat di area leher Zhou Mo sebelum jimatnya sempat diaktifkan.
Sret.
Suara kibasan angin tipis terdengar, disusul oleh keheningan total.
Zhou Mo berdiri kaku, tangannya yang memegang jimat membeku di udara. Detik berikutnya, jimat di tangannya terbelah menjadi dua.
Bersamaan dengan itu, garis merah tipis muncul di lehernya, sebelum akhirnya kepalanya perlahan bergeser dan jatuh menggelinding di atas lantai batu, disusul oleh delapan kepala algojo di belakangnya yang copot secara bersamaan tanpa sempat mengeluarkan teriakan!
Syuuuuut—Brak!
Darah segar menyembur, menodai dinding penjara. Seorang master ranah Pendirian Fondasi Tingkat 3 tewas dipenggal dalam satu gerakan jari yang elegan.
Zhou Yu menurunkan kembali tangannya dengan santai, mengabaikan mayat-mayat yang tumbang di sekelilingnya. Dia berjalan mantap menembus genangan darah, mendekati tiang besi tempat Kapten Yuan tergantung terbelalak karena syok yang tak terbendung.
Krang!
Dengan satu cengkeraman tangan kosong, Zhou Yu meremukkan rantai besi besar berenergi itu hingga hancur menjadi serpihan logam, lalu menyangga tubuh Kapten Yuan yang hampir ambruk.
Zhou Yu menatap pengawal setia ayahnya itu dari balik tudung jubahnya, lalu berbisik pelan, "Kapten Yuan, aku datang untuk menjemputmu. Saatnya kita mengambil kembali apa yang mereka curi dari kita."