Kesempatan hidup kedua yang kudapatkan, akan aku manfaatkan dengan baik.
Aku berpikir siuman dari pingsan, tapi pada kenyataannya aku kembali ke waktu satu tahun sebelumnya.
Akan aku balas mereka yang telah menyakiti ku selama ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moena Elsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Malam
Tuan Rahardjo mendatangi ruangan Sean.
"Opa? Tumben?" senyum menghiasi bibir Sean menyambut kedatangan Opa Rahardjo.
"Sean, Opa bangga banget sama kamu," bahas tuan Rahardjo.
"Tumben banget Opa kasih pujian buat Sean," tukas Sean heran. Jarang banget pria tua itu memuji cucu nya.
"Karena kamu, perusahaan yang Opa dirikan ini berkembang pesat. Banyak perusahaan besar yang berhasil kamu ajak kerjasama," puji tuan Rahardjo.
"Bahkan pengusaha sekaliber tuan Dirga saja sangat percaya padamu. Proyek-proyek Dirgantara banyak yang kamu pegang," lanjut tuan Rahardjo.
"Langsung intinya saja Opa," Sean mengusap tengkuk mendengar perkataan tuan Rahardjo yang mutar-mutar bak kemudi putar.
"Keberhasilan kamu ingin Opa rayakan, ntar malam ajak papa dan mama kamu ke kediaman utama," suruh tuan Rahardjo.
Sean hendak menolak, "Tak ada bantahan Sean," tegas tuan Rahardjo.
"Opa bilang langsung aja ke papa. Sean malas kasih tahu," kata Sean.
"Issshhh anak ini. Disuruh malah ganti Opa yang disuruh," Opa mengangkat tongkat ke arah Sean dan bersiap hendak memukul cucu satu-satunya itu. Sean bersiap mengelak, ternyata opa cuman bercanda.
Sean menggaruk kepala yang tak gatal, 'Apa selama ini Opa tak mencium hubungan busuk papa dan Yola? Tak mungkin opa tak tahu,' sangkal Sean dalam benak.
"Opa yakin mengundang kita?" tandas Sean memastikan.
"Bukan mengundang, lebih tepatnya menyuruh kalian pulang. Apalagi mama kamu, sudah berapa bulan tak menengok orang tua ini," seru opa Rahardjo.
Sean menghela nafas, "Hhmmm baiklah Opa, akan Sean sampaikan. Tapi keputusan tetap di tangan tuan Abimanyu beserta istri," tanggap Sean terkekeh.
"Oke, Opa tunggu di rumah!" tuan Rahardjo beranjak meninggalkan ruangan Sean.
Sean meraih ponsel yang tergeletak di meja, selanjutnya menekan nomor mama yang tersimpan.
Sean mengutarakan niat baik Opa untuk mengajak makan malam di kediaman utama.
"Sean, mama belum siap menghadapi omelan opa kamu," jawab mama di ujung telpon.
"Nanti kalau mama datang, tapi papa kamu tak datang. Mama bingung menyampaikan alasannya," lanjut mama.
"Mah, sampai kapan mama akan menutupi kelakuan bejat papa?" tanya Sean serius.
"Kalau mama sudah tak sanggup, Sean akan dukung apapun keputusan mama," bahas Sean.
"Sean nanti jemput mama," Sean tak ingin mengecewakan mama dan opa. Urusan Abimanyu, terserah.
.
Sean datang bersama mama ke kediaman utama.
"Mana papa kalian? Kamu nggak bilang Sean?' tanya opa.
"Sudah aku kirim pesan ke papa, sudah dibaca pula," jawab Sean.
"Sibuk kali papa nya Sean Pah," mama ikutan menjawab.
.
Sementara di ruangan Abimanyu, Yola masih berdiri di sana.
"Sayang, hari ini kamu pulang duluan aja. Aku mau mampir ke kediaman utama dulu," kata tuan Abimanyu.
"Acara apa? Mendadak banget," jawab Yola tak percaya. Beberapa hari ini Yola merasa Abimanyu tak sehangat sebelumnya, apalagi masalah ranjang. Sudah hampir seminggu tak tersentuh.
"Aku nggak tahu. Sean cuman kasih tahu kalau aku diminta datang ke sana," jelas Abimanyu.
"Paling cuman akal-akalan si Sean aja tuh," ungkap Yola.
"Kamu itu apaan sih sayang? Curiga mulu. Yang minta aku datang tuh orang tua ku loh, bukan orang lain. Skip dulu dong cemburu nya," balas Abimanyu jengah.
"Kalau gitu aku ikut kesana," rajuk Yola.
"Jangan gila, mana mungkin aku ajak kamu ke rumah utama," celetuk Abimanyu menolak permintaan tak masuk akal Yola.
'Kalau kamu ikut, apa kabar jatah saham buatku? Bisa hangus semua tuh,' pikir Abimanyu tak mau rugi.
"Aku nggak mau tahu, aku akan ikut kemana kamu pergi malam ini," paksa Yola.
"Kalau gitu kita putus saja," seru Abimanyu dengan nada tinggi.
"Sayang, kamu ini apa-apaan sih?" terang saja Yola menolak mentah-mentah permintaan Abimanyu barusan. Abimanyu adalah aset hidup buat Yola.
"Makanya, ikutin apa yang aku mau. Aku pergi dulu," Abimanyu beranjak meninggalkan Yola yang masih berada di ruangannya.
Tak berapa lama Yola ikutan keluar ruangan Abimanyu. Abimanyu masih berada di depan meja sang sekretaris.
"Astrid, barengan aku aja. Kebetulan arah kita sama kali ini," ajak Abimanyu.
"Hhhmmm makasih tuan, tapi saya sudah pesan taksi online" tolak halus Astrid, karena di belakang Abimanyu sedang berdiri Yola dengan mata menatap tajam ke arah Astrid.
Arah mata Abimanyu mengikuti arah mata Astrid.
"Ya udah. Kalau gitu aku duluan," Abimanyu menuju lift membiarkan wanita berbeda usia itu bersitegang.
.
Yola menghampiri meja Astrid.
Plakkkk, sebuah tamparan mengenai pipi Astrid.
"Maaf nyonya, apa saya berbuat salah?" Astrid memandang lurus ke arah Yola.
"Ini kantor. Bukan tempat yang pantas untuk tebar pesona ke bos," bahas Yola dengan ketus.
Astrid tertawa sarkas. Meski Yola usianya lebih senior, tapi secara jabatan Yola sejajar dengan dirinya.
"Saya masih tahu batas hubungan antara atasan dan bawahan nyonya," Astrid meraih tas dan hendak pulang.
"Atau mungkin anda sendiri lah yang tak tahu batasan itu?" sindir Astrid.
'Saya sering lihat anda masuk ke ruang kerja bos, dan lama di sana. Padahal secara kerjaan, anda tidak bertanggung jawab langsung pada tuan Abimanyu," ucapan Astrid bak tamparan buat Yola.
"Tau apa kamu? Kamu hanya karyawan baru di sini," sahut Yola kesal.
"Kalau sudah tak ada yang disampaikan, saya pulang nyonya. Besok masih banyak agenda bersama tuan Abimanyu," Astrid meninggalkan Yola yang terpaku di tempat nya.
"Nikmatin aja dulu kerjaan kamu saat ini. Akan aku buat Abimanyu memecat kamu tanpa ampun" gumam Yola mengancam.
.
Tuan Abimanyu datang saat yang lain sudah berada di meja makan. Dia tertegun sesaat saat melihat sang istri sedang duduk bersama dengan sang putra di meja makan.
"Duduklah!" suruh tuan Rahardjo.
"Ada apa Pah?" Abimanyu mendudukkan diri di samping tuan Rahardjo.
"Makan aja dulu!" suruh tuan Rahardjo.
Dentang sendok beradu dengan garpu dan piring membuat ramai suasana meja makan yang terasa kaku.
Selesai makan, mama Sean membereskan meja makan seperti biasa dibantu para asisten rumah tangga.
"Kita ke ruang kerja, termasuk kamu Marina," ucap tegas dari bibir pria yang sudah termakan usia itu.
"Saya Pah?" sahut mama Sean.
"Betul," tuan Rahardjo berjalan ke ruangan besar yang berada di samping kamar utama.
Tuan Abimanyu dan Sean mengikuti tanpa banyak kata. Mama Sean menyusul belakangan.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
To be continued, happy reading best 🫶
atau pling gk nendang bpk nya biar miskin kl miskin yola pasti gk mau kn. 🤣.
pdhl Dr segi umur Sean sdh dewasa.