Apa jadinya jika pahlawan elit Rank-A meregang nyawa di dasar Dungeon hanya karena menenggak sebotol air garam?
Di dunia yang memuja sihir tempur, Arka hanyalah kuli Porter F-Rank. Nyawanya dihargai lebih murah dari selembar poster promosi Vanguard Guild. Tapi para elit arogan itu melupakan satu hukum mutlak: Jangan pernah merendahkan orang yang memegang kunci gudang obatmu.
Berbekal Skill [Logistics Grid], Arka meretas sistem dari dalam. Dia memanipulasi data manifes, menukar ramuan bernilai miliaran rupiah dengan air garam, dan memutus rantai pasokan tepat saat pasukan elit itu terjebak di hadapan bos monster mematikan.
Tanpa perlu mengangkat pedang, Arka membalikkan hierarki dunia Hunter. Saat Mana mengering dan taring monster mengincar leher, para pahlawan palsu itu dipaksa menangis, berlutut, dan menjual seluruh jiwa mereka hanya demi setetes ramuan dari tangan sang Porter.
Sistem telah diretas. Monopoli Grey Underground baru saja dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VANDEMIC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Karat, Embun, dan Demam
Gelap total. Tidak ada siluet, tidak ada gradasi bayangan. Hanya kekosongan pekat yang menekan pupil mata Arka hingga terasa nyeri.
Satu-satunya bukti bahwa ia masih hidup adalah getaran konstan di bawah punggungnya. Deru mesin diesel raksasa dari lambung kapal Dewi Andalas merambat melalui lantai baja bergelombang, beresonansi dengan detak jantungnya yang semakin melemah.
Ia tidak tahu sudah berapa lama ia terkurung di dalam kontainer kargo ini. Dua hari? Tiga hari? Waktu kehilangan maknanya dalam kegelapan absolut.
Arka mencoba menelan ludah, tetapi tenggorokannya terasa seperti dilapisi pasir kaca. Dehidrasi ekstrem telah merampas kelembapan tubuhnya. Bibirnya pecah-pecah parah, berdarah setiap kali ia mencoba membuka mulut untuk meraup udara pengap yang berbau garam, ikan busuk, dan karat.
Suhu siang hari di dalam kotak baja di lautan tropis bisa mencapai 45 derajat Celcius. Manusia dengan luka terbuka akan kehilangan cairan dua kali lipat lebih cepat. Jika berat badanku enam puluh kilogram, maka batas waktuku sebelum organ dalamku gagal berfungsi adalah...
BZZZZZT!
Sengatan panas menusuk pangkal lehernya. Arka mengerang tertahan, meringkuk ke samping sambil memegangi kepalanya. Neural Feedback-nya bereaksi, menghukum otaknya yang mencoba melakukan kalkulasi di tengah kerusakan fisik yang parah. Hukuman itu memicu pening yang membuat isi perutnya bergejolak, meski lambungnya benar-benar kosong.
"Sialan..." desisnya parau, suaranya terdengar asing dan serak.
Rasa sakit terbesar tidak datang dari tenggorokannya, melainkan dari dada kirinya. Luka bakar stadium dua akibat pipa uap di Sektor 3 kini meradang. Gesekan dengan lantai seng ventilasi dan batu bara di sabuk konveyor telah memasukkan kotoran ke dalam dagingnya yang melepuh. Kini, area itu membengkak panas, berdenyut selaras dengan getaran mesin kapal. Demam tinggi mulai membakar tubuh kurusnya, membuatnya menggigil hebat meski udara di dalam kontainer terasa memanggang.
Ia butuh air. Jika tidak, infeksi dan dehidrasi akan membunuhnya sebelum ia sempat melihat apa yang dibawa Sitorus.
Dengan tangan yang gemetar hebat, Arka merayap di atas lantai baja bergelombang. Tangannya meraba-raba dinding kontainer dalam gelap. Baja itu terasa dingin di satu sisi—sisi yang berbatasan langsung dengan angin laut malam di luar.
Jari-jarinya merasakan sesuatu yang basah. Embun. Perbedaan suhu antara luar dan dalam kontainer menciptakan kondensasi tipis di dinding logam.
Arka segera menempelkan pipinya ke dinding baja tua itu. Ia menjulurkan lidahnya, menjilat tetesan embun bercampur karat dan debu laut yang menempel di dinding. Rasanya metalik, anyir, dan kotor, tetapi bagi tenggorokan Arka, itu adalah kepingan surga. Ia terus merayap sejengkal demi sejengkal di sepanjang dinding, mengikis setiap tetes kelembapan yang bisa ia temukan layaknya hewan buas yang sekarat.
Setelah dahaganya sedikit mereda, Arka menyandarkan punggungnya ke dinding, napasnya memburu. Ia merogoh saku kemeja kanvasnya yang telah kaku oleh darah kering. Kertas robekan dari Ledger analog Sitorus masih ada di sana. Bukti jadwal Proyek Genesis.
"Kau terlihat menyedihkan, Bos," Suara itu terdengar menggema di sudut kontainer yang gelap. Arka mengangkat wajahnya yang berpeluh dingin. Di tengah halusinasi demamnya, ia melihat siluet Bram berjongkok di hadapannya, menatapnya dengan raut iba.
"Kau... tidak ada di sini, Bram," bisik Arka, memejamkan matanya kuat-kuat. "Kau dan Hasan... kalian di Sektor 4."
"Lalu untuk apa kau bertahan?" halusinasi Bram memiringkan kepalanya. "Kau akan membusuk di dalam kotak ini. Sitorus akan menang."
"Tidak..." Arka mengertakkan gigi, memaksa matanya terbuka meski hanya melihat kegelapan. Tangannya merobek lengan kemeja kanvasnya sendiri, lalu mengikatkan kain kotor itu ke dadanya dengan paksa untuk menekan bengkak lukanya. Rasa perih yang membutakan langsung membangunkannya dari delusi. Siluet Bram menghilang.
"Aku akan membongkar sistemnya... dari dalam," desis Arka pada kekosongan.
Entah sudah hari keberapa saat guncangan kapal mulai terasa berbeda. Bukan lagi hantaman ombak laut lepas, melainkan alunan air yang lebih tenang. Mesin kapal terdengar memelankan RPM-nya.
Tiba-tiba, suara logam beradu memecah kesunyian yang telah menemani Arka berhari-hari.
CLANG! CLANG!
Suara itu berasal dari luar, tepat di depan pintu kontainer tempatnya bersandar. Seseorang sedang memukul tuas pengunci peti kemas.
Mata Arka melebar. Jantungnya berdegup liar, memompa sisa-sisa adrenalin ke dalam aliran darahnya yang melemah. Engsel berkarat menjerit panjang. Celah cahaya kuning yang sangat menyilaukan tiba-tiba mengiris kegelapan kontainer, memaksa Arka mengangkat tangan untuk menutupi matanya yang buta sesaat.
Di ambang pintu yang setengah terbuka, berdiri dua sosok pria berseragam hitam tanpa lencana, memegang senapan serbu laras pendek, menyapukan sorot senter langsung ke arah wajah pucat Arka.
***
[AUTHOR NOTE] GILA! Ini baru namanya SURVIVAL! Berhari-hari terjebak di kotak baja gelap, dehidrasi, demam karena infeksi luka bakar, sampai halusinasi diajak ngobrol sama Bram! Arka bertahan hidup cuma dengan menjilat embun karat di dinding kontainer! TAPI SEKARANG PINTU KONTAINERNYA DIBUKA OLEH TENTARA BAYARAN SITORUS! Kondisi Arka lagi setengah mati, tanpa senjata, dan langsung ditodong senapan! Gimana caranya dia bisa selamat dari situasi impossible ini?! Tahan napas kalian dan baca terus ke bab berikutnya!
kalian harus pada baca kawan kawan yang suka manga atau manhwa, please kepada editor mangatoon/noveltoon angkat ini jadi karya di platform ini karena di platform ini banyaknya cerita percintaan perempuan saja
Semangat thoorr😼