Aku membenci Damar Wijaya sejak hari pertama bekerja. Bagiku, dia adalah atasan paling menyebalkan yang pernah ada—dingin, arogan, dan selalu mengkritik setiap pekerjaanku.
Sayangnya, sebuah proyek besar memaksa kami lembur bersama setiap malam.
Semakin sering kami bertemu, semakin sulit bagiku mempertahankan kebencian itu. Di balik sikapnya yang menyebalkan, ada sisi Damar yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
Namun saat aku mulai membuka hati, sebuah rahasia besar terungkap dan mengubah segalanya.
Bagaimana jika pria yang paling kubenci justru menjadi orang yang paling kucintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Satisuci Ituaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Jejak yang Tertinggal
Malam itu Nara tidak bisa memejamkan mata.
Foto Bu Ratna terus muncul di pikirannya.
Wanita tua itu terlihat ketakutan.
Duduk sendirian di ruangan gelap.
Dan yang paling mengganggu adalah fakta bahwa pelaku sengaja mengirim foto tersebut kepada Damar.
Seolah ingin menunjukkan bahwa mereka memegang kendali.
Seolah ingin mempermainkan mereka.
---
Pukul lima pagi Nara sudah terbangun.
Ia baru saja selesai membuat kopi ketika ponselnya berdering.
Nama Damar muncul di layar.
Biasanya pria itu tidak pernah menelepon sepagi ini.
Nara langsung mengangkatnya.
"Ada kabar?"
tanyanya tanpa basa-basi.
"Ada."
jawab Damar.
Nada suaranya terdengar serius.
"Seseorang mengirim lokasi."
Jantung Nara langsung berdebar.
"Lokasi Bu Ratna?"
"Belum tentu."
jawab Damar.
"Tapi lokasi itu dikirim dari nomor yang sama."
---
Satu jam kemudian mereka sudah berkumpul di kantor Adrian.
Raka juga berada di sana.
Di atas meja terpampang peta kota.
Sebuah titik merah berkedip di pinggir kawasan industri lama.
Tempat yang sudah lama tidak aktif.
---
"Menurutmu jebakan?"
tanya Nara.
"Mungkin."
jawab Raka.
"Tapi kita tidak bisa mengabaikannya."
---
Adrian menyilangkan tangan.
"Kalau Bu Ratna benar ada di sana, kita harus bergerak cepat."
---
Damar mengangguk.
"Kita pergi sekarang."
---
Perjalanan menuju kawasan industri memakan waktu hampir empat puluh menit.
Sepanjang jalan tidak ada yang banyak bicara.
Masing-masing sibuk memikirkan kemungkinan terburuk.
---
Begitu sampai di lokasi, mereka menemukan sebuah gudang tua.
Bangunannya tampak usang.
Cat dinding mengelupas.
Sebagian jendelanya pecah.
Rumput liar tumbuh di mana-mana.
---
"Tempat ini terlihat seperti lokasi film horor."
gumam Raka.
---
Namun tak seorang pun tertawa.
---
Mereka masuk dengan hati-hati.
Langkah kaki bergema di dalam bangunan kosong itu.
Debu beterbangan saat sinar matahari menembus celah atap.
---
"Nara, tetap di belakang."
ucap Damar.
---
"Aku bisa menjaga diri."
balas Nara.
---
"Aku tahu."
jawab Damar.
"Tetap di belakang."
---
Nara mendengus pelan tetapi menuruti.
---
Mereka menyisir setiap sudut gudang.
Ruangan demi ruangan.
Namun tidak menemukan siapa pun.
---
Sampai akhirnya Adrian berhenti di dekat meja tua yang hampir roboh.
"Tunggu."
---
Semua menoleh.
---
Di atas meja terdapat sebuah amplop putih.
---
Raka segera mengambilnya.
---
"Jangan bilang ini lagi."
gumamnya.
---
Damar membuka amplop tersebut.
Di dalamnya hanya ada satu lembar kertas.
Tulisan tangan yang sama.
---
> Kalian selalu datang terlambat.
---
Rahang Damar mengeras.
---
"Dia mempermainkan kita."
ucap Adrian.
---
Namun saat hendak pergi, Nara melihat sesuatu di lantai.
Sebuah benda kecil berwarna perak.
---
"Tunggu."
---
Ia membungkuk lalu mengambilnya.
---
Sebuah liontin.
---
Nara langsung membeku.
---
"Aku pernah melihat ini."
---
Semua menatapnya.
---
"Di mana?"
tanya Damar.
---
Nara menelan ludah.
---
"Bu Ratna memakainya saat kita bertemu."
---
Keheningan langsung menyelimuti ruangan.
---
Artinya Bu Ratna memang pernah berada di tempat itu.
---
Dan mereka baru saja melewatkan kesempatan.
---
Namun setidaknya kini mereka memiliki petunjuk baru.
---
Saat kembali ke kantor, Raka langsung memeriksa liontin tersebut.
Awalnya semua mengira benda itu biasa.
Namun ketika dibuka, terdapat sesuatu di dalamnya.
---
Sebuah foto kecil.
---
Foto yang sudah sangat tua.
---
Nara membeku begitu melihatnya.
---
Karena dalam foto itu terdapat ayahnya.
Arman.
---
Di samping Arman berdiri seorang pria yang tidak asing.
---
Leonard.
---
Atau Richard.
---
Atau siapa pun nama aslinya.
---
"Kapan foto ini diambil?"
gumam Adrian.
---
Tidak ada yang tahu.
---
Namun yang menarik perhatian adalah tulisan di bagian belakang foto.
Tulisan yang mulai pudar karena usia.
---
Damar membaca perlahan.
---
"Proyek Garuda."
---
Raka mengernyit.
---
"Apa itu?"
---
Adrian langsung mengangkat kepala.
---
Seolah baru mengingat sesuatu.
---
"Tidak mungkin."
---
Nara menatapnya.
---
"Apa?"
---
Adrian menarik napas panjang.
---
"Proyek Garuda adalah proyek pertama yang membuat perusahaan mereka berkembang."
---
Ruangan mendadak sunyi.
---
"Kenapa aku baru mendengarnya sekarang?"
tanya Nara.
---
"Karena proyek itu tidak pernah selesai."
jawab Adrian.
---
"Secara resmi dibatalkan."
---
Raka mengernyit.
---
"Secara resmi?"
---
"Itu yang tertulis."
jawab Adrian.
---
"Tapi sebenarnya ada banyak kejanggalan."
---
Damar mulai memahami arah pembicaraan.
---
"Kau pikir semuanya berawal dari sana?"
---
Adrian mengangguk pelan.
---
"Bisa jadi."
---
Untuk pertama kalinya mereka menemukan titik awal yang jelas.
---
Selama ini mereka hanya mengikuti jejak yang tersebar.
Namun kini semua mulai mengarah ke satu tempat.
Proyek Garuda.
---
Malam itu mereka bekerja sampai larut.
Membuka arsip lama.
Mencari dokumen.
Menelusuri nama-nama yang terlibat.
---
Dan hasilnya membuat mereka semakin terkejut.
---
Nama Leonard muncul hampir di setiap berkas penting.
---
Namun setelah proyek tersebut gagal, seluruh datanya seolah menghilang.
---
Seseorang benar-benar berusaha menghapus keberadaannya.
---
Sekitar pukul sebelas malam, Nara memutuskan pulang.
Tubuhnya sudah terlalu lelah.
---
Saat keluar dari gedung, Damar berjalan di sampingnya.
---
"Kau harus istirahat."
ucap pria itu.
---
"Kau juga."
balas Nara.
---
Mereka saling menatap sesaat.
---
Sudah terlalu banyak hal terjadi dalam beberapa minggu terakhir.
Namun anehnya, justru di tengah kekacauan itu mereka semakin dekat.
---
"Nara."
panggil Damar.
---
"Hm?"
---
"Kalau semuanya selesai nanti..."
---
Pria itu berhenti.
Seolah sedang memilih kata-kata.
---
"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat."
---
Nara berkedip.
---
"Tempat apa?"
---
Damar tersenyum tipis.
---
"Rahasia."
---
Untuk pertama kalinya hari itu, Nara tertawa.
Tawa yang benar-benar tulus.
---
Namun momen itu tidak berlangsung lama.
---
Karena dari kejauhan, sebuah mobil hitam sedang memperhatikan mereka.
---
Di dalam mobil tersebut, seorang pria menatap layar tablet.
Di sana terpampang foto-foto penyelidikan mereka.
---
Pria itu lalu menerima telepon.
---
"Ya?"
---
Suara dari seberang terdengar dingin.
---
"Mereka menemukan Proyek Garuda."
---
Pria itu terdiam.
---
Kemudian tersenyum tipis.
---
"Lebih cepat dari perkiraanku."
---
"Apa kita hentikan mereka sekarang?"
tanya suara itu.
---
Pria tersebut menatap foto Nara.
Lalu foto Damar.
---
"Belum."
---
"Kenapa?"
---
Senyumnya perlahan menghilang.
---
"Karena mereka belum menemukan bagian terpenting."
---
Panggilan berakhir.
---
Pria itu membuka sebuah map tua yang tersimpan di samping kursinya.
Map yang selama bertahun-tahun tidak pernah diketahui siapa pun.
---
Di halaman pertama tertulis:
Proyek Garuda
---
Di halaman terakhir terdapat daftar nama.
Arman.
Nugroho.
Adrian.
Surya.
Leonard.
---
Dan satu nama lain yang membuat semuanya jauh lebih rumit.
---
Nama yang memiliki hubungan langsung dengan Nara.
---
Nama yang akan mengubah seluruh hidupnya ketika kebenaran akhirnya terungkap.
Bersambung ...